environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Senin, 16 Agustus 2021

Mengenal Paludikultur dan Pengelolaan Ekosistem Berkelanjutan di Lahan Gambut

Haloha! pernah dengar tentang lahan gambut kan? pasti pernah dong ya. Bukan hanya orang yang menekuni bidang lingkungan saja yang familiar dengan lahan gambut, namun hampir semua kalangan masyarakat kita pasti sudah tidak asing dengan istilah "lahan gambut".

Apa sih yang ada di benak kita saat mendengar istilah "lahan gambut"? 

tanah yang gembur dan empuk? sering terjadi kebakaran di sana? ada di Sumatera dan Kalimantan? dan masih banyak lagi.

menurut pantaugambut.id, Gambut merupakan lahan basah yang terbentuk dari timbunan materi organik yang berasal dari sisa-sisa pohon, tetumbuhan termasuk rumput dan lumut, juga jasad hewan yang membusuk. Timbunan tersebut menumpuk selama ribuan tahun hingga membentuk endapan yang tebal. Pada umumnya, gambut ditemukan di area genangan air, seperti rawa, cekungan antara sungai, maupun daerah pesisir.

di dunia, lahan gambut mencakup areal seluas kurang lebih 400 juta ha, menyimpan lebih dari 500 milyar ton karbon daratan, 10% areal lahan gambut tersebut berada di wilayah tropis dan menyimpan sekitar 191 milyar ton karbon (Wibowo, A, 2009). Lahan gambut memiliki sifat "porous" sehingga mampu menyimpan air dalam jumlah besar; oleh sebab itu pula, lahan gambut dijuluki sebagai "Pengatur Tata Air yang Baik", wah keren banget gak tuh? 

Apa implifikasi penyimpan air yang baik? dalam keadaan jenuh, lahan gambut dapat mengandung air 450-850% dari berat keringnya, atau sekitar 90% dari volumenya. oleh sebab itu lahan gambut memiliki kemampuan untuk berfungsi sebagai reservoir air tawar dan dapat berfungsi sebagai pencegah banjir di kala musim hujan maupun melepaskan air pada saat musim kemarau untuk mencegah kekeringan.

di Indonesia sendiri, luasan lahan gambut belum bisa dipastikan jumlah totalnya. Namun pada 1992 Balitbang Pertanian - Pusat Penelitian Tanah Bogor memprakirakan bahwa di Indonesia terdapat sekitar 15,4 juta hektar lahan gambut, yang menduduki peringkat 4 lahan gambut terluas di dunia, setelah Kanada, Rusia, dan Amerika Serikat. wuuhhh mantap djiwa sekali!

ilustrasi lahan gambut bawah permukaan: warna coklat tua (Source: pantaugambut.id)

lahan gambut dilihat di permukaan (source: WRI Indonesia)



kalau dilihat sekilas dari gambar di atas, berasa di lahan gambut ini banyak banget biodiversitasnya ya? dan terkesan seperti hutan! Yupp! karena demikian, terapat beberapa jenis flora dan fauna khas penciri lahan gambut yang tidak ditemukan di landskap/hamparan ekosistem lainnya.

masih dari data yang dihimpun oleh pantaugambut.id, dari 258.650 spesies pohon tinggi yang tercatat di dunia, 13%-15% terdapat di lahan gambut Indonesia, yaitu sekitar 35-40 ribu spesies pohon tinggi. 

Selain fauna, terdapat pula sebaran flora di lahan gambut, yaitu 35 spesies mamalia, 150 spesies burung, dan 34 spesies ikan. Beberapa fauna merupakan spesies endemik dan dilindungi International Union for Conservation of Nature (IUNC) yang masuk ke dalam Red List IUNC, seperti buaya senyulong, langur, orang utan, harimau Sumatera, beruang madu, dan macan dahan. Spesies-spesies itu kini mulai terancam dan keberadaannya makin sedikit.

Langur/monyet daun/Trachypithecus auratus (Sc: TIMES)
Senyulong/Buaya Sapit/Tomistoma schlegelii (sc: Wikipedia)
Macan dahan/Neofalis diardii (sc: Wikipedia)


Selain fauna yang beranekaragam, di lahan gambut juga terdapat beberapa jenis flora/tetumbuhan yang dapat dimanfaatkan masyarakat di sekitarnya sebagai upaya sustainable livelihood atau penghidupan berkelanjutan. 

Mungkin banyak masyarakat kita yang masih menganggap bahwa banyak tanaman yang susah dibudidayakan di lahan gambut karena lahannya yang selalu basah, sementara tanaman-tanaman yang memiliki nilai ekonomi pada umumnya merupakan tanaman lahan kering (seperti karet, sengon, kelengkeng, dan lain-lain). 
agroforestry karet dan nenas (sc: Mongabay)

Nah, karena beberapa tanaman budidaya yang bisa ditanam di lahan gambut memerlukan teknik pengeringan, maka hal itu bisa berdampak bagi keberlanjutan lahan gambut. Mengapa? Lahan gambut pada "nature" nya selalu basah, apabila dikeringkan, maka akan membuat regenerasi biomasanya berkurang, sehingga tidak menghasilkan siklus yang berkelanjutan. 

Ada satu istilah yang digunakan untuk budidaya pertanian lahan gambut, yaitu sistem  paludikultur. Paludikultur itu sendiri diartikan sebagai pemanfaatan lahan rawa gambut dan gambut yang dibasahi kembali secara produktif, yang dilakukan dengan cara menyimpan karbon stok dalam jangka waktu yang panjang, dengan mempertahankan tinggi muka air tanah sepanjang tahun. 

Sistem ini dikenal pula sebagai sistem "tanpa drainase". Berbeda dengan ketika ditanami karet/kopi (liberika)/kakao dan semacamnya yang memerlukan drainase, di sistem paludikultur, sejatinya kita kembali lagi ke "apa yang disediakan oleh alam".

yep, SAGU dan PURUN.

pohon sagu (sc: Agrotek.id)
tanaman purun (sc: wikipedia)


Dua tanaman ini merupakan tanaman yang bisa hidup dengan baik di habitat alami lahan gambut. Sagu dikenal sebagai bahan makanan pokok, sementara tanaman purun dimanfaatkan sebagai salah satu bahan kerajinan (anyaman). 

olahan sagu (sc: twitter.com/KelanaRasa)

berbagai kriya anyaman purun (sc: shopee)

Pemanfaatan sumberdaya lokal menjadi salah satu alternatif dalam pelestarian lingkungan secara berkelanjutan. selain memberikan dampak ekologis yang baik, pemanfaatan sumberdaya lokal juga dapat mendorong perekonomian berkelanjutan.

Tidak hanya tanaman, hewan pun juga harus dilindungi agar tidak membawa dampak yang buruk bagi ekosistem (melalui rantai makanan). Karena apabila rantai makanan tidak seimbang, maka alam akan "kolaps" dan berdampak ke kehidupan manusia.

Pada awal Agustus 2021 lalu, #EcoBloggerSquad menerima materi terkait perlindungan fauna di Lahan Gambut. materi ini disampaikan oleh Kak Ola Abas dari Pantau Gambut ID dan Ibu Herlina Agustin dari Pusat Studi Komunikasi Lingkungan Universitas Padjajaran.

dalam kesempatan itu dipaparkan mengenai pelestarian fauna di lahan gambut. Beberapa kendala dalam pelestariannya adalah: perburuan liar, perburuan, perdagangan, invasi spesies, dan rekayasa genetika. Hal ini menjadi PR tersendiri untuk kita bisa menjaga dan melindungi biodiversitas yang ada. salah satunya adalah melalui edukasi.

dengan edukasi, harapannya banyak wawasan dan pengetahuan baru yang tersalurkan kepada masyarakat luas, sehingga kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan kian meningkat, dan mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. 
Read More

Minggu, 13 Juni 2021

Alam dan Keseimbangan: Mengenal Karhutla dan Zoonotic Disease Penyebab Pandemi



Pernah dengar gak sih, kalau dunia ini diciptakan dengan sangat teliti dan penuh dengan keseimbangan? Termasuk alam (nature) dan lingkungan, yang konon terdiri dari 3 komponen utama: Abiotic, Biotic, Culture (ABC), yang mana apabila satu komponen terganggu, maka komponen lain akan bereaksi. Atau bahasa kerennya "multiple effect" kali ya. Hehe

Bicara soal alam dan lingkungan, ada hal yang menarik (seharusnya) di bulan-bulan ini. Yap, untuk wilayah zona ekuatorial (Kalimantan dan sekitarnya) harusnya bulan ini mereka berada di musim kemarau. Yang mana, biasanya kejadian alam luar biasa (kenapa disebut luar biasa? karena ini mempengaruhi banyak aspek) terjadi di bulan-bulan ini: Kebakaran Hutan dan Lahan.

Awal Juni lalu, EcoBloggerSquad berkolaborasi dengan Auriga Nusantara dan Yayasan ASRI, membahas topik yang menarik, bertemakan "Cegah Karhutla, Cegah Pandemi" , pembahasan disajikan dalam dua bagian utama: Materi Karhutla yang disampaikan oleh Dedy Sukmara (Direktur Informasi & Data Auriga Nusantara), dan materi mengenai Zoonotic Disease yang disampaikan oleh dr. Alvi Muldani selaku Direktur Yayasan ASRI (Alam Sehat Lestari). Tulisan ini akan mengangkat basic pengetahuan mengenai dua topik di atas, teman-teman pembaca juga bisa mengunjungi blog #EcoBloggerSquad member lainnya karena tentu pembahasannya lebih diverse dari beraneka sudut pandang.

Apa sih kebakaran hutan dan lahan?

mungkin istilah kebakaran hutan dan lahan sudah tidak asing lagi ya di telinga kita. hampir sepanjang tahun fenomena itu terjadi. hutan rusak, flora dan fauna banyak yang mati, masyarakat di sekitarnya mengalami penyakit pernafasan (ISPA) hingga menyumbangkan porsi yang tidak bisa dipandang sebelah mata untuk gas rumah kaca (GRK). 

Kebakaran Hutan (c) Tempo, 2019

Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) didefinisikan sebagai fenomena terbakarnya kawasan hutan dan lahan (gambut) yang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: 

1. Faktor Alam: faktor alam yang berperan dalam hal ini adalah pemicu karhutla seperti sambaran petir, gunung meletus, dan kemarau berkepanjangan akibat El Nino Southern Escillation (ENSO) di wilayah pasifik dan sekitarnya. 

2. Faktor Manusia: faktor manusia sering dianggap menjadi faktor dominan dalam fenomena karhutla. pantaugambut.id menyebutkan bahwa lebih dari 90% kejadian karhutla disebabkan oleh ulah manusia. baik sengaja melakukan pembakaran atau tidak sengaja (kelalaian) dalam menggunakan api. Baik melalui praktek pembukaan lahan, perburuan, penggembalaan, konflik lahan, maupun aktivitas lainnya. 

Berdasarkan data dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas kebakaran hutan sepanjang 2015-2020, terjadi dua puncak kebakaran hutan, yaitu pada tahun 2015 (2,6jt ha) dan 2019 (1,6jt ha). Sementara itu luas kebakaran secara kumulatif, kebakaran hutan paling banyak terjadi (Provinsi Api/Provinsi yang "langganan kebakaran" atau memiliki potensi (industri ektraksi yang berafiliasi dengan kehutanan) di Provinsi Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Papua, Kalimantan Selatan, NTT, Riau, dan Kalimantan Barat. 

luas kebakaran hutan tahunan 2015-2020, sumber: Auriga Nusantara

Apa dampaknya? selain yang sudah disinggung diatas, dampak kebakaran hutan yang menyumbangkan porsi deforestasi juga berimbas ke banyak aspek hingga ke ecological collapse. Salah satu aspek yang terkena imbas adalah makhluk hidup di hutan itu sendiri. selain flora, fauna juga menjadi korban dalam kebakaran hutan.

kebakaran hutan secara besar-besaran dapat memicu terjadinya fragmentasi habitat. Fragmentasi habitat menjadikan habitat yang lebih luas (awalnya mereka tinggal di tempat yang lebih luas dan berkelanjutan) berubah menjadi lebih kecil/ter-fragmentasi menjadi beberapa bagian. Hal ini sering dipercaya juga sebagai awal mula kepunahan spesies tertentu loh!

Kemudian, apa kaitannya kebakaran hutan, fragmentasi habitat, zoonotic disease, bahkan sampai pandemi?

Fragmentasi habitat yang kemudian menyebabkan fauna menjadi terfragmen (tempat tinggalnya), dalam hal ini karena kasusnya adalah kebakaran hutan, mereka tidak memiliki tempat tinggal maupun tempat mencari makanan "selayaknya normal". Disini hukum alam berjalan, kalau kata Eyang Newton, 

ada aksi, maka ada reaksi

Apa yang akan fauna lakukan? Mereka akan "menyapa" yang bukan wilayahnya, a.ka wilayah manusia. Pernah dengar harimau atau orangutan nyasar di kampung? Nah bisa jadi seperti itu, karena jalur lintasan habitat mereka terganggu, akhirnya mereka bingung, dan pergi ke kampung. 

Kebetulan, fauna ini kan bermacam-macam yah, dan masing-masing dari mereka bisa membawa patogen/bibit penyakit dan bisa ditularkan ke spesies lain termasuk manusia, yang kemudian kita kenal sebagai ZOONOTIC DISEASE, penyakit yang dibawa dan ditularkan oleh hewan ke manusia; Utamanya adalah spesies-spesies yang jarak jangkauannya tinggi; seperti nyamuk dan kelelawar. dan uniknya, banyak penyakit yang di"agen" i oleh kelelawar, termasuk pandemi yang terjadi saat ini: COVID-19. 

Berdasarkan riset dan data, transmition chain COVID-19 bermula dari kelelawar, kemudian ke pangolin (trenggiling), yang kemudian mengenai manusia. Mirip-mirip seperti Virus Nipah yang asalnya juga dari kelelawar buah yang kemudian nempel di daging babi dan dikonsumsi manusia. Kok lagi-lagi kelelawar sih?

"aku lagiii aku lagii"- kelelawar (c: BBC)

menurut penuturan dr Alvi dari Yayasan ASRI, kelelawar ini merupakan salah satu agen patogen yang unik. Kenapa? dia adalah mamalia nokturnal yang terbang, dalam hal ini jangkauannya luas. dan sistem di tubuhnya memiliki tingkat imunitas yang berbeda dengan mamalia yang lain, sehingga ketika dia terkena atau membawa penyakit tertentu, si kelelawar ini akan baik-baik saja dan tetap bisa beterbangan. TETAPI, ketika ada makhluk hidup yang tertular, bisa jadi resistensinya akan berbeda atau tidak se kebal kelelawar, akibatnya ketika patogen tersalurkan dan menemukan inangnya, dan lalu menular (breakout), dia akan menjadi wabah. Ketika wabah meluas karena adanya faktor tambahan seperti mobilitas penduduk, urbanisasi, dan perubahan iklim... maka bisa menjadi pandemi. Seperti yang kita alami saat ini. 

Nah, sekarang terjawab kan linkages antara karhutla dan zoonotic disease yang menyebabkan pandemi? Heemmm... 

selain menjaga prokes dengan ketat untuk mencegah pandemi lebih parah lagi, ada beberapa usaha preventif dimulai dari regulasi terkait tata kelola kehutanan hingga regulasi untuk diri kita sendiri sebagai masyarakat yang sadar lingkungan.

Yang pertama, terkait tata kelola untuk mencegah karhutla makin luas antara lain:

  • Memperluas moratorium hutan dan gambut
  • Meningkatkan penegakan hukum
  • Restorasi hutan dan gambut terdegradasi
  • Mendukung komunitas pemadam kebakaran dan kapabilitas pemantauan
  • Memberi insentif ekonomi untuk tidak membakar
Kemudian, sebagai masyarakat sadar lingkungan, penting bagi kita untuk mengetahui chain of custody atau rantai ketertelusuran dari produk-produk yang kita gunakan. Pastikan kita memilih eco-label dan cermat membeli produk ya! 

Mari sehat melestari, #UntukmuBumiku!



Read More

Rabu, 21 April 2021

Responsibility Principle: Hutan, Lingkungan, dan Pemberdayaan Masyarakat menuju Ekonomi Lestari

 




Ngerasa gak sih kalau akhir-akhir ini tuh Bumi kayak lagi labil banget? terutama fenomena-fenomena yang terkait sama cuaca yang kemudian mengakibatkan banyak hujan lebat, banjir di beberapa daerah, hingga tanah longsor?

Hmm... yaaa mungkin kita mendengar hal tersebut terjadi akibat siklon tropis dan lain sebagainya, tapi pernah ga sih berfikir, siklon tropis terjadi karena apa? dan apakah intensitasnya setinggi ini setiap musim penghujan di awal tahun? 

well, kalau kita lihat trendnya, siklon tropis tuh akhir-akhir ini emang suka muncul lebih banyak. Kenapa bisa? Ya karena ada peningkatan SPL atau Suhu Permukaan Laut. Apa kaitannya SPL dengan kemunculan siklon tropis? 

peningkatan suhu udara akan mengakibatkan kenaikan kelembapan udara yang berdampak pula pada naiknya tekanan udara. Nah, karena ada tekanan yang lebih tinggi dari sekitarnya (sekitarnya lebih dingin), maka terjadi aliran angin yang sifatnya siklonik/memutar. Atau mungkin ilustrasinya bisa dilihat di gambar di bawah ini:

tropical cyclone (sc: Britanica)

akibatnya lagi apa? Hujan deras tidak terkendali. Bahkan BNPB pun memasukkan bencana-bencana yang terkait dengan hidrometeorologis ke dalam Top 3 Bencana Alam Triwulan 2021. Wow. 

headline berita tempo.co

Lalu, kenapa ya suhu permukaan laut bisa naik? 

Naiknya suhu permukaan laut dapat dipengaruhi oleh naiknya suhu bumi secara keseluruhan. Mengapa suhu bumi meningkat? Pernah mendengar istilah Gas Rumah Kaca? Kalo bahasa level ilmiahnya mah GRK jenisnya ada: Karbondioksida (CO2) Dinitroksida/Nitrous Oxyde (N2O) Metana (CH4) Sulfurheksafluorida (SF6) Perfluorokarbon (PFCS) Hidrofluorokarbon (HFCS). Hihi banyak kan? Jadi gas rumah kaca itu adalah gas-gas yang terdapat di atmosfer yang menyebabkan terjadinya efek rumah kaca. Efek yang seperti apatuh?

hmmm... ceritanya nih, bumi kan mendapatkan sinar dan transfer panas dari matahari, nah ada panas yang diserap ama bumi, ada pula panas yang dikeluarkan/dipantulkan ke angkasa. Nah, si gas-gas di atas ini tuh bikin panasnya keserap dan akhirnya terperangkap di atmosfer bumi (gak semua dilepas lagi ke luar angkasa), bagaikan di rumah kaca. Akibatnya apa? akibatnya suhu bumi makin memanas. 

Nah, memanasnya suhu bumi ini mengakibatkan terjadinya anomali atau perubahan kondisi klimatologis, atau simpelnya dikenal dengan perubahan iklim. Apa sih perubahan iklim?
Perubahan iklim adalah perubahan signifikan kepada iklim, suhu udaram dan curah hujan mulai dari dasawarsa hingga jutaan tahun, yang terjadi karena meningkatnya GRK yang menyebabkan gas rumah kaca (KCPI KLHK).

hubungan peningkatan GRK dengan perubahan iklim (sc: futuha disampaikan dalam agenda climate talk ICCI)


Pada beberapa waktu yang lalu dalam rangka kegiatan Eco-Blogger, materi perubahan iklim disamapaikan dengan menarik oleh Mas Yuyun Harmono (WALHI). Nah, perubahan iklim ini mengakibatkan kondisi anomali cuaca ektrem, salah satunya adalah curah hujan dengan intensitas tinggi disertai angin pada saat musim penghujan. Hal tersebut mengakibatkan adanya bencana "turunan", umumnya adalah banjir dan tanah longsor.


bencana di Indonesia Q1 2021 (sc: katadata)


Meskipun hujan deras tidak selalu menyebabkan banjir dan tanah longsor pada kondisi ideal, namun kenyataannya hal ini terjadi di kondisi umum saat ini. Faktor yang berpengaruh dalam dua bencana itu bukan hanya curah hujan, namun ada faktor lain yang bersumbangsih; untuk tanah longsor, misalnya adalah tingkat kemiringan lereng dan kondisi tanah. Namun untuk dua bencana itu (Banjir dan Tanah Longsor) yang paling krusial adalah perubahan tutupan lahan dan/atau perubahan tata guna lahan; yang mana hal ini berkaitan erat dengan proses-proses antropogenik atau proses yang diikutcampuri oleh manusia. 

Yang paling mudah dijumpai adalah: wilayah yang dulunya hijau, kini tidak lagi. 

sc: rainforest alliance


Yep! deforestasi! Kalau bicara soal deforestasi sepertinya tidak akan ada habisnya, karena datanya sangat banyak dan menarik untuk dikulik. Namun dalam tulisan kali ini tidak akan sedetil itu. 

Hutan merupakan landskap yang menarik untuk ditelaah. Banyak orang menyuarakan tentang hutan dan perubahan iklim, namun banyak pula yang masih enggan "bercengkrama" dengan hutan itu sendiri. image tentang hutan adalah sesuatu yang rimbun, susah dijamah, banyak binatang buas, bahkan banyak makhluk astral (?) hihihi. Oleh sebab itu Mas Christian Natalie (ig: @kakaktian) dari Hutan itu ID, menjelaskan mengenai pentingnya menumbuhkan rasa cinta terhadap hutan. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan, seperti: kampanye jaga hutan, cerita dari hutan, adopsi pohon, pengembangan produk hutan non kayu, hingga jalan-jalan ke hutan!

dengan tumbuhnya rasa cinta terhadap hutan dan ekosistem didalamnya, kita akan lebih menghargai peran penting hutan dalam pelestarian alam dan lingkungan, lebih menjaga ekosistem yang ada, lebih bijak menggunakan produk-produk yang ramah alam. Dampaknya apa? mungkin tidak akan terasa langsung saat ini, namun suatu hari nanti... mungkin kita akan bisa bersama-sama lebih menjaga dan mengawasi hutan agar kasus deforestasi tidak lagi terjadi. 

Ketika hutan dan alam lestari, maka ekosistem terjaga. sumber air dan daerah resapan bekerja sebagaimana mestinya, sehingga apabila terjadi hujan deras, kejadian banjir bandang dan tanah longsor dapat diminimalisir; selain--tentu saja--membutuhkan peran sinergi multipihak ya!

selain potensi bencana hidrometeorologis yang dapat diminimalisir, menjaga hutan juga dapat berdampak baik bagi pemberdayaan masyarakat di sekitarnya. Seperti kita tau bahwa banyaaak sekali tanaman-tanaman maupun komoditas lokal yang berasal dari hutan dan dapat dimanfaatkan secara lestari. Misalnya yang terkenal adalah madu hutan! mungkin masih banyak juga sumberdaya lain yang ada di hutan, sehingga jika dikelola secara bijak, tidak mustahil akan tercipta sinergi ekonomi dan lingkungan --- yang artinya, jika selama ini ekonomi dianggap tidak pernah bisa bersanding dengan kelestarian lingkungan ---- hal ini akan mungkin kita ubah bersama dengan konsep dan prinsip ekonomi lestari, seperti yang disampaikan oleh Gita Syahrani (LKTL). Hal itu tidak mustahil, sejauh ada kerjasama multipihak, kesadaran konsumen akan produk ramah lingkungan, dan tentu komitmen bersama dalam kelestarian alam.

pemanfaatan sumberdaya lokal (bambu) (sc: dokumentasi pribadi 2018)

Apakah hanya "anak lingkungan" atau penggiat lingkungan yang harus sadar tentang hal-hal ini? Tentu tidak. semua kalangan harus membuka mata untuk melihat lebih dekat tentang ekonomi lestari.

sebagai masyarakat awam, hal yang dapat kita terapkan adalah dengan "Responsibility Principle", atau prinsip yang bertanggungjawab. Apa maksudnya?

"when I buy something from you, I am responsible for how it is made"

Ketika hendak mengonsumsi/membeli sesuatu, setidaknya kita tau darimana sumbernya. Hal tersebut dapat kita lakukan agar kita bisa lebih bijak: mendapatkan apa yang kita butuhkan sekaligus berkontribusi pada kelestarian alam dengan membeli/mengonsumsi barang/kebutuhan yang diproduksi secara ramah lingkungan dan ramah sosial.

Bukan hal yang mudah, tapi belum tentu tidak bisa, kan?

Mari bergotong royong untuk bumi dan ekonomi yang lebih lestari!

Read More

Senin, 19 April 2021

Mengenal "Chain of Custody" dalam Produk Perawatan Kecantikan

 




Well, hai! selamat datang di blog Futuha, blog yang niatnya hanya untuk curcol dan cerita-cerita sejak tahun 2014 akhirnya kini menjelma menjadi blog yang (lebih) berfaeda. haha. Sejak kemarin berniat untuk mengikuti kompetisi blog (baru tau informasinya H-1 penutupan lomba, baru submit siangnya di hari-H penutupan, dan baru pertama ikut kompetisi blog), sangat tidak menyangka kalau bisa masuk 30 besar! yey! Alhamdulillah. 

Karena terpilih masuk ke 30 blog terbaik (?), kami diberikan kesempatan berharga untuk mengikuti online gathering sesuai topik kompetisi blog, yakni #LestarikanCantikmu. Online gathering kali ini dilakukan via zoom meeting dan live streaming youtube Lingkar Temu Kabupaten Lestari. 
poster blogger gathering #LestarikanCantikmu (sc: bloggerperempuan)


Menariknya, disini pembicaranya sangat kolaboratif dalam menyampaikan materi terkait #LestarikanCantikmu: Ada dari skincare expert, ada dari pemerhati lingkungan, dan tentu ada pula dari spesialis produk berkelanjutan.

Nah, sebelum membahas lebih banyak tentang online gathering kemarin, mungkin ada baiknya ngasih disclaimer dulu, hehe. Teman-teman, disini yang mengikuti online gathering (OG) ada sekitar 30 orang, dan keseluruhannya akan menyampaikan materi dari apa yang sudah dipelajari selama OG, naahh teman-teman pembaca juga bisa nih, kepo ke blog teman-teman blogger lainnya, coba deh pakai hashtag di ig #LestarikanCantikmu atau #TemenanLagi, nanti akan terhubung ke banyak artikel keren-keren lainnya ^^

Disini mungkin tidak akan membahas mengenai topik OG secara lengkap kap kap kap, karena ingin lebih diverse dalam menyampaikan insight. oleh sebab itu, tulisan ini lebih mengarah pada satu topik, yaitu Chain of Custody  atau Rantai Ketertelusuran.

APA SIH CHAIN OF CUSTODY ITU?
Ketika kita mengetik "Chain of Custody" pada mesin pencari, maka terdapat artikel atau sumber utama yang mengarah pada suatu topik yang berkaitan dengan hukum. Namun, apakah selalu begitu? Ternyata tidak. konteks chain of custody berkaitan juga dengan manajemen rantai pasok (supply chain management).

dalam konteks perdagangan dan rantai pasok, Chain of Custody dapat dilihat dari industri hulu (supply base, atau bahan baku) hingga ke industri hilir (market base, konsumen). 

