environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Jumat, 18 Maret 2016

Perempuan yang Mempekerjakan Perempuan

Selamat Pagi :)

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti kelas perkuliahan PSDM (Pengembangan Sumberdaya Manusia / Human Resources Development). Saya sengaja mengambil mata kuliah itu, karena saya rsa itu penting (kalau saja, nanti, saya bisa bikin suatu Rumah Baca dan memerlukan banyak staff. wkwk aamiin) disamping mata kuliah tersebut diampu oleh dosen yang menyenangkan dan very open minded. 

Hari itu kami belajar mengenai 3 tahapan penting dalam pembangunan sumberdaya manusia, antara lain : Pengendalian (bagaimana supply dapat dikendalikan); Pengembangan (bagaimana potensi yang ada dapat dikembangkan); serta Pemanfaatan (bagaimana sumberdaya yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal).

Kami masih membahas satu topik pada 100 menit itu, yakni tentang pengendalian penduduk. Tujuan dari pengendalian penduduk itu adalah mengendalikan kuantitas (baik jumlah maupun komposisi) untuk mempermudah pengembangan (kualitas) dalam rangka pemanfaatan sumberdaya manusia. Nah, kebetulan saat itu kita berfokus mengenai fertilitas (kelahiran) dimana fertilitas sendiri merupakan suatu intermediet variabel. Terdapat 11 variabel yang terbagi menjadi 3, yakni : intercost (hubungan seks); konsepsi (saat pembuahan berlangsung dan berhasil tumbuh di rahim ibu); dan gestasi (berupa outcome/kelahiran).

Tiba - tiba secara tidak langsung dosen menyinggung tentang teori Schultz (education, training, and investments in health open up opportunities and choices that otherwise would be unavailable to many individuals) dari teori itu, bisa kita kembangkan 3 dimensi pengukuran human development, yakni pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Entah karena angin apa, diskusi kami menjadi "belok". Kami menyinggung mengenai perempuan; Salah satu program pengendalian penduduk adalah dengan mengendalikan fertilitas, dan pengendalian fertilitas salah satunya dapat dilakukan dengan pendidikan, utamanya woman educated. Perempuan yang cenderung berpendidikan, umumnya akan menunda usia perkawinan, setidaknya diatas usia 20 - 22 tahun, berbeda dengan 20 - beberapa puluh tahun sebelumnya dimana perempuan menikah muda seolah menjadi tradisi.

Jika usia perkawinan ditunda, otomatis masa subur akan berkurang. Misal : seorang perempuan mengalami menstruasi pertama pada usianya yang ke-12, kemungkinan dia akan menopause sekitar usia 49 - 52 tahun. berarti ada sekiitar 40 tahun masa suburnya. Jika perempuan itu menikah di usia yang ke-18, itu artinya terdapat 36 tahun masa subur, nah jika perempuan tidak mampu mengendalikan waktu kelahiran, maka dimungkinkan potensi memiliki anak dalam jumlah yang banyak akan besar. Berbeda dengan perempuan yang menikah di usia ke 24 atau 25 (memang idealnya secara psikologis dan biologis adalah sekitar usia segitu ._.), maka dia akan memiliki masa subur pasca pernikahan adalah 27 tahun. Dan, perencanaan kehamilan minimal dapat dilakukan dengan baik.

Masalahnya disini yang muncul adalah, ketika perempuan berpendidikan, terdapat suatu kecenderungan perempuan akan lebih condong ke sektor publik ketimbang sektor domestik. Beberapa solusi yang ditawarkan adalah dengan perempuan tersebut tetap berada di sektor publik, bekerja, dan mendapatkan uang, sementara dia akan mempekerjakan perempuan lain untuk mengurusi sektor domestik. Hm, bahasa gampangnya gini : misal ibu Ngatiyem bekerja di kantor X dengan waktu kerja pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 16.00 WIB, apa ada waktu untuk mengurus rumah, merawat suami (hahaahha), dan menemani anak? Sangat sulit dilakukan kecuali bagi wanita yang memang bagus dalam manajemen waktu (itupun saya rasa masih sangat keteteran, karena saya melihat ibu saya yang seorang ibu rumah tangga, dan tetep riweuh ngurusin adek dan bapak... ya kan saya jarang di rumah sejak beberapa tahun yang lalu). Nah solusinya? Bu Ngatiyem akan mempekerjakan Bu Sarmini untuk mengurusi "urusan rumah".

Bagaimana dengan pendidikan anak? Jika masih kecil? Nah, inilah yang menjadi risikonya. (tapi saya cukup takut membahas tentang pendidikan anak usia dini, belum ada dasar ilmu ._. yaudah, besok belajar)

Hal ini bisa kita sangkutpautkan dengan TKW yang bekerja di luar negeri, mereka bekerja untuk wanita yang bekerja dengan penghasilan yang lebih tinggi dan mereka digaji lebih rendah. Itulah sebabnya, pahlawan devisa kita ini tidak lepas dari antek - antek politis, bau - bau makelar, apapun lah itu, yang jelas, ketika membahas masalah perempuan dan hak - haknya, saya menjadi sangat sensitif. Semoga para perempuan - perempuan tangguh yang berjuang di Negara sana bisa kuat dan selalu dalam lindungan Tuhan. Aamiin.

Nah, nanti itu siklusnya juga bakal muter - muter, serius ._.

Menjadi perempuan berpendidikan, itu penting. sangat penting, ya walaupun bukan (in case) dalam akademik. Tapi tujuan pendidikan kan "mencari kebenaran", kita belajar dari apapun yang telah kita lakukan, kita ambil kesimpulan dan pengalaman, dari situ pola pikir kita akan terasah.

Saya jadi ingat guyonan teman saya, Irvan Agung. Dia menanyakan pada saya :
"Fut, kalau anak cerdas itu berarti dari mana nya yang cerdas?"
"ibunya, dong"
"kalau anaknya bodoh?"
"ibunya, bukan?"
"bukan!!"
"lhah terus?"
"ayahnya laah..."
"kok?"
"yaa ayahnya yang gobl*ok, tidak bisa mencari ibu yang cerdas."

Ngikik sumpaah ._.
Nah, memilih untuk berada di sektor publik maupun sektor domestik adalah hak masing - masing perempuan. Tapi ya itu, semua keputusan pasti mengandung risiko, kan? Yasudah, tanggung jawab adalah bagian dari konsekuensi :"))

#PagiRandom



0 komentar:

Posting Komentar