environment . education . experience

Jumat, 03 Desember 2021

Peran Penting Traceability Feedstock dalam Pengembangan Energi Biofuel yang Berkelanjutan

Hai hai hai, apakabar? Semoga sehat selalu yaa. Selamat datang di Blog Futuha, blog yang kadang bahas hal-hal unfaeda, tapi juga kadang bahas hal berfaeda. Dan tulisan ini adalah salah satunya hal yang berfaeda :D

By the way, temen-temen udah pernah denger belum sih tentang transisi energi dari bahan bakar fosil ke bahan bakar nabati? Atau mungkin, sebelumnya temen-temen ketika mampir di SPBU ngeuh gak sih kalau ada tulisan “biosolar” di salah satu stasiun pengisian bahan bakar?

Nah, sebelumnya, udah pada tau belum apa itu biosolar/biofuel/biodiesel? Kalo berdasarkan definisinya, Biodiesel atau disebut juga dengan biosolar merupakan bahan bakar alternatif berupa ester metil asam lemak (fatty acid methyl ester/FAME) yang dihasilkan dari bahan alami seperti dari kelapa sawit, jarak pagar, randu, kelapa, kecipir, kelor, kusambi, nimba, kepoh, nyamplung, siur, bidaro, kemiri cina, maupun lemak hewani. Bahan baku utama dari biodiesel di Indonesia saat ini yang digunakan adalah minyak kelapa sawit (CPO).

Kebetulan banget nih, kemaren tanggal 12 November 2021, #EcoBloggerSquad ngadain online gathering bertajuk pengenalan biofuel. Diisi oleh 2 pemateri yang luar biasa, Kak Kukuh dari Yayasan Madani Berkelanjutan dan Kak Ricky dari Traction Energy Asia, materi ini gak hanya berfokus pada apa itu biofuel, tapi juga ada penjelasan terkait “bener gak sih biofuel itu BENERAN RAMAH LINGKUNGAN?”

((BENERAN))???

Kalau dilihat dari narasinya, Biofuel a.k Bahan Bakar Nabati (BNN) digadang-gadang sebagai transisi energi dari bahan bakar fosil karena dinilai lebih ramah lingkungan. Eits waittt! Apakah alasan transisinya hanya itu saja?

Ternyata oh ternyata, hal ini lebih ditekankan karena sektor migas di Indonesia yang terkait bahan bakar fosil mulai kesulitan untuk surplus, bahkan sudah mengalami “nett importer”. Artinya, kita sendiri tuh karena sebegitu butuhnya sampai harus mengimport. Kalau dari data Kementerian ESDM, Indonesia bisa memproduksi 700ribu barel minyak bumi sehari, namun kebutuhan kita mencapai 1,5 juta barel per hari.

Nah, untuk “mengamankan” nya maka perlu dilakukan transisi energi. Dan salah satu upaya dalam pengembangan transisi energi ini adalah dengan energi alternatif, yakni bahan bakar nabati (BBN)

Biodiesel di Indonesia dikembangkan sejak tahun 2001 melalui Balai Teknologi Bahan Bakar dan Rekayasa Desain (BTBRD) dan pada tahun 2006 ditetapkan Standart Nasional Indonesia (SNI) untuk biodiesel (SNI 04-7182-2006)[1]. Program mandatori biodiesel mulai diimplementasikan pada tahun 2008 dengan kadar campuran biodiesel sebesar 2.5% dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 7,5%. Pada periode 2011 hingga 2015 persentase biodiesel ditingkatkan menjadi 10%-15% dan pada 1 Januari 2016 kadar biodiesel ditingkatkan hingga 20% atau yang dikenal sebagai B20 (20% Biodiesel, 80% solar). Per September 2018 dilakukan perluasan insentif biodiesel ke non-PSO (Public Service Obligation) serta dilakukan penyusunan spek B100 untuk pengujian B30. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM menggalakkan program mandatori bahan bakar nabati (biodiesel) melalui Peraturan Menteri ESDM No 32 tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati.[2]

Kemudian, dalam perjalanannya, di tahun 2016, energi alternatif BBN tidak hanya digunakan sebagai energy shifting namun juga sebagai strategi komitmen iklim yang tertuang dalam NDC (Nationally Determined Contribution). Mengapa demikian?

Berdasarkan data dari Kementrian ESDM tahun 2019, pemanfataan biodiesel hingga tahun 2018 telah berhasil menurunkan emisi GRK sebesar 5,61 juta ton CO2. Hal ini berarati menjadi nilai positif dong ya, karena jika dilihat dari sektor transportasi, BBN ini emisinya gak lebih besar daripada bahan bakar fosil lainnya. Tetapi, jika dilihat dari kacamata value chain, apakah benar demikian?

biofuel supply chain network design and operations-semantic scholar

Ternyata, asal muasal biofuel kalau di Indonesia sejauh ini masih dipegang oleh komoditas kelapa sawit, dan berdasarkan publikasi LPEM UI, diperlukan sekitar 338.000 hektar lahan sawit baru untuk scenario B-20 di tahun 2025, dan sekitar 3,87 juta hektar lahan sawit baru untuk scenario B-100 di tahun 2025 (koaksi via madani).

Artinya apa? Semakin kita menuju transisi energi biofuel, maka demand akan sawit serta potensi pembukaan lahan akan semakin tinggi. Sementara itu, berdasarkan data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, penyumbang emisi GRK terbesar di Indonesia itu ada di sektor FOLU (Forest and Other Land Use).

profil GRK di Indonesia (sc: KLHK)

Apakah hubungan sawit dan FOLU? Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwa dalam praktik pembukaan kebun kelapa sawit, dibutuhkan lahan. Nah untuk membuka lahan tersebut maka ada yang diubah. Dari yang misalnya memiliki tutupan vegetasi heterogen menjadi lahan sawit monogen (satu jenis tanaman). Disinilah ada potensi deforestasi dalam proses pembukaan lahan sawit. Dan hal ini menyebabkan emisi GRK yang tinggi.

Variabilitas GHG footprints di CPO (sc: Science Direct)

Selain itu pada praktik perkebunan kelapa sawit secara tidak langsung juga mengakibatkan adanya emisi GRK, seperti praktik pemupukan dan operasional pabrik kelapa sawit untuk menghasilkan crude palm oil.

Masalah yang ada selama ini belum ditemukan kebijakan yang secara eksplisit mengharuskan BBN berasal dari sawit berkelanjutan atau yang memegang prinsip NDPE (No Deforestation, Peat, and Exploitation). Meskipun ulasan dalam media Kementerian Ekonomi menyatakan bahwa harus ada upaya dalam penerimaan rantai pasok sawit berkelanjutan, namun hal ini agaknya menjadi urgent untuk diundangkan mengingat demand kelapa sawit di berbagai sektor semakin tinggi. Cara yang mudah untuk mengetahui apakah itu kelapa sawit berkelanjutan atau tidak adalah dengan mencaritahu apakah sawit tersebut tersertifikasi RSPO/ISPO/MSPO/ISCC (standarisasi sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan).

Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui ketertelusuran/traceability bahan baku (feedstock) dalam implementasi energi terbarukan biofuel. Salah satunya untuk memastikan apakah sumber bahan tersebut berasal dari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan (tidak merusak lingkungan) atau responsible sourcing.

responsible sourcing (sc: proforest.net)

Selain memperhatikan traceability feedstock dalam implementasi BBN di Indonesia, terdapat beberapa hal yang penting untuk dilakukan, seperti diversifikasi feedstock (bisa merambah ke komoditas lain seperti jagung, sekam padi, jarak, dan lain sebagainya); peningkatan Good Agriculture Practice di sektor sawit itu sendiri, maupun pemanfaatan limbah turunan sawit (minyak jelantah) yang juga mampu mendukung circular economy.