Chain of Custody, sumber: https://www.youtube.com/watch?v=1BV1iKqHg_E 


Jadi, chain of custody dapat diartikan pula sebagai rantai pasok suatu produk/barang dimulai dari sumber bahan baku, proses yang dijalaninya, hingga produk/barang tersebut sampai ke tangan konsumen.

APA HUBUNGAN CHAIN OF CUSTODY DENGAN PRODUK PERAWATAN KECANTIKAN?

Rasanya sudah tidak asing bahwa hampir semua produk yang kita konsumsi berasal dari industri; kita mengenalnya sebagai jenis industri FMCG (Fast Moving Consumers Good); atau industri yang menghasilkan produk cepat pakai-cepat habis, seperti detergen, sabun mandi, shampoo, dan lain-lain. termasuk produk kecantikan yang kita gunakan. Nah, bicara soal produk kecantikan, ini akan sangat menarik. Banyak orang yang merawat dirinya dengan produk-produk kecantikan. Tapi, apakah kita mengetahui esensi dibalik pemakaian produk itu? atau malah hanya ikut-ikutan saja?

Bicara soal "skin care with purpose", dalam blog gathering #LestarikanCantikmu, pembicara pertama (Mas Danang Wisnu Wardhana) menyebutkan bahwa ketika kita hendak menggunakan suatu produk perawatan, hendaknya akan lebih baik jika kita mengetahui esensi dari penggunaan produk tersebut. Misalnya adalah menggunakan sun screen yang ditujukan untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Nah, disini, Mas Danang juga menyampaikan bahwa merawat diri adalah bagian dari mensyukuri nikmat Tuhan atas hal-hal yang sudah diberikan kepada kita. 

Mungkin masih ada beberapa dari kita yang beranggapan bahwa semua skincare atau produk kecantikan yang kita gunakan ini adalah SAMA SAJA--DIPRODUKSI DI PABRIK, dan belum ngeuh dengan sumber asal muasal bahan bakunya maupun apakah produk tersebut berasal dari ethical sourced atau produk yang dihasilkan tanpa eksploitasi terhadap pekerjanya. Namun seiring berjalannya waktu, berdasarkan survai yang dipaparkan oleh Kak Gita Syahrani dari LKTL, ternyata terjadi pergeseran concern konsumen terhadap produk yang digunakan. Seiring dengan perubahan iklim dan degradasi lingkungan, kini konsumen mulai memikirkan keberlanjutan atau sustainability , baik secara lingkungan, ekonomi, maupun sosial. Hal ini menarik, karena dalam kaitannya dengan sustainable supply chain, ketiganya menjadi pilar seperti yang diilustrasikan oleh gambar berikut:


SSCM source: https://www.sciencedirect.com/journal/international-journal-of-production-economics


Tentu dalam chain of custody suatu produk kecantikan ramah lingkungan, kita tidak hanya memperhatikan kemasan produknya berasal dari material yang dapat didaur ulang atau tidak, melainkan juga bahan bakunya. apakah bersumber dari minyak nabati yang lestari? apakah bersumber dari ekstrak tumbuhan yang ditanam di penggunaan lahan yang sesuai? apakah dikelola oleh pekerja yang tidak mengalami eksploitasi? 

semua itu kemudian menjadi hubungan kausal antara produk yang kita gunakan dengan environmental, economy, and social sustainability. tentunya, ketika kita memilih produk yang dapat kita telusur proses dan bahan bakunya, tentu kita dapat lebih menghargai setiap apa yang kita keluarkan (materi dan usaha untuk membeli produk tersebut).

MERAWAT DIRI? SAYANGI DIRI, ALAM, DAN SOSIAL!
Hmmmm... sudah ada gambaran mengenai chain of custody untuk produk perawatan kecantikan, kan? nah, kini saatnya membahas mengenai produk yang bagaimana sih yang bisa kita pilih untuk merawat diri sekaligus merawat alam dan sosial?

Terdapat pembahasan menarik yang disampaikan oleh Mba Christina Pan dari Segara Naturals, kita tinggal di Indonesia yang kaya akan sumberdaya alam, termasuk tetumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan-bahan produk kecantikan. Bahan-bahan tersebut mungkin belum terlalu dikenal, seperti misalnya adalah Tengkawang. Tapi taukah? ternyata manfaatnya luar biasa besar lhoh! sayangnya banyak diantara kita yang belum tau bagaimana cara menggunakannya. Nah, Segara Naturals menyediakan produk perawatan kecantikan berbasis bahan alami yang diolah sedemikian rupa dengan basis riset yang mumpuni untuk menghasilkan produk yang bisa dengan mudah langsung digunakan.

harganya? eummm.. mungkin tidak semurah produk yang selama ini kita kenal dari FMCG, tapi hal ini wajar, karena dalam proses pencarian bahan baku, riset, ekstraksi dan proses pembuatannya tidak mudah dan tidak sebesar skala industri FMCG. Namun meskipun dari segi harga "agak berbeda", tapi kita tau value yang kita dapatkan dari menggunakan produk tersebut. Apa itu? tentu produk ramah lingkungan dan ramah sosial. 

dengan kita mengetahui alasan dan esensi perawatan diri dan kecantikan, serta mendukung terciptanya leberlanjutan lingkungan, tentu kita akan semakin sadar untuk #CantikMelestari! 

Read More

Minggu, 07 Maret 2021

#CantikBerkelanjutan: Beauty and Wellness towards Sustainability

Istilah “cantik” hampir selalu dikaitkan dengan keindahan kaum wanita. Meskipun jika ditanya tentang definisi kecantikan jawabannya bisa beranekaragam, namun kecantikan menjadi hal yang lumrah diidamkan oleh setiap wanita. Sigma Research[1] (dikutip dari halodoc.com) menyebutkan bahwa terdapat tiga kategori penilaian untuk definisi kecantikan. Diantaranya adalah Brain, Beauty, Behaviour. Brain merupakan penilaian berdasarkan kemampuan intelektual, Beauty lebih ditekankan ke aspek fisik, sementara itu Behaviour lebih mengarah pada penilaian karakter dan perilaku. Meskipun 3 aspek tersebut memainkan peranan penting dalam penilaian kecantikan, aspek “beauty” yang lebih mudah untuk dilihat melalui panca indera, memerankan porsi yang besar dalam menentukan standar kecantikan.

Maka tidak heran jika produk yang menawarkan perawatan tubuh dan kecantikan menjadi kian marak di pasaran. Mulai dari perawatan rambut, wajah, hingga seluruh tubuh. Jenis produknya pun beranekaragam, namun yang sedang “happening” saat ini hingga hampir setiap wanita “aware” terhadapnya adalah skincare, terutama perawatan wajah; dimana banyak sekali produk yang bisa digunakan step-by-step untuk menghasilkan kulit glowing sesuai yang diinginkan. Namun demikian, bukan berarti perawatan tubuh dan rambut dapat dikesampingkan; berbagai macam jenis shampoo, body scrub, body butter, body lotion, aneka sabun, perfumery, dan lain sebagainya …. Terlihat sangat menggiurkan untuk digunakan.

Namun, pernahkah kita berfikir tentang darimana asal muasal semua produk itu?

Adalah Chain of Custody atau rantai ketertelurusan. Konsep sederhananya adalah menelusur sebuah produk dari sumber paling hulu barang produksi tersebut[2].

Sebagian besar produk kecantikan menggunakan komponen bahan baku utama minyak, surfaktan, dan emulsifier. Namun disini, minyak menjadi komponen bahan baku yang disoroti. Mengapa demikian?

Komponen minyak yang digunakan dalam produk kecantikan umumnya terbagi menjadi 3, yakni minyak nabati, minyak mineral, dan minyak sintesis. Minyak mineral saat ini tidak banyak digunakan karena beberapa kandungannya sukar terurai dan dapat membahayakan tubuh, sehingga industri kosmetik banyak menggunakan minyak nabati karena selain mudah didapatkan, minyak nabati juga bebas dari senyawa hidrokarbon polisiklik dan dinilai aman bagi kesehatan.

produk parfum, coba cek apakah terdapat kandungan minyak nabatinya?

deodorant, mengandung produk turunan sawit

hampir semua jenis sabun yang diproduksi oleh industri FMCG menggunakan produk dari sawit

lotion pun demikian hihi

Sumber minyak nabati di dunia sangat beranekaragam. Di dunia, terdapat 277 juta hektar lahan untuk produksi minyak nabati. 4 terbesar minyak nabati yang diproduksi diantaranya adalah dari komoditas kedelai (122 juta ha – 45,8 juta ton minyak); rapeseed (36 juta ha – 25,8 juta ton minyak); bunga matahari (25 juta ha – 15,9 juta ton minyak); dan kelapa sawit (16 juta ha – 65 juta ton minyak).[3]


berbagai jenis minyak nabati


Berdasarkan data di atas, kelapa sawit menjadi komoditas yang sangat menggiurkan karena menghasilkan minyak nabati paling banyak sekaligus menghasilkan produk turunan yang merupakan bahan baku hampir di semua lini produksi (makanan, kosmetik, industri). Namun demikian, industri rantai pasok sawit juga disoroti keberlanjutannya. Beberapa faktor dibalik seruan minyak sawit berkelanjutan adalah: deforestasi, gambut (peat), dan HAM. Deforestasi berkaitan erat dengan keanekaragaman hayati dan perubahan iklim; gambut berkaitan dengan subsidence, hidrologi, dan emisi; sementara HAM berkaitan erat dengan tenurial dan tenaga kerja.

concern sawit berkelanjutan di aspek lingkungan dan HAM


Hal ini menyebabkan adanya “market awareness” terhadap produk yang mengandung minyak kelapa sawit. Beberapa negara mengecam produk kelapa sawit yang tidak berkelanjutan, bahkan resistensi pasar juga mengeluarkan boycott palm oil karena komoditas sawit dianggap tidak ramah lingkungan dan menjadi faktor penyumbang deforestasi terbesar di dunia.

Contoh aksi boycott palm oil (sumber: https://greenhillcoffeeroasters.co.uk/ )

Beberapa cara ditempuh agar menemukan jalan tengah antara komoditas ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Salah satunya adalah sistem sertifikasi sawit berkelanjutan. Pelaku industri besar dunia telah berkomitmen dalam pengurangan rantai pasok sawit yang tidak berkelanjutan. Di lain sisi, kesadaran masyarakat mengenai produk ramah lingkungan semakin meningkat. Salah satunya di bidang industri kosmetik/kecantikan.

Saat ini banyak sekali produk kosmetik/body care yang menyuarakan bahan baku alami yang berkelanjutan. Mereka menggunakan bahan-bahan alami seperti minyak kelapa, minyak zaitun, oryza sativa/beras, zea mays/jagung, canolla oil, dan lain sebagainya untuk meminimalisir penggunaan produk turunan kelapa sawit baik stearin maupun olein.

Produk-produk tersebut sudah banyak ditemukan di pasaran. Namun karena sumber bahan baku alami dan pengolahan yang tidak mudah – tidak semudah industri skala besar – harga produk-produk ramah lingkungan ini cenderung tinggi dan tidak dapat dijangkau oleh semua elemen masyarakat. Terutama masyarakat menengah ke bawah. Sehingga tidak dipungkiri bahwa penggunaan minyak sawit masih sangat tinggi (ditambah lagi dengan harga produk yang lebih ekonomis).

Oleh karena itu, menjadi cantik berkelanjutan yang ramah lingkungan, selain dilakukan dengan menggunakan produk kosmetik yang berkelanjutan, dapat juga dilakukan dengan beberapa alternatif.



3 komponen #CantikBerkelanjutan dapat ditempuh dengan cara #RawatKulit, #RawatRaga, #RawatPikiran.


#RawatKulit

#RawatKulit yang dimaksudkan disini adalah merawat bagian terluar dari tubuh kita, baik kulit wajah, kulit badan, maupun rambut. Saat ini banyak sekali produk yang memberikan penawaran perawatan untuk kulit tubuh. Hal yang perlu diketahui sebelum memilih produk yang akan kita gunakan untuk #CantikBerkelanjutan adalah:

cermati bahan baku yang digunakan. Biasanya, kandungan bahan baku yang digunakan tertera berurutan dari kandungan terbesar ke yang terkecil di komposisi produk. Pastikan bahwa pemilihan produk itu tidak melanggar prinsip yang kita anut (misalkan menghindari paraben, SLS, atau semacamnya). Di lain sisi, kita juga harus cermat dalam memilih produk yang sesuai. Kita juga bisa menerapkan clean beauty (penggunaan bahan bahan bersih – tidak beracun).

apabila secara ekonomi mampu untuk menggunakan produk olahan alami yang tersedia di pasar, that’s good! Namun apabila hendak menggunakan bahan alami dari komoditas lokal yang diolah secara mandiri (DIY), juga akan sangat bermanfaat!

Beberapa bahan/komoditas lokal yang dapat kita peroleh dan manfaatkan dengan mudah untuk perawatan wajah dan tubuh adalah:

  • Madu

    Madu dapat digunakan secara langsung sebagai masker wajah. Senyawa humektan dalam madu dipercaya dapat merawat kulit wajah secara alami. Penggunaan madu juga dapat dicampurkan dengan gula. Fungsinya adalah sebagai eksfoliasi alami untuk mengangkat sel-sel kulit mati.


madu dan gula (sc: dokumentasi pribadi)

        

  • Gula
    Gula dikenal sebagai bahan yang dapat digunakan untuk scrub, baik badan, bibir, maupun wajah. Umumnya, gula tidak digunakan secara tunggal. Namun dicampur dengan bahan yang lain. Misalnya sugar wax untuk membersihkan bulu di beberapa bagian tubuh.

  • Kopi
    Kandungan kafein dalam kopi juga dipercaya bermanfaat untuk kesehatan kulit wajah/tubuh. Ampas kopi dapat dimanfaatkan sebagai masker wajah dan juga masker tubuh. Kita dapat menggunakan aloe vera gel atau susu sebagai bahan campurannya.
ampas kopi bandung (sc: dokumentasi pribadi)


·   

  • Susu
    Susu dikenal sejak dahulu kala sebagai salah satu produk yang bermanfaat bagi tubuh dan kecantikan. Penggunaan masker susu maupun lulur susu dipercaya dapat mencerahkan kulit dan menjaga kekenyalan kulit.

  • Pisang
    Kandungan vitamin kompleks dalam pisang dipercaya dapat membantu mencegah penuaan dini dan juga mencerahkan kulit[4]. Cara pakainya cukup mudah, yaitu dengan cara menghancurkan pisang yang sudah matang, kemudian mencampurnya dengan madu/susu kemudian mengoleskannya ke wajah sebagai masker atau ke tubuh sebagai lulur, lalu didiamkan 15-20 menit sebelum dibilas.

·  

Pisang Borangan Sumatera Utara (sc: dokumentasi pribadi)
  • Putih Telur
    Saat memasak, biasanya tersisa putih telur yang tidak lagi digunakan. Putih telur dapat dioleskan ke wajah atau di bagian hidung untuk membantu membersihkan komedo dan mengencangkan kulit[5].

Tidak hanya wajah dan kulit tubuh, rambut pun perlu perawatan. Biasanya yang menjadi masalah adalah rambut kering, rambut rontok, dan ketombe. Terdapat beberapa life-hack untuk mengatasi hal tersebut. Salah satunya adalah mengoleskan minyak zaitun/minyak kemiri satu jam sebelum keramas atau semalaman sebelum keramas keesokan harinya.

Begitu pula dengan beberapa bagian tubuh wanita yang memerlukan perawatan khusus—seperti ketiak dan Ms V. meskipun tidak terlihat, bagian ini justru rawan dilupakan perawatannya. Kita dapat membersihkan dua area tersebut secara rutin. Untuk ketiak, cabut/cukur/waxing lah bulu ketiak secara rutin, dan gunakan deodorant (alami: mineral magnesium kompleks). Dan untuk Ms V, kita bisa merawatnya dan meminimalisir penggelapan bagian tersebut dengan mengelap/mengeringkannya setelah buang air. penggunaan tissue disini juga dapat diminimalisir dengan menggantinya ke handuk khusus area V. selain itu, penggunaan godogan daun sirih untuk membersihkan area V juga dapat membantu mengurangi masalah Ms V.

intinya, merawat kulit dan tubuh juga tidak dapat dipisahkan dengan menjaga kebersihan! :)


#RawatRaga

Cantik permukaan saja katanya tidak cukup. Tubuh juga perlu dinutrisi dari dalam. Makanan yang kita makan dan olah tubuh menjadi dua hal krusial.

Pernah mendengar Clean Eating?  Beberapa jurnal dan penelitian mengungkapkan salah satu metode diet dan menjaga kesehatan yakni dengan Clean Eating. Eits, diet disini bukan berarti menguruskan tubuh saja ya! Tapi mulai mengonsumsi makanan yang proses pengolaannya tidak panjang, serta bahan yang digunakan adalah bahan baku segar komoditas lokal.

Clean Eating dapat dilakukan dengan memasak masakan sederhana seperti sayur, lauk, dan aneka buah. Biasanya menggunakan sambal sebagai dressing. Selain ramah di tubuh dan mudah didapatkan, kebiasaan Clean Eating juga dapat mendorong pengembangan ekonomi lokal, karena bahan baku yang digunakan umumnya bersumber dari sekitar tempat kita sendiri dan dihasilkan oleh petani lokal serta juga tersedia di berbagai marketplace seperti supermarket, pasar tradisional, hingga pedagang sayur keliling, sehingga dapat mendukung perputaran ekonomi lokal. Contoh bahan baku clean eating adalah: kangkung, bayam, sawi, tempe, tahu, telur, daging, ikan, buah-buahan lokal (pisang, papaya, jeruk nipis dll) dan lain-lain yang diproses secara sederhana.

jeruk nipis peras hangat, bersumber dari petani lokal (Sc: dokumentasi pribadi)

contoh lauk untuk clean eating: teri, kubis ungu, sambal. for more menus kindly check: instagram.com/dapurfutty (sc: dokumentasi pribadi)

Halodoc menyebutkan ada 4 alasan utama clean eating perlu dilakukan, diantaranya: meningkatkan energi, meningkatkan kesehatan kardiovaskular, mencegah kanker, dan meningkatkan kesehatan mental.[6]

Selain memperhatikan asupan gizi dan nutrisi pada tubuh, kita juga perlu melakukan olahraga. Saat ini olahraga dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun. Banyak juga tersedia kelas online untuk yoga, senam dan lain sebagainya. Namun apabila secara finansial ingin lebih ekonomis (re: gratis), dapat memanfaatkan sumber dari youtube untuk senam atau panduan olahraga di rumah selama pandemic.


olahraga untuk menjaga kesehatan dan kecantikan (sc: dokumentasi pribadi)


#RawatPikiran


membaca buku & berdiskusi (sc: dokumentasi pribadi)
 
#kembalikealam (sc:dokumentasi pribadi)


Dari luar sudah bersih, badan juga sehat dan terjaga nutrisinya, eits! Jangan ketinggalan menutrisi pikiran dan perasaan. Membaca buku dan berita, mengikuti perkembangan isu terkini, berdiskusi, dan berdialog dapat membantu kita meningkatkan wawasan agar lebih luas.

Apabila wawasan lebih luas, tentu kita bisa meminimalisir pikiran-pikiran negative yang muncul dan bisa fokus untuk berproses atau mengembangkan diri. Banyak yang mengatakan bahwa yang didalam akan memancarkan keluar (re: inner beauty), oleh karena itu, perlu bagi kita untuk senantiasa membuka diri terhadap ilmu pengetahuan dan juga tidak berhenti untuk terus belajar. Belajar dari apapun dan dari manapun, baik muda maupun tua. Karena toh tidak ada Batasan usia untuk belajar, bukan?

 -------

Jadi, sudah siap untuk #CantikBerkelanjutan? 

Cantik tidak hanya secara harfiah, namun juga secara esensial pemaknaan.

Cantik yang berkelanjutan berarti cantik secara cerdas berkesadaran: cerdas dalam memilih produk kecantikan --- tau bahan baku yang digunakan dan yang dipilih serta dampak yang ditimbulkan, cerdas dalam merawat diri----lingkungan terjaga, serta cerdas dalam mengelola pikiran. Ibarat kata, Brain, Beauty, Behaviour dalam satu paket!

Yang perlu kita ingat adalah: pilihan diluar sana terkait trend dan produk kecantikan sangatlah banyak. Dan tergantung mau pilih yang mana? Namun apapun yang kita pilih, semoga pilihan itu baik untuk diri sendiri, bermanfaat bagi orang lain, dan juga lingkungan sekitar.

Mari menjadi cantik dan sekaligus melestari!

<iframe width=”560″ height=”315″ src=”https://www.youtube.com/embed/qnw6p2slxxQ” frameborder=”0″ allow=”accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture” allowfullscreen></iframe>

#LestarikanCantikmu

#LTKLxMadanixBPN

#BlogCompetitionSeries

#Temenanlagi


[1] https://www.halodoc.com/kesehatan/kecantikan

[2] Yudiarto, Mim. 2017. Kebijakan NDPE: membangun kurikulum hingga implementasi di lapangan. Bogor: IPB Press

[6] https://www.halodoc.com/artikel/ini-4-alasan-clean-eating-baik-dilakukan 

Read More

Jumat, 11 Desember 2020

24: Catatan Perjalanan dan Refleksi



Tulisan ini adalah tulisan pertama di blog ini di tahun 2020, sekaligus menjadi refleksi dan catatan perjalanan di usia ke-24. Hei, welcome!

Jika tahun lalu cerita di blog ini dengan latar belakang Kota Medan, maka tahun ini akan berbeda. Tepat di usia ke 24 kemarin, aku resmi berpindah tempat: tempat kerja, tempat tinggal, dan mungkin tempat bertumbuh kedepannya.



Sejujurnya tidak terbesit sama sekali untuk pindah secepat ini, pun tidak berekspektasi muluk-muluk. Nah, kebetulan, karena di Bogor seorang diri (tidak ada teman, atau rekan kerja in peer wkwk), aku sering jalan-jalan keluar keliling kampung di sekitar sini atau mengunjungi kafe dan tempat perbelanjaan. Di kantor… mmmm… karena pandemic, banyak rekan kerja yang WFH, FYI aku masih ‘anak baru’ sehingga harus melakukan penyesuaian di kantor bersama rekan diluar divisi. Sejujurnya mengalami kesepian dan agak sedikit frustasi (haha), tapi hamdalah bisa sedikit luwes karena (mungkin) sudah belajar hal ini sebelumnya.

Di kantor yang sangat homy ini, aku merasa damai: bisa menghirup udara segar di tengah kota Bogor yang masih rindang, gemericik kolam ikan di depan ruang kerja, hujan tiap hari, dan suara air kolam renang yang tenang. Aku terpikir untuk menuliskan cerita perjalanan usiaku yang ke-24 dari setahun terakhir.

Pertama, mengenai diri sendiri

Suatu hal yang terbesit dalam pikiranku ketika merefleksikan diri adalah: you changed a lot.

Jika ditanya apa yang cukup berkontribusi mengubah perspeksi soal diri dan hal-hal yang dijalani, pasti jawabanku adalah ketika mengikuti Pendidikan di Univ Sanata Dharma, KKN, blok 2, dan bekerja untuk Unilever. Tapi hal itu merupakan alasan eksternal yang bisa jadi tidak valid. Pandemic ini  mengharuskan sering-sering di rumah, tidak pergi-pergi, bertemu orang hanya secara virtual, dan.. menurutku itu adalah momen yang sangat cocok untuk ‘metani’ diri sendiri. Apalagi posisiku saat itu di Medan dan benar-benar tidak dengan lingkungan lamaku, aku-sendirian-bersama orang-orang baru.

Ketika merefleksikan diri sendiri 4 tahun yang lalu, jauh lama di usia yang belum menginjak kepala dua, sepertinya banyak hal yang bisa ditertawakan. Dulu menganggap setiap hari harus produktif, harus menghasilkan, harus memberikan kontribusi. Tapi lupa tidak memberikan kontribusi (secara batin) untuk diri sendiri. 4 tahun lalu sepertinya masih haus akan validasi dari orang lain, dan membuat diri tidak tenang, seolah-olah kegagalan adalah suatu aib besar.

Namun jika dulu tidak sekeras itu terhadap diri sendiri, mungkin juga tidak bisa di titik yang sekarang. Tapi ada hal yang membuatku cukup tergelitik: sebenernya yang kamu cari tuh apa sih, Fut?

Apa yang aku cari? Aku menyebutnya “RUMAH”

Pada pertengahan Juli 2020 aku memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Yogyakarta. Di dalam pesawat menuju Jakarta waktu itu, aku cukup merenung tentang hal-hal yang… aku rasa, seperti awan: silih berganti. Kehilangan, kepergian, dan kesedihan adalah hal yang lumrah dirasakan setiap orang. Termasuk aku. Di kepala dua ini, banyak hal silih berganti dan sulit untuk diprediksi. Apa yang diusahakan belum tentu didapatkan (saat itu juga), dan apa yang diharapkan belum tentu sesuai dengan kenyataan. Hal-hal itu seringkali membuat stress apabila tidak di-handle dengan baik. Keputusan-keputusan yang diambil mengharuskan kita untuk realistis meskipun kadang cukup membuat khawatir dan menyakitkan. Belum lagi karena kita sebagai makhluk sosial, faktor eksternal juga berpengaruh dalam mengambil keputusan. Kita sering merasa overwhelmed.

Sesampainya di Tangerang dan memesan sebuah hotel untuk stay-cation seorang diri (lol). Lalu memesan makanan enak, aku mulai berpikir dan merasakan bahwa, selama ini yang aku cari adalah diriku sendiri:

Dan rumah itu adalah: hati.


Seringkali kita merasa tidak puas dengan apa yang sudah kita dapatkan saat ini, atau merasa kurang, merasa rendah, merasa tidak punya siapa-siapa untuk diandalkan. Ketika perasaan itu campuraduk menjadi satu, mungkin suatu hal yang bisa menepisnya adalah rasa percaya.

I am not the religious one (that judged by society), tapi aku selalu meyakini bahwa semua hal atas campur tangan Tuhan.

Kenapa sih kita Lelah setelah melakukan aktivitas? Kenapa sih kita merasa sedih ketika orang lain menyakiti kita? Hal itu normal kan? Betul, sebagai manusia itu normal. Dan ini yang kita rasakan di dunia, akan selalu demikian. Tapi tempat kita yang sesungguhnya bukan di dunia, kan?

Ya, rumah itu adalah hati, tempat yang paling aman ketika resah dan lelah mulai melanda. Kembali mengingat Tuhan membuatnya tentram, membaca kitab suci membuat suasana menjadi lebih sejuk. Dan bercerita kepada Tuhan; menangis sepuasnya, lalu (kadang tertidur) membuat rumah itu terasa damai. Meskipun sebagai manusia biasa, kadang rumah itu terkotori oleh prasangka, kekhawatiran, dan lain sebagainya, tetap, Kembali lagi… kepada siapa kita berteduh selain pada diri sendiri dan tetap melibatkan Tuhan?

Maka, semoga kita bisa selalu berlapangdada. Dan menjadikan rumah itu sebagai tempat yang cukup aman ditengah banyaknya ketidakpastian dan hal-hal tak terduga yang mungkin akan kita alami.

Yang kedua, tentang Kesehatan

Sejak di Medan, lidahku bertransformasi mampu mengenali berbagai rasa rerempahan nusantara. Seperti yang kita semua tau, bahwa Medan adalah surganya kuliner. Banyak makanan enak bisa dijumpai disini, mulai dari yang enak dan halal, sampai yang enak dan tidak halal (tapi yang tidak halal kenapa selalu enak ya? Wkwk, canda). Sayangnya, masakan disini mostly too fatty. Suatu hari aku bercermin, dengan berat badanku yang waktu itu Cuma 46kg, ada buntalan di bagian perut. Beberapa kali asam lambungku naik dan aku sering merasa lelah.

Ada teman yang menyarankan untuk nge-gym, dan kemudian setelah aku melihat-lihat lingkungan untuk nge-gym, sepertinya itu kurang cocok buatku. Aku mulai lari pagi mengelilingi jalan laksana-jalan japaris, jalan Ismailiyah, Kembali ke jalan puri dan jalan laksana--- tapi beberapa kali pula aku diklakson dan disrempet kendaraan bermotor: medan memang tidak ramah pejalan kaki.

Di Imma Kost--- tempat tinggalku di Medan, ada lantai 2.5, dan setiap pagi kami selalu mendapatkan sinar matahari disana. Aku melakukan beberapa Gerakan yoga, sekadar untuk mencegah sakit punggung karena sering bekerja di depan layar. Dan menurutku itu masih belum cukup. Aku mulai memasak per januari 2020, dan berkomitmen dengan #CleanEating sebagai metode diet (bukan untuk menguruskan ya, tapi biar nutrisinya seimbang dan berat badannya juga terjaga). Menjalankan 2 bulan #CleanEating, akhirnya aku membuat akun di Instagram bernama Dapur Futty, meskipun tidak sering post karena malas. Hahaa.

Tapi ada beberapa hal yang aku rasakan dengan clean eating itu: BAB ku lebih teratur, tidak mudah lelah, hemat di kantong (yaiyalah seminggu cuma 100k wkwk), dan kulitku jadi lebih moist. Hehe. Akhirnya mencoba konsisten dengan itu sampai bulan November kemarin sebelum pindah (dan pindahan ini aku bener-bener ampas sekali karena makannya masih di luar, belum bisa masak sendiri karena belum ada dapur).

Nah, selain clean eating, aku juga merambah ke senam kardio. Kenapa? Simply: mengencangkan badan dan bentuk investasi jangka panjang. Akhirnya setiap dua hari sekali, 30 menit pasti melakukan senam kardio dan lompat tali (kadang ditambah sit up, push up, squat). Alhasil memang mengencang di beberapa bagian yang aku targetkan, dan mungkin harus ku tambah frekuensinya agar hasilnya semakin oke.


Yah, yang gak kalah penting adalah: minum air putih yang banyak. Di usia kita, apalagi perempuan ya.. tanda-tanda penuaan seperti garis halus di wajah mulai muncul. Dan kadang by hormonal, jerawat juga muncul. Hal yang aku pelajari adalah: pola hidup sehat, makan dan minum yang teratur bisa mencegah hal-hal yang tidak diinginkan baik dari aspek Kesehatan maupun kecantikan. Lol.

Bicara mengenai kecantikan, ada hal yang menjadi catatan buatku

Sejujurnya minder itu pasti pernah dialami, apalagi bagi kita yang ibarat kata tidak memenuhi standart kecantikan netijen Indonesia: kulit putih, hidung mancung, fashionable, dll banyak lagi hehe.

Namun hal penting yang ku definisikan dari kecantikan adalah: kebersihan

Bersih dalam artian luar dan dalam ya. Mungkin kalo dari dalam, orang biasa menyebutnya inner beauty. Aku pernah menjumpai orang yang bahkan ketika dia lewat, mata kita tertuju padanya, senyumnya simpul namun kharimatik. Energi dari dalam begitu terpancar. Yah, aku melihatnya memiliki inner beauty yang membuatku tertarik lalu memperhatikannya.

Inner beauty tidak akan terpancar kalau kita tidak pandai menjaga kebersihan. Se simpel menggunakan deodorant untuk mengantisipasi bau badan, atau menggunakan wewangian yang tidak berlebihan, membersihkan wajah, menggosok gigi secara teratur, mencabut/mencukur bulu di beberapa area, menggunakan sampo dan sabun yang proper, memakai pakaian yang bersih dan rapih, rajin membersihkan tempat tidur, kamar mandi, tempat tinggal, dan menjadikan lingkungan di sekitar nyaman untuk dipandang/ditinggali.

Hematku, jika pikiran tertata dan dinutrisi dengan wawasan, diri dan lingkungan bersih, hati cukup lapang untuk memahami situasi dan kondisi, itu akan membuat energi positif dan memancarkan suatu hal dalam diri kita, yang kemudian aku sebut sebagai: kecantikan.

Tidak harus putih, tinggi, mancung, langsing. Kecantikan yang seperti itu tidak akan bertahan lama.

Semoga kita bisa senantiasa cantik, sesuai dengan definisi yang kita inginkan dan standartkan untuk diri kita sendiri.

Yang ketiga, soal pekerjaan dan rejeki

Ini sepertinya sensitive di usia-usia sekarang: rawan membanding-bandingkan dengan orang lain. Kerja dimana, gajinya berapa, sudah investasi atau punya asset apa aja, dll


dan itu diakui tidak diakui, pasti ada rasa gimana gitu, dan kadang membuat insecure. Perihal soal rejeki dan pekerjaan, sebenernya aku pernah nulis refleksi untuk ini di ig story (highlight). Nah, tapi gak ada salahnya juga sih kalo ditulis disini. Ehhee

Kembali lagi sih, porsi rejeki setiap orang beda-beda, gak bisa disamakan. Lha wong ‘berangkat’nya aja udah beda kan? Hihi. Ada orang yang bekerja untuk mengaktualisasi diri, ada orang yang bekerja untuk memenuhi kebutuhannya, dan ada yang dua-duanya. Tidak ada yang salah, selama dalam prosesnya tidak merugikan orang lain dan diri sendiri.

Ada beberapa bagian penting yang ku catat terkait dengan rejeki, bahwasanya rejeki bentuknya tidak sebatas pada material. Betul, di usia kita (under 25, bahkan under 30) kestabilan bukan hal yang mudah untuk didapatkan, kecuali bagi mereka yang sudah punya privilege tertentu dari keluarganya, atau lainnya. Dipungkiri tidak dipungkiri, privilege memegang peranan penting ketika kita sudah terjun di dunia yang sebenarnya. Oleh karena itu, akan sangat tidak bijak kalo kita masih membanding-bandingkan pencapaian (material) kita dengan orang lain.

Mungkin, sekadar menjadi motivasi dan plan to action, oke lah ya.. karena tidak bisa dipungkiri, bahwa kita juga butuh materi untuk melakukan sesuatu yang lebih besar. Namun Kembali lagi, rejeki bukan Cuma materi. Networking, lingkungan yang baik, Kesehatan, keluarga yang ridho dengan kita, juga adalah bentuk rejeki kan?

Asalkan tidak kemudian berdiam diri dan “ngatong”. Rejeki juga harus dijemput (dengan cara yang baik tentunya).

Semoga hati selalu diberikan kelapangan untuk bersyukur.

Berbicara soal syukur, ada hal yang sebenarnya memalukan pernah kualami. Ya, di awal-awal kerja, dari yang biasanya ngajar les 30rb/jam di jogja, atau mentok olim 130rb/jam (seringnya sih 100rb/jam) dan tidak tentu penghasilannya, kemudian mendapatkan penghasilan yang cukup untuk ukuran freshgraduate.. tentu agak kaget, dan rasa ingin ‘gaining’ lebih itu muncul; apalagi pengen ini.. pengen itu. Itu terjadi saat awal-awal kerja.

Di lain sisi, nggak bisa seenaknya menghabiskan uang karena posisinya sekarang sudah mengambil tanggung jawab untuk keluarga (re: sandwich). Jadi ya agak gimana gitu kalau mau hedon. Haha. Nah, pernah suatu hari ngerasa ‘iri’ sama temem-temen yang bisa senang-senang dengan gajinya, ngopi enak di starbak, beli pakaian branded, handphone ipon, dll. Pengen? Normal, wajar banget kalo pengen. Kemudian hati merasa sesak karena merasa kehidupan ini gak adil, merasa gak bisa se leluasa itu menggunakan uang, dan lain-lain. Ujung-ujungnya apa? Berat waktu ngasih ke ortu, tapi yo kok rasanya uang habis gatau entah kemana.

Ketika dengerin ceramah di Yutub, ternyata… salah satu tanda rejeki yang tidak berkah adalah hati yang tidak tenang. Deg! Jangan jangan selama ini aku terlalu perhitungan dan engga lapang (re: selalu ngerasa kurang)? Kemudian yang aku lakukan saat itu adalah evaluasi keuangan besar-besaran (setelah 4 bulan kerja dan beberapa tanggungan udah dilunasi). Ternyata benar saja, pengelolaan keuanganku masih sangat ampas. Dana sosial masih aku campur dengan zakat penghasilan, padahal ga bisa gitu. Zakat penghasilan nominal itungannya dipisah. Sejak saat itu, aku mulai melakukan transformasi besar-besaran terkait manajemen keuangan:

Membuat pos pendapatan dan pengeluaran, serta mencatat semuanya satu per satu. Mulai memisahkan (budgeting) kewajiban dan kebutuhan. Hasilnya? Well-managed. Meskipun belum sepenuhnya merdeka secara finansial, tapi at least, neraca keuangannya sehat. Hehe

Nah, yang kaitannya sama sandwich gimana?

Suatu hari hujan deras di Medan dan aku lapar, kemudian keluar buat beli sate, aku menjumpai pedagang roti yang basah kuyub dan dagangannya masih banyak. Rasa hati pengen beli dagangannya, tapi kaki susah sekali melangkah, dan mulut gamau manggil bapak rotinya. Pedagang roti pun berlalu.

Sampai di kamar kos, aku nangis. Kenapa nggak manggil aja? Tapi yah, sudah terlewat. Kata ibuk kos… Mungkin rejeki bapaknya bukan melaluiku pada saat itu. DEG!

“BISA JADI, REJEKIMU ADALAH REJEKI ORANG LAIN YANG DIKIRIMKAN TUHAN MELALUI KAMU.”

Ketika menyadari bahwa Tuhan ngasih kita rejeki bukan cuma buat kita aja---tapi ada porsi orang lain disitu, perlahan hati mulai lapang dan ridho. Perlahan, bisa menerima kenyataan bahwa si sulung perempuan ini harus menjalani perannya yang sekarang. Dan tentu, tetap mengingat bahwa semuanya nanti akan dipertanggungjawabkan, termasuk ‘nasab’ asal muasal rejeki kita darimana, halal engga nya.

Ternyata, memanajemen hati perkara materi itu engga gampang. Butuh istighfar berkali-kali. Ga gampang bukan berarti gabisa kan?

Hehe, kita masih harus bersyukur karena masih ada tempat untuk ditinggali, masih ada makanan yang bisa dimakan, masih ada teman-teman yang baik, masih diberi Kesehatan. Melihat ke bawah biar kita engga kufur, melihat keatas sekadarnya biar kita termotivasi buat engga fakir. Hehe.

Dan yang ke empat: keluarga, pertemanan, dan pasangan

Aku selalu bersyukur, lahir di keluarga yang secara tidak langsung mengajariku keharusan untuk bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup. Ya defaultnya memang seperti itu. Haha, dan hal itu pula lah yang memotivasiku untuk “keluar” dari ‘circle of poverty’. Meskipun terlahir dan besar ditengah keterbatasan, Ibu selalu memberikan nutrisi yang cukup untuk tumbuh kembang anak-anaknya, dan bapak selalu memotivasi anak-anaknya untuk maju. Ibuk dan bapak pula lah yang mengajari bahwa meskipun kita tidak berpunya materi, kita harus punya Nurani dan wawasan. Karena keduanya akan membawa kita pada hal-hal baik yang mungkin tidak kita duga. Ibuk dan bapak selalu menanamkan bahwa Pendidikan adalah entitas yang sangat penting, oleh karenanya, kita tidak boleh berhenti belajar. Dalam hal apapun, dan dimanapun. Termasuk belajar dari kesalahan dan kegagalan.

Setahun belakangan, jarang bertemu bapak/ibu, ketemu Cuma setahun sekali. Itupun Cuma 2 minggu. Rasanya kurang sekali. Sementara mereka kian menua dan kondisi Kesehatan bapak yang sangat tidak stabil. Ada rasa bersalah ketika meninggalkan mereka terlalu jauh, tapi dilain sisi, itu perlu dilakukan juga (nyari duid hehe)., dan kalau sering pulang, ongkosnya gila-gilaan. Terkuras sudah tabungan. akhirnya yang bisa dilakukan adalah rutin menelpon mereka, memastikan mereka aman, sehat, dan baik-baik saja. Kebetulan adik di rumah (tidak merantau), jadi pengawasan lebih banyak dilakukan oleh adik. Maka sering berdoa, supaya bisa dipindahlokasikan at least di Jawa biar bisa lebih memonitoring kondisi orangtua. Meskipun ada cita-cita S2 di luar negeri, mengunjungi negara-negara di timur tengah seperti impianku sejak kecil, melihat pemandangan Islandia sambil muter instrumennya M2U-Masquerade, at least untuk saat ini, target terbesarnya adalah membantu mereka membuat hunian yang cukup layak untuk ditinggali di masa tuanya. Bismillah.


Kesyukuran yang kedua adalah… aku menemukenali apa itu cinta. Cinta yang selama ini definisinya selalu aku cari. Dimana aku menemukannya? Di Imma Kost di Medan (dan ketika nulis ini aku nangis wkwk). Cinta tumbuh dengan kasih, saling menghargai, saling menghormati satu sama lain. Orang yang dicintai akan merasakan cinta dan kasih itu. Ibu, bapak, kakak kos, dan teman-teman di kosan telah membuktikan bahwa kasih itu nyata adanya. Mereka tidak segan untuk menegurku ketika aku melakukan hal yang keliru, tapi juga mengapresiasiku atas hal baik yang aku lakukan. Mereka bersedia jujur atas perasaan mereka dan tetap menyampaikan tanpa menyakiti. Aku menemukan keluarga di Medan.

Pertemanan? Sepertinya di usia-usia saat ini kita tidak boleh mencari musuh ya? Haha. Tetap menjaga koneksi dengan kenalan dan teman. Namun bedanya, circle pertemanan kian menyempit. Dan bahkan meng-eksklud beberapa dari circle inti. Bukan karena benci, tapi lebih tepatnya untuk menemukan kedamaian dalam diri sendiri dan mengantisipasi dari hal yang saling menyakiti.

Pasangan? HAHAHAHHAHAHAHAHAHA

Orangtuaku sudah sering mengkhawatirkan soal ini. Bukan karena mereka kepengen aku segera menikah, tapi mereka takut dengan kejadian traumatik soal hubungan yang pernah aku alami beberapa tahun silam dan membuat rasa percayaku untuk menemukan pasangan mungkin memudar. Beberapa kali mencoba untuk membuka diri, lalu seperti hampa, dan gagal. Mungkin tahun-tahun sebelumnya aku menganggap pasangan adalah seseorang yang bisa menyembuhkan luka. Ternyata aku salah besar. Kegagalanku berasal dari aku sendiri yang belum sembuh.

2 tahun terakhir ini, aku mengikuti beberapa kelas pengembangan diri, self-healing, dan apapun yang bisa membantuku untuk “valued” myself. Daaaannn, taraaa!!! Setahunan ini akhirnya aku menemukan apa itu “rumah” (baca paragraph awal-awal). Akhirnya, bisa menikmati moment yang sekarang, merasa cukup dengan diri sendiri, meskipun perjalannya cukup berdarah-darah juga (makasih teman-teman deketku yang kena imbas curcolan ampasku soal ini hahaha). Dan meskipun kadang merasa kesepian, atau mungkin ‘nature’ perempuan yang ingin memberikan kasih sayang sering muncul; aku mengekspresikannya dengan cara… memberikan kasih sayang ke kucing. Setidaknya itu lebih aman kan? Hehehe

Meskipun tekanan sosial juga tinggi, tapi apa gunanya kita menemukan pasangan jika hanya untuk status sosial saja? Ada hal-hal yang lebih esensial dari itu semua.

Jika sekarang ditanya soal pasangan, simply, jawabannya: belum waktunya.

Either sudah ketemu orangnya atau belum, mungkin akan lebih baik kalau kita perlu mengenali diri sendiri sebelum stating “pengen pasangan yang seperti apa.”

Dan jika ditanya pengen punya pasangan seperti apa, aku bakal jawab:

“seseorang yang hatinya cukup aman dan teduh untuk aku tinggali.” #haseeeeekkkkk

Satu kalimat tapi maknanya lebar. Hahaha. Karena kita gak tau akan berjodoh dengan siapa (meskipun ada keinginan agar bisa berjodoh dengan orang yang kita percayai---atau kita harapkan), tapi perihal jodoh itu adalah perihal yang abstrak, yang main bukan lagi logika. Tapi perasaan dan yang paling penting – campurtangan Tuhan. Makanya usaha (lol) doa terus supaya dapat jodoh yang baik, yang memegang value yang sama dengan yang kita pegang dan yakini, yang bisa membuat diri kita saling menuju ke arah yang lebih baik, bisa bertumbuh bersama. Karena bukankah perjalanan yang sebenarnya adalah dimulai ketika sudah menikah? Berdua, harus mengendorkan ego, sabar, lapang.. bisa jadi ada masalah sana-sini. So that’s why menikah dinamakan ibadah terpanjang. Ya karena cobaannya akan selalu ada. Dan PR nya adalah how to compromise and fix it?

Yaps, begitulah. Wkwk meskipun demikian, aku masih memiliki keinginan dan kebutuhan untuk menyalurkan kasih sayangku, kepada pasangan. Memberikan cinta dan kasih... Dan masih ada keinginan untuk berkembangbiak memiliki anak dan membesarkannya dengan kasih; dan tentu, menjadi hot-mama HAHAHAHA.


Refleksi tahun 2020 di usia yang ke 24 ini mungkin masih hanya sebagian kecil saja yang aku ceritakan. Dan semoga bisa menjadi pengingat (bagiku pribadi) ketika mulai kehilangan arah, harus tetap bersyukur dengan apa yang dimiliki saat ini, tapi juga harus bergerak ke arah yang lebih baik.

 

Bismillah.

 

(yang baca sampe akhir, kamu keren banget. ini panjang loh (7 pages di ms word calibri 11), nulisnya sambil menikmati hujan di kota hujan, 2 jam).

Read More