environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Rabu, 31 Desember 2014

Jangan Sembunyikan Tawamu, Nak...

       

   Suatu ketika, saya pernah sekadar jalan - jalan mengunjungi mirota kampus, bukan sekadar sih. lebih tepatnya "melihat". sambil membeli kebutuhan sembako bulanan untuk keperluan "perut" di tempat kost. memang sengaja saya sendrian kesana dengan sepeda merah saya. pada saat di pintu masuk, saya menjumpai ibu dengan anak - anak yang kira - kira usianya 5 tahun... kalau saya tidak salah menebak, kurang lebihnya ya segitu. hehe.
        ibu itu terlihat sudah selesai berbelanja entah apa. dan si anak menunggu didepan pintu sambil memainkan gadgetnya. saya pikir, biasa saja seorang anak sambil menunggu bermain gadget. akhirnya saya melanjutkan mengitari swalayan itu.
         saya mulai memperhatikan keadaan sekitar ketika saya naik ke lantai 3 (niatnya nyari alat tulis). mainan tersebar dimana - mana dengan harga yang bisa saya katakan "wow". bayangkan dengan mainan zaman saya kecil di daerah tempat tinggal saya. jangankan mainan yang harganya mahal. bahkan barbie "abal - abal" yang harganya dulu hanya Rp.3.000; pun dibuat rebutan! tapi setidaknya dapat dimankan bersama.
       dulu, ketika saya masih kecil. yaa sekitar 12 tahun yang lalu, bermain bersama teman - teman adalah rutinitas paling menyenangkan. main masak - masakan dengan menggunakn tanah liat yang dibentuk sesuai dengan keinginan, main "bekel" secara bergiliran, main air dan membuat sampan kecil dari tangkai daun pisang ketika banjir datang, membuat pistol - pistolan dari bambu muda yang dihaluskan, dan masih banyak sekali kenangan masa kecil yang begitu indah.
         namun sekarang ini yang saya rasakan pada anak zaman sekarang adalah... tawa mereka seolah mereka rasakan sendiri, gadget - gadget dan mainan canggih yang dibelikan oleh orang tua seolah menjadi bahan tawa namun tawa itu tak dibagi. sendirian, menghadap PS dirumah dan sibuk dengan dunianya sendiri. hmm... era globalisasi memang sudah melanda. mungkin para orang tua sudah takut membiarkan anak mereka bermain pasir atau tanah, takut kotor... atau mungkin permainan tradisional yang begitu hangat juga sudah lupa untuk di ceritakan serta diterapkan dari orang tua kepada anak lantaran padatnya kesibukan. batu diluar rumah pun seolah menjadi barang yang najis sehingga untuk bermain dakon pun anak - anak dibelikan mainan dakon buatan pabrik dari bahan polyester
      padahal, masa kanak - kanak adalah masa pengembangan diri dan kepribadian. lantas, yang terjadi sekrang ini, apakah generasi kedepan nantinya akan acuh terhadap orang lain? individualis? entahlah. hanya waktu yang bisa menjawab.
         yang saya ceritakan tadi bukanlah keseluruhan dialami oleh anak - anak. masih banyak diantara anak - anak jaman sekarang yang bermain permainan tradisional. seperti yang saya lihat kemarin seusai membarengi anak - anak melantunkan ayat Qur'an dan menafsirkan surat pendek. mereka dengan asiknya bermain "gobak sodor" seusai mengaji. sembari menunggu adzan maghrib, mereka bermain dengan riangnya. tawa mereka begitu tulus. ketulusan yang terpancar di raut wajah mereka. walaupun tak jarang satu dua yang bertengkar menganggap ada yang curang. namun, tetap saja, mereka mau dan mampu berkomunikasi, berbagi, leluasa dengan alam dan kesatuannya! Tertawalah, Nak... Bagikan kegembiraan pada sesama!


Read More

Minggu, 23 November 2014

Gadis Berpita Merah


Hari ini aku bertemu dengan gadis berpita merah. rambutnya panjang bergelombang. dia terlihat sangat anggun dengan baju putihnya. gadis berpita merah nan elok dipandang mata. bukan cantik, tapi manis. manis semanis gendhis. begitulah aku menyebutnya.
Hari ini, aku berkenalan dengan gadis berpita merah. gadis itu bercerita bahwa hari ini dia akan mulai mengorbit kembali. tak peduli entah berapa benda angkasa yang menghalanginya mengitari bintang. gadis berpita merah itu tersenyum padaku. senyum tulus penuh keceriaan. senyuman paaaling melegakan dari semua senyum yang pernah aku lihat. dia bilang, hari ini dia sedang berbahagia. aku tidak menanyakan mengapa. karena dari matanya, semua candanya dapat terpancar.
Hari ini, gadis berpita merah mengajakku mengunjungi kerajaannya. sebuah ruangan yang berukuran 2 kali 2 meter itu.. dia sebut sebagai kerajaan. dindingnya penuh coretan! aku bingung, kenapa gadis-serapih-itu... bisa membuat coretan - coretan pada dindingnya. dan aku tanya, mengapa? dia bilang, coretan itu adalah bukti bahwa dia hidup. suatu saat nanti, semua coretan itu akan terwujud. mimpi - mimpi yang dia torehkan disana. mimpi - mimpi yang baginya takkan sempurna jika hanya untuk menggapai dunia fana.
lantas... ada satu hal yang membuatku tertarik. sebuah meja kecil yang terbuat dari kayu jati di plitur rapi. disudutnya terdapat sebuah keranjang kecil tempat meletakkan pensil. namun... ada sekuntum mawar merah yang diselipkan diantaranya. aku bingung lagi... kenapa? kenapa harus ada mawar merah disana? apakah dia sudah tidak sendiri??. tidak, dia jawab tidak. dia sedang sendiri. lalu, aku menanyakan padanya. darimana datangnya mawar merah itu? dia berkata bahwa mawar merah itu sengaja dibelinya. sebagai tanda cinta dirinya terhadap diri sendiri. bukan dari orang lain yang menaruh hati padanya. aku menanyakan lagi. gadis manis sepertimu, belum ada yang menaruh hati? dia menjawab : ada. namun tak ia izinkan. dia membuat benteng yang begitu terjal dan kokoh. sehingga tak sembarang orang bisa menaikinya. aku khawatir... bilamana tidak ada orang yang berhasil menaikinya? dia tersenyum. dan menjawab... bukankah orang yang cerdas akan menggunakan pesawat atau alat bantu terbang untuk membantu melewati dinding itu? bukankah orang cerdas selalu memiliki cara yang berbeda? hmm.. aku mengiyakan jawabannya. gadis itu tersenyum. lalu melanjutkan... "Di meja kecil ini, aku menulis semua rencana hidupku. termasuk rencanaku untuk membersamainya."
Aku tertunduk, dia sudah merencanakan hidup dengan seseorang! aku ingin tau, siapa orang yang sudah menarik hatinya. saat kutanya... dia hanya tersenyum ceria dan menggelengkan kepala. kemudian menjawab.. "aku tak tau".


Yogyakarta, 23 November 2014

Read More

Sabtu, 22 November 2014

Satu Hal yang Sering Terlupakan : KEMATIAN


Assalamualaikum. malam ini, tanggal 22 November menjelang 23 November, saya ingin menulis. ada latar belakang tersendiri kenapa saya mengambil tema ini. yaa selain sebagai refleksi diri, jugaa semoga tulisan ini bermanfaat bagi orang yang membacanya.
Kematian. satu kata yang sepertinya menyeramkan. satu kata yang terkadang kita sendiri lupa apa itu arti dari kematian? mengapa harus ada kematian? bukankah dunia ini begitu indah? hamparan sawah nan hijau, langit biru, gemuruh ombak dan sejuknya rintik hujan? mengapa disuatu saat... kita harus meninggalkannya?
Kematian. satu hal yang sering kita lupakan. bahkan... kesadaran dan kesiapan akan hadirnya pun... tak jarang kita abaikan. ditengah gegap gempitanya kesenangan bersama teman, jalan - jalan menghadiri tempat hiburan. dan mungkin sering kita melupakan tentang siapa yang memberikan kesenangan... teman... dan rasa bahagia itu kepada kita.
memang, terkadang kita harus bersemangat menjalani kehidupan. tapi esensi dari hidup itu sendiri bagaimana? bukankah diri kita sendiri yang membawanya? lantas, mengapa dalam kehidupan masih terdapat tabir hitam yang perlahan namun pasti menyeruak dan menghampiri? ketahuilah kawan, setan itu maha liciknya. kita menginginkan hidup sukses dan berkecukupan, mewujudkan cita - cita kesana kemari riwa - riwi demi mendapat IP tinggi dan beasiswa luar negeri. sementara... hati kita menginginkan pujian, sorakan, tepuk tangan saat kita dinobatkan sebagai mahasiswa berpestasi ataupun peraih beasiswa di negeri matahari. hmm...  semoga kita tidak yang termasuk di dalamnya.
dan., untuk apa kita hidup, sementara kita tau bahwa kita akan "dimatikan"?
tidak adilkah Tuhan? 
Tuhan itu Maha Adil... Dia tau yang terbaik bagi umatnya. Dia tau yang terbaik untuk kita. kehidupan kita didunia yang fana ini, tak lain dan tak bukan hanyalah untuk beribadah kepadaNya. betul kan?
Dia sudah menjamin siapapun yang menaati perintahNya dan menjauhi laranganNya dengan balasan yang setimpal.
jadi, bagaimana? apakah kita harus mengejar itu semua? tentu! cita - cita kita, gantungkanlah ia setinggi - tingginya. jika diniati dalam kebaikan dan ibadah, tak akan ada kata rugi dalam diri kita. sayangnya... banyak diantara kita yang menggantungkan cita - cita begitu tinggi tanpa memperhatikan esensi dan nilai ibadah terhadap Sang Pengabul Mimpi. 
Satu hal yang memang sering terlupakan dan terabaikan. semoga kita bukan termasuk orang yang melupakan dan mengabaikannya : Kematian.
"Waktu kita di dunia tidak banyak.. Tapi banyak diantara kita yang lupa waktu."
wallahualam bisshowab

Yogyakarta, 22 November 2014.
Ditulis di meja sederhana di sebuah ruangan bernuansa biru. meja sederhana yang juga sebagai tempat menulis rencana kehidupan. termasuk mengorek - ngorek diri.
Malam - malam dengan kilat.
Wassalamualaikum Wr Wb.

Read More

Minggu, 05 Oktober 2014

Satu yang Harus Selalu Ada

hari ini saya berkunjung ke rumah sahabat saya. namanya Sinta (18). dia anak Jogja asli yang tinggal di daerah Kasihan - Bantul. suasana pedesaan begitu akrab dengan saya yang notabenenya dari desa. itung - itung untuk mengobati rasa kangen terhadap keluarga di kampung halaman.

keluarga Sinta adalah keluarga seniman. ayahnya seorang pelukis dan pembuat wayang. Sinta dan Mas Danang (kakak Sinta, 20) sangat pintar dalam melukis. saya tertarik dengan skets yang ada di buku kakak beradik tersebut. dirumah sederhana itu Sinta dan keluarganya menyambut saya sangat ramah. seperti orang jogja pada umumnya, mereka semua ramah dan menyenangkan.

saya mengenal Sinta dari sebuah event pada awal tahun 2013. dan sering bertemu di event sebidang. alhamdulillah, saya masih diizinkan untuk mengenyam studi lanjut di Jogja sehingga bisa mendekatkan diri saya dengan lingkungan dan orang - orang yang istimewa seistimewa daerahnya.

saya banyak belajar dari dia. hari ini, satu nasehatnya yang paling mengena adalah : "jangan terlalu banyak berekspektasi". dan itu dia katakan bukan tanpa sebab.
kadang kala, seorang memang membutuhkan perhatian, untuk usia remaja, kebanyakan menginginkan bahkan menuntut perhatian dari lawan jenis. namun... bukankah jika kita terlalu menuntut "seorang yang bukan siapa-siapa" kita, apalagi belum mengenal keluarganya... itu wagu? (aneh)

yaa.. seperti itulah. kita bisa saja punya orang spesial. namun pertemanan adalah yang paling utama. satu hal yang harus selalu ada : teman. teman yang bisa mengingatkan dan saling mengisi. teman yang saling berbagi dalam kebaikan, menasehati untuk menuju kebaikan, dan berbuat baik untuk kebaikan pula. semoga kita mendapatkan yang seperti itu. aamiin.

Sinta dan Saya :D


Read More

Sabtu, 04 Oktober 2014

Cerita si Mbak

もし もし 。。。^_^
おはよう ございます 。。。
Sebelumnya, SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA :)

hari ini saya ingin bercerita tentang pengalaman yang (bagi saya) bisa dijadikan pelajaran.
tadi pagi, saat saya dan teman satu kosan berangkat ke lapangan Grha Sabha Pramana untuk menunaikan ibadah sholat Idul Adha, saya bertemu dengan seorang yang harusnya saya memanggil dengan sebutan "mbak" tapi malah saya panggil "bu".

langsung saja, setelah pertemuan singkat dengan (panggil saja mbak Bunga) beliau, beliau banyak mengajak saya cerita (dan bahkan mungkin lebih ke curhat). mbak Bunga duduk disebelah saya, saat masih menunggu jamaah lain datang, mbak Bunga banyak cerita tentang anak - anak. yaa menurut saya saat itu memang wajar saat kita berbicara tentang anak, karena kebanyakan jamaah putri di depan saya membawa serta anak - anak mereka untuk menunaikan ibadah sholat idul adha. anak - anak yang begitu lucu dan imut, mengenakan jilbab dan bercengkrama dengan bundanya, menanyakan kenapa sekarang banyak orang datang di lapangan, dan lain sebagainya. pemandangan yang mengharukan sekaligus menyenangkan.

Read More

Jumat, 03 Oktober 2014

THE ONLY ONE IN THE WORLD : EATING SOIL, UNIQUE CULTURE IN TUBAN

Tuban is one of the districts in the province of East Java - Indonesia. districts that are in the path of Pegunungan Kapur Utara and is located at an altitude ranging between 0-500 meters above sea level. The average land price in the form of ground limestone mountains on the mainland, and the clay around the Bengawan Solo wathersheads.
Tuban district communities have cultural eating smoked land, or so-called Ampo. in modern science, the habit of eating soil also called geophagy. in wikipedia, some experts say that geophagy an abnormal habits were classified as DSM-IV disorders.
Tuban district residents believe that eating smoked clay or referred Ampo, able to maintain digestive health, and it is also capable of treating various diseases.
Read More

Program MP3EI, harus bagaimana?

Perwujudan Program MP3EI Melalui Pendekatan Sinergi Triple Helix dengan Tinjauan Sistem Informasi Geografi



Indonesia ditargetkan memiliki pendapatan penduduk perkapita sekitar US$ 15.000 pada tahun 2025. Produk domestik bruto (PDB) mencapai sekitar US$ 4 trilyun, Dengan demikian, Indonesia akan menyandang predikat baru sebagai negara berpenghasilan tinggi. Sebagai acuan, pada tahun 2010 pendapatan perkapita penduduk di Indonesia hanya sekitar US$ 3.000 dan PDB sekitar US$ 700 milyar. Maka akan muncu suatu pertanyaan, bagaimana kita mampu mencapai target tersebut? Apakah seluruh pemangku kepentingan negeri ini bersinergi mewujudkannya? Jawabannya adalah harus mampu.
MP3EI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia ) merupakan upaya yang dilaksanakan untuk mempercepat dan memperkuat pembangunan ekonomi sesuai dengan keunggulan dan potensi strategis wilayah dalam enam koridor. Antara lain : Koridor Sumatera, Koridor Jawa, Koridor Kalimantan, Koridor Sulawesi, koridor Bali – Nusa Tenggara serta Koridor Papua – Kepulauan Maluku.
Read More