Sehingga transisi energi dan strategi komitmen iklim tidak menjadi isapan jempol semata. Mengingat manfaat program mandatori penggunaan BBN dirasakan selain penghematan devisa dan cadangan sumberdaya fosil, yaitu peningkatan nilai tambah CPO juga meningkatkan pertahanan tenaga kerja petani sawit (dalam hal ini yang terlibat langsung dalam sourcing biodiesel di Indonesia).

Kelapa sawit memiliki beberapa kelebihan dalam menyediakan platform untuk produksi biodiesel di Indonesia. Pemanfaatan CPO untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saat ini masih sebesar 25%, hal ini menunjukkan adanya potensi optimalisasi sumber energi terbarukan melalui komoditas kelapa sawit. Pengembangan biodiesel diharapkan juga dapat menjadi instrumen kebijakan untuk menjaga kestabilan harga CPO di Indonesia. Melalui pengembangan industri biodesel, maka secara ekonomi dapat mendorong tercapainya produksi minyak kelapa sawit yang optimal serta menekan dampak negatif terhadap lingkungan hidup maupun emisi gas rumah kaca. Sehingga pengembangan biodiesel tidak hanya dipandang sebagai bagian dari upaya untuk menopang kemandirian ketahanan energi nasional, tetapi juga dapat mencapai produksi energi yang berkelanjutan sekaligus mendorong produksi kelapa sawit yang berkelanjutan di Indonesia.

Read More

Senin, 29 November 2021

Pengalaman Merawat Kulit Wajah dengan Scarlett Face Care Brightening Series

Siapa siih yang di jaman sekarang engga memperhatikan kesehatan dan penampilan kulit wajah? Kalo ditelusur, kayaknya sekitar 10 tahun yang lalu belum happening banget yaak dengan apa itu yang disebut “skin-care-an”, hmmm... barulah sekitar kurang lebih 4 tahun terakhir ini booming produk produk skincare dan ritual skincare menjadi sebuah fardhu ain bagi kaum hawa. 

 

Munculnya produk skincare yang beragam juga tidak terlepas dari influence film maupun aktris Negeri Gingseng. Dari orang yang dulu hanya mengenal sebatas pembersih, pelembab, sunscreen, dan bedak... sekarang sudah berkembang ke berbagai jenis dan ragam manfaat serta penggunaan! Yup, mulai dari facial wash, essence, sheet mask, cleanser, toner, day cream, night cream, moisturizer, sun screen, dan belum lagi nama-nama untuk make up. Wuuuhh, pantesan cowo-cowo sering bingung bedainnya ya :D

 

Menyoal perihal trend skin-care di Negeri Gingseng, Indonesia tak kalah progresif dalam meluncurkan produk-produk yang tentu sudah localize dan disesuaikan dengan kondisi kulit Wanita Indonesia. Salah satunya adalah Scarlett Whitening. Seperti yang pernah aku ulas di tulisan sebelumnya (cek disini ya), Scarlett selain sebagai produk perawatan kulit wajah dan tubuh, juga mampu memutar perekonomian dari berbagai kalangan. Hal ini tidak bisa dilepaskan bahwa Scarlett sendiri menjangkau semua kalangan untuk product market serta memiliki kualitas yang juga sudah banyak diakui oleh masyarakat. Tidak heran kan kalau produk-produknya juga happening hehe. 

 

Nah, sekitar 3 minggu yang lalu, aku mencoba rangkaian perawatan kulit wajah dari Scarlett. Sebenernya udah mau nyoba dari lama sih, tapi baru keturutan sekarang. Hahaha. Oiya, sebelum aku jelasin lebih detil gimana pengalamanku dengan produk face-care nya Scarlett, aku mau kasih in brief produknya terlebih dahulu.

