environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Minggu, 15 Juli 2018

10 Penyesalan di Usia Sebelum 20


Taraaa! welcome back again. in this session, I will talk  (and maybe not to discuss) about 'My 10 regrets when the age is still bellow 20'. But I'll not use English for all.. lol. it just to give an opening. weks. lebay I think.

Setiap orang pasti memiliki jalan kehidupannya masing-masing, terlepas dari apakah dia di besarkan di lingkungan A, B, C; dengan riwayat A, B, C, pula. Tapi pernahkah kita merenung tentang apa yang sudah kita lalui selama ini?

'apa yang sudah kita lalui' bukan melulu tentang pencapaian, prestasi, dan hal-hal 'yang terlihat' lainnya. Lebih dari itu, ada banyak hal yang sebenarnya sudah kita lalui, secara sadar atau tidak sadar, dan itulah yang membentuk kita menjadi pribadi yang sekarang.

Menjelang tengah tahun ini saya ingin merefleksikan sepuluh hal ketika masih di bawah umur 20 (a.ka. belasan tahun) yang saya sesali. Bukan untuk diratapi, melainkan untuk dijadikan pembelajaran ke depannya.

mereka adalah.... *drumroll*

1. Merasa Paling Benar Sendiri.
Kata orang dewasa, masa muda adalah masa yang penuh dengan gejolak *ea*. Apalagi di usia belasan tahun yak, transisi antara anak-anak dan dewasa. Ada beberapa hal yang belum bisa maklumi, termasuk dengan adanya persepsi orang lain, yang mungkin, berbeda dengan apa yang ada di pikiran kita. Ketika tidak bisa mengendalikannya, maka yang terlintas di benak dan pikiran kita adalah: kita yang paling benar. Terlepas dari kebenaran (dari makhluk) itu pada akhirnya relatif (something new that I learn).

2. Tidak Mampu Mengendalikan Ego
Hal satu ini, bahkan juga dirasakan oleh orang dewasa sekalipun. mengendalikan ego bukan merupakan suatu hal yang mudah. Kita ingin apa yang kita inginkan akan selalu bisa tercapai. Yang lebih menyedihkan lagi adalah, kita ingin keinginan kita tercapai tanpa mempedulikan apakah itu mengambil hak orang lain ataukah tidak, merugikan orang lain ataukah tidak, menyakiti orang lain ataukah tidak, bahkan, menjauhkan diri dari Tuhan ataukah tidak. Ya, egosentris. Masa-masa itu terlampau memikirkan diri sendiri. Sebenarnya ada tips simpel yang bisa diterapkan agar bisa mengendalikan ego: menyadari bahwa ambisi dan kehidupan dunia hanya sementara, dan menutrisi jiwa agar bisa melakukan penerimaan. Terhadap apapun itu, termasuk takdir Tuhan.

3. Sempitnya Penerimaan
Tidak lepas dari dua statemen sebelumnya, adanya rasa ego yang tinggi dan rasa paling benar sendiri mengakibatkan kita sulit untuk melakukan penerimaan. pada waktu itu ada hal yang salah sedikit dari teman kita rasanya dia adalah makhluk yang paling bersalah sedunia. Saat ini saya mempelajari bahwa di balik apapun, pasti ada apapun. Kita tidak akan pernah tau alasan-alasan apa yang melatarbelakangi seseorang berbuat sesuatu terhadap kita. Terlepas yang dilakukannya itu menyakiti kita ataukah tidak. Tips mengendalikannya adalah: Memaklumi.

4. Merasa 'Miskin' Eksistensi
Banyak diantara kita pasti menginginkan adanya eksistensi. merasa dianggap oleh orang-orang di sekitar kita dan senang ketika di puji. Ya, kita melakukan banyak hal supaya terlihat 'eksis' di mata manusia. Kurang lebih begitulah pemaknaan miskin eksistensi. Padahal ya, kalau kita sudah dapat menerima diri kita sendiri dengan sepenuhnya, rasa ingin eksis lama-kelamaan juga akan terkikis. Kita akan memiliki rasa damai terhadap diri kita sendiri, sebab, kita sudah merdeka dan melakukan apapun tanpa harus digembar-gembor ke banyak orang maupun membutuhkan pengakuan.

5. Menyalahkan Diri Sendiri
Agak sedikit cerita. Dulu saya sempat punya masalah pertemanan dengan teman kuliah. Sempat ada rasa 'apa yang aku lakukan tu gak salah' (see point 1), sehingga reaksinya pada saat itu adalah sedih dan seperti mejadi orang yang paling merana. Haha. Kemudian tuh dikomporin sama temen satunya lagi, makin disalah-salahin lah saya dengan berbagai macam asumsi (I think those just like assumption because idk yet what kind of fact, in case). Berbulan-bulan saya mencerca diri saya sendiri, mengutuk kelakuan saya, dan ya.. itu sangat menyiksa karena apapun yang saya lakukan-meskipun telah meminta maaf-bagi teman saya itu, saya tetaplah bersalah. Hingga akhirnya waktu berjalan, dan.. ada sebab ada akibat. apa yang saya lakukan pada saat itu-yang dianggap menyakitinya-- tidak sepenuhnya salah. terlalu berlebihan saja dalam berekasi. impulsif. Sooo, meskipun se salah apapun kita di mata orang, jangan pernah berlarut-larut menyiksa diri dengan cara menyalahkan diri sendiri. Jiwa kita itu merdeka kok!

6. Impulsif
Impulsif like umm.. terlalu cepat bereaksi. Ada apa-apa dikit langsung direspon. Wkwk. Ibarat kata kita dikasih makanan nih, kata ibu teman saya, misal kita dikasih makanan pahit, jangan langsung dimuntahkan, misal kita dikasih makanan manis, jangan langsung ditelan. Nikmati dulu, rasakan dulu, baru mengambil keputusan. Agaknya ini cukup susah ya untuk usia belasan tahun, karena memang darah muda adalah darah yang berkobkobar wkwkwkkw. Ya, impulsif, kecenderungan untuk cepat merespon sehingga kadang apa yang kita lakukan adalah hal yang tidak sepatutnya di lakukan pada saat itu juga.

7. Membanding-bandingkan diri dengan orang lain. 
Sepertinya ini juga penyakit yak. Kita sering kali ngacanya tuh ke orang lain. Menganggap A lebih keren, lebih pinter, lebih cantik, lebih bla bla bla. Apa hasilnya? Kita lupa tuh ngaca ke diri kita sendiri yang tentu juga punya keunggulan. Membanding-bandingkan diri dengan orang lain hanya akan membuat kita terengah-engah dalam berjalan di lintasan kita sendiri. So, kenapa kita tidak memaksimalkan saja potensi yang diberi sama Tuhan?

8. Terpuruk ketika gagal.
Ingat betul ketika gagal pas olim jaman SMA, pulang ke rumah (di Bojonegoro) pada saat itu saya tidur 20 jam. Nyaris gak makan gak ibadah juga. Apa penyebabnya? Kecewa. Saya mudah terpuruk ketika gagal pada waktu itu. Asal muasalnya adalah terlalu berharap sama kemampuan diri. Lupa kalo Yang Diatas juga berhak ngurusin diri. Selama itu, saya hanya belajar sebab gagal ada 2: usahanya kurang keras, dan belum ditakdirkan Tuhan. so, pas kuliah ini saya juga sering gagal sih, tapi yaudah gitu lo udah kebal juga.. jadi serasa so so gitu la... Gak terlalu mikirin terus bangkit lagi. Kata pembimbing saya nih, ada kalanya kita perlu mencontoh banteng. kenapa banteng?

Banteng itu perlu merunduk dan mundur sedikit untuk bisa menyeruduk kencang.

9. Pengen Banyak Hal
Pengen banyak hal itu wajar sih.. dulu saya pas ikut volunteering IYD #1 dan sebagai volunteer termuda pada saat itu (umur 18th), tanggungan tugas kuliah sooo banyak, di tambah pas itu masih semester 3 yaak, dan yaa gitu deh.. kurang bisa memanajemen diri sehingga apapun diikutin, pengen ini, pengen itu sampe lupa kapasitas diri. Sampe-sampe salah satu kakak volunteer (namanya Mba Ayu, sekarang S-3 di Perancis) bilang ke saya: dek, nanti akan kamu rasain ketika sudah mendewasa, ambisi masa muda itu sangat bergelora, kita pengen melakukan banyak hal tapi juga sering lupa kapasitas diri. Jangan sampai dengan ambisi dan keinginan akan banyak hal-mu itu, kamu merugikan orang lain maupun menyakitinya.
Iya! Jleb gak sih,.. Mba Ayu bilang gitu karena saya jarang ikut rapat uey, :(

10. Gak ikut GEGAMA.
Jangan ketawa, ini salah satu hal yang agak receh sih, saya menyesal karena gak ikut gegama (UKM pecinta alam di Geografi). Kenapa gitu? Ketika di akhir masa kuliah saya baru sadar pentingnya si badan ini ditempa dengan alam. Dan tentu, butuh teman dan trigger kan yak.. Hehe. Dulu saya takut masuk GEGAMA karena banyak yang gondrong. Saya waktu itu takut dan beranggapan bahwa orang gondrong itu nakal (Nah!Mudah menjustifikasi kan yak). Akhirnya saya memutuskan untuk mengurungkan niat daftar gegama. Beberapa bulan yang lalu saya diundang gegama untuk mengisi salah satu acaranya. dan disitulah titik saya menganggap bahwa: tidak semua hal yang tampak dari luar akan mencerminkan dalamnya. Dalamnya GEGAMA sangat hangat :)


Voila! Begitulah cuitan sepuluh hal yang saya refleksikan dari kesalahan, kecerobohan, kebodohan saya sendiri. Hal-hal tersebut, seperti yang saya tulis sebelumnya, bukan untuk diratapi melainkan digunakan untuk mengevaluasi diri kita dan kesehatan jiwa kita tentunya. Hehe.

Misalpun saya gak menyadari ke-10 hal tersebut, tentu saya tidak akan bertransformasi menjadi jiwa yang seperti sekarang ini. Yaps. Jiwa kita merdeka! hanya Tuhan yang punya. So, anggapan manusia-manusia di luar sana biarlah ada, kesalahan yang kita lakukan di masa lalu biarlah berlalu. Hidup akan jalan terus... makanya, jadilah seperti anak panah. yang meskipun harus mundur dan mengalami kesakitan, dia tetap fokus dan mencapai tujuannya.

Kita, dalam garis hidup kita, salah benarnya, jadikanlah ia sebagai mana pembelajaran, nikmati. Seperti saat sedang belajar sambi menyeruput hangatnya secangkir teh.

cheers!

Futty¬

1 komentar:

  1. Hihii yang ke 10 lucu fut, aku juga awalnya berpikiran begitu soal mapala tp plusnya lama tamat (ngeliat senioren ku begitu) akhirnya ditantang ke ukm mapala sm senioren. Tahun pertama kandas di tes pertama karena sulitnya izin ordas nginap di kampus, tahun ke 2 ngekos dan syukur semua tesnya terlewati.. Banyak hal yg diluar point of view berbeda, banyak dari kita yg cepat tamat (*i mean 4tahun) aku seh terlewat 1 semester����, banyak pengalaman, dan yang paling mengubah idupku ceileeh akhirnya suka suka kali makan sayur.. Sungguh bersyukur

    BalasHapus