environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Minggu, 08 September 2019

Medan, satu purnama terlewat

Maret 2019 adalah kali pertama aku mendapatkan tiket AirAsia yang menuju Kualanamu. Tempat yang sebelumnya belum pernah aku kunjungi. Sore itu aku naik Gojek dan menuju Adi Sutjipto Int Airport. Telat check in! Secara tidak sengaja aku bertemu dengan Sutra-yang ternyata kami akan mengajar di project yang sama: MEDAN!

Malam sebelum berangkat-lebih tepatnya 2 malam sebelum keberangkatan.. Ada info mengenai pekerjaan yang aku lamar. Aku harus wawancara. Dan itu bertepatan dengan project mengajar yang belum selesai. Sempat galau. Tapi setelah berbagai pertimbangan, akhirnya aku tidak hadir wawancara dan memilih mengajar-tanggung jawab yang sudah aku ambil sebelumnya.

Medan kota yang panas. Aku selalu berkeringat dan mengeluh kepanasan. Satu hal yang sangat menonjol yang aku tau dari medan adalah suara klakson yang sangat keras. Kendaraan yang semrawut, pelanggaran lampu lalu lintas nampaknya sudah jadi pemandangan yang wajar.

Selama mengajar di Medan bulan Maret 2019, tidak terbesit sama sekali untuk kembali ke sini. Memang ada sedikit firasat "sepertinya bakal kesini lagi", tapi itu sekadar firasat yang langsung aku tampis. Meskipun-pada saat itu masih job-seeker, aku selalu berharap bisa kerja di Jawa, tepatnya Jawa Timur saja. Dekat dengan bapak ibuk.

Namun ternyata takdir bilang lain. Bulan Juli 2019-wawancara kerja lagi. Di situ di offer "apakah sanggup penempatan di Medan?" Dan tanpa pikir panjang aku menyanggupinya. Bukan apa-apa. Di ceritaku yang sebelumnya, aku pernah bilang kalau mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah. Apalagi untuk freshgraduate zero experience. Makanya, setelah bilang "sanggup", hati langsung menimang-nimang banyak hal.. Seperti "bagaimana kalau beneran diterima?" "Nanti sendirian di Medan?" "Jauh dari orang tua?".. Dan banyak lainnya.

Hingga semua pertanyaan itu terjawab: diterima kerja dan ditempatkan di Medan, sendirian-tanpa keluarga dan teman di sana-dan sangat jauh dari orangtua. Maksudku, beda pulau.

Tentu pertimbangan hingga memutuskan "oke" telah melalui ridha Bapak Ibuk. Hamdalah.

Agustus tanggal 9 tahun 2019 Pradev dan Ghina mengantarku. Fadil datang, Ais dan Sani juga. Sepuluh hari sebelum itu aku menghabiskan waktuku di Jogja. Ngopi bersama Mas Koko, mengunjungi pameran buku dan mengadopsi kucing buat Fadil, makan pisang goreng bersama Mela di Kopi Merapi, tidur di rumah Pradev, makan es krim bareng Ais, ketemuan sama Nurul dan masih banyak lainnya.








8 Agustus. Aku masih ingat betul: pamitan dengan Prof Junun dan Bu Emma. Pesan yang disampaikan: "Futuha, di manapun kamu berada, lakukan segala sesuatunya dengan baik."

9 Agustus pukul 15, aku kepengen nangis rasanya. Meninggalkan Jogja dan segenap kenangannya dalam waktu yang cukup lama. Sesekali aku memandangi Ghina. Bagaimana dia nanti ketika wisuda sementara aku tidak bisa hadir. Dan ketika Ais Sani datang, aku seperti ingin menangis. Dan aku meninggalkan mereka semua, masuk ke ruang check in tanpa sedikitpun menoleh ke belakang. Karena aku nangis! Haaha.



Semua tiket pesawat ditanggung oleh perusahaan. Beberapa kali penerbangan Jogja-Medan sebelumnya juga begitu. Awal aku sampai di medan pukul 19 WIB dan di follow up oleh Pak Achmad Adhitya, manajer SUSO Unilever, menanyakan apakah Futuha sudah di Medan atau belum, dan PM menjawab bahwa Futuha just landed Pak. Haha. Lumayan. Aku gak merasa sendirian.

Aku menuju ke Rumah Ibu Titi, keluarga Muthi yang sudah berbaik hati menerimaku di Medan. Sebelum mendapatkan kos dan mulai berkantor di Unilever kantor Medan.

Medan seperti yang aku lihat sebelumnya: panas, klakson sangat berisik, orang-orang bersuara keras.

Idul Adha 2019 aku habiskan bersama keluarga Ibu Titi. Kami makan bersama, dab jalan-jalan! Setelah itu kami mencari kos. Ada beberapa pilihan kos. Tapi aku memilih kos di Medan Kota (pusat kota), 2.5 km dari kantor Forum Nine (kantor Unilever di Medan). Setelah disetujui oleh Bapak dan teman, akhirnya fix bertempat di situ.

Harga sewanya tidak murah. Namun lingkungannya sesuai menurut kriteriaku: dekat masjid, khusus putri, ada yang menjaga (Bapak/Ibu/Kakak Kos), bersih, ada dapurnya! Haha.

Hal yang tidak bisa dibeli adalah lingkungan yang baik. Awal awalnya aku stres berat dan merasa kesepian. Untungnya ada kak Vinda, putri pemilik kos yang sering mengajak ngobrol. Ada rekan kerja juga: Fikri, Bu Nina, dan Pak Gullit (yang tergabung di divisi Sustainable Sourcing) serta teman-teman kantor Unilever medan.

Satu minggu pertama, bahkan untuk ke indomart yang jaraknya 500m saja aku takut. Bukan apa-apa, stereotip orang-orang sini yang kurang ramah terhadap perempuan, kasar, dan lain sebagainya membuatku takut. Sampai aku memberanikan diri buat jalan jalan sendirian. Haha. Ternyata tidak semenyeramkan itu. Minggu kedua aku mulai jalan-jalan sendiri, ke pusat kota, kafe kafe di Medan, nge mall dan nonton di bioskop-sendirian.

Ibu kos sangat baik. Beliau sering bercerita dan membagikan masakan. Memang makanan disini mahal-mahal. Tapi enak dan porsinya banyak! Haha.

Minggu ke tiga, aku mulai mengikuti event2 dan membuat habitat dengan teman-teman. Berkegiatan, bekerja, membaca, memasak. Aku menikmatinya. Aku merasakan kasih sayang di sekitarku.

Perlahan, Medan tidak semenyeramkan yang aku kira sebelumnya.

Bahwa Tuhan, entah bagaimanapun caranya, tidak akan membiarkan kita sendirian. Ada tangan-tangan baik yang selalu menerima kita.

Kalau kata Ibuk "jangan lelah berhati baik, karena hati yang baik, akan melahirkan banyak kebaikan lainnya."

Ibuk, Bapak. Doa ibuk bapak selalu mengertai. Di mana pun, kapanpun.

Semoga betah.

0 komentar:

Posting Komentar