 

Jadi, untuk Scarlett Face Care ini sendiri ada 2 “kingdom” utama, yakni face care khusus kulit berjerawat, dan satunya lagi adalah face care untuk kulit tidak berjerawat/brightening. Cara membedakannya gampang; kalau yang untuk kulit berjerawat/acne series, semua warna kemasan produknya bernuansa ungu. Tapi untuk yang brightening (kulit normal/tidak berjerawat), dia menggunakan kemasan produk bernuansa pink. Karena kulitku tergolong normal-kering, maka aku mencoba produk yang bernuansa pink alias brightening series. 

 

Nah, apa aja produk yang aku coba? Cekidooot


Untuk rangkaian face care sendiri, ada 5 produknya: face wash, toner, essence, day cream, dan night cream. Semua produk ini sudah teregister di BPOM dan halal loh teman-teman! Jadi gak perlu khawatir yaaa.. 

Nah, yang aku suka ketika produk ini sampai adalah… kemasannya yang cantik dengan Box Pink-Pink keunguannya, dan didalamnya ter-packing aman… jadi ga perlu khawatir produknya bleber atau botolnya pecah. Oh ya, tapi mungkin sedikit masukan dari aku soal packaging… mungkin akan lebih baik kalau bubble wrapnya jangan banyak-banyak atau bisa diselingi dengan kertas recycle/material lain yang mudah terurai. Hihi, biar gak nambah sampah plastik ajaa siih, hehehe

dan untuk pemakaiannya sendiri, kenapa ada 5 produk? Karena dalam tahapan per-skin-care an duniawi ini memiliki trik tersendiri. Hahaa. Aku biasa memakai fash wash untuk mencuci muka, setelah itu mengaplikasikan tonernya dengan mengelap menggunakan kapas atau kadang Cuma ditepuk-tepuk sama telapak tangan. Setelah itu barulah mengaplikasikan essence dan ditap-tap juga biar meresap. Barulah makai cream yang disesuaikan pagi/malamnya. Kalau sebelum jam 9 pagi/beraktivitas ya day cream, terus kalau malam sebelum tidur ya night cream :D

okey dehh mari kita ulas satu per satu hehe

Yang pertama, adalah facial wash nya. 

Nah pertama kali aku melihat kemasan produk ini: cantik. Desainnya elegan dan aku suka konsep botolnya yang ramping dan tutup flip-up nya, berasa 100 ml yang enak dibawa-bawa. Nah kalau dilihat sekilas, mungkin diawal akan mengira bahwa ini untuk exfoliating karena ada beads pinknya, atau mungkin takut memakainya karena gakbisa pakai scrub di muka. No worries! Beads ini sangat lembut dan bahkan enggak kerasa kasar ketika diaplikasikan di muka. 

Beberapa highlight untuk facial wash ini antara lain: glutathione, aloe vera, rose petals, dan vitamin E. dari highlight tersebut, sudah bisa dilihat kan kalau formulasinya berguna untuk melembapkan kulit wajah dan menghaluskan. Selain 4 highlight formula diatas, ada juga komposisi detilnya berikut ini:


Jadi, memang face care ini formulasinya emang bener-bener cleanser dan moisturizer yah kalau dilihat dari komposisinya. Yang paling aku sukai dari produk ini adalah aroma mawar yang lembut dan mewah. Jadi berasa relaxing banget kalau lagi nyuci muka! Haha. Oiya, produk ini non-animal tested ya! Aku biasa makainya waktu pagi sembari mandi, dan malam sebelum tidur.

Yang kedua, adalah tonernya. Namanya “Brightly Essence Toner”


Masih dengan desain kemasannya yang elegan, botol toner ini pakai pumping sehingga nyaman digunakan. Dengan volume 100 ml, agaknya susah digunakan untuk travelling dan harus dipindahkan ke botol yang lebih kecil kalau mau dibawa kemana-mana. Nah, dari segi viskositas/kenceran, toner ini lumayan encer tapi gak encer-encer banget. Dan mudah diaplikasikan juga entah dengan kapas atau langsung pakai tangan. 

