environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Selasa, 24 Januari 2017

Senja Itu: Percakapan Bersama Bapak


Senja, kata kami, adalah di mana saat bumi harus melepas matahari dengan tentram, karena keyakinannya bahwa matahari akan kembali lagi esok hari.

Saya selalu menyukai beberapa hal: saat embun pagi mulai bermunculan, saat hujan, dan saat temaram senja.

Sore itu di bale-bale rumah, selepas membantu Ibu membuat pisang goreng dan the hangat, saya bercengkrama dengan Bapak. Momen yang paaaling saya rindukan selama menjadi anak rantau. Sebab, laki-laki mana lagi yang mau dan bersedia menjadi tempat berkeluh kesah, menuangkan pikiran dan hal gila, serta bebagi kebahagiaan dalam waktu yang bersamaan?

Sebagai anak gadis satu-satunya di rumah dan di keluarga kecil kami, dengan usia yang menginjak dewasa, akan menjadi sangat wajar bila sang anak bertingkah manja kepada Bapaknya, berharap nanti akan ada laki-laki yang bisa memberikan kehangatan yang setara dengan itu. 

Bapak, saya ini galak, keras kepala, semaunya sendiri. Yah intinya, sikap saya ini kok sangat tidak keperempuanan. Haaha

Terus?

Ya… saya takut. Saya takut kalau nanti laki-laki yang menyukai saya hanya sebatas tampilan luar saya tanpa melihat hingga jauh ke dalam, saya takut jika laki-laki yang nanti datang kepada saya tidak bersedia menerima hal-hal lain di hidup saya.

Hal-hal lain apa Nak, yang kamu maksud?

Ya, paling fundamental, keluarga… cacat fisik yang saya miliki, mungkin… sifat keras kepala saya, ambisi-ambisi saya, atau yang lainnya…

Terus?

Ya… sudah sih, tapi saya yakin, pasti akan ada.

Nduk, yang namanya pasangan itu, ga semua mak blek, pleketek, sama. Enggak. Bahkan bapak ibumu yang lama berumahtangga juga mengalami perbedaan-perbedaan. Tidak jarang kami selisih paham. Itu normal. Ingat dua telapak kakimu, apakah bentuknya sama? Tidak,kan? Mereka ada karena untuk saling melengkapi fungsinya satu sama lain.

Bersyukurlah bila ada orang yang jatuh cinta denganmu lengkap dengan kurangmu. Karena pada dasarnya antara laki-laki dan perempuan itu adalah penerimaan, menerima perbedaan satu sama lain dengan lapang, untuk menjalankan fungsi dan peranannya dalam hidup, kepada manusia lain, kepada Tuhan.

Kira-kira, nanti yang datang akan seperti apa ya, Pak?

Berdoa saja. Bapak sih berharap yang kayak air, biar bisa menetralkan kamu ke suhu normal. Haha

Iya sih, setiap orang memiliki karakter yang berbeda sebab peranannya berbeda. Saya akan sangat bersyukur jika nanti dapat pasangan *ehem* yang bisa nyenengin Bapak Ibu. Haahaha

Hush, usiamu masih berapa to,Ndhuk?

20, masa Bapak lupa?

Maunya berapa emang? Bapak pengennya di atas 23.

Bapak, saya sempat kepikiran ga pengen nikah! Haha.

Lah, kenapa?

Ga tau. Ya tapi kalau nanti saya menikah, ya itu rezeki. Cumaaa.. saya juga memimpikan bisa membersamai hidup insan lain, haha. Menyiapkan teh hangat setiap pagi, haha, menjadi teman cerita setiap malam, huahahaa. Mendengar suara bayi, wakakka, menanam bunga matahari di taman dengan anak-anak saya. Huahahahhaa

Saya ngekek sendiri.


Dan Bapak Cuma diam. Anak ini sudah agak-agak. Batinnya.


0 komentar:

Posting Komentar