environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Sabtu, 23 Januari 2016

Just BHAY 3rd Semester : Sepenggal Suka Duka dan Hal - Hal Gila

KHS Full, registrasi oke : Welcoming 4th Semester with New Challenges and also New Opportunities

Rasanya tidak afdhol kalau saya tidak menuliskan "secercah tetekbengek semsester 3" dan "segenap ke-embuh-annya", wkwkwk
Sempat diberi peringatan oleh beberapa kakak tingkat : "Hidupmu di geografi akan dimulai di semester 3,Nak!" well, pertama pasti deg - deg an, bakal kayak apa ya semester 3? bisa melaluinya dengan kondisi hidup - hidup ga ya? Ahihihi
Bayangan yang "enggak - enggak" tentang semester 3 mencuat begitu saja, belum lagi membayangkan adanya 5 praktikum atau 6 praktikum yang cukup membuat "kantong mata sebagai investasi masa depan" hahaha *lay oke, adanya berbagai macam rutinitas organisasi yang harus dipenuhi, pemahaan materi (teori) dalam kuliah, dan pertemanan tentunya.

Alhamdulillah... Semester 3 telah terlewati

Dan, saya merasa.... Ada banyak sekali yang bisa saya jadikan hikmah di semester 3, disamping keberhasilan saya memanajemen waktu kali ini, secara tidak langsung telah mengajarkan saya untuk sinkronisasi baik akademik maupun non akademik. Tapi, ada juga hal yang membuat saya acak - acakan : manajemen hati dan pertemanan, akan saya tuliskan nanti mengenai ini, tapi secara tidak langsung. Hihi

Jika normalnya semester 3 teman2 mengambil 23/24 SKS, saya hanya mengambil 21 SKS. Ini berdasarkan nasehat dosen pembimbing akademik saya, Prof.Junun, dan saya sendiri, dimana saya (saat ini) memiliki amanah di 5 organisasi dan beberapa kepanitiaan, sehingga pertimbangan 21 SKS kami rasa cukup untuk bisa maksimal baik akademik maupun non akademik. Rincian 21 SKS ini, saya mengambil 5 praktikum dengan 1 praktikum blok mata kuliah yang sifatnya pilihan, sebut saja Kualitas Air (water quality). Sebenarnya, masih terdapat 2 mata kuliah wajib dan 1 praktikum wajib yang belum saya ambil di semester 3, yakni Geografi Regional, Pendidikan Agama dan Praktikum Geografi Regional. 

Dengan 21 SKS, ke-5 organisasi saya bisa masih tetap berjalan : PIG EGSA, Sekretaris GSC, Litbang YFCC, kabid keilmuan dan media IMM Rizmi, dan GIE. Walaupun, di YFCC saya jarang terlihat (tapi percayalah, miskom ini akibat WA saya yang ga aktiif gara2 tablet terbelah jadi 2 -___-"). Disamping itu, saya masih bisa mengikuti kompetisi dan kegiatan ke-volunteer-an, walaupun, mungkin dibeberapa kepanitiaan, saya jarang ikut rapat hehe. Jangan ditiru.

Semester 3 ini saya bertemu dengan banyak orang, kenalan baru dari "luar" seperti teman2 dari GIE, IMM maupun IYD (Indonesian Youth Dream, saya pernah jadi volunteer bagian event and creative dan outbound inisiator disana). Darisana, relasi saya bertambah, tentunya. Dan wawasan jadi semakin luas, bertemu dengan banyak orang, dari berbagai macam latar belakang dan karkternya... Hmmm. sangaaat menarik.

