environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Sabtu, 12 Desember 2015

Pinus dalam Sebuah Retorika #1

"Menulislah untuk dirimu sendiri." Kata Dewi Lestari.

Oke, kenalkan, aku akan menyamar. Bukan, ini adalah aku. Namaku Eva, induk dari monster. Konon, Eva merupakan plesetan nama dari kata "Evil". Tapi karena mungkin aku adalah perempuan, jadilah nama Eva. Walaupun sebenarnya aku meragukan keperempuananku. Hanya saja, seperti yang ku bilang tadi, aku adalah induk dari monster. Kesimpulannya? Induk ; Perempuan. Baiklah, aku adalah induk monster, bisa membayangkan monster seperti apa? Jadi, jika tidak ingin tersakiti, jangan pernah dekat atau berteman denganku.

Beberapa hari yang lalu aku berjalan sendirian, mendeteng tas berisi laptop dan seperangkat alat tulis lainnya. Sendirian, sangat sendirian dan mungkin merasa kesepian. Aku menyusuri hiruk pikuk kota kecil ini, bertemu gelandangan, sesekali aku cekikikan bersama mereka tanpa memberikan sekeping koin pun. Jahat ya? Yaa.. memang begitulah. Hingga sampailah aku pada sebuah kafe bernama Moratella. Sekilas kafe itu tampak menyenangkan. Maksudku, bangunan dengan nuansa klasik dipadupadankan dengan pohon palm. Menyenangkan sekali, bukan? Segera aku memasuki kafe itu. Beberapa pelayan langsung menghampiriku, menyiapkan dua kursi besar untukku, karena satu kursi saja tidak akan muat. Aku meminta satu kursi lagi, kataku : Nanti kalau sahabatku datang, biarkan dia duduk disini, menikmati kopinya sambil menelan kepahitan : betapa pahitnya dia di dekatku, bisikku lirih menyatakan kalimat yang terakhir. 

Sembari menekan tuts atau entahlah apa namanya, keyboard atau tetekbengeknya, secangkir kopi telah berada di depanku. Raut muka ku masih datar saja, tampaknya pelayan kafe itu muak denganku. Ah biarkan, aku mencoba bermasabodo dan menikmati kopi. Beberapa menit kemudian, Anggi. Sebut saja demikian, dia adalah salah satu spesies non-monster, tidak sepertiku, Anggi adalah perempuan berhati malaikat, versiku. Semua yang dikatakan olehnya penuh kebijaksanaan, berbanding terbalik denganku yang selalu salah dalam bertindak dan membuat keputusan - versi beberapa orang.

Anggi bercerita kepadaku tentang angsa nya yang mulai tumbuh dewasa, beberapa diantaranya meminta segera dinikahkan. Bayangkan! Ah aku sendiri tidak pernah bisa membayangkan bagaimana angsa - angsa itu bisa tukar cincin dan mengenakan gaun pengantin. Aku tetap saja menikmati kopi, tanpa peduli keberadaan siapapun di sekelilingku. Termasuk Anggi yang awalnya ku tunggu - tunggu. Kali ini aku merasa dalam serdadu sepi, sangat sepi. Tidak merasakan keberadaan orang, bahkan angin pun enggan menerpaku. 

Aku mulai bosan, Anggi meninggalkanku begitu saja. Salahku memang, tidak mengindahkan keberadannya. Tapi dia juga goblok, mau - mau nya berteman dengan monster jahat sepertiku, sekalipun Anggi tidak akan pernah berkata di depanku bahwa aku pun sebenarnya sangat goblok. Menjadi induk monster dan berpura - pura tidak mengerti keadaan, tidak tahu diri, buruk rupa, buruk tindakan. Entahlah. Aku selalu percaya bahwa Anggi tak akan pernah mengatakan itu. 

Hujan mulai turun, menjadi stemflow pada pohon - pohon palm, aku bisa memandanginya dari dalam Moratella melalui jendela. Tiba - tiba ada kusir datang dari arah barat daya, kereta kuda nya tertutup rapi. Maklum saja, hari ini hujan. Aku mencoba memaklumi, seseorang yang ada di dalamnya, pasti akan kedinginan jika kereta itu terbuka. Pesakitan, kali ini bukan kesepian yang aku rasakan, tapi pesakitan, sangat sakit. Meskipun tidak tau penyebabnya apa. Syracuse, sebuah koloni Yunani di Pulau Sicilia. Pada masanya, mencari orang dengan logika handal untuk memenuhi kebutuhan pasar dengan berbicara secara persuatif. Aku tidak tau apakah perkiraanku ini benar. Namun Syracuse tidak ada pada abad 23. Dia hanya berada singkat di tahun 427 sebelum masehi. 

Baiklah, abaikan pemikiran randomku. Payung hitam mulai mekar, entah kenapa, warna hitam adalah warna yang paling cocok untukku, terbebas entah material penyusunnya dari hematit ataupun bitownit. Ah, ada - ada saja, betapa berat payung yang berbahan itu...

Sesegera mungkin aku menapaki jalanan. Sebuah sistem jalan metropop - demikian aku menyebutnya. Bukan karena sisi feminisme-seksi-cerdas-nan menggoda, bukan itu. Sebut saja ini sistem jalan yang mawut. Harusnya aku bisa berjalan dengan aman dan tenang di trotoar sebelah kiri, namun nyatanya, trotoar ini penuh lapak dagangan, bukan masalah pendapatan penghasilan atau bagaimana, tapi masalah penempatan. Ya, kali ini aku mempermasalahkannya. Bayangkan jika jalanan itu memiliki trotoar yang bersih, dengan lampu yang berkelip mesra ditambah beberapa pepohonan dan kursi - kursi disekitarnya. Pasti menyenangkan. Di sebelah kanan trotoar ada jalur khusus sepeda, tanpa hambatan, tanpa parkir morat - marit di sepanjang toko samping jalan. Betapa eksotisnya jalanan, akan banyak yang meninggalkan kendaraan bermotornya kemudian turut serta berjalan ataupun menggunakan sepeda, setidaknya untuk jarak yang relatif dekat, 2 km misalnya. Tidak boros, hemat energi, dan yang jelas tidak mengganggu kesehatan orang banyak. Bayangkan asap kendaraan yang dikeluarkan setiap berpindah tempat walaupun dekat, berapa emisi karbon yang dihasilkan, berapa ban motor yang bergesekan dengan jalanan lalu lepaslah Pb di area jalan kemudian dihempaskan oleh surface runoff, masuk ke dalam sistem irigasi kemudian terinfiltrasi ke dalam sistem airtanah? Udara kita hirup, airtanah kita minum! Ah, nampaknya monster ini terlalu memimpikan hal yang cukup mustahil di kota kecilnya. 

Kali ini aku tetap berjalan, melihat sosok - sosok kecil pengamen jalanan tanpa alas kaki. Mereka tak ketakutan melihatku, justru menghampiri. Mereka bernyanyi di depanku "Ibu monster yang cantik rupa, kasihanilah kami, kami berdendang untuk ibu, kami menari untuk ibu, diiringi rintik hujan dan daun berguguran" begitu kurang lebih syairnya. Aku tertawa puas, merasa terhibur, kemudian mengajak mereka berjalan bersamaku, "hai adik - adik kecil yang manis... Ikutlah bersama ibu monster, nanti kita makan kue dan minum teh bersama.". "Horeee!!" sahut mereka.

Di rumah, bayi monsterku sudah menunggu. Sepertinya dia kehausan. Oiya, kami akan nge-teh bersama. 

... bersambung ...

0 komentar:

Posting Komentar