environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Selasa, 25 Agustus 2015

Bertindak sebagai Perempuan (Surat Balasan)

.....
...
Perempuan (14): Mencintai sewajarnya, membenci sekadarnya, bersyukur sebanyak-banyaknyaSemangat pagi, mbloooo Fut. Apa kabar? Semoga selalu baik ya. Semoga makin baik. Apa ya mblo. Jomblo, Lu! Ide darimu untuk menulis: Mencintai sewajarnya, membenci sekadarnya, kemudian bersyukur sebanyak-banyaknya itu hufet. Gila. Lu udah kayak Mario Teguh aja. Bijak tingkat Dewa Siwa. Sedang Mbak Dita, salah satu tempat segala hal dalam hidupku bermuara sedang tidak ada di Solo. Jadi aku harus bagaimana? Padahal aku begitu butuh menanyakan pendapatnya menyoal kalimat metamutiaramu(?) eh apalah aku.

Tahu deh Fut, aku mah apa. Sebutir zarah. Cuma konco jomblomu sing ratau cetho tur ratau pokro. Tahu apa aku soal kehidupan yang kau pindahkan maknanya dalam kalimatmu itu. Aku justru bingung begitu mendapati idemu itu, apa yang kemudian bisa kutulis? Maksudku sebentuk apa? Yang ada dalam ilusiku malah tulisanku sejenis tulisan motivasi yang enggak bangetlah. Kau pasti akan begitu muak membacanya.
Hmmm, jadi dari kapan hari itu aku berusaha mencari responden. Ealah apalah. Ya sok-sokan kenal istilah responden biar sok jadi researcher hits macam kamu lah. Tapi aku kesusahan. Dicuekin banyak responden. Sedih kan. Terus siang menjelang sore tadi pas aku jalan-jalan di tumblr to, ada tulisannya Mas Akbar Syahid (mahasiswa ITB, red) yang menyoal bersyukur-bersyukur gitu. Coba deh baca sendiri di prosabesar.tumblr.com. Mungkin itu bisa sedikit memperjelas kalimat megamutiaramu.
Kalo aku sendiri sih Fut, aku banget ini. Curhat maksude. Dari mana dulu: mencintai sewajarnya. Aku mah apa. Tahu apa dan punya pengalaman apa soal cinta? Pengalamannya cuma patah hati. Heuheu. Sebab tidak mampu mencintai sewajarnya. Bisanya berlebihan. Lalu sakitnya pun lebih berlebihan. Hahaha LOL. Aku baru belajar dan masih terus belajar untuk “mencintai sewajarnya”. Welaah apaan. Siapa yang mau kucintai(?) Belum ada untuk saat ini. Heuheu. Masih melompong banget nih hati. *kode buat kamu Fut, untuk mencarikan calon yang mau menetap di hatiku. Hahaha. LOL.
Membenci sekadarnya: ini apalagi. Aku bukan tipikal orang yang bisa membenci orang. Nggak tahu yaa. Ini aku nggak bohong. Cius. Bukan pencitraan sebab aku hendak mencalonkan diri katakanlah sebagai presiden BEM perempuan. Apalah. Enggak banget. Guyoooon. Jomblo lak isine mek guyon terus sih. Sampek atine seringkali dijadikan bahan guyonan oleh orang lain. Heuheu lupakan. Kakean guyon ya aku. Seringkali aku membenci tindakan orang lain, katakanlah tindakan teman-teman di kelas yang tidak mau mengerjakan ujian sendiri misalnya. Aku begitu membenci tindakannya. Tapi tak pernah berhasil membenci sosoknya. Bagiku, semua orang itu terlahir begitu baik ok piye. Sampai kata Mas Inang menyoal aku yang memandang baik orang Amerika, sebab ya aku selalu berpikiran positif. Begitu sih.
Bersyukur sebanyak-banyaknya. Helooooo. Iki sedang aku renungkan dan selami maknanya dalam-dalam banget. Fut, dipertemukan dan disatukannya kamu dengan teman-temanmu kebumian bukankah nikmat yang tiada pernah kamu kira sebelumnya? Diberinya kamu berbagai nikmat hidup yang bergelimang senada dengan tersuruk-suruknya kamu menapaki tangga awal kedewasaan bukankah nikmat yang tidak lagi perlu disangkakan? Gusti Allah itu memang begitu pengertian kan kepada hamba-Nya. Begitu bukan?
Aku pribadi sedang merenungkan bagaimana hendak mengekspresikan syukurku sebab telah dipertemukan dan disatukan dengan berbagai orang kece, di LPM Kentingan wa bil khusus. Setidaknya aku merasa hidupku setiap hari selalu bergelimang kebahagiaan. Meskipun sempat beberapa waktu lalu, hatiku ambruk, tapi toh menjadi begitu gampang pulih sebab ya hari-hariku kini ternyata dilingkupi bintang-bintang yang enggan merangsekkan gemerlapnya. Kalau kata Maliq & D’Essentials sih:
Dilahirkan, ditemukan, dan dipisahkanGugur satu tumbuhlah berjuta cintaManusia bercinta melahirkan jiwa ke duniaMengantarkan insan ke dalam semestanya di duniaHahaaha apaan coba. Ya pokoknya kita wajibbun wajib. Wardhu ain bahkan untuk percaya bahwa orang-orang di dekat kita adalah berjuta cinta itu. Yang sengaja dikirim Tuhan untuk bercinta bersama kita. Membangun kerajaan cinta melalui mimpi, ilusi, imajinasi, dan segala hal. Merekalah yang sengaja didesain Tuhan untuk membawa kita menemukan semesta kita di dunia. Bahkan di akhirat ding. Pokoknya sampai sesudah dunia runtuh (surga, red). Aamiin banget.
Gimana lagi. Apa lagi yang masih harus kutulis untukmu? Kan kau tahu aku tak pernah pandai menulis. Terlebih menyoal kalimat megamu itu tadi.
Mencintai sewajarnya. Membenci sekadarnya. Bersyukur sebanyak-banyaknya. Hits ngets deh kalimatmu iki. Nyentak hatiku ok piye. Kupikir kamu lebih mampu mendefinikan sendiri kalimat itu. Justru harusnya kamu yang menjelaskan ini padaku. Padaku yang rapuh(?). LOL.
Begitu yaa. Kutunggu balasanmu.

Kentingan, Surakarta, 24 Agustus 2015
Rizka Nur Laily Muallifa—konco jomblomu sing hits. Eh. Maksudku, koncomu menjomblo demi menemui kekasih hati yang enggan dihempas si(apa)pun. Heuheu doaku jomblo banget. Ketularan koe sih. Aku dadi penasaran banget karo jodohku. LOL.


MENANGGAPI SURAT KEJOMBLOAN TEMANKU YANG SATU INI.
OJO NGEROSO JOMBLO WOOY! *sebenere iki nasehat nggo aku hahai*


Jadi, maaf... akan ada selipan sesi curhat di blog geograf-imut ini, mengingat bahwa tumblr pribadi yang - hanya - orang - tertentu - saja - yang mengetahui, sudah dipenuhi oleh curhatan basi jaman SMA. Tentang mimpi, entah yang terwujud ataukan yang terjerembab ngenes, tentang kesukaan pada kakak kelas yang berujung patah hati, tentang beberapa teman yang menyebalkan, tentang aku yang alay. Pokoknya IYUH BGT -____-"

Hai, untuk Rizka Nur Laily Muallifa. Temanku. Eh, dia ini penulis loh! Bangga dong punya temen penulis :*


Maaf, mungkin tulisanku akan lebih menyiksa mata *bahkan menyiksa batin pembaca*, tidak sepertimu yang pandai merakit ALENIA *i mean alenia not alinea wkwk peace* dan sudah berpengalaman, berkecimpung di dunia kepenulisan lalu merambah ke pers. Baiklah.

Sebenere kalimat itu... Kalimat yang aku dapat ketika berdiskusi dengan salah satu mega-motivatorku. Seorang mahasiswi S-2 yang rela mengajakku bangun pagi demi mengikuti jalannya upacara peringatan hari kemerdekaan, padahal... para pesertanya adalah dosen - dosen dan karyawan UGM. LOL. 

Aku pernah baca beberapa literatur. Karya Khrisna Pabhicara misalnya, atau Pramoedya Ananta Toer, atau Andrea Hirata, atau Ahmad Fuadi... Mereka mendefinisikan cinta dengan begitu sederhana. Tau penyair hits semacam Khalil Ghibran, kan? Yang beberapa karya / tulisannya diantaranya diadopsi menjadi puisi Sapardi, kemudian di-musikalisasi-kan? Hmm... 

Kadang, diantara kita, termasuk hal nya aku... Ketika mencintai seseorang, pasti memiliki anggapan bahwa seseorang itu hanyalah milik kita seorang. Wajar, namanya saja tidak ingin kehilangan. Itu naluriah. Tapi... sadarkah kita, bahwa seseorang yang kita cintai adalah MAKHLUK? MAKHLUK YANG MEMILIKI PENCIPTA. Suatu saat dan suatu waktu, dia bisa diminta kembali oleh Sang Penciptanya. Lalu bagaimana dengan pencinta? Itulah mengapa aku menganggap karya - karya orang yang aku sebut diatas tadi begitu luar biasa. Karena apa? Karena mereka mendefinisikan cinta dengan begitu sederhana. Ingat ketika Dahlan harus melepas Aisha, atau Ikal yang melepas A Ling? hahah, Cinta tak se alay kisah Romeo-Juliet yang duh duh banget lah ya -___-" 

Mencintai Sewajarnya - sewajarnya saja, kita memberikan cinta kepada orang yang kita cintai. Tidak perlu berlebihan. Kadang, itu prinsip yang aku terapkan. Masih untuk orang - orang disekitarku - yaa... Bapak, Ibu, Keluarga dan teman - teman dekatku... Seperti katamu tadi, aku belum menemukan orang yang tepat. Orang baik disekitarku sangat banyak, tapi belum nemu aja. wkwk, ya jangan dipaksa. Nikmati aja prosesnya hahahha. curhat kan malah... 
Aku juga masih seperti remaja pada umumnya kok, masih suka sama orang... Kadang berlebihan, trus patah hatinya lebih - lebih lagi. Banting buku, ambil kopi, ngadep laptop, corat - coret sejenak, tidur, ilang deh sakit atinya. haha. Yaa kalaupun di logika sebenarnya perasaan kecewa itu kita sendiri sih yang ngebuat, bikin harapan - harapan gitu, trus kalo ga sesuai ekspektasi... kecewa deh. Ngrusuhin ati! Dan dari situ... apa karena aku yang udah sering patah hati gitu ya... kwkwk. Bisa mengambil pelajaran bahwa... Kita tidak perlu berlebihan mendefinisikan cinta. Woy aku masih belajar untuk itu!! But how, cinta ku ke kebumian/geografi yang membawaku kesini misalnya, dia tidak dapat didefinisikan. Tapi aku merasa nyaman bersama nya. Menyelami setiap sudut ruangannya, kemudian mencoba mencari hal - hal yang dapat diselesaikan dengan itu semua. Hahaha. Kalau kata ibuku, "Ya nanti kalau suka sama orang jangan alay lagi mbak, mosok setiap cerita ke ibu kisah 'suka' nya berujung tragis?" Noh! Cintai sewajarnya saja. Atau malah bisa seperti lagunya BCL...

... Bersama kamu... Ku rasa jauh lebih mengerti arti cinta tanpa harus mengucapkan cinta...
Itu aja sih, Intinya... orang yang kita cintai, BUKAN MILIK KITA seutuhnya. Jadi, kadang kita akan menjumpai bagaimana rasanya melepaskan.

Membenci Sekadarnya- Namanya juga MANUSIA. Punya sisi baik, pasti tak lepas dari sisi buruk. Benci dengan orang - maupun tindakan yang dilakukan orang itu MANUSIAWI. Tapi.... Ada kadarnya. Kita tidak pernah tau alasan mengapa seseorang melakukan hal yang kita benci. Menurut mereka hal itu PERLU DILAKUKAN. Tapi bukankah sudut pandang masing - masing orang bervariasi? Kita tidak pernah tau 'udang' apa di balik 'batu' mereka? Udang laut? Udang rawa? Udang sungai? Udang empang? Udang airtanah? wkwkw. LOL, Ya, kita MANUSIA. Suatu saat pasti kita memerlukan orang lain - bahkan orang yang atau pernah kita benci. Definisi benci disini tiap orang pasti berbeda. Entah diartikan tidak suka, atau yang lain lagi. 

Bersyukur sebanyak - banyaknya - Nah, ini esensi utama dari kalimat yang kamu katakan 'mega' tadi... Banyak hal - hal kecil - maupun besar yang kita jumpai... memiliki manfaat atau itu yang sudah ditetapkan menjadi garis besar hidup kita. Aku tidak akan bercerita panjang lebar mengenai ini karena setiap orang berhak mendeskripsikan kesyukuran versi masing - masing. Jauh didalam hati sebenarnya aku bisa mendeskripsikan, tapi tidak bisa menuliskan. Sepetinya koneksi hati dan otakku akhir - akhir ini agak bermasalah. Hahaha. Syukur itu kalau boleh ku katakan, definisi nya tak hingga. Bisa dikatakan seperti akar minus satu. Entah apa dan bagaimana, karunia Nya terlampau banyak. Tak hingga. Limit X = ~

Sumprit surat mu jones banget wee. wkwk. Mungkin kita harus belajar untuk menyederhanakan banyak hal. Termasuk menyederhanakan versi hidup, Wkkekkek. Tenang mblo, Tuhan menciptakan umatnya berpasang - pasangan. Jadi, tidak usah khawatir. Siapa tau pangeranmu yang datang nanti adalah seorang insinyur perkapalan hafidz Qur'an dan pendiri banyak yayasan? Who knows... Nikmati saja masa - masa kita saat ini. *Padahal yang nulis ini ga kalah penasaran sama siapa pangerannya nanti LOL* 



Jangan lelah menjaga pintu. Ada saatnya seseorang akan mengetuk, kamu membukanya perlahan... dan senyum simpul menghias lantaran 1000 mawar merah ada di genggaman tangannya. Untukmu. Tapi ingat, jangan tanyakan hati mana yang pernah ia singgahi sebelumnya sampai padamu, karena kamu sendiri juga pernah menjelajah isi rumahmu. Intinya, kalian adalah penjelajah. Entah sama konteksnya ataukah tidak. Semoga nanti kamu dipertemukan dengan orang yang tepat, disaat yang tepat. Jadi penulis yang handal gih! wkwk

Sudah ya, jari capek banget nih... Dari pagi di kampus baru pulang jam 19.40 tadi... wkwk. Mungkin lain kali aku akan melanjutkan atau memperjelas tulisan ini... "WOMAN OPINION : Wanita dalam skop Logika, catatan sebelum bersama"

Asrama Suharti V. 25 8 15 
Kota romantis. yang nulis juga romantis. 

Futuha, Imut. 

0 komentar:

Posting Komentar