Nah, sejujurnya karena kulitku lumayan kering, setelah memakai face wash pun masih berasa kering kan ya… jadi toner ini bener-bener membantuku buat moisturized kulitku. Highlight formula di toner ini adalah: glutathione, vitamin C, niacinamide, hazel extract, grape water, jeju propolis extract, dan allantoin. Hmmm… banyak yah bund. Dan ketika dicek untuk komposisinya, ada beberapa kandungan yang terdapat di produk ini:


Bisa dilihat kan ya, kalau kandungan toner ini sangat diformulasikan untuk skin-conditioning dan moisturizer. Namun ada juga kandungan whiteningnya meskipun tidak sedominan kandungan skin conditioner. Nah, yang aku suka dari toner ini adalah wanginya yang lembut dan mudah meresap ke kulit. Tidak butuh waktu lama, bisa langsung lanjut ke next step perawatan kulit. Oh ya, di toner ini mengandung efek cooling/minty gitu… jadi jangan kaget kalau tiba-tiba wajahnya berasa adem hihi.

yang ketiga, Essence nya: Brightly Ever After Serum

pertama denger dan lihat review serum ini sebenernya auto pengen nyoba. Bener seefektif itu engga sih? Dan ternyataaa…. Iyaaaa! 


Essence 15 ml ini dikemas seperti layaknya essence pada umumnya: dengan botol kaca dan pipet. Highlight di essence ini adalah phyto-whitening, glutathione, vitamin C, niacinamide, dan lavender water. Bisa ku bilang, kunci dari rangkaian produk face care nya ada disini! Selain sebagai anti-oksidan, aku rasa python-whitening + niacinamide adalah paduan yang pas dalam meratakan warna kulit dan mengembalikan kulit ke tone aslinya. Prosesnya memang tidak instan dan baru terlihat setelah lebih dari 2 minggu. Tapi ini sangat efektif ternyata! Hahaha. Nah, selain kandungan diatas, ada beberapa komposisi lainnya untuk produk ini seabagai berikut:



Gak semua tercantum functionality nya sih, tapi overall itu komposisinya dan yap, tidak mengandung merkuri/zat berbahaya semacamnya. That’s why untuk ada kelihatan hasilnya butuh proses. Oh ya satu lagi. Kemasan produk ini tuh berlapis-lapis. Haha, jadi aman meskipun untuk mengeluarkannya butuh effort. 

Untuk pemakaiannya, aku biasa pakai 2 kali sehari. Pagi sebelum beraktivitas, dan malam sebelum tidur. Aku makainya sehabis makai toner lalu tinggal ditetes 2-3 tetes dan di tap-tap ke kulit wajah. Untuk aromanya sendiri, karena mungkin masih dalam rangkaian brightening series, jadi dia masih ada nuansa mawar. Elegan dan menenangkan!

Setelah menggunakan essence, barulah menggunakan…

Day Cream/Night Cream Scarlett Brightening Series



Nah, untuk membedakan mana day cream dan mana night cream mudah banget. Untuk yang kemasannya dominan putih itu adalah day cream, dan untuk produk yang kemasannya dominan pink gelap, itu adalah night cream. 

Produk ini masing-masing memiliki size 20 gram dengan kemasan wadah kaca, sehingga kalau mau dibawa travelling, ada baiknya jika dipindahkan terlebih dahulu ke wadah yang lebih kecil.

Dari segi keenceran, bisa ku katakan kalau day cream ini lebih encer daripada night cream, meskipun highlight formulanya berbeda.

Untuk day cream, kandungannya utamanya adalah: Glutathione, Rainbow Algae, Hexapeptide-8, Rosehip Oil, Poreaway, Triceramide dan Aqua Peptide Glow yang membantu melembapkan kulit, menutrisi, dan meratakan warna kulit. Ada juga kandungan antioksidan untuk menangkal radikal bebas. Ketika aku cek komposisinya, ternyata panjaaang banget dan banyak kandungan lainnya. Haha. nah, mungkin bagi yang kulitnya sensitive terhadap beberapa jenis filler ingredients seperti emulsifier/pelarut, bisa cek/  konsultasikan dulu ke dokter kulitnya yaa! Tapi overall karena kulitku gak banyak masalah, jadi ya oke-oke aja makai produk ini. 

Pemakaian day cream ini biasanya aku lakukan di pagi hari dengan dioles rata ke kulit wajah. Sebenernya baunya agak kayak ada kandungan kurkumin, tapi aku gatau itu bagian komposisi yang mana. Cuma memang enggak se wangi rangkaian produk lainnya. Setelah penggunaan, kulit wajahku emang ada kesan glowy nya dan kalau ditimpal pake sunscreen atau bedak, memang kerasa agak lembab yang berat. 

Nah kalau untuk night creamnya… dia highlight utamanya adalah Glutathione, Niacinamide, Natural Vit-C, Hexapeptide-8, Poreaway, Green Caviar dan Aqua Peptide Glow. Dimana manfaat utamanya selain melembapkan dan mencerahkan, juga bermanfaat untuk mengurangi kerutan dan garis halus. 

Setelah lebih dari 2 minggu pemakaian night creamnya: kulitku lebih terasa kenyal dan beberapa garis halus di jidat memang memudar perlahan. Namun sepertinya perlu telaten agar hasilnya maksimal. Sama dengan day cream, aroma night cream ini ada kesan kurkuminnya. Cuma.. dia enggak meninggalkan kesan “berat” di kulit saat dipakai, dan enggak bikin berminyak di kulitku kalau bangun di pagi hari.

Yups, itulah overall pengalamanku merawat kulit dengan rangkaian Face Care Scarlett. 

Jika ditanya Yes/No, aku bisa bilang “Yes” untuk re-purchase beberapa produk, terutama toner dan essence. 

Teman-teman jika tertarik membeli, bisa kunjungi link berikut ini yaa: https://linktr.ee/scarlett_whitening atau bisa melalui official re-seller/distributor resmi Scarlett. 

Buat kamu yang udah mencoba rangkaian produk ini, yuk certain pengalamanmu juga! Bisa ditaruh di kolom komentar ya!


Read More

Sabtu, 13 November 2021

Me-time yang menyenangkan dan menyegarkan: Scarlett Whitening Body Care (Product Review)

Halo! Apa kabar semua? Semoga sehat dan bahagia ya! Omong-omong soal bahagia, katanya Bahagia bisa didapatkan melalui banyak cara eventhough melalui cara-cara sederhana. Yup! Salah satu cara sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan merawat kulit tubuh.

Perawatan kulit tubuh sendiri juga banyak sekali macamnya, serta bisa dilakukan sendiri maupun via perawatan ke penyedia jasa kecantikan. Nah, disini, aku mau bahas nih tentang perawatan kulit tubuh yang dilakukan secara mandiri sebagai sarana me-time. Kali ini produk yang aku gunakan adalah serangkaian body care dari Scarlett Whitening! Antara lain: Scarlett Body Scrub Coffee Variant, Scarlett Shower Scrub Coffee Variant, dan Scarlett Fragrance Brightening Body Lotion Jolly Variant.

Tentang Scarlett Whitening:

Siapa sih yang ga tau Scarlett Whitening? Produk local brand milik Kak Felicya Angelista ini diluncurkan 2017 lalu. Wow! Sudah cukup lama ya sepak terjangnya. Hehe. Nah, yang menarik, produk ini menyasar ke berbagai lapisan kalangan masyarakat, dan sejujurnya ini pula lah yang mendasariku sangat bersemangat ketika mencoba serangkaian produk Scarlett.