Dukanya, untuk bisa mengimbangi itu semua, saya harus rela sering begadang, bahkan, ada beberapa hal yang diluar batas manajemen hati dan emosi saya, saya menyakiti beberapa orang. Hubungan pertemanan saya dengan satu orang menjadi tidak harmonis. Itulah mengapa, saya cukup merasa gagal dalam memanajemen pertemanan di waktu ini dan kemarin. Tapi dengan demikian, saya bisa belajar banyak hal. Terutama : Penerimaan. Ya begitulah, no pain no gain, intan itu bisa terbentuk kan akibat panas dan tekanan yang besar, ibaratnya ya kayak gitu. Dilain sisi, saya memiliki jaringan yang lebih luas, yaaa walaupun bukan pertemanan skala dekat, tapi dengan jaringan yang luas ini, kami dapat melakukan hal - hal baru yang lebih berguna, seperti project penelitian, pengabdian pada masyarakat, bercocok tanam dan masih banyak lagi hal - hal disela sela kesibukan yang kami lakukan. 

Mengerjakan laprak H-sekian jam, tugas H-sekian menit, Ujian baru belajar H-sekian jam, Tidur di Circle K gara - gara pulang melebihi jam malam kos, jadi buronan petugas perpustakaan dan dosen, masih aja jomblo, dan banyaaak sekali hal - hal gila selama semester 3 ini. Hahaha. ga lucu sih, tapi yaudah lah yaa.

Namun Jujur, saya menjalani semester 3 ini dengan "yaudah deh", syaratnya : "totalitas tanpa batas". walaupun, ada beberapa hal yang saya tidak bisa total di dalamnya (bukan skala akademik). Menjalani kehidupan semester 3 dengan penuh warna, karena kalo ga dicampur, warnanya bakal itu - itu aja. Hahahaah. 

Menjelang semester 4, yang katanya "puncak - puncak"nya di geografi. Awali saja dengan doa. Usaha ada di dalamnya, dan syukur harus selali menyertai tiap langkahnya. Semoga!

Read More

Sabtu, 09 Januari 2016

Kisah Bunga dan Dua Pengembara

credit : www.digaleri.com

Alkisah, di sebuah kebun yang luas, hiduplah berbagai jenis bunga. Ada yang merah, ada yang putih, ada yang berduri dan ada pula yang tidak berduri. Suatu hari, seorang pengembara bernama Phoenix berjalan menuju kebun itu, sebelumnya dia tidak pernah mengetahui seberapa luas dan panjang jalan di kebun itu. Di dalam kebun, banyak bunga - bunga nan elok dipandang mata. Namun ada satu syarat, jika ingin memetik bunga, harus ada satu bunga saja yang harus di petik. Apabila telah keluar dari kebun, maka tidak diperbolehkan untuk kembali lagi. Phoenix tertuju pada satu bunga yang berdiam diri dan seolah tersenyum ke arahnya. Bunga tersebut cukup cantik dan agak berduri, namun baunya sangat harum. Phoenix yang terkesima melihat bunga itu lantas berfikir apakah dia akan memetiknya ataukah tidak, bunga itu begitu wangi, yaa walaupun memiliki duri. Tak lama kemudian, Phoenix menoleh ke kanan dan ke kiri. Berfikir sejenak, gumamnya....

"Hmm... Petik atau tidak yaaa.. Tapi perjalananku masih panjang, di sana pasti ada bunga yang lebih wangi dan cantik dari bunga ini."

Akhirnya, Phoenix pun berlalu begitu saja dan tetap pada pendiriannya : berfikir menikmati kebun sambil mencari bunga yang 'lebih' dari standartnya. Sang bunga pun memandangi Phoenix dengan penuh harap, dia berharap, sebelum Phoenix benar - benar keluar dari kebun, Phoenix berubah pikiran dan kembali padanya. Namun apa dikata, Phoenix tetap melanjutkan perjalanannya. 

Hingga suatu ketika di ujung kebun -- Phoenix tidak pernah mengetahui seberapa panjangnya -- dia tidak menemukan satu pun bunga yang sesuai dengan seleranya. Bergegaslah Phoenix menoleh, namun ternyata pintu gerbang kebun telah tertutup. Dengan lara hati, Phoenix meratapi keputusannya. Pupus sudah harapan yang selama ini dia bangun. 

