environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Senin, 14 Desember 2015

Pinus dalam Sebuah Retorika #2

...Di rumah, bayi monsterku sudah menunggu. Sepertinya dia kehausan. Oiya, kami akan nge-teh bersama. 

***
Jalanan masih basah, hujan belum kunjung berhenti. Aku sangat menyukai suasana hujan, tapi aku tidak menyukai hujan. Suasana hujan jauh membuat nuansa lebih romantis dari biasanya, namun karena hujan, aku basah. Kedinginan. Kelu. Pernah mendengar cerita tentang hujan dan teduh? Hujan dan teduh tidak akan pernah bertemu sekalipun mereka saling merindu dan dirindu. Belum pernah mendengar ceritanya, ya? Baiklah, nanti akan ku ceritakan saat berdua di depan teras menghirup segarnya aroma teh hijau. Tiga bocah kecil ini terus mengikutiku dari belakang, mereka tak berpayung, katanya hujan akan membersihkan debu di tubuh mereka.

Lothestoft Street XIA 346

Aku tidak mendengar jeritan atau suara apapun dari luar rumah, perlahan aku membuka pintu, menoleh kanan - kiri mencari bayi monsterku, tiga bocah itu menunggu di luar, katanya mereka takut mengotori lantai. Aahh apalah ini, lantai kotor bisa dibersihkan, sementara prasangka kotor akan susah dihilangkan. Sesegera mungkin aku menyuruhnya masuk ke dalam, memberinya handuk dan kemudian memberi mereka kecupan, masing - masing mendarat di kening. Bayi monsterku ternyata masih tidur! di sampingnya ada beberapa mainan dinosaurus, aku sering mendongeng tentang dinosaurus, besar namun akhirnya mati juga. Kadangkala dinosaurus layaknya juga revolusi industri. Tau mengapa? Akan ku ceritakan nanti. Kemarilah, bersamaku nanti otakmu tak akan pernah kosong, rumah ku terbuat dari rak pustaka, karena bayiku sangat menyukainya. 

Dapurku di dekat ruang makan, di sebelah kanan perapian. Isinya macam - macam, tidak memiliki lemari pendingin, namun di dapurku ada suatu balok kayu berlapis yang diantara lapisan didalamnya berisi pasir, sensor pendingin ter-stel otomatis. Beberapa hari yang lalu bayi monsterku baru saja menyelesaikannya. Dia sangat tertarik terhadap teknologi. 5 buah gelas kaca diatas meja, aku mengambil 2 sendok teh gula masing - masing untuk 5 gelas itu, menyeduhnya dengan air panas, lalu menyelupkan teh kantong kedalamnya. Ada rahasia besar ketika meminum teh bersama, yang pertama : kehangatan, sekalipun teh itu sudah hangat, namun ketika diminum bersama dia akan jauh lebih hangat lagi. Yang kedua : cinta, segelas teh yang dibuat dengan cinta akan menyalurkan cinta ke si peminumnya. Percayalah padaku. Yang ketiga : Senyuman. Tolong percaya padaku bahwa ketika kita diberi sesuatu dengan senyuman, maka akan kita balas pula dengan senyuman. Dan taukah? Tidak ada senyuman yang lebih hangat selain senyuman yang tercipta dari rasa cinta dan ketulusan. Segelas teh memilikinya!

Di sebuah rak, aku meletakkan kue - kue kering yang aku buat bersama bayi monsterku dua hari yang lalu. Terbuat dari cokelat, gandum, madu dan susu. Bentuknya bulat, bukan digoreng atau dikukus, namun dipanggang. Aku yakin, ketiga bocah itu akan sangat menyukainya, meskipun daritadi aku hanya membiarkan mereka melongo di kursi ruang tamu.

"Silakan!" kataku. "Horeee!! teh dan kue!" teriak mereka. "Hush, jangan keras - keras, bayiku masih tidur". Mereka terdiam, tersenyum sambil menyenggukkan kepala. Aku sesenggukan. Haru, rindu. Entahlah, wajah polos anak - anak memang tiada tara membagi kebahagiaan.

"Rumah ibu monster kecil, ya?"
Salah satu dari mereka akhirnya membuka mulut kembali. 

...bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar