environment . education . experience

Jumat, 22 April 2022

Pentingnya Memahami Keanekaragaman Hayati untuk Ketahanan Pangan

 


Hai haai, apa kabar semua? Semoga tetap sehat ya dan tetap fit juga. Hmm, di bulan Ramadhan ini, terutama di Indonesia, meskipun puasa, tapi kegiatan kulineran masih tetap berjalan ya. Terutama menjelang buka puasa, yang sering kita sebut ngabuburit.

Anyway, berbicara soal makanan dan bahan pangan, mungkin selama ini kita mengenal beberapa jenis bahan pangan yang-sangat familiar-dan digunakan oleh hampir seluruh penduduk di Indonesia. Seperti beras, atau kebutuhan pokok pangan lain seperti gula, minyak goreng (yang sedang mahal-mahalnya), dan masih banyak lagi.

Tapi kayaknya gak cuma harga minyak goreng ya yang meroket, melainkan hampir seluruh kebutuhan/komoditas pangan dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun oleh databoks.id, Global Food Security Index (GFSI) mencatat bahwa skor indeks ketahanan pangan di Indonesia di tahun 2021 adalah sebesar 59,2 atau peringkat 69 dari 113 negara, turun sekitar 2,2 poin dari tahun 2020 yang skornya mencapai 61,4.

Loh kok peringkatnya ga bagus? Katanya negara dengan iklim tropis yang kaya?

Yup, ngomongin soal kekayaan alam, Indonesia berani diadu. Mulai dari kekayaan sumberdaya energi dan mineral, sampai dengan kekayaan keanekaragaman hayatinya. Sayangnya, kebutuhan akan pangan yang semakin meningkat ini tidak diimbangi dengan supply-shed nya, karena jenis komoditas yang diedarkan di pasaran ya “itu-itu saja”. Padahal, keanekaragaman hayati di Indonesia luar biasa loh!

Bicara soal keanekaragaman hayati atau kehati, minggu lalu, #EcoBloggerSquad mengadakan online gathering yang membahas secara khusus dan cukup detil mengenai pengantar keanekaragaman hayati. Materi disampaikan oleh Ibu Rika Anggraini, Direktur Komunikasi dan Kemitraan Yayasan Kehati.

Online Gathering bersama Yayasan Kehati (sc: EBS)

Sebenernya apa sih, keanekaragaman hayati itu?

Keanekaragaman hayati, atau biodiversitas (biodiversity) merupakan variasi dan variabilitas kehidupan di bumi di semua tingkat sistem biologis, termasuk molekul, organisme, populasi, spesies, dan ekosistem.

Nah ini adalah gambar contoh perbedaan di tingkatan kehati:

 

Tingkatan kehati (sc: Yayasan Kehati)

Bisa dilihat kan, ya? Mulai dari tingkatan ekosistem, spesies, dan genetik… semuanya kaya dan penuh penciri; dan tentu memiliki manfaat yang luar biasa bagi kita manusia asalkan dikelola dengan sebaik dan sebijak mungkin. Disinilah arti dari keanekaragaman hayati sebagai sistem penunjang kehidupan, karena tidak dimungkiri bahwa kita memperoleh obat-obatan, meakukan aktivitas perkebunan, pertanian, dan mencari sumber pangan adalah juga dari “jasa” keanekaragaman hayati.

Selain sebagai sistem penunjang kehidupan, kehati juga memiliki peran dalam jasa lingkungan hidup, diantaranya: Menyediakan sumberdaya air dan mengatur tata air tanah, menjaga dan melindungi kesuburan tanah, menyerap karbon dan menjaga stabilitas iklim, mengurai dan menyerap polusi udara, memelihara kelestarian ekosistem, dan menjaga keseimbangan kehidupan manusia dengan alam.

Wah mantep, banyak dan vital banget gak tuh?? Wkwk

Nah balik lagi sama judul topik diatas. Apasih hubungannya kehati dengan ketahanan pangan?

As we mentioned above, gak semua komoditas pangan itu memiliki supply-shed yang bagus. Kadang terjadi kelangkaan yang menyebabkan harga komoditas tertentu naik sekali (meskipun sebenernya ketersediannya melimpah seperti bahan minyak goreng, eh). Nah ketika terjadi (amit-amit) kelangkaan sumber pangan, atau harganya tidak terjangkau, maka disinilah pentingnya memahami dan mengetahui keanekaragaman hayati; bahwa ada banyak sekali alternatif substitusi pemenuhan kebutuhan pangan.

Misalnya: kita gak selalu harus mengonsumsi beras, bisa juga disubstitusi dengan singkong, jagung, sorgum, atau sumber karbohidrat lainnya. Begitu pula dengan ikan; misal kita ingin mendapatkan ikan dengan kandungan omega 3 yang tinggi; gak harus ikan salmon yang harganya mahal; ikan gembung pun bisa. Hehe

Atau misal lagi nih, minyak goreng sawit yang langka dan mahal, kita ga harus terus menggoreng kok, bisa direbus juga *eehhh ga harus menggunakan minyak goreng sawit jika kita bisa mensubstitusinya dengan minyak kelapa, misalnya. Kan sesama dari keluarga palmae juga kaann.. hihi