Kemudian, bagaimana dengan sang bunga?
Phoenix yang bersedih hati, kemudian menunggu di dekat pintu keluar kebun bunga, Seorang pengembara yang tidak ia kenal beberapa saat kemudian keluar dari kebun dan membawa setangkai bunga, bukan bunga yang Phoenix inginkan. Dia terus menunggu, pengembara - pengembara berikutnya pun lewat, hingga sebanyak lebih dari sepuluh pengembara, dan tidak ada satupun yang membawa bunga tadi. 

Akhirnya, pada saat pengembara ke-11 keluar dari pintu kebun bunga sambil membawa bunga --yang lain--, Phoenix tak kuasa menahan isi hatinya dan menceritakan semuanya ke pengembara tersebut, tak lupa, dia menanyakan kabar bunga --yang ia jumpai-- apakah masih pada tempatnya ataukah telah diambil oleh orang lain.

Pengembara ke 11 itu berkata 
"Taukah engkau, aku sudah sangat cukup lama berada di dalam kebun itu, bahkan sebelum kau memasukinya. Aku sering melihat ada seorang pengembara bernama Pegasus yang setiap hari selalu memandangi bunga nan elok dan wangi itu, dia hanya memandangi dari kejauhan, tak berani mendekat. Setiap saat dia berbisik 'semoga bunga itu diambil oleh tangan yang tepat', Pegasus memosisikan dirinya sebagai sahabat si bunga itu, dia tidak akan mau ada hewan atau apapun yang merusak bunga tersebut."

Phoenix pun tertegun dan berkata lagi
"Lantas, sekarang bagaimana keadaan bunga itu? Aku cukup menyesal karena tidak bisa mengambilnya. Dan, bagaimana dengan Pegasus? Apakah dia sudah keluar dari kebun ini?"

Sang pengembara geleng - geleng kepala sambil menepuk jidat dan menjawab "Bunga itu baik - baik saja, tiap hari wanginya makin terasa, durinya tumbuh kuat namun sekarang cukup renggang, warnanya kian merona. Dan taukah? Pegasus belum keluar dari kebun itu. Tiap hari dia yang merawat dan membuat bunga itu selalu ceria."

"Mengapa Pegasus tidak mengambilnya?" Lanjut Phoenix

"Dia hanya akan memetiknya pada saat yang tepat."

"Bagaimana jika ada pengembara lain yang memetik bunga itu?"

"Pegasus hanya meminta yang terbaik, siapapun, yang dapat memetik bunga itu, dan dia akan merelakannya, asal pada tangan yang tepat."




***
Read More

Rabu, 06 Januari 2016

Tentang "Aku" dan juga Mimpi

"Orang hanya mengenal namamu, sedikit yang tau perjalanan, suka duka, dan dirimu yang sebenarnya."

Saya tidak akan berbicara panjang lebar mengenai diri saya, tidak perlu menjelaskan secara detil kepada publik tentang saya, entah mau mengatakan saya sebagai seseorang yang judes dengan alis tebalnya, keras kepala, humoris, sedikit tomboy atau lalalala lainnya. Biarlah. Toh, orang lain juga tidak akan peduli. 

Malam ini saya mencoba merefleksi diri saya sendiri. Ya, tulisan ini lebih terkesan curhat. Jika Anda berkenan membaca tiap katanya, saya persilakan. Namun saya ingatkan, jika dalam benak Anda - bahkan hingga sampai kepada kalimat ini - Anda memiliki prasangka, tolong hentikan saat ini juga, dan tutup jendela website yang berisi alamat blog saya. 

