environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Kamis, 26 Januari 2017

Bumi dan Matahari: Percakapan Tiga Kali


Engga tau kenapa pengen banget kasih judul headline "Bumi dan Matahari", haha. Abaikan. Mungkin cuma keinginan saja.

Saya memiliki seorang teman baik, sudah cukup lama tau satu sama lain, sehingga kami sering mengatakan antardiri kami adalah "partner", Aditya. Pemuda asal Jawa Tengah yang selalu saya katakan "rempong" (padahal enggak, saya aja sebenernya yang ribet). Saya dan Adit memiliki banyak kesamaan, dalam hal menyukai ilmu bumi, mengajar, atau paket-paket lainnya. Kecuali drakor. Saya engga minat. Haha. Sehingga, dari kesamaan-kesamaan itu, saya menganggapnya "nyambung", suatu hari kami pernah berbincang tentang peran laki-laki dan perempuan ketika sudah berumah tangga (Nah, bahasannya mulai memberat nih), sebab antara laki-laki dan perempuan memiliki peranannya masing-masing ketika sudah dipanggil "ibu" dan "ayah".

"Adit, menurut penelitian, kecerdasan seorang anak itu diturunkan dari Ibu, sementara karakter dan sikap itu dari ayah.."

"Hmmm"

"Hmmm"

Terus?

"Berarti ada kesinambungan dan hubungan kausal ketika ingin menjadi super parents."

"Hmmmm"

Saya selalu sebal kalau saya berbicara panjang lebar dan engga ditanggapin. Haha.

Di kesempatan yang lain, kami membicarakan hal yang sama. Kedua kalinya.

"Makanya aku pengen berwawasan luas. Kayaknya aku harus bermesraan dengan banyak buku."

"Hmm...."

"Kayaknya beli buku baru lagi asik deh."

"Makanya aku terdorong untuk berkarakter baik, selalu memperlakukan orang lain dengan baik."

ngek ngok.

Beberapa minggu yang lalu, saya makan di sebuah Resto Korea bersama Adit. Katanya sih "back to my country ya, Fut" Heleh.

Ceritanya saya abis ngeborong buku. Dan, kami sharing-sharing, evaluasi masing-masing dari kami selama setahun 2016. Masalahnya, yo kok keceplosan lagi.

"Fut nananina nananina !@$$$^*(&^^%&*....@#$^"

"Tau kan, aku masih pengen belajar... Yaa bukan orang lain lah, aku punya tujuan yang mungkin banyak orang ga paham. Termasuk buat anak-anakku. Aku butuh memperluas wawasan dan pengetahuan. Soalnya, kata ilmuwan, kecerdasan itu dari ibu, dan karakter itu dari ayah."

"Kamu udah ngomongin ini tiga kali lo, Fut."

"Oiyaaaa? Aku lupaaa wakakakkaka."

"Hmm... Yaa yaa.. kalau gitu aku harus memperbaiki karakter, ya."

....
....
....
Iya, karena kamu laki-laki.

--------

Sebenernya engga saklek harus gitu. wkwkk. entah laki-laki, entah perempuan, masing-masing harus mempersiapkan dirinya. Wawasannya, keyakinannya kepada Tuhan, emosi, dan lain-lainnya sebelum menjadi orang tua. makanya, untuk melangkah ke jenjang yang "lebih" entah bagi laki-laki maupun perempuan diperlukan kesiapan dan agar tidak tergesa-gesa. Karena setelah "itu" peran mereka akan melengkapi satu sama lain. Karena karakteristik orang beda-beda, dan kita engga pernah tau nanti jodoh kita kayak gimana, yaudah, seenggaknya kita bisa mempersiapkan fundamental: kelapangan penerimaan dan keyakinan bahwa itulah yang terbaik dari Tuhan.

Laki-laki menggunakan logikanya dan perempuan cenderung perasaannya.

Awalnya saya menolak statemen ini karena saya merasa rasional. Wakakak. Sombs. Tapi, ketika ada sepucuk surat yang melayang kepada saya di akhir semester tiga lalu, bukan kepayang, saya dirundung baper. Beeerminggu minggu saya berfikir, Tepuk jidat, kepo, Usap-usap alis, menimang-nimang suratnya. Dan akhirnya saya mengakui kalo mau seeeekeraskepala apapun perempuan, hatinya tetap lembek. Ya begitu. Tuhan menganugerahkan kepada perempuan "kelembutan". Dari hatinya. Dan laki-laki, kadang sikapnya ngga berperasaan, kadang lo ya. Seolah-olah mereka selalu punya tujuan dan bergerak kesana, menggunakan anugerah akal yang dimilikinya untuk mencapai itu semua. Ya begitu, Tuhan menganugerahkannya sebagai kekuatan. Cuma kadang ada beberapa kasus, misal, laki-laki menggunakan akalnya dan kemudian ada saja perempuan yang kurang lihai mengelola perasaannya. Akhirnya muncul istilah "pemberi harapan" atau apalah. Taapi, setelah saya amati. Ga semua kasus sama. Ga saklek kayak gitu, Makanya, penting menyeimbangkan antara hati dan isi kepala. Sebab, kadang kalau kebablasan pakai hati terus, sometimes di situasi dan kondisi tertentu tidak relevan.

Jadi ya, memang antara laki-laki dan perempuan, keduanya harus mau belajar. Melengkapi, menjadi bagian, bukan cuma hasrat memiliki.

0 komentar:

Posting Komentar