Sc: boredpanda

Nah, ternyata, Indonesia ini kayaaa banget! Saking kayanya, Indonesia memiliki 17% dari seluruh jumlah spesies di dunia (padahal Indonesia luasannya cuma 1,3% dari wilayah permukaan bumi); dan untuk bahan pangan sendiri, kita memiliki berbagai jenis flora dan fauna yang sangat banyak; mungkin kalau kita mngetahui semuanya, mungkin kita akan bingung mau mensubtitusi bahan A dengan bahan atau sumber pangan yang mana. Karena apa? Karena saking banyaknya!

keanekaragaman pangan (sc: Yayasan Kehati)

Selain untuk substitusi bahan pangan, keanekaragaman hayati di level genetik juga sangat membuat kita amaze dengan ciptaan Tuhan. Contohnya pisang. Kita bahkan bisa bebas memilih mau pisang kapok, pisang raja, pisang ulin, pisang barangan, dan lain-lain ketika di pasar! Rasa dan penggunaannya pun bisa berbeda-beda tergantung selera.

beranekargam jenis pisang (sc: Yayasan Kehati)

Nah kan, bisa dibayangkan kalau keanekaragaman hayati kita semakin menurun, apa yang akan terjadi? Yup. Ketidakseimbangan ekosistem dan bahkan dapat mengakibatkan kelangkaan komoditas. Belum lagi perubahan iklim yang semakin mengancam bumi dan lingkungan.. after effect nya pasti akan sangat banyak, bahkan bagi keberlangsungan hidup kita sendiri.

Oleh karena itu, yuk sama-sama kita sadar akan pentingnya kelestarian keanekaragaman hayati melalui pendidikan berbasis keanekaragaman hayati sejak dini; menerapkan gaya hidup ramah lingkungan, serta bersama-sama menjadi “agent of change” yang konsisten mendorong adanya perubahan di masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

 

 

 

 

Read More

Jumat, 01 April 2022

5 alasan kenapa kita harus (paling tidak) mencoba berjalan kaki ketika berangkat/pulang kerja

 


Hai-haaii. Apa kabar niih? Di tengah kegiatan dan travel yang pembatasannya sudah mulai dilonggarkan, apakah teman-teman sudah pada WFO? Hmm… sepertinya banyak dari kita yang sudah mulai WFO ya sejak kebijakan pandemi mengalami pelonggaran.

Ngomong-omong soal WFO, biasanya kita ke kantor pakai transportasi apa? Apakah menggunakan kendaraan umum/pribadi/berjalan kaki?

Berdasarkan berita yang dihimpun oleh detik.com, ternyata jumlah pejalan kaki di Indonesia masih sangat rendah loh! Masyarakat banyak memilih untuk menggunakan kendaraan bermotor/berbahan baku energi fosil untuk melakukan mobilitas.

 

source: forbes.com 

Padahal, kalau dipikir-pikir, jalan kaki juga somehow menarik juga yaa ketika kita mau berangkat ke tempat kerja atau juga pulang ke tempat kerja.

Rata-rata, masyarakat kita masuk kantor/memulai pekerjaan pada pukul 08.00 WIB dan selesai di pukul 17.00 WIB, dengan jarak dari tempat tinggal ke kantor yang cukup bevariasi. Untuk di Jabodetabek dan Joglosemarkerto atau daerah-daerah aglomerasi di Indonesia, sudah tersedia transportasi publik seperti Commuter Line/KRL. Namun tak sedikit juga yang masih menggunakan kendaraan pribadi meskipun jarak ke tempat kantor masih terbilang dekat (radius 1-2 km).

Sementara itu, data dari World Bank menunjukkan bahwa emisi CO2 per metric tons per kapita di Indonesia terus mengalami peningkatan (yang cukup signifikan dan cenderung fluktuatif) dari waktu ke waktu

Source: https://data.worldbank.org/


Sementara itu, di sektor transportasi sendiri, Indonesia juga mengalami peningkatan emisi karbon dari tahun ke tahun. Tahun 2016, sektor transportasi menyumbangkan 157,0 MT (Metrik Ton) emisi CO2.

Source: https://www.carbonbrief.org/


Waaw, angka yang terus menerus naik dan banyak ya, bestie~

Jika dibiarkan terus menerus, emisi CO2 bisa mengakibatkan beberapa dampak serius. Salah satunya yang paling kita kenal adalah perubahan iklim, yang mana perubahan iklim ini multiplayer effect-nya juga bukan main: bencana hidrometeorologis, krisis pangan, meningkatnya indeks ketidaknyamanan udara, bahkan berkurangnya spesies di bumi.

Nah, salah satu alternatif untuk membantu mengurangi emisi CO2 adalah dengan meminimalisir penggunaan kendaraan/transportasi berbahan bakar bensin. Tapi kan itu agak susah ya, apalagi bagi kita-kita yang mobilitasnya tinggi?

Hmm, memang betul. Tapi, bagi kita-kita yang at least jarak tempat tempat tinggal ke tempat yang ingin dikunjungi masih di radius 1-2 km, tidak ada salahnya loh buat mengambil langkah kecil. Yakni dengan cara jalan kaki!

Termasuk ke tempat kerja!

Ada beberapa alasan kenapa kita harus jalan kaki ke tempat kerja (yang jaraknya masih dapat dijangkau dengan jalan kaki instead of menggunakan kendaraan bermotor):

1.     Hemat

Hmmm, di radius 1-2 km ketika kita menggunakan kendaraan pribadi, paling tidak kita akan mengeluarkan uang untuk bensin. Haha. Atau ketika kita menggunakan kendaraan umum, kita akan mengeluarkan at least Rp.3000; dan untuk ojek online sekitar Rp.14.000 (di Jabodetabek). Nah, dengan jalan kaki, akan ada porsi-porsi rupiah yang bisa ditabung ataupun masuk ke platform investasi! Hehe

2.    Sehat

Beberapa dari kita, kadang tidak sempat berolahraga di hari-hari kerja. Dengan jalan kaki, setidaknya ada otot-otot yang digerakkan lebih intens dan bisa berkeringat juga. Hehe. Biasanya untuk jarak 500m diperlukan waktu tempuh sekitar 15 menit. Nah kan, lumayan kalau jalan kaki tiap hari bisa tercapai lah yaa target olahraga 30 menit seharinya. Hohohooo

3.     Lebih aware dengan kondisi sekitar

Dengan berjalan kaki, ada beberapa hal simple yang mungkin bisa kita amati lebih detil. Seperti misalnya apakah ada penambahan jajanan baru di jalan yang kita lewati haha. Intinya, banyak hal kecil yang akan sulit diamati ketika kita mobile dengan kendaraan bermotor, apalagi kalau kecepatannya tinggi. Hehe

4.     Sarana me-re-fresh pikiran

Ada yang pernah mengatakan bahwa dengan berjalan kaki dan menerapkan slow-living, pikiran kita menjadi lebih fresh karena kita bisa menikmati “momen” yang ada di saat tersebut. Selain menikmati momen, somehow dengan berjalan kaki kita bisa nyambi buat self-reflection. Tapi harus tetep fokus ya lihat jalan!

5.    Ramah lingkungan

Nah kalau ini alasan yang tidak bisa dipungkiri lagi. Karena kita meminimalisir penggunaan bahan bakar fosil, secara tidak langsung kita juga turut andil untuk menyayangi lingkungan. Asal bukan jalan kaki sambil nyampah bungkus snack/AMDK yaa.

Nah, jadi itu dia 5 hal baik yang bisa kita rasakan dengan jalan kaki. Selain baik untuk kita, juga baik untuk bumi looh!

Kamu ingin bergabung bersama untuk menyayangi bumi? Pilih aksi sederhanamu di https://teamupforimpact.org/team-up-everyday dan mari bersama-sama melakukan kebaikan-kebaikan kecil yang berdampak besar!



 

Read More

Sabtu, 26 Februari 2022

Sensasi Mandi dengan Pilihan Parfum Mewah: Pengalaman menggunakan body wash Scarlett Charming, Freshy, dan Jolly


 

Haii haaii… kali ini aku mau cerita soal pengalamanku menggunakan produk Scarlett Body Wash (Brightening Shower Scrub) yang terdiri dari 3 varian, yaitu Charming, Freshy, dan Jolly. Nah sebelumnya mungkin udah pernah ku ulas juga untuk varian “Coffee” disini.

Nah, sebenernya, apa sih bedanya varian-varian di body wash Scarlett?

Hmm… mungkin aku gak perlu lagi menjelaskan panjang lebar soal brand ya, karena pasti semua pada tau brand ini. Hihi, selain produk face-care, produk-produk body-care milik scarlett juga oke punya! Yuk intip bareng-bareng 😉

General Review

Packaging and Product

Botol flip-flop dengan tutup ber-embos berwarna putih merupakan ciri khas dari Scarlett Brightening Shower Scrub ini. Kemasannya yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil menjadikannya nyaman digunakan di rumah maupun saat bepergian. Volumenya yang sekitar 300ml juga pas digunakan sehari-hari tanpa takut cepat habis (kecuali kalau makainya berlebihan ya :D). Nah, varian-varian ini selain dibedakan berdasarkan nama, juga bisa dengan mudah dibedakan berdasarkan warna, seperti gambar dibawah ini:

Pengemasan produk barunya sangat secure karena dilapisi plastik juga. Dan botol yang digunakan memiliki label PET1, artinya botol tersebut merupakan botol sekali pakai. Nah agar teman-teman bisa menyiasati secara eco-friendly, teman-teman bisa mendaur ulang botol bekasnya, atau jika ingin membuang botol bekas maupun plastik kemasannya, jangan lupa dipisahkan dan dikategorikan ke sampah plastik/sampah non-organik yaa!

Selain itu, di bagian kemasan produk juga tertera nomor BPOM, logo halal, non-animal tested, informasi ingredients, serta pembuat dan distributor produk. Bisa dijumpai dengan mudah juga untuk expired date yang tertera di bagian badan botol; jadi jangan khawatir soal informasi-informasi penting tersebut ya!

Benefit Claims

Meskipun memiliki varian yang beraneka ragam, benefit claim dari Scarlett Brigtening Shower Scrub ini cenderung kompak, yakni:

-          Mencerahkan (brightening)

-          Melembapkan (moisturizing), dan

-          Membersihkan (cleansing).

Dengan highlight kandungan Vitamin E dan Glutathione, serta adanya kandungan mild beads yang berfungsi sebagai smooth exfoliating/membersihkan daki dan kotoran yang ada di tubuh.

Hmm, karena benefit claimsnya lumayan seragam, dan aku pengen tetep bisa bahas satu per satu variannya, maka aku mau coba ulas per varian dengan highlight perfumery nya. Kenapa gitu?

Karena mereka WANGI BANGET yang BIKIN MOOD NAIK SAAT MANDI 😊)

Charming 

Yang aku ulas pertama adalah Charming. Aku suka sama warnanya haha. Unguuuu :3

Nah, waktu aku buka tutup botolnya pertama kali, langsung berasa … “hmmm, seperti aroma khas wewangian Timur Tengah.” Wanginya cukup strong, tapi elegan. Setelah mengidentifikasi after-used nya, ada aroma Saffron dan Melati yang cukup kuat; lalu diselingi wangi amberwood dan sedikit aroma cedar.

Sejenak mikir lalu ketemu aha moment, yup! Ini adalah wangi khas Baccarat Rouge 540, atau juga mirip-mirip sama parfum Mykonos x Paula Serena Avra Kehdabra, atau Red Fixation-nya The Body Shop.

Freshy

Si kuning yang menyegarkan, seperti namanya. Haha. Fresh!

Kesan pertama saat memakai?

Karena kebetulan saya juga makai Jo Malone English Pear and Freshia, sudah pasti berhasil mengidentifikasi kalau aroma Scarlett Brightening Shower Scrub varian Freshy ini adalah wangi parfum segar itu. Hahaha. Cucok meong lah, abis pakai body washnya, lalu diperkuat dengan aroma parfum yang sama. Siap segar sepanjang hari!

Wanginya ada kesan crisp, juicy, sweet, dan fruity!

Jolly

Hmmm… sepertinya ini varian yang cukup baru diluncurkan oleh Scarlett ya?

Warna peach yang segar dan feminim menjadi khas varian Jolly. Sebelumnya, saya juga pernah me-review body lotion varian Jolly disini.

Sama dengan varian yang lain, di body wash ini aku langsung “ring a bell” aroma parfum mbak-mbak kantoran yang sangat elegan. Yup, YSL Black Opium. Wangi untuk body wash ini mirip dengan wangi body lotionnya.

YSL Black Opium sendiri memiliki kesan aroma warm and spicy. Mungkin lebih sering dipakai untuk acara-acara formal ya…

Setelah 2 minggu penggunaan?

Moist atau tidak?

Awal-awal digunakan mungkin karena kulit mengalami penyesuaian, jadi di awal cukup kering ketika habis mandi dan tidak segera diolesi body lotion. Namun setelah penggunaan di hari ke-3 dan seterusnya, rasanya nyaman dan bikin lembab juga.

Apakah mencerahkan?

Ini setiap review soal brightening agent, sejujurnya aku kesulitan, karena kulitku alami sawo matang dan sepertinya tidak banyak mengalami perubahan yang signifikan mau dikasih apapun juga :D

Jadi untuk part ini aku kesulitan mengidentifikasi hasil di kulitku sendiri. mungkin teman-teman mau mencobanya? Bisa share pengalamannya juga yaa!

Bagaimana dengan efektivitas membersihkan?

Ini bagian yang aku suka dari Scarlett Body Wash. Meskipun busanya tidak terlalu melimpah ketika diaplikasikan dengan menggunakan telapak tangan (jadi kalau mau dapat busa yang melimpah bisa pake shower puff ya!), tapi efektif membersihkan kotoran di tubuh.

Pernah suatu hari aku keringetan banget, dan kemudian mandi pakai body washnya. Mungkin busanya tidak terlalu muncul jika dibandingkan dengan mandi ketika kondisi tubuh tidak terlalu berkeringat, namun yang aku lihat dan amati adalah, beadsnya mengeksfoliasi dengan lembut dan membersihkan kotoran di tubuh. Hasilnya? Ya bersih :D

Overall Conclusion

Secara umum, ketiga varian ini memiliki claim manfaat yang hampir serupa, namun jika teman-teman mau memilih, mungkin pilihan dari preferensi aroma akan sangat membantu. Jika mau yang aromanya khas timur tengah yang strong dan tetap elegan, bisa memilih varian Charming. Jika mau wangi khas musim gugur Britania Raya yang crisp bisa memilih varian Freshy. Dan jika mau wangi yang sensual, hangat dan pekat (tapi juga elegan) bisa pilih varian Jolly.

Personally, favoritku adalah varian Jolly. Karena aku suka wanginya. Meskipun demikian, semua varian ini juga menarik untuk dicoba. Selain membersihkan badan, body wash ini juga membantu mood naik saat mandi!

Bagaimana? Tertarik mencoba semua variannya?

Teman-teman juga bisa cek produknya di link ini: https://linktr.ee/scarlett_whitening atau bisa kunjungi toko resmi (reseller) yang menjual produk Scarlett 😊

 

 


Read More

Jumat, 03 Desember 2021

Peran Penting Traceability Feedstock dalam Pengembangan Energi Biofuel yang Berkelanjutan

Hai hai hai, apakabar? Semoga sehat selalu yaa. Selamat datang di Blog Futuha, blog yang kadang bahas hal-hal unfaeda, tapi juga kadang bahas hal berfaeda. Dan tulisan ini adalah salah satunya hal yang berfaeda :D

By the way, temen-temen udah pernah denger belum sih tentang transisi energi dari bahan bakar fosil ke bahan bakar nabati? Atau mungkin, sebelumnya temen-temen ketika mampir di SPBU ngeuh gak sih kalau ada tulisan “biosolar” di salah satu stasiun pengisian bahan bakar?

Nah, sebelumnya, udah pada tau belum apa itu biosolar/biofuel/biodiesel? Kalo berdasarkan definisinya, Biodiesel atau disebut juga dengan biosolar merupakan bahan bakar alternatif berupa ester metil asam lemak (fatty acid methyl ester/FAME) yang dihasilkan dari bahan alami seperti dari kelapa sawit, jarak pagar, randu, kelapa, kecipir, kelor, kusambi, nimba, kepoh, nyamplung, siur, bidaro, kemiri cina, maupun lemak hewani. Bahan baku utama dari biodiesel di Indonesia saat ini yang digunakan adalah minyak kelapa sawit (CPO).

Kebetulan banget nih, kemaren tanggal 12 November 2021, #EcoBloggerSquad ngadain online gathering bertajuk pengenalan biofuel. Diisi oleh 2 pemateri yang luar biasa, Kak Kukuh dari Yayasan Madani Berkelanjutan dan Kak Ricky dari Traction Energy Asia, materi ini gak hanya berfokus pada apa itu biofuel, tapi juga ada penjelasan terkait “bener gak sih biofuel itu BENERAN RAMAH LINGKUNGAN?”

((BENERAN))???

Kalau dilihat dari narasinya, Biofuel a.k Bahan Bakar Nabati (BNN) digadang-gadang sebagai transisi energi dari bahan bakar fosil karena dinilai lebih ramah lingkungan. Eits waittt! Apakah alasan transisinya hanya itu saja?

Ternyata oh ternyata, hal ini lebih ditekankan karena sektor migas di Indonesia yang terkait bahan bakar fosil mulai kesulitan untuk surplus, bahkan sudah mengalami “nett importer”. Artinya, kita sendiri tuh karena sebegitu butuhnya sampai harus mengimport. Kalau dari data Kementerian ESDM, Indonesia bisa memproduksi 700ribu barel minyak bumi sehari, namun kebutuhan kita mencapai 1,5 juta barel per hari.

Nah, untuk “mengamankan” nya maka perlu dilakukan transisi energi. Dan salah satu upaya dalam pengembangan transisi energi ini adalah dengan energi alternatif, yakni bahan bakar nabati (BBN)

Biodiesel di Indonesia dikembangkan sejak tahun 2001 melalui Balai Teknologi Bahan Bakar dan Rekayasa Desain (BTBRD) dan pada tahun 2006 ditetapkan Standart Nasional Indonesia (SNI) untuk biodiesel (SNI 04-7182-2006)[1]. Program mandatori biodiesel mulai diimplementasikan pada tahun 2008 dengan kadar campuran biodiesel sebesar 2.5% dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 7,5%. Pada periode 2011 hingga 2015 persentase biodiesel ditingkatkan menjadi 10%-15% dan pada 1 Januari 2016 kadar biodiesel ditingkatkan hingga 20% atau yang dikenal sebagai B20 (20% Biodiesel, 80% solar). Per September 2018 dilakukan perluasan insentif biodiesel ke non-PSO (Public Service Obligation) serta dilakukan penyusunan spek B100 untuk pengujian B30. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM menggalakkan program mandatori bahan bakar nabati (biodiesel) melalui Peraturan Menteri ESDM No 32 tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati.[2]

Kemudian, dalam perjalanannya, di tahun 2016, energi alternatif BBN tidak hanya digunakan sebagai energy shifting namun juga sebagai strategi komitmen iklim yang tertuang dalam NDC (Nationally Determined Contribution). Mengapa demikian?

Berdasarkan data dari Kementrian ESDM tahun 2019, pemanfataan biodiesel hingga tahun 2018 telah berhasil menurunkan emisi GRK sebesar 5,61 juta ton CO2. Hal ini berarati menjadi nilai positif dong ya, karena jika dilihat dari sektor transportasi, BBN ini emisinya gak lebih besar daripada bahan bakar fosil lainnya. Tetapi, jika dilihat dari kacamata value chain, apakah benar demikian?

biofuel supply chain network design and operations-semantic scholar

Ternyata, asal muasal biofuel kalau di Indonesia sejauh ini masih dipegang oleh komoditas kelapa sawit, dan berdasarkan publikasi LPEM UI, diperlukan sekitar 338.000 hektar lahan sawit baru untuk scenario B-20 di tahun 2025, dan sekitar 3,87 juta hektar lahan sawit baru untuk scenario B-100 di tahun 2025 (koaksi via madani).

Artinya apa? Semakin kita menuju transisi energi biofuel, maka demand akan sawit serta potensi pembukaan lahan akan semakin tinggi. Sementara itu, berdasarkan data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, penyumbang emisi GRK terbesar di Indonesia itu ada di sektor FOLU (Forest and Other Land Use).

profil GRK di Indonesia (sc: KLHK)

Apakah hubungan sawit dan FOLU? Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwa dalam praktik pembukaan kebun kelapa sawit, dibutuhkan lahan. Nah untuk membuka lahan tersebut maka ada yang diubah. Dari yang misalnya memiliki tutupan vegetasi heterogen menjadi lahan sawit monogen (satu jenis tanaman). Disinilah ada potensi deforestasi dalam proses pembukaan lahan sawit. Dan hal ini menyebabkan emisi GRK yang tinggi.

Variabilitas GHG footprints di CPO (sc: Science Direct)

Selain itu pada praktik perkebunan kelapa sawit secara tidak langsung juga mengakibatkan adanya emisi GRK, seperti praktik pemupukan dan operasional pabrik kelapa sawit untuk menghasilkan crude palm oil.

Masalah yang ada selama ini belum ditemukan kebijakan yang secara eksplisit mengharuskan BBN berasal dari sawit berkelanjutan atau yang memegang prinsip NDPE (No Deforestation, Peat, and Exploitation). Meskipun ulasan dalam media Kementerian Ekonomi menyatakan bahwa harus ada upaya dalam penerimaan rantai pasok sawit berkelanjutan, namun hal ini agaknya menjadi urgent untuk diundangkan mengingat demand kelapa sawit di berbagai sektor semakin tinggi. Cara yang mudah untuk mengetahui apakah itu kelapa sawit berkelanjutan atau tidak adalah dengan mencaritahu apakah sawit tersebut tersertifikasi RSPO/ISPO/MSPO/ISCC (standarisasi sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan).

Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui ketertelusuran/traceability bahan baku (feedstock) dalam implementasi energi terbarukan biofuel. Salah satunya untuk memastikan apakah sumber bahan tersebut berasal dari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan (tidak merusak lingkungan) atau responsible sourcing.

responsible sourcing (sc: proforest.net)

Selain memperhatikan traceability feedstock dalam implementasi BBN di Indonesia, terdapat beberapa hal yang penting untuk dilakukan, seperti diversifikasi feedstock (bisa merambah ke komoditas lain seperti jagung, sekam padi, jarak, dan lain sebagainya); peningkatan Good Agriculture Practice di sektor sawit itu sendiri, maupun pemanfaatan limbah turunan sawit (minyak jelantah) yang juga mampu mendukung circular economy.

Sehingga transisi energi dan strategi komitmen iklim tidak menjadi isapan jempol semata. Mengingat manfaat program mandatori penggunaan BBN dirasakan selain penghematan devisa dan cadangan sumberdaya fosil, yaitu peningkatan nilai tambah CPO juga meningkatkan pertahanan tenaga kerja petani sawit (dalam hal ini yang terlibat langsung dalam sourcing biodiesel di Indonesia).

Kelapa sawit memiliki beberapa kelebihan dalam menyediakan platform untuk produksi biodiesel di Indonesia. Pemanfaatan CPO untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saat ini masih sebesar 25%, hal ini menunjukkan adanya potensi optimalisasi sumber energi terbarukan melalui komoditas kelapa sawit. Pengembangan biodiesel diharapkan juga dapat menjadi instrumen kebijakan untuk menjaga kestabilan harga CPO di Indonesia. Melalui pengembangan industri biodesel, maka secara ekonomi dapat mendorong tercapainya produksi minyak kelapa sawit yang optimal serta menekan dampak negatif terhadap lingkungan hidup maupun emisi gas rumah kaca. Sehingga pengembangan biodiesel tidak hanya dipandang sebagai bagian dari upaya untuk menopang kemandirian ketahanan energi nasional, tetapi juga dapat mencapai produksi energi yang berkelanjutan sekaligus mendorong produksi kelapa sawit yang berkelanjutan di Indonesia.

Read More

Senin, 29 November 2021

Pengalaman Merawat Kulit Wajah dengan Scarlett Face Care Brightening Series

Siapa siih yang di jaman sekarang engga memperhatikan kesehatan dan penampilan kulit wajah? Kalo ditelusur, kayaknya sekitar 10 tahun yang lalu belum happening banget yaak dengan apa itu yang disebut “skin-care-an”, hmmm... barulah sekitar kurang lebih 4 tahun terakhir ini booming produk produk skincare dan ritual skincare menjadi sebuah fardhu ain bagi kaum hawa. 

 

Munculnya produk skincare yang beragam juga tidak terlepas dari influence film maupun aktris Negeri Gingseng. Dari orang yang dulu hanya mengenal sebatas pembersih, pelembab, sunscreen, dan bedak... sekarang sudah berkembang ke berbagai jenis dan ragam manfaat serta penggunaan! Yup, mulai dari facial wash, essence, sheet mask, cleanser, toner, day cream, night cream, moisturizer, sun screen, dan belum lagi nama-nama untuk make up. Wuuuhh, pantesan cowo-cowo sering bingung bedainnya ya :D

 

Menyoal perihal trend skin-care di Negeri Gingseng, Indonesia tak kalah progresif dalam meluncurkan produk-produk yang tentu sudah localize dan disesuaikan dengan kondisi kulit Wanita Indonesia. Salah satunya adalah Scarlett Whitening. Seperti yang pernah aku ulas di tulisan sebelumnya (cek disini ya), Scarlett selain sebagai produk perawatan kulit wajah dan tubuh, juga mampu memutar perekonomian dari berbagai kalangan. Hal ini tidak bisa dilepaskan bahwa Scarlett sendiri menjangkau semua kalangan untuk product market serta memiliki kualitas yang juga sudah banyak diakui oleh masyarakat. Tidak heran kan kalau produk-produknya juga happening hehe. 

 

Nah, sekitar 3 minggu yang lalu, aku mencoba rangkaian perawatan kulit wajah dari Scarlett. Sebenernya udah mau nyoba dari lama sih, tapi baru keturutan sekarang. Hahaha. Oiya, sebelum aku jelasin lebih detil gimana pengalamanku dengan produk face-care nya Scarlett, aku mau kasih in brief produknya terlebih dahulu.

 

Jadi, untuk Scarlett Face Care ini sendiri ada 2 “kingdom” utama, yakni face care khusus kulit berjerawat, dan satunya lagi adalah face care untuk kulit tidak berjerawat/brightening. Cara membedakannya gampang; kalau yang untuk kulit berjerawat/acne series, semua warna kemasan produknya bernuansa ungu. Tapi untuk yang brightening (kulit normal/tidak berjerawat), dia menggunakan kemasan produk bernuansa pink. Karena kulitku tergolong normal-kering, maka aku mencoba produk yang bernuansa pink alias brightening series. 

 

Nah, apa aja produk yang aku coba? Cekidooot


Untuk rangkaian face care sendiri, ada 5 produknya: face wash, toner, essence, day cream, dan night cream. Semua produk ini sudah teregister di BPOM dan halal loh teman-teman! Jadi gak perlu khawatir yaaa.. 

Nah, yang aku suka ketika produk ini sampai adalah… kemasannya yang cantik dengan Box Pink-Pink keunguannya, dan didalamnya ter-packing aman… jadi ga perlu khawatir produknya bleber atau botolnya pecah. Oh ya, tapi mungkin sedikit masukan dari aku soal packaging… mungkin akan lebih baik kalau bubble wrapnya jangan banyak-banyak atau bisa diselingi dengan kertas recycle/material lain yang mudah terurai. Hihi, biar gak nambah sampah plastik ajaa siih, hehehe

dan untuk pemakaiannya sendiri, kenapa ada 5 produk? Karena dalam tahapan per-skin-care an duniawi ini memiliki trik tersendiri. Hahaa. Aku biasa memakai fash wash untuk mencuci muka, setelah itu mengaplikasikan tonernya dengan mengelap menggunakan kapas atau kadang Cuma ditepuk-tepuk sama telapak tangan. Setelah itu barulah mengaplikasikan essence dan ditap-tap juga biar meresap. Barulah makai cream yang disesuaikan pagi/malamnya. Kalau sebelum jam 9 pagi/beraktivitas ya day cream, terus kalau malam sebelum tidur ya night cream :D

okey dehh mari kita ulas satu per satu hehe

Yang pertama, adalah facial wash nya. 

Nah pertama kali aku melihat kemasan produk ini: cantik. Desainnya elegan dan aku suka konsep botolnya yang ramping dan tutup flip-up nya, berasa 100 ml yang enak dibawa-bawa. Nah kalau dilihat sekilas, mungkin diawal akan mengira bahwa ini untuk exfoliating karena ada beads pinknya, atau mungkin takut memakainya karena gakbisa pakai scrub di muka. No worries! Beads ini sangat lembut dan bahkan enggak kerasa kasar ketika diaplikasikan di muka. 

Beberapa highlight untuk facial wash ini antara lain: glutathione, aloe vera, rose petals, dan vitamin E. dari highlight tersebut, sudah bisa dilihat kan kalau formulasinya berguna untuk melembapkan kulit wajah dan menghaluskan. Selain 4 highlight formula diatas, ada juga komposisi detilnya berikut ini:


Jadi, memang face care ini formulasinya emang bener-bener cleanser dan moisturizer yah kalau dilihat dari komposisinya. Yang paling aku sukai dari produk ini adalah aroma mawar yang lembut dan mewah. Jadi berasa relaxing banget kalau lagi nyuci muka! Haha. Oiya, produk ini non-animal tested ya! Aku biasa makainya waktu pagi sembari mandi, dan malam sebelum tidur.

Yang kedua, adalah tonernya. Namanya “Brightly Essence Toner”


Masih dengan desain kemasannya yang elegan, botol toner ini pakai pumping sehingga nyaman digunakan. Dengan volume 100 ml, agaknya susah digunakan untuk travelling dan harus dipindahkan ke botol yang lebih kecil kalau mau dibawa kemana-mana. Nah, dari segi viskositas/kenceran, toner ini lumayan encer tapi gak encer-encer banget. Dan mudah diaplikasikan juga entah dengan kapas atau langsung pakai tangan. 

Nah, sejujurnya karena kulitku lumayan kering, setelah memakai face wash pun masih berasa kering kan ya… jadi toner ini bener-bener membantuku buat moisturized kulitku. Highlight formula di toner ini adalah: glutathione, vitamin C, niacinamide, hazel extract, grape water, jeju propolis extract, dan allantoin. Hmmm… banyak yah bund. Dan ketika dicek untuk komposisinya, ada beberapa kandungan yang terdapat di produk ini:


Bisa dilihat kan ya, kalau kandungan toner ini sangat diformulasikan untuk skin-conditioning dan moisturizer. Namun ada juga kandungan whiteningnya meskipun tidak sedominan kandungan skin conditioner. Nah, yang aku suka dari toner ini adalah wanginya yang lembut dan mudah meresap ke kulit. Tidak butuh waktu lama, bisa langsung lanjut ke next step perawatan kulit. Oh ya, di toner ini mengandung efek cooling/minty gitu… jadi jangan kaget kalau tiba-tiba wajahnya berasa adem hihi.

yang ketiga, Essence nya: Brightly Ever After Serum

pertama denger dan lihat review serum ini sebenernya auto pengen nyoba. Bener seefektif itu engga sih? Dan ternyataaa…. Iyaaaa! 


Essence 15 ml ini dikemas seperti layaknya essence pada umumnya: dengan botol kaca dan pipet. Highlight di essence ini adalah phyto-whitening, glutathione, vitamin C, niacinamide, dan lavender water. Bisa ku bilang, kunci dari rangkaian produk face care nya ada disini! Selain sebagai anti-oksidan, aku rasa python-whitening + niacinamide adalah paduan yang pas dalam meratakan warna kulit dan mengembalikan kulit ke tone aslinya. Prosesnya memang tidak instan dan baru terlihat setelah lebih dari 2 minggu. Tapi ini sangat efektif ternyata! Hahaha. Nah, selain kandungan diatas, ada beberapa komposisi lainnya untuk produk ini seabagai berikut:



Gak semua tercantum functionality nya sih, tapi overall itu komposisinya dan yap, tidak mengandung merkuri/zat berbahaya semacamnya. That’s why untuk ada kelihatan hasilnya butuh proses. Oh ya satu lagi. Kemasan produk ini tuh berlapis-lapis. Haha, jadi aman meskipun untuk mengeluarkannya butuh effort. 

Untuk pemakaiannya, aku biasa pakai 2 kali sehari. Pagi sebelum beraktivitas, dan malam sebelum tidur. Aku makainya sehabis makai toner lalu tinggal ditetes 2-3 tetes dan di tap-tap ke kulit wajah. Untuk aromanya sendiri, karena mungkin masih dalam rangkaian brightening series, jadi dia masih ada nuansa mawar. Elegan dan menenangkan!

Setelah menggunakan essence, barulah menggunakan…

Day Cream/Night Cream Scarlett Brightening Series



Nah, untuk membedakan mana day cream dan mana night cream mudah banget. Untuk yang kemasannya dominan putih itu adalah day cream, dan untuk produk yang kemasannya dominan pink gelap, itu adalah night cream. 

Produk ini masing-masing memiliki size 20 gram dengan kemasan wadah kaca, sehingga kalau mau dibawa travelling, ada baiknya jika dipindahkan terlebih dahulu ke wadah yang lebih kecil.

Dari segi keenceran, bisa ku katakan kalau day cream ini lebih encer daripada night cream, meskipun highlight formulanya berbeda.

Untuk day cream, kandungannya utamanya adalah: Glutathione, Rainbow Algae, Hexapeptide-8, Rosehip Oil, Poreaway, Triceramide dan Aqua Peptide Glow yang membantu melembapkan kulit, menutrisi, dan meratakan warna kulit. Ada juga kandungan antioksidan untuk menangkal radikal bebas. Ketika aku cek komposisinya, ternyata panjaaang banget dan banyak kandungan lainnya. Haha. nah, mungkin bagi yang kulitnya sensitive terhadap beberapa jenis filler ingredients seperti emulsifier/pelarut, bisa cek/  konsultasikan dulu ke dokter kulitnya yaa! Tapi overall karena kulitku gak banyak masalah, jadi ya oke-oke aja makai produk ini. 

Pemakaian day cream ini biasanya aku lakukan di pagi hari dengan dioles rata ke kulit wajah. Sebenernya baunya agak kayak ada kandungan kurkumin, tapi aku gatau itu bagian komposisi yang mana. Cuma memang enggak se wangi rangkaian produk lainnya. Setelah penggunaan, kulit wajahku emang ada kesan glowy nya dan kalau ditimpal pake sunscreen atau bedak, memang kerasa agak lembab yang berat. 

Nah kalau untuk night creamnya… dia highlight utamanya adalah Glutathione, Niacinamide, Natural Vit-C, Hexapeptide-8, Poreaway, Green Caviar dan Aqua Peptide Glow. Dimana manfaat utamanya selain melembapkan dan mencerahkan, juga bermanfaat untuk mengurangi kerutan dan garis halus. 

Setelah lebih dari 2 minggu pemakaian night creamnya: kulitku lebih terasa kenyal dan beberapa garis halus di jidat memang memudar perlahan. Namun sepertinya perlu telaten agar hasilnya maksimal. Sama dengan day cream, aroma night cream ini ada kesan kurkuminnya. Cuma.. dia enggak meninggalkan kesan “berat” di kulit saat dipakai, dan enggak bikin berminyak di kulitku kalau bangun di pagi hari.

Yups, itulah overall pengalamanku merawat kulit dengan rangkaian Face Care Scarlett. 

Jika ditanya Yes/No, aku bisa bilang “Yes” untuk re-purchase beberapa produk, terutama toner dan essence. 

Teman-teman jika tertarik membeli, bisa kunjungi link berikut ini yaa: https://linktr.ee/scarlett_whitening atau bisa melalui official re-seller/distributor resmi Scarlett. 

Buat kamu yang udah mencoba rangkaian produk ini, yuk certain pengalamanmu juga! Bisa ditaruh di kolom komentar ya!


Read More