Siang tadi, saya menghabiskan waktu saya, bersama orang yang saya sayangi di sebuah kafe bernuansa classy, lalu menuju sebuah rumah makan yang memiliki ciri khas rasa sambalnya, perjalanan kami lanjutkan menuju Masjid Gedhe Kauman - mencicipi sentuhan ilahiah- dan berlanjut lagi, sekadar windowshopping di sebuah Toko Buku yang menawarkan diskon gila - gilaan awal tahun. Saya merasa... Waktu begitu cepat berlalu. Membolak - balik buku, bercengkrama sebentar, tersenyum, membaca lagi, melihat jendela, yaa seperti itu. 

Kembali lagi, mengingat betapa saya, dulu, dan mungkin juga sampai sekarang. Memiliki sifat ambisius terhadap sesuatu hal. Memiliki target - target yang ingin dicapai dan rencana - rencana strategis. Setiap akhir tahun masehi saya selalu menuliskan target saya di secarik kertas. Saya masih ingat betul target - target saya di tahun 2012 - 2013 seperti... Juara Olimpiade Sains, Juara nanana, Juara nanana, Peringkat paralel nanana, Penghargaan nanana, pergi ke nanana, bertemu dengan nananana... Yaa pokoknya pada tahun 2013 itu... saya menuliskan sekitar 25 target. Tak tanggung - tanggung, 18 diantaranya goal! tercapai! Manis sekali rasanya, lebih dari 50%. Tahun 2014, masih sama. Menuliskan target pula. Tapi berkurang, keinginannya lebih sederhana walaupun terkesan membohongi diri sendiri : Lulus UN dengan nilai rata2 diatas 9 (btw nilai UN rata2 saya 8,7), Diterima di Institut Teknologi Bandung, FITB (Btw saya ga pernah daftar kesana), Liburan ke Jogja (Btw sekarang itu yang menjadi tempat saya mengenyam pendidikan tinggi) dan masih banyak lagi lallaalalalala lainnya. 

Tahun 2015, saya hanya menuliskan sebuah keinginan sederhana : mengabdikan diri di organisasi yang saya ikuti, dapat pergi ke luar negeri, mempublikasikan tulisan ilmiah, membuat novel/dongeng, lolos PKM didanai. ya! itu saja, dan alhamdulillah semua terealisasi. Ada beberapa keinginan lain sebenarnya, tapi saya tidak menuliskannya. Tahun 2016 ini, ada 20 target yang ingin saya capai. Loh, lebih banyak? Apa yang membedakan??

Selama ini, target - target yang saya capai terlalu egois, mementingkan kesenangan dan keberlangsungan diri saya sendiri. Porsi doa saya, sebut saja demikian, memunculkan ego lebih dan hanya berorientasi pada kepentingan pribadi. Saya adalah seseorang yang sangat menghargai proses. Saya tau, untuk menuju ke suatu tempat, kita tidak bisa memejamkan mata lantas menghilang. Semua butuh waktu. Dan, seiring berjalannya waktu, mengunjungi beberapa tempat, bertemu dan berdiskusi dengan banyak orang, keluar-masuk zona nyaman, dan ke-embuh-an yang saya rasakan, tertatih - tatihnya saya yang tidak diketahui oleh orang hingga saat ini - saya menuliskan tulisan melalui sebuah benda sebut saja laptop yang bunyinya seperti pengaduk tepung, jatuh - bangun karena harapan dan kekecewaan yang saya ciptakan sendiri,... 

Akhirnya, saya mengerti, mimpi tak melulu masalah kamu harus mengunjungi negara mana tahun ini, konferesnsi apa saja yang akan kamu ikuti, penelitian apa saja yang kamu geluti, bukan masalah seberapa banyak penghargaan entah penghargaan keaktifan berorganisasi atau prestasi, bukan masalah itu. Sungguh, bukan perkara itu. 

