environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Senin, 10 Oktober 2016

#13 Minutes Writing: Kemakan Iklan

Ceritanya, tadi pukul 20.30 an WIB, saya pulang dari rapat IGI-IMAHAGI dengan "partner in crime" saya, Fadilah. Sebelum sampai di kos, saya mampir di CK buat beli kopi, karena malam ini saya mau LEMBUR. WAKAKAKA. Di sana, saya mendapatkan promo spesial, yakni satu cup kopi plus satu snack sebut saja snic*er. Sesampainya di kos, saya taruh kedua benda itu di atas meja ruang tamu, niatnya biar sedikit dingin (kopinya). Kegob*ogan lain yang saya alami adalah: snack yang notabenenya gampang meleleh kalo terkena suhu panas itu saya letakkan tepat di atas cup coffee.

Saya tinggal bentar ke depan gang buat nge-print peta A3. Datang lagi dan nyamperin dua benda itu, sruput kopi, asik, enak lah. Yang bikin melongo adalah, snack nya sudah tidak padat lagi. Akhirnya, saya menimang-nimang snack itu dan teringat kejadian satu setengah tahun silam....

Waktu itu, sekitar Januari 2015 saya diantar Aditya belanja untuk persiapan kami mengelilingi negeri antah-berantah itu. Karena momen tersebut adalah penerbangan ke luar negeri pertama bagi saya, dan ke sekian bagi Aditya, akhirnya kami berdiskusi sejenak untuk memutuskan apa-apa yang harus dibeli. Saat itu Winda kebetulan sedang tidak bisa ikut bersama kami untuk kongkow kongkow. Kami belanja di Mir*ta Kampus dengan membawa uang 200ribu, seratus dari saya dan seratus dari Aditya.

Yang saya masukkan ke dalam keranjang belanja pada saat itu adalah permen, abon, beberapa emergency resources wkwk, susu, dan snack. Setiap pembelian apapun, saya mendiskusikannya dengan Aditya, saat itu kami hendak membeli sesuatu yang efisien. Kata Aditya, berhubung ada iklan yang bilang "Mulai lapar? Ambil sn*****", akhirnya kami membeli 15 biji wkwk.

Pada saat di pesawat, prentilan itu menghiasi totebag milik saya, berhubung perjalanan Jakarta-Bangkok yang cukup lama, ditengah perut yang keroncongan, dan pundi-pundi rupiah yang sayang untuk dibelikan makanan di dalam pesawat, akhirnya kami mengkonsumsi snack itu. Lalu apa yang terjadi? Awalnya merasa kenyang, sambil bilang "wah iya, bener ya iklannya". Selang beberapa menit kemudian, krucuk-krucuk.. perut kami berbunyi. Ya iya lah, lha wong dari Pasar Senen jam 1 malem, ke Soeta pukul 2 dan penerbangan pukul 4 pagi, dari malem belum makan.. Haha, koplaks emang. Dan ya, begitulah..

Kadang kesan pertama itu menjadi mindset, dan mungkin kita akan menyadarinya kalau sudah cukup waktu.

Akhirnya, 12 snack masih tersisa, selama lima hari kami berada di tiga negara yang berbeda, pada saat kembali ke Indonesia, snack itu masih tersisa 8. Keren kan ya? Haha.

Hikmah yang bisa dipetik adalah... *udah umum sih*: Rasakan dulu, baru simpulkan.

Kadang kita gampang melakukan justifikasi tanpa membuat banyak pertimbangan dan empati terhadap objek yang bersangkutan.

Nasehat buat saya juga sih,

Selamat Malam!

0 komentar:

Posting Komentar