environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Sabtu, 28 Januari 2017

Baper 97 Menit: Mengintip Film "Iqro"

Pagi-pagi selepas ritual saya ketika tidak berpuasa (a.k.a nyeruput kopi sambil baca buku dan dengerin instrumen), tiba-tiba handphone saya berbunyi. Ada telepon masuk, dari salah satu kenalan di Akademi Mahasiswa Berprestasi UGM, dia menawarkan sesuatu hal kepada saya yang membuat saya senang dan bersyukur. Setelah itu, hp saya kembali berdering. Sudah 4 hari terakhir ini saya kedatangan banyak tamu di kos. Entah adik tingkat, maupun warga sekitar sini. Jadi saya kira, saya akan kedatangan tamu lagi. Kebetulan hp saya berbunyi karena ada line masuk. Fadhilah, teman saya, mendapatkan free 1 ticket ke CGV JWalk di Babarsari. Kami mendiskusikan dan akhirnya menginginkan untuk menonton sebuah film yang, sebenernya sudah kami ketahui sejak tahun lalu-produksi Masjid Salman ITB: IQRO'.


Setibanya di Studio 2, kami kaget. Karena kami nontonnya pukul 13.10 (mempertimbangkan waktu ibadah dan jam malam kosan saya wkwkkwkkwk), di sana mayoritas penontonnya adalah.....

ANAK-ANAK! Yap, sampe saya digrundulin 3 anak, ikut saya duduk, gandulin rok saya ketika nonton, narik-narik kerudung saya.. heleh-heleh wkwkk.

Film Iqro ini memang didedikasikan untuk anak-anak, mengingat minimnya tontonan anak yang berkualitas di Indonesia, film ini hadir seperti refresh dari film "Petualangan Sherina" dahulu, cumaa... balutan religi sangat dikemas apik dalam film ini. Sesuai dengan judulnya, tujuan film ini adalah untuk memotivasi anak-anak supaya mencintai Kitab Suci Agama Islam (Al-Quran), seenggaknya untuk membaca Al-Quran. Dalam film ini, tidak hanya balutan religi, namun kemasan dengan IPTEK adalah menjadi hal yang saya soroti.

Sebagai insan pembelajar Ilmu Bumi, mungkin beberapa orang juga akan merasakan, motivasi mempelajari alam semesta baik di langit maupun di bumi. Kitab suci! Tidak basa-basi lagi, film ini soooo wooorrtthhh it. Analisis logika berfikir tentang kewajiban membaca, membaca ayat-ayat Tuhan dan membaca alam semesta, sangat mengagumkan. Dan tentu, membuat saya baper.

Begini, film itu pemeran utamanya adalah anak-anak. Mereka sangaaat semangaaaaat sekaliiii membaca kitab suci. Sementara saya? Ya Tuhan... Maafkan saya. Apalagi mendengar denting suara mereka melafalkan kitab suci dengan fasih dan sesuai tata baca. Maha Kuasa Engkau, Tuhan... Selama ini saya kemana sajaaaaa...

Daaaan, Prof.Widodo, seorang profesor yang diperankan dalam film itu untuk mengelola Boscha, hm. Saya rasa, penikmat nuansa ilmu memang sepatutnya seperti itu, ilmu pengetahuan itu adalah untuk menuju kebenaran, dan kebenaran yang paling hakiki adalah milik Tuhan. Jadi, tidak ada alasan seseorang yang berilmu untuk tidak dekat dengan Tuhan, kecuali... ada faktor lain, seperti, misal, mungkin, kesombongan, atau hal-hal yang membuat hati mati sehingga sulit mendekati kebenaran. Hahaha ngemeng epe kowe Fut...

Namun, cerita dalam film ini sangat klise, agak dramatis dalam segi penataan suaranya. Durasi 97 menit yang ada sebenarnya terlalu singkat, walaupun demikian, makna yang disampaikan dalam film ini sangaaat mendalam. Mengenai Ilmu Pengetahuan, kewajiban membaca, dan kedekatan kita dengan Tuhan.

Karena sejatinya, alam semesta dan seluruh rangkaian kejadian yang ada adalah guru untuk kita semua. Bukankah Tuhan sudah "memfasilitasi" itu semua? Supaya manusia bersyukur, supaya manusia mau dan mampu mengingatNya, dan, untuk segala bentuk ridho-Nya.

Hmm.. teman-teman bisa lihat pitchernya di sini:



BTW, akan saya ulas lagi besok, tentang film ini, dan beberapa hal terkait parenting yang sangat berkaitan. See!


Read More

Kamis, 26 Januari 2017

Bumi dan Matahari: Percakapan Tiga Kali


Engga tau kenapa pengen banget kasih judul headline "Bumi dan Matahari", haha. Abaikan. Mungkin cuma keinginan saja.

Saya memiliki seorang teman baik, sudah cukup lama tau satu sama lain, sehingga kami sering mengatakan antardiri kami adalah "partner", Aditya. Pemuda asal Jawa Tengah yang selalu saya katakan "rempong" (padahal enggak, saya aja sebenernya yang ribet). Saya dan Adit memiliki banyak kesamaan, dalam hal menyukai ilmu bumi, mengajar, atau paket-paket lainnya. Kecuali drakor. Saya engga minat. Haha. Sehingga, dari kesamaan-kesamaan itu, saya menganggapnya "nyambung", suatu hari kami pernah berbincang tentang peran laki-laki dan perempuan ketika sudah berumah tangga (Nah, bahasannya mulai memberat nih), sebab antara laki-laki dan perempuan memiliki peranannya masing-masing ketika sudah dipanggil "ibu" dan "ayah".

"Adit, menurut penelitian, kecerdasan seorang anak itu diturunkan dari Ibu, sementara karakter dan sikap itu dari ayah.."

"Hmmm"

"Hmmm"

Terus?

"Berarti ada kesinambungan dan hubungan kausal ketika ingin menjadi super parents."

"Hmmmm"

Saya selalu sebal kalau saya berbicara panjang lebar dan engga ditanggapin. Haha.

Di kesempatan yang lain, kami membicarakan hal yang sama. Kedua kalinya.

"Makanya aku pengen berwawasan luas. Kayaknya aku harus bermesraan dengan banyak buku."

"Hmm...."

"Kayaknya beli buku baru lagi asik deh."

"Makanya aku terdorong untuk berkarakter baik, selalu memperlakukan orang lain dengan baik."

ngek ngok.

Beberapa minggu yang lalu, saya makan di sebuah Resto Korea bersama Adit. Katanya sih "back to my country ya, Fut" Heleh.

Ceritanya saya abis ngeborong buku. Dan, kami sharing-sharing, evaluasi masing-masing dari kami selama setahun 2016. Masalahnya, yo kok keceplosan lagi.

"Fut nananina nananina !@$$$^*(&^^%&*....@#$^"

"Tau kan, aku masih pengen belajar... Yaa bukan orang lain lah, aku punya tujuan yang mungkin banyak orang ga paham. Termasuk buat anak-anakku. Aku butuh memperluas wawasan dan pengetahuan. Soalnya, kata ilmuwan, kecerdasan itu dari ibu, dan karakter itu dari ayah."

"Kamu udah ngomongin ini tiga kali lo, Fut."

"Oiyaaaa? Aku lupaaa wakakakkaka."

"Hmm... Yaa yaa.. kalau gitu aku harus memperbaiki karakter, ya."

....
....
....
Iya, karena kamu laki-laki.

--------

Sebenernya engga saklek harus gitu. wkwkk. entah laki-laki, entah perempuan, masing-masing harus mempersiapkan dirinya. Wawasannya, keyakinannya kepada Tuhan, emosi, dan lain-lainnya sebelum menjadi orang tua. makanya, untuk melangkah ke jenjang yang "lebih" entah bagi laki-laki maupun perempuan diperlukan kesiapan dan agar tidak tergesa-gesa. Karena setelah "itu" peran mereka akan melengkapi satu sama lain. Karena karakteristik orang beda-beda, dan kita engga pernah tau nanti jodoh kita kayak gimana, yaudah, seenggaknya kita bisa mempersiapkan fundamental: kelapangan penerimaan dan keyakinan bahwa itulah yang terbaik dari Tuhan.

Laki-laki menggunakan logikanya dan perempuan cenderung perasaannya.

Awalnya saya menolak statemen ini karena saya merasa rasional. Wakakak. Sombs. Tapi, ketika ada sepucuk surat yang melayang kepada saya di akhir semester tiga lalu, bukan kepayang, saya dirundung baper. Beeerminggu minggu saya berfikir, Tepuk jidat, kepo, Usap-usap alis, menimang-nimang suratnya. Dan akhirnya saya mengakui kalo mau seeeekeraskepala apapun perempuan, hatinya tetap lembek. Ya begitu. Tuhan menganugerahkan kepada perempuan "kelembutan". Dari hatinya. Dan laki-laki, kadang sikapnya ngga berperasaan, kadang lo ya. Seolah-olah mereka selalu punya tujuan dan bergerak kesana, menggunakan anugerah akal yang dimilikinya untuk mencapai itu semua. Ya begitu, Tuhan menganugerahkannya sebagai kekuatan. Cuma kadang ada beberapa kasus, misal, laki-laki menggunakan akalnya dan kemudian ada saja perempuan yang kurang lihai mengelola perasaannya. Akhirnya muncul istilah "pemberi harapan" atau apalah. Taapi, setelah saya amati. Ga semua kasus sama. Ga saklek kayak gitu, Makanya, penting menyeimbangkan antara hati dan isi kepala. Sebab, kadang kalau kebablasan pakai hati terus, sometimes di situasi dan kondisi tertentu tidak relevan.

Jadi ya, memang antara laki-laki dan perempuan, keduanya harus mau belajar. Melengkapi, menjadi bagian, bukan cuma hasrat memiliki.

Read More

Selasa, 24 Januari 2017

Senja Itu: Percakapan Bersama Bapak


Senja, kata kami, adalah di mana saat bumi harus melepas matahari dengan tentram, karena keyakinannya bahwa matahari akan kembali lagi esok hari.

Saya selalu menyukai beberapa hal: saat embun pagi mulai bermunculan, saat hujan, dan saat temaram senja.

Sore itu di bale-bale rumah, selepas membantu Ibu membuat pisang goreng dan the hangat, saya bercengkrama dengan Bapak. Momen yang paaaling saya rindukan selama menjadi anak rantau. Sebab, laki-laki mana lagi yang mau dan bersedia menjadi tempat berkeluh kesah, menuangkan pikiran dan hal gila, serta bebagi kebahagiaan dalam waktu yang bersamaan?

Sebagai anak gadis satu-satunya di rumah dan di keluarga kecil kami, dengan usia yang menginjak dewasa, akan menjadi sangat wajar bila sang anak bertingkah manja kepada Bapaknya, berharap nanti akan ada laki-laki yang bisa memberikan kehangatan yang setara dengan itu. 

Bapak, saya ini galak, keras kepala, semaunya sendiri. Yah intinya, sikap saya ini kok sangat tidak keperempuanan. Haaha

Terus?

Ya… saya takut. Saya takut kalau nanti laki-laki yang menyukai saya hanya sebatas tampilan luar saya tanpa melihat hingga jauh ke dalam, saya takut jika laki-laki yang nanti datang kepada saya tidak bersedia menerima hal-hal lain di hidup saya.

Hal-hal lain apa Nak, yang kamu maksud?

Ya, paling fundamental, keluarga… cacat fisik yang saya miliki, mungkin… sifat keras kepala saya, ambisi-ambisi saya, atau yang lainnya…

Terus?

Ya… sudah sih, tapi saya yakin, pasti akan ada.

Nduk, yang namanya pasangan itu, ga semua mak blek, pleketek, sama. Enggak. Bahkan bapak ibumu yang lama berumahtangga juga mengalami perbedaan-perbedaan. Tidak jarang kami selisih paham. Itu normal. Ingat dua telapak kakimu, apakah bentuknya sama? Tidak,kan? Mereka ada karena untuk saling melengkapi fungsinya satu sama lain.

Bersyukurlah bila ada orang yang jatuh cinta denganmu lengkap dengan kurangmu. Karena pada dasarnya antara laki-laki dan perempuan itu adalah penerimaan, menerima perbedaan satu sama lain dengan lapang, untuk menjalankan fungsi dan peranannya dalam hidup, kepada manusia lain, kepada Tuhan.

Kira-kira, nanti yang datang akan seperti apa ya, Pak?

Berdoa saja. Bapak sih berharap yang kayak air, biar bisa menetralkan kamu ke suhu normal. Haha

Iya sih, setiap orang memiliki karakter yang berbeda sebab peranannya berbeda. Saya akan sangat bersyukur jika nanti dapat pasangan *ehem* yang bisa nyenengin Bapak Ibu. Haahaha

Hush, usiamu masih berapa to,Ndhuk?

20, masa Bapak lupa?

Maunya berapa emang? Bapak pengennya di atas 23.

Bapak, saya sempat kepikiran ga pengen nikah! Haha.

Lah, kenapa?

Ga tau. Ya tapi kalau nanti saya menikah, ya itu rezeki. Cumaaa.. saya juga memimpikan bisa membersamai hidup insan lain, haha. Menyiapkan teh hangat setiap pagi, haha, menjadi teman cerita setiap malam, huahahaa. Mendengar suara bayi, wakakka, menanam bunga matahari di taman dengan anak-anak saya. Huahahahhaa

Saya ngekek sendiri.


Dan Bapak Cuma diam. Anak ini sudah agak-agak. Batinnya.


Read More

Kamis, 19 Januari 2017

Harapan (2): Academic Thought, Mahasiswa Tahun Ketiga

Paaaaaggiiii!!!!

Sebenarnya saya masih compang camping mengapa blog ini ada dan saya gunakan untuk "curhat", saya sebarkan di media sosial saya, dan dibaca oleh banyak orang. Saya tidak tau, yang jelas, di dunia nyata sangat berbeda jauh dengan apa yang ada di dalam blog saya. Wkwk, karena saya rasa, saya lebih hidup ketika menulis. Dan, saya mendapatkan kesenangan jika tulisan saya dibaca oleh orang lain *lhaaaa ngopooooooo*.

Berhadapan dengan komputer, aplikasi pemetaan, buku-buku tentang geomorfologi, iklim, ilmu tanah, novel-novel di rak buku yang sengaja saya letakkan di samping kasur dan meja belajar saya di kos. Hai, Fut! Tahun ke-tigaaa!!!!

Ngapain ajaa wwoiiiiiiii


Baiklah, saya akan bercerita ke-duka-an saya menjadi mahasiswa saat ini.

Sepanjang saya kuliah, dari semester 1-4, tidak ada mata kuliah berkode GEL yang mendapatkan nilai B,C,D, maupun E. Mata kuliah berkode "GEL" artinya adalah mata kuliah yang wajib dikuasai ketika kita belajar di departemen geografi lingkungan dan mencerminkan penguasaan kita terhadap minat studi GEL tersebut. IP saya nyaris sempurna, bahkan di beberapa kesempatan, 4 BULAT! Coy. IP 4,00! Sebenernya saya tidak pernah ngoyo banget sih, ya belajar seadanya saja. Tapi karena tuntutan ekonomi keluarga, saya harus bisa belajar, parttime (ngajar olim), dan mengerjakan berbagai hal (terutama masalah finansial) dengan mandiri. Oke, dengan adanya IP itu, saya bisa mendapatkan double scholar (bahkan menjelang triple). Alhamdulillah. Salah satu beasiswa saya mensyaratkan IP>3.7, so far, di semester-semester yang lalu, saya BISA MELAMPAUINYA DENGAN SANGAT MULUS. Saya senang, orang tua senang, kuliah saya jalan.

TAPI....

SEMENJAK NEGARA API MENYERAAAANG,

Semester lima adalah bagian hidup perkuliahan saya yang paling HANCUR. Masalah pribadi, ini lah, itu lah, ga berhenti-berhenti (makanya blog juga sempat vakum. nyahahaha). Daaan, masalah akademik pun menghampiri. Yaakniii,

Saya gagal revisi. Ada dua mata kuliah dalam Kartu Rencana Studi saya yang saya revisi dan gagal dicatat oleh sistem akademik. Padahal, saya sudah menyerahkan yang offline. Njuk gak dicek ngono karo akademik fakultas. Nyebai. Hingga akhirnya, saya harus menerima kenyataan pahit yakni 3 SKS dengan Nilai E. Sebel? Banget. Ya lah, lha wong saya gak ambil.

Kenyataan pahit lainnya, karena terdapat satu mata kuliah wajib yang belum saya ambil, saya tidak bisa mengikuti sistem perkuliahan blok termin 1. Akhirnya, saya harus menunggu satu semester dan kkn di tahun ini. Masalahnya?

SYARAT KKN GA BOLEH ADA NILAI E.

Dan, kata akademik, nilai E hanya bisa dihapus jika, pas yudisium. Daaan, mata kuliah yang harusnya ga saya ambil dan bernilai E itu, ada di semester ganjil. PIYE PERASAANMU? Untungnya, yang jadi "korban" di sistem online akademik fakultas cukup banyak, sekitar 10 orang, jadi kemungkinan besar akan ada pengawalan dari Advokasi BEM untuk mengurus masalah ini.

Semogaaaa bisa terselesaikan. AAMIIN

Anyway. Tahun ke-tiga. Saya engga tau kapan bakal lulus. Semoga kurang dari lima tahun deh. Aamiin. Tapi saya menikmati kuliah. Hahahaha. Tapi saya juga harus menyiapkan beasiswa. Hahahaha. S-2. Hahahhaa.

Hahahahaha Hahahaha

Sementara, yang saya pengenin, adalah ini. Buka aja websitenya, dan lihat syaratnya apa aja. SADAR DIRI WOY. Bahasa masih kacau, IP ancur semenjak nilai E menyerang, Publikasi baru dua, Etdah, entahlah.

Ya sudah sih. Saya masih kuat. Hahaha. Iyaa... Jadi sebenernya saya tipikal orang yang, yaa walaupun kecewa, sakit,luka, mungkin akan marah-marah ngoceh-ngoceh protes-protes bentar, tapi udah itu ilang. Saya bisa telen aja semuanya. Taaapiii, kalo saya bilang "aku udah ga kuat", ya bener berarti, saya emang udah ga kuat. Hahahaha. Apasih.

Daan, harapan saya, saya bisa memperbaiki semuanya.

Udah, sesimpel itu.

Fa inna ma'al 'usri yusro.


Ini saya lagi semangat nulis loh. Makanya penyampaian bahasanya kayak gini. Hahahaa


Ditemani kopi, headset, buku, dan pagi.


Yogyakarta, 19 Januari 2017
Read More

Minggu, 15 Januari 2017

Harapan (1)

Aku memiliki seorang teman perempuan. Usianya mungkin lebih tua dariku, tapi dia senang bercerita kepadaku bahkan membawakanku cokelat batangan kesukaanku saat dia datang untuk bercerita. Suatu hari temanku ini sangat murung. Sambil membawa tasnya, dia merebahkan diri di kursi ruang tamuku. Aku heran, gadis seceria dia bisa berubah seperti sedang tertutup oleh awan cumulonimbus. Aku membawakannya air putih, dan kemudian dia memulai percakapan,


"Sarah, aku sedang bingung. Ada dua laki-laki baik yang mengutarakan kekagumannya kepadaku."

Aku diam, hal ini tentu terasa sulit. Walaupun mungkin aku pernah mengalaminya juga.

"Laki-laki yang satu ini, sebut saja A, dia sedang bersamaku. Tapi aku merasa hal tersebut adalah suatu kesalahan. Aku tau dia menyayangiku, tapi aku tidak merasa tentram dengan itu. Sedangkan, laki-laki satunya lagi, sebut saja B, dia menyukaiku dari dulu, ketika aku sedang bersama laki-laki lain,  dia tetap menunggu. Bahkan hingga sekarang. Beberapa temanku mengatakan, laki-laki ini pernah tersakiti lantaran aku membersama laki-laki A. Dan dia sangat tersakiti ketika mengetahui bahwa laki-laki A tidak memperlakukanku dengan baik. Kisah ini nampak seperti drama, tapi ya begini adanya. Disitu aku berfikir, kasih sayang keduanya mungkin ada. Tapi aku tidak tau kadarnya.

Ketika aku bertanya, atas dasar apa mereka menyukaiku, jawaban keduanya hampir sama, sama-sama karena wawasan, keanggunan, dan pemikiranku. Aku tidak keberatan ketika ada laki-laki yang menyukaiku lantaran hal tersebut. Tapi yang aku titikberatkan di sini adalah, mau sampai kapan dua laki-laki itu menunggu? Aku tidak tega jika melihat mimpi mereka kandas gara-gara hal tersebut. Di lain sisi, jika mereka benar-benar menyukaiku, dan keduanya datang suatu saat nanti, aku harus memilih salah satu,kan? Itu sangat berat bagiku."

Temanku berhenti ceita sampai disitu, aku menangkap poin penting dalam ceritanya: kebingungan.

Waktu yang akan menjawab semuanya. Tuhan telah menyiapkan orang yang tepat, di waktu yang tepat. Kita hanya perlu bersabar dan menyikapi semua dengan wajar. Perihal siapa nanti yang akan disakiti dan menyakiti, hal itu mutlak akan ada, dan kita semua tidak bisa menghindarinya, kan?

Tetaplah berhati baik, sebab, hati yang baik akan mengenali hati yang baik pula. Dan, selipkanlah harapan dalam setiap permohonan kita. Sebab, harapan membuat impian selangkah lebih maju, kan? Dengan usaha, doa, tentunya. Kita harus meyakini sepenuh hati bahwa masa depan adalah kuasaNya. Apapun yang kita lakukan hari ini atau di masa lalu, baik kesalahan maupun hal-hal yang baik, itu semua adalah pelajaran. Yang notabenenya, dapat kita ambil hikmahnya. Sebab Tuhan telah bersedia menjadi guru kita, kan? Lewat seluruh rangkaian proses kehidupan yang kita jalani.

Hidup memang sebuah pilihan, ada saat sulit, dan ada pula saat mudah. Tugas kita hanyalah mengerjakan hari ini dengan sebaik-baiknya, menyelesaikan urusan satu untuk mengerjakan urusan lainnya, setalah itu, sisanya adalah harapan baik yang kita sampaikan kepada Tuhan.

Yogyakarta, 15 Januari 2017
Read More

Cara Ibu: Belajar dari "Padasan"

"Biru, Ibu ke kebun dulu ya, pagi ini.."

Matahari baru muncul, bau makanan di meja makan sudah menggoda lidah. Aku asyik tiduran di dipan depan TV sambil menonton film kartun, dan Ibu... Hm, Ibu hari ini harus menyiangi rumput di kebun, karena beberapa bagiannya akan ditanami jagung. Abang masih menggeliat di dalam selimut hangatnya, dan Ayah sudah melaksanakan tugas. Hari ini memang hari minggu, sehingga aku tidak berangkat ke sekolah. Kegiatanku siang nanti adalah menemani Ibu membuat kue basah pesanan tetangga untuk digunakan sebagai jamuan hajatan. Dan kamu tau? Aku suka loh, membuat kue! :)

"Biru, segera sarapan yaa nanti kalau sudah jam setengah tujuh. Ibu mau ke kebun sebentar, jam sembilan ibu balik. Jangan lupa Abang diajak sarapan bareng ya.."
"Baik, Ibu.. Biru ingin nonton TV dulu."

Ibu melangkah pasti dengan caping dan jaket kebunnya. Matanya berseri-seri, mengambil sepeda biru kami, dan beranjak ke kebun yang jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari rumah.

"Abang.. Sudah jam setengah tujuh. Sarapan bareng yuuk..."
"Ini hari minggu, Biru.."
"Abang ga mau kan, kalau diperutnya ada ulet? Hiii."
"Iya iya, abang bangun sekarang."

Aku mengikuti abang ke belakang, di belakang Abang menggosok gigi dan membasuh muka.
"Biru, tolong dong, kran nya dinyalakan yaa.. terimakasih Biru.."
"Udah, bang."

Kruyuk-kruyuk-kruyuk...

"Abang kok cuci muka aja pake kran? Mana airnya banyak lagi... Kan kasian, Bang.. Kata guru Biru, di dearah yang jauh sana, ada lo temen-temen Biru yang tidak bisa mandi pakai air bersih, tidak bisa minum air yang layak.. Nah ini, kok Abang boros pakenya?"

"Mumpung masih ada air, Biru. Nyahaha"

Abang memang baik, tapi kadang menyebalkan. Abang adalah orang yang paling tidak mempan dinasehati orang lain selain Ibu dan Ayah.

Akhirnya kami berdua menuju meja makan, Pukul sembilan, Ibu pulang dari kebun. Selepas mandi dan berganti pakaian, Ibu menemani aku dan Abang bermain lego.

"Ibu, Abang tadi pake airnya banyaaak. Mana cuma cuci muka sama gosok gigi..."Ujarku.

"Eh, Si Biru, engga yaa.. Abang menggunakan air dengan wajar, ini namanya optimalisasi sumber daya. Kan Ibu bilang, di daerah tropis kayak kita ini, sumberdaya airnya melimpah! Hahahhaa". Dasar Abang. Aku tidak mengerti kenapa hari ini dia begitu menyebalkan.

"Abang, adek, sini nak... Ibu beritahu kalian sesuatu..."

Diluar sana, ketika ayah, ibu, kakek, nenek, bahkan Abang dan Adek hendak sholat, pasti akan mengambil wudhu. Ketika Ibu masih kecil, kakek selalu mengajarkan kepada Ibu untuk berwudhu di padasan. Kata kakek, airnya akan jauh lebih bersih dan adem kalau ditaruh di padasan. 

Pada saat Ibu dewasa, Ibu menyadari bahwa padasan adalah suatu hal filosofis yang diajarkan turun temurun oleh orang-orang terdahulu. Kalian ingat kan, kalau lubangnya kecil? Rasul kita, ketika wudhu hanya menggunakan sekitar setengah liter air, itu kondisinya di wilayah yang beriklim arid atau kering. Sementara kita? Abang benar, sumberdaya air di wilayah tropis yang banyak hujan seperti di negara kita sangat berlimpah. Pernah dengar tentang hikmah?

Padasan mengajarkan kepada kita untuk menyederhanakan suatu hal, tidak berlebih-lebihan. Air yang keluar dari padasan itu jumlahnya tidak lebih banyak dari air kran, dan, padasan itu tidak seperti kran, anak-anakku sayang... Untuk bisa mengambil wudhu di padasan, kita harus mengisinya dengan air terlebih dahulu. Taukah? Seperti ketika kita memiliki tujuan, kita harus berusaha terlebih dahulu. Sedikit demi sedikit, berproses, bertahap, kemudian barulah kita bisa memetik manfaatnya. Dan, air yang keluar tidak secepat air yang masuk. Tandanya apa? Kalian pernah mendengar tentang peribahasa "besar pasak daripada tiang?" intinya adalah, dalam hidup pun kita harus senantiasa bersyukur dan menggunakan nikmat yang telah diberikan Tuhan dengan baik dan bijak. Nanti, saat kalian telah dewasa dan berkeluarga, kalian akan mengerti. 

Ibu. Sosok yang bagi kami, adalah hikmah. Dan Biru senantiasa ingin bercita-cita seperti Ibu. Mampu mengambil hikmah dari setiap sesuatu yang dirasakannya, dilihatnya, dialaminya.



*Note: Padasan=dalam bahasa Jawa artinya tempat air yang terbuat dari gerabah dengan lubang besar di atas untuk mengisi air dan lubang kecil di bawah untuk mengeluarkan air.



Yogyakarta, draft lama 2016


Read More