Agustus lalu saat mengunjungi salah satu tempat perbelanjaan kecil di daerah di Jawa Timur, tidak sengaja melihat 2 orang perempuan sedang menimang dan membicarakan produk Scarlett, dan sepertinya sangat menarik. Dan setelah melihat (ternyata) banyak orang yang menggunakan produk tersebut, dengan rantai distribusi yang begitu luas dan menyasar berbagai lapisan masyarakat sebagai reseller, yang sudah barang tentu turut memutar roda perekonomian; aku semakin tertarik… ada apa sih dengan produk ini?

So yeah, “ada apa dengan produk ini?”

Packaging:

Dari 3 produk yang aku dapatkan, keseluruhannya dikemas menggunakan botol/wadah plastik dengan logo seperti ini:



Apa artinya?

PET/PETE/1 – Polyethylene Terephthalate atau bahasa gampangnya adalah polyester biasanya berwarna bening/jernih dan mampu menghalangi oksigen, air, dan karbon dioksida keluar atau masuk ke dalam kemasan. Jenis plastik ini bisa didaur ulang (re-cycle), namun tidak disarankan untuk dipakai kembali (re-use).

Untuk body scrubb, Scarlett menggunakan jar untuk produk 250 ml. sementara itu shower scrub menggunakan tipe tutup botol “flip” dan volumenya adalah 300 ml. sama dengan volume lotionnya, 300 ml juga, namun untuk botol lotion menggunakan tipe pumping dan sangat enak digunakan.

 

Product Details:

“Scarlett Whitening Body Scrub Coffee Variant”


Body Scrub varian Coffee ini, seperti namanya, dia beraroma kopi dan mengandung buliran seperti kopi juga (haha yaiyalah, kan varian “coffee”). Body scrub ini sudah mendapatkan izin BPOM dan non testing on animal, artinya dalam proses RnD dan manufakturnya, tidak ada pengujian yang dilakukan ke hewan. Hmmm nice!

Ketika dipakai, shower scrubnya cukup halus ya. Tapi meskipun demikian, body scrub ini tetap efektif membersihkan daki dan kotoran. PR nya adalah ketika nanti membilas, agak butuh banyak air agar benar-benar bersih. Nah, menurut pendapatku, aroma kopi ini sangat relaxing. Apalagi kita apply ke kulit tubuh kita prosesnya lumayan lama ya (dari ngolesin, ngegosok, dan ngebilas. Hehe). Nah, di part ini kita bisa menikmati waktu merawat diri sembari merasakan aroma yang menenangkan.

 


Untuk detil komposisinya ada di gambar di atas. Scarlett Whitening Body Scrub Coffee sendiri memiliki kandungan moisturizer dari gliserin dan tocopheryl acetate, serta dilengkapi zat antioksidan dari glutathione. Yang aku suka dari produk ini adalah, dia membantu buat melembapkan kulitku yang emang normal-kering. Nah, temen-temen bisa mendapatkan produk ini di marketplace resmi Scarlett Whitening atau di re-seller resminya dengan harga Rp.75.000 untuk kemasan 250ml!

“Scarlett Whitening Shower Scrub Coffee Variant”



Setelah “ritual” lulur selesai dilakukan, rasanya tidak afdhol jika tidak melanjutkannya dengan membersihkan seluruh anggota badan. Yup! Tersedia produk body shower Scarlett yang memiliki varian senada dengan body scrubnya. Sama dengan body scrub, shower scrub ini telah mengantongi izin BPOM dan non-animal tested. Shower scrub atau bahasa masyarakatnya adalah sabun mandi cair ini secara visual memiliki beads halus berwarna pink dan hijau. Nah, beads ini fungsinya untuk eksfoliasi dan cleanser juga.

Jika tadi body scrub nya memiliki aroma kopi yang kuat, di shower scrub ini aroma kopinya agak mendekati tiramisu, atau tidak sekuat aroma kopi body scrub. Meskipun demikian, wanginya sama-sama relaxing apalagi digunakannya setelah pulang kerja! Haha



Bicara soal komposisi, untuk body shower ini terdapat 3 highlight utama, yakni glutathione tocopheryl acetate sebagai moisturizer dan vitamin E, serta kolagen untuk menjaga elastisitas alami kulit. Untuk harganya, bisa dikatakan terjangkau. Karena body shower ini memiliki kemasan dengan volume 300 ml dan bisa didapatkan dengan harga Rp.75.000; sama seperti body scrub Scarlett, rekan-rekan bisa mendapatkannya di seller resmi Scarlett ya!

