environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Selasa, 08 November 2016

Meneladani Hujan

Saya ingin berkisah. Sore ini, selepas praktikum dan selepas kejadian "bersejarah" dalam hidup saya yang kaitannya erat dengan tulisan ini, dari lantai 3 Gedung D Fakultas Geografi UGM, menuruni tangga menuju lantai 1, bertemu banyak orang dan di luar masih hujan. Payung ungu saya akhirnya terbentang. Melintasi Jalan Kaliurang yang telah ramai karena segala macam aktivitas pasca senja akan dimulai. Banyak orang selepas bekerja yang pulang ke rumah, dan pedagang-pedagang yang mempersiapkan jualannya di samping-samping jalan.

Meneladani hujan.

Jika kita ada suatu kegiatan yang urgent dan bersamaan dengan hujan, mungkin ada beberapa di antara kita yang sebal bahkan (mohon maaf) mengumpat ketika ia datang. Keberadaan hujan dinilai dapat mengganggu banyak aktivitas, terutama yang berhubungan dengan mobilitas. Bagi para pejalan kaki mungkin, hujan membuat mager. Karena selebar apapun payung yang disediakan oleh produsen payung, tetap saja kita akan basah. Iya, kan? Tapi hujan akan selalu datang. November ini.

Lantas sampai kapan kita ingin menghujat hujan?

Secara ilmu kebumian, hujan merupakan salah satu fenomena alam yang diakibatkan kelembapan relatif sudah mencapai titik jenuhnya (100%). Tapi disini saya tidak akan membahas tentang itu. hehehe. Hujan adalah pelajaran bagi semesta cinta. Hai, para pencinta yang selalu sendu dibuat hujan. Katanya hujan selalu identik dengan kenangan, bukan? Kenangan menyenangkan, dan atau mungkin menyakitkan? Entahlah apapun itu, fenomena alam satu ini mengajarkan kita tentang satu hal: Melepaskan.

Hujan tidak pernah protes ketika dihujat, dia akan datang, lagi dan lagi. Memang begitu kodratnya. Dia jatuh begitu saja, tidak ada yang menghambatnya (lain cerita kalo virga haha), telah banyak orang yang menulis ceita tentang hujan, intinya hanyalah sendu. Biru. Apapun itu. Tapi hujan akan selalu datang selama troposfer masih dalam fungsi normalnya, dia akan lepas dari awan dengan tenang, tanpa paksaan dan menerima begitu saja.

Maka itulah hari ini, lepas.

Adakah cara terbaik selain melepaskan sesuatu ketika telah mencapai titik jenuh? Bahkan awan melepaskan bagian yang menyusunnya ketika tumbukan dan tangkapan itu telah melewati batas, di mana kelembapan relatif telah tinggi, dan... bagian penyusun itu adalah air, melebur jadi satu menjadi butiran hujan, turun ke bumi, damai, tenang, tanpa paksaan.

Percayalah, akan selalu ada keindahan pasca hujan. Karena hujan adalah kodrat-Nya, sesuatu yang diciptakanNya pasti selalu membawa hikmah. Percayalah.

Nanti, coba kamu satu payung dengan saya, saya akan bercerita banyak tentang hujan dan biru, FYI, Biru adalah rencana nama anak saya. Nanti.

--

“Tahukah kau, untuk membuat seseorang menyadari apa yang dirasakannya, justru cara terbaik melalui hal-hal menyakitkan. Misalnya kau pergi. Saat kau pergi, seseorang baru akan merasa kehilangan, dan dia mulai bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya dia rasakan.”
--Tere Liye, novel "Sunset & Rosie"

0 komentar:

Posting Komentar