environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Selasa, 24 Oktober 2017

Perempuan: Tentang Fokus dan Menentukan Pilihan

Beberapa hari yang lalu, saya nge-date dengan mba ala-ala saya, Mba Naisa. Malamnya motor Mba Nai, begitu saya memanggilnya, kejebak di basemen. Gabisa keluar. Akhirnya dia pulang diantar oleh Mba Heni pake helm saya. Terus paginya sekalian mengantar helm, sekalian kami sarapan bersama: lontong telur padang favorit saya.

Dua jam kami habiskan untuk mengobrol. Topiknya tidak jauh beda dengan tulisan-tulisan selera kami. Membincangkan artis tumblr. Sebut saja Mba Mutia Prawitasari, kebetulan perbincangan saya dengan Mba Nai terkait Mba Mutia sudah berlangsung lebih dari setahun yang lalu. Saat Mba Mutia masih lajang, hingga sekarang sudah merawat Yuna. Putri pertamanya.

Akan saya mulai darimana tulisan ini? Baiklah, dari sini dulu saja.

Mba Mutia sebelum dan setelah menikah

Mba Mutia adalah seorang alumnus UI, saat dia masih melajang, cita-cita dia gantungkan sedemikian rupa. Aktif ini-itu, ikut ini-itu, kuliah di sini-situ, dan harapan-harapan besar terkait impiannya. Beliau aktif di kegiatan sosial, akademik, dan kepenulisan. Hingga terbitlah buku 'Teman Imaji' yang mengantarkannya bertemu dengan sang jodoh. Mas Yunus Kuntawiaji.

Setelah lulus, ternyata Mas Yunus datang. Mau menolak lelaki dengan kualitas macam Mas Yunus? Ah rasanya semua perempuan pun tidak akan melakukannya. Akhirnya Mba Mutia menikah. Mimpinya? Tetap terjaga. Hanya mungkin berpindah haluan. 'Karena perempuan juga harus mengendorkan ego, kan?' Mba Mutia memilih untuk membersamai Mas Yunus. Mengandung, kemudian merawat Yuna. Saat setelah menikah, Mas Yunus harus melanjutkan pendidikan spesialisasi di bidang syaraf.

Bayangkan. Baru saja menikah, eh ditinggal-tinggal?

Mungkin bagi sebagian perempuan hal itu berat. Apalagi ketika sedang mengandung. Tapi bagi sebagian perempuan lainnya... Komunikasi, kompromi, dan komitmen adalah kunci. Saya masih ingat tulisan Mba Mutia tentang kebaikan perempuan. Salah satunya adalah paket mengalah dan menerima. Ketika perempuan melakukannya, ia dapat dicukupkan. Dapat dibahagiakan.

Mba Mutia dan Mas Yunus selalu berkomitmen untuk 'makan di rumah',  konon, romantisme itu ada di meja makan. Yang disiapkan istri kepada suami. Dan hanya akan makan di luar jika ada acara tertentu. Seperti hajatan misalnya. Mereka berkomitmen untuk tetap hidup sederhana namun tetap bersahaja. Sebuah komitmen yang mungkin sudah jarang dilakukan oleh pasangan milenial.

--
Sampai situ ya, cerita tentang Mba Mutia nya... Hehe.

Kemudian akan saya lanjutkan. Dari cerita tersebut dapat diambil beberapa statemen:
1. Perempuan dalam menentukan pilihan, adalah tergantung kebutuhan dan apa yang menjadi orientasi kedepan.
2. Perempuan dalam melaksanakan pilihan, adalah menjadikan fokus sebagai kekuatan.

Sejatinya kami sebagai perempuan akan mengalami fase-fase menentukan pilihan.

Melanjutkan s2 atau bekerja, berkarir dulu ataukah langsung menikah, menjadi pure ibu rumahtangga atau harus nyambi bekerja, dan pilihan-pilihan lainnya yang akan datang bertubi-tubi,

Termasuk mungkin, menentukan pasangan.
--
Bagi saya, menentukan fokus adalah hal yang teramat sangat wajib. Fardhu ain lah ibaratnya. Menyusun rencana. Strategi. Dan apapun untuk mencapai tujuan. Tapi kan itu baru ikhtiar. Lanjutannya? Tuhan sudah lebih lihai dan tau tentang takdir kita. Dia tau semuanya. Yang terbaik buat kita. Sementara kita hanya bisa membuat rencana dan berusaha mewujudkannya.

Namun seringkali, ada hal yang belum disiapkan ketika kita membuat rencana dan berusaha melaksanakannya: kesiapan menerima.

Sebab apa yang kita prediksi, belum tentu itu yang terjadi, kan? Apa hal yang terbaik yang bisa kita lakukan? Ya menerima.

Misal, kita menarget menikah di usia 23. Tapi jodoh belum kunjung tiba. Apakah kita akan memaksakan diri dari ketentuanNya? Tuhan selalu berkata supaya kita bersabar. Supaya kita mengikhtiarkan, kemudian menerima ketetapanNya pun juga harus dengan sabar. Tidak mudah. Tapi sesuatu yang worth it memang seringkali tidak mudah, kan?

Ahaha yaaa itu cuma salah satu contoh. Masih banyak contoh yang lain.

Di usia seperti ini, banyak perempuan yang telah melakukan berbagai macam pertimbangan dalam pilihan. Jangankan jauh-jauh memilih menikah dengan siapa. Hal yang saangaat krusial karena berhubungan dengan hidup dan mati. Berhubungan dengan tanggungjawab dengan manusia dan Tuhan.

Menentukan seperti apa calonnya saja kadang masih banyak yang bingung. Sebenarnya, apa toh yang dibutuhkan itu?
Blaaammm.

Pertanyaan demi pertanyaan akan bermunculan.

Namun ada kalanya, jika lebih baik kita, sebagai perempuan terlebih dahulu mengikhtiarkan pula. Bagi saya, ikhtiar itu berbagai macam bentuknya. Bisa berbentuk menyiapkan kedewasaan dan pikiran seperti memperbanyak pengetahuan dan pengalaman, bisa dalam bentuk mendoakan, bahkan mengungkapkan apa yang kita rasakan.

Mungkin bagi sebagian orang tabu dengan perempuan yang mengungkapkan perasaan. Tapi pertanyaan saya balik lagi, apakah di dunia ini hanya boleh laki-laki yang menyatakan perasaannya?

Hanya mengungkapkan. Bukan memaksakan. Antara meminta dan memaksa itu berbeda. Dan Rumi pun pernah berkata, walaupun konteksnya adalah cinta Ilahiah, tetap saja. Cinta itu meminta. Bukan memaksa (dalam kitab Fihi ma Fihi).

Sebab, perempuan pun berhak menentukan pilihan. Kewajibannya bukan cuma menantikan siapa yang datang. Perempuan juga memiliki hal-hal fundamental yang ingin dia dapatkan dalam memperoleh pasangan: memiliki visi dan misi yang sama.

Saya pernah membaca di beberapa buku. Ketika seseorang telah memiliki visi misi yang sama, terkoneksi pikiran dan hatinya, mereka bukanlah lagi dua orang. Melainkan manunggal. Satu kesatuan. Dan menurut saya pribadi, hal itu memang benar. Sementara menikah bukan sekedar dibangun atas 'cinta', kan? Banyak hal yang perlu dipertimbangkan.

Ketika usia makin merangkak, perempuan tidak lagi menarget muluk-muluk mengenai pasangan. Tidak lagi berapi-api menginginkan pacar (?), melainkan telah berada dalam fase-berserah. Tetap berproses terhadap diri dan untuk Rabbi, dan percaya-Tuhan akan mengatur semuanya.

--
Catatan pagi hari,
Ditulis oleh mahasiswi tahun terakhir yang ketika kumpul keluarga besar selalu ditanyakan 'sudah ada calon apa belum?'

Yogyakarta. 24 Oktober 2017. 30 hari sebelum usia ke-21.

0 komentar:

Posting Komentar