Nah, cara memakainya bisa dilakukan dengan beragam cara sesuai selera. Bisa langsung dituangkan di telapak tangan, atau memakai shower puff. Kalau aku prefer langsung pakai tangan karena bisa merasakan efek exfoliating dari beads lembutnya meskipun after taste nya masih ada rasa licin (tidak kesat) karena adanya kandungan moisturizer.

Hmmm… sensasi mandi yang menyenangkan dan menyegarkan! Setelah membersihkan kulit tubuh, tidak afdhol rasanya jika tidak “mengunci” kelembapan dan wanginya dengan ritual selanjutnya. Apa itu?

“Scarlett Fragance Brightening Body Lotion – Variant Jolly”



Sesuai judulnya: fragrance brightening; artinya dia ada fungsi ganda menjadi parfum dan mencerahkan kulit. Kalau ini terbukti sih, wangi variant Jolly kayak parfum mahal! Digadang-gadang mirip YSL (Yves Saint Laurent) Black Opium, kesan floral scented yang elegan terasa banget. Aroma body lotionnya juga cukup tahan lama. Pemakaian efektifnya dilakukan ketika kulit masih dalam kondisi lembab setelah mandi (belum kering-kering banget), dan mengolesnya jangan 2 arah karena akan lama terserap; jadi disarankan mengolesnya searah sambil dinikmati. Bener-bener mindfulness lah yaa!

Warna pink salem identik dengan produk ini. Setelah menggunakan, efek yang terasa adalah matte yang lembab. Untuk claim mencerahkan, aku tidak bisa memberikan testimoni karena kulitku agak sulit terkena efek brightening (sawo matang dari lahir). Tapi overall sejauh ini yang aku highlight setelah kurang lebih dua minggu pemakaian adalah warna kulitku lebih merata.

Kemasan body lotion yang berbentuk pumping sangat memudahkan untuk pemakaian. I really love it! Tinggal penyet-penyet dan langsung bisa di apply tanpa harus megangin botolnya (karena botolnya juga cukup besar sih). Body lotion ini nampaknya cocok untuk penggunaan ketika di rumah (bukan dalam kegiatan outdoor yang sering diharuskan berpindah tempat/moving activities) karena volumenya yang cukup banyak (300 ml). Sisi positifnya, tidak perlu sering-sering membeli body lotion karena untuk ukuran 300 ml relatif awet digunakan untuk pemakaian sehari-hari. Harganya Rp.75.000 juga! Ekonomis untuk ukuran body lotion dengan volume oke dan efek parfum mewah!



Untuk komposisi, highlight produk ini adalah glutathione + vitamin E sebagai agen moisturizer dan atioksidan, Kojic Acid sebagai agen whitening, dan niacinamide sebagai skin conditioning. Selain itu dari komposisinya juga dijumpai titanium dioxide yang berperan sebagai sunscreen untuk menangkal UV A dan UV B. Minusnya, disini belum disebutkan berapa nilai SPF nya. Sehingga mungkin untuk product development kedepannya bisa dikembangkan untuk klaim penangkal UV. Mengingat demand untuk sunscreen saat ini juga cukup tinggi (hmmm apakah ada kaitan dengan perubahan iklim? Gimana menurut teman-teman?)

Oh ya, produk ini juga sudah terdaftar di BPOM, non-animal tested, dan halal ya teman-teman. Jadi insya Allah aman digunakan untuk berbagai jenis kulit.

Jadi kesimpulannya?

Setelah pemakaian kurang lebih selama 2 minggu…

Untuk body scrub tidak ku pakai setiap hari ya… dianjurkan memakainya seