environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Selasa, 01 Maret 2016

Analogi Kampus dan Lahan

"Kamu semakin dewasa dan aku semakin tak paham". Muallifa, 2016

Pagi itu mengalir biasa saja, hanya ada bunyi - bunyian pertanda ada chat masuk. Yaa... dari orang yang selama ini aku "respect", entah pemikiran, kepribadian, dan beberapa hal menarik lainnya. Aku menganggapnya kakak. Laki - laki paling sabar menghadapiku yang pecicilan ini, bersedia membagi ilmu dan pengalamannya, serta mampu memberi keputusan dengan cepat dan bijak. Yaa, begitulah sosok yang aku kenal. Mas Yoesep. Aku biasa memanggilnya Mas Ocep. Hari itu aku menemaninya membeli tas jinjing sebagai pengganti tas yang hilang saat kuliah lapangan.

Jalanan Jogja masih ramai seperti biasa. Aku dan Mas Ocep berbincang ringan, diselingi guyonan namun menyebalkan. Kami menaiki sebuah supermarket menggunakan eskalator menuju lantai 3. Tidak menunggu lama, barang yang diinginkan pun akhirnya ada di tangan. Karena tepat jam makan siang, akhirnya kami memutuskan untuk menyebrang jalanan Terban dan mendaratkan diri di sebuah restoran cepat saji. Entah ada angin apa Mas Ocep mentraktir, padahal aku masih punya janji untuk mentraktir dia (janjinya : kalau aku ada pencapaian, nanti aku traktir). Haha, yaudah sih, namanya juga rejeki.

Beliau banyak bercerita padaku mengenai hari - hari saat supercamp. Tidak hanya itu, kami bercerita panjang lebar mengenai akademik, ide - ide penelitian, dosen - dosen kece, study abroad, pengembangan diri, dan lain sebagainya. Hingga tibalah pemancingan itu datang. Oke, aku tidak bisa berbohong. Aku mengakui, Kebingungan, pilihan yang sulit, jejak keputusan yang pelik. Di lain sisi, aku masih ragu. Pada akhirnya, Mas Ocep mengeluarkan jurus mautnya : caranya memberi nasihat.

"Dek. Dulu kamu sebelum masuk UGM membayangkan UGM itu seperti apa?"
"Yaaa keren banget sih Mas, hmm.."
"Sekarang?"
"Udah biasa aja, soalnya udah tau ini itu nya."
"Oke, sekarang aku tanya?"
"piye?"
"Kamu punya sebuah lahan, lahan itu masih kosong. Apa yang pertama kamu lihat?"
"Yaa kekosongan lah Mas."
"Terus, apa yang akan kamu perbuat?"
"Mungkin mengolah tanahnya terus menanami lahan itu, dengan tanaman misalnya."
"Hmm... Apakah setelah itu kamu akan senang melihat tanaman itu tumbuh subur?"
"Yaiyalah Mas, orang tanamannya di rawat, kalo ada hasilnya pasti aku seneng laah."
"Tolong pertimbangkan itu baik - baik."

***
Hubungan antara laki - laki dan perempuan, memang selalu aneh, menurutku. Andai aku boleh meminta, aku tidak ingin terjerembab dalam periode ini. Sayangnya mau tidak mau usiaku semakin bertambah, Manutup diri tentu bukan solusi, kan? Bagaimanapun, periode ini harus tetap dilalui.

Semoga,
Semoga lahan yang tepat.
Atau jika tidak, 
Entahlah.

Kamu pasti datang, kan? :)

0 komentar:

Posting Komentar