environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Kamis, 30 Juli 2015

KECEWA



Setiap orang pasti pernah merasakannya.
Malam ini, saya menulis tentang itu, karena saya merasakannya. Niatnya, nasehat diri. Ditulis di blog, kali aja ada manfaatnya.

Perasaan kecewa, kita sendiri yang 'menciptakan'. Semua perasaan sebenarnya kita sendiri yang 'menciptakan' sensasinya. Kecewa diakibatkan karena menaruh harapan. Tapi, bukankah harapan adalah nafas yang lebih dekat menuju impian?
Baiklah. Satu - satu

Kita berharap entah apa itu kepada seseorang / sesuatu hal

Apa yang kita harapkan ternyata tidak sesuai kenyataan

Kecewa deh.

Alurnya cuma itu saja, kan? entah dalam hal positif atau negatif. Harapan seperti halnya dua mata pisau. Jika terwujud kita akan senang, dan jika tidak tentu kita akan kecewa. Bahkan sedih. Maka benar adanya jika satu - satunya yang patut sebagai tempat berharap adalah Tuhan. Dia selalu tau apa yang hamba-Nya butuhkan. ingat, butuhkan. Bukan inginkan.

Baiklah. Yang dapat saya petik dari yang saya rasakan, Nasehat untuk diri sendiri : Hubungan horizontal; selama masih bisa dikomunikasikan, komunikasikanlah. Bicaralah baik - baik. Jangan membiarkan prasangka baik yang telah ditanam orang lain terhadapmu menjadi sebaliknya. Bersikaplah loyal, Adil lah terhadap dirimu sendiri. ingat, kamu pernah merasakan kekecewaan terhadap orang lain. Sudah bisa merasakan "sakit"nya kan? Terus, apakah mau kamu perlakukan orang lain seperti itu? Apa gunanya? Tidak ada... Berbaiksangka memang dianjurkan, tapi tau porsi. sekadarnya saja. Orang didunia ini sangat banyak macamnya, ada yang baik, sok baik, pura - pura baik, kadang baik, tidak baik, bahkan sangat tidak baik. Tapi apapun yang kamu lakukan, dasarilh dengan kebaikan. kebaikan versimu lebih menenangkan. Hanya saja yang perlu digarisbawahi adalah : Orang lain merupakan salah satu penyumbang kebaikan dalam dirimu. Mengambil hikmah atau meninggalkannya. Itu semua hakmu. Terserah kamu.

See ya. unek - unek malam ini cukup tertelurkan. Mari wudhlu.


1 komentar: