environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Rabu, 05 Agustus 2015

Di Sudut Kotamu (Cerpen)

Mendung menggantung. Pagi buta berhias kabut di penghujung jalanan. Para penarik becak sibuk mencari penumpang yang hendak membawa barang dagangannya ke pasar. Tempat yang selalu ramai. Walaupun disampingnya ada Bengawan Solo mengekor. 

Pagi ini tidak seperti pagi biasanya. Minggu pagi, sangat asyik, kan untuk melepas penat? apalagi setelah dijejali setumpuk teori di tempat belajar. Orang - orang asyik bersepeda kesana - kemari bersama keluarga, atau... sekadar jalan - jalan di alun - alun kota menyaksikan para pemuda - pemudi asyik ngobrol berdua. Mereka - reka kisah mereka, atau mungkin merencanakan masa depan. Ah, tidak ada yang tau. Termasuk aku -- yang selalu tidak ingin tau.

Sudah ku bilang, tak seperti biasanya, kan? Ini akan menjadi pagi yang spesial. Aku - dengan sepeda biruku akan menjadi makhluk hidup - tak hidup paling berbahagia pagi ini. Oke. Jalanan ini akan menjadi saksi, betapa hatiku loncat - loncat dibuatnya. Badan gemetaran, mata berkunang - kunang, semesta seolah mendorong bahwa...

Akulah satu - satunya.... Yang akan bersamanya.

Sejenak aku menyandarkan sepedaku disamping pohon rindang, kemudian menghirup udara segar. Berharap hati-yang-tak-karuan ini akan mereda. Menjadi stabil seperti sedia kala. Temaram kabut jalanan. Aku melihat sosok-itu-datang. Semakin mendekat.... Kacamatanya lembab, mengembun. Sweater biru bertuliskan huruf "H" besar dibagian depan semakin meyakinkanku bahwa itu... Dia!

"Sudah lama menunggu?"

Aduhduuuhh... Jantungku semakin loncat - loncat tak karuan, mungkin sudah tidak bisa membedakan aliran darah mana yang harus melewati arteri dan yang harus melewati vena. Atau oksitosin ku mulai meledak? Entah. Aku memerah.

"Nggak kok..." Jawabku, menggantung memang, karena aku bingung mau membicarakan apa lagi.

"Mmm... Apa kabar? Sehat?" Lanjutnya mengawali pembicaraan.
"Alhamdulillah... seperti ini keadaannya. Hehe." Gugup, gup, gup, gup!

Kemudian aku duduk di pembatas jalan. Dia menyandarkan sepedanya di sisi pohon yang lain dan mengambil jarak sekitar satu meter di sampingku. "Oleh - oleh" - sambil menyodorkan sebuah kotak bergambar Paris.

"Hah?" Tanyaku, bingung. salting, atau entah apalah.
"Iyaa... Suka warna ungu, kan? Itu hasil rajutanku selama liburan musim panas."
"Uwooowwww!!! Keren sekalii!! Boleh aku pakai?" Ah, kegirangan. Kegajean, entah ke-apa-an-ku lah keluar semua.
"Silakan..." Jawabnya sambil tersenyum.
"Heheheheee..." Kemudian aku meringis.

Sebuah syal berwarna ungu bertuliskan huruf "H" berwarna abu - abu terlihat cantik aku kenakan. H adalah salah satu inisialku. 

Bengong, diam semua. Burung nuri berkicauan. Matahari mulai muncul. Kabut - kabut menghilang dan jalanan mulai ramai.

"Bojonegoro... Hmm..." Dia mulai membuka pembicaraan lagi.
"Lumbung pangan dan energi. Haha" lanjutku.
"Benar... Tapi kalau siang semakin panas saja ya. Haha"
"Yee... Mentang - mentang udah pernah tinggal di negara yang musimnya enggak tropis. Songong ih. Haha"
"Akhiri saja semua dengan 'haha'"
Tawa pecah : Hahahahahahahahahahaha


.... Masih berlanjut

0 komentar:

Posting Komentar