Ada keinginan - keinginan yang jauh lebih besar, pencapaian dan effort nya. Bukan melulu masalah pamor, kesuksesan - karena pada dasarnya kesuksesan memiliki definisi yang berbeda - , Tapi masalah kebermanfaatan. Mau mengambil peran apa nantinya. Itulah yang saya garis bawahi. Saya tau, sadar diri, usia 19 tahun tentu bagi sebagian orang masih dianggap sangat labil dan kurang pengalaman. Its okay, i can deal with it. Tapi saya pernah mengalami kegagalan, saya pernah merasakan kekecewaan yang meluap menjadi tangisan karena harapan. 

Jika saya gagal, saya akan mengambil kesimpulan : 1) usaha yang saya lakukan kurang besar, 2) Tuhan memiliki rencana lain. Simpelnya itu saja. Saya tidak berkata bahwa saya akan kehilangan mimpi - mimpi saya, tidak demikian. Mimpi - bagi saya adalah suatu dorongan untuk berproses lebih maju dari sebelumnya. Dengan bermimpi, ada kekuatan baru yang muncul dan harapan yang tumbuh. Namun dengan catatan, perwujudannya, seperti apa? Niatnya bagaimana? Sudah tepatkah? Ya, itulah yang saya garis bawahi untuk saat ini. 

Biarlah, saat ini, saya ingin menikmati semua proses untuk membangun target besar saya, 20 target yang saya tuliskan sebagai resolusi di tahun 2016 akan sangat sulit tercapai jika tidak ada usaha dan doa. Target - target itu sejatinya adalah puzzle, yang sebenarnya kelihatan sepele dan tidak muluk - muluk, namun akan sulit dijalankan tanpa keistiqomahan. Mau tau apa saja ke-20 menjelang usia saya yang ke-20 itu? Salah satunya adalah 5 waktu tepat waktu dan salah duanya adalah membaca minimal 2 buku dalam satu minggu. 

Saya yakin, dan saya percaya, saya dapat menuai tangga kesuksesan versi saya sendiri, dan saya bahagia karenanya. Saya didukung, bukan didorong. Akan ada energi yang mensupport dari depan, samping dan belakang. Hanya perlu melakukan yang terbaik di setiap kesempatan, menjadikan doa dan restu orang tua sebagai senjata inti, niatan sebagai pondasi, dan... Tuhan nantinya yang akan menentukan. 

Waktu begitu cepat berlalu. Jam sudah menunjukkan pukul 12.13 AM saja.

Semoga selalu dalam lindungan Tuhan.


Sleman, 6 Januari 2016



With Love,


futuhasara
Read More

Jumat, 01 Januari 2016

Katanya, Kamu Rindu


Katanya, kamu rindu, kata temanku sih. Ah kamu terlalu takut mengatakannya padaku secara langsung.
Katanya, kamu rindu. Berniat hendak melunasi, namun hati tak sampai menanggung bimbang, menimbang reaksi apa yang akan kuutarakan kepadamu.
Katanya, kamu rindu. Heeei, bukan cuma kamu! Bagaimana kalau ada yang lain, yang mengutarakan perihal rindu. 

Wah, kamu, tersenyum sambil geleng - geleng kepala membaca tulisanku.
Intro! itu cuma intro yaa. Wkwkwk

Kemarin malam ketika ibu menelpon saya dan mengatakan bahwa beliau rindu, rasanya dada sesak dibuatnya. Beliau berkata "Adekmu sepertinya sudah nahan kangen", greesss. Air mata menetes perlahan tapi sebisa mungkin menahan haru dan sesenggukan agar tidak kedengaran di telpon.  "15 hari lagi saya pulang, bu..." Ucap lirih saya menahan tangis. Haha

Rindu, banyak definisi tentang rindu, tapi yang saya tekankan disini adalah... rindu bagaikan dendam. Membuat sesak dan rasa tak sabar, sesegera mungkin menginginkan pertemuan. Tapi rindu tidak selamanya harus membuat pesakitan, hanya saja.... HARUS SEGERA DIBAYAR!

Bu, Nantikan aku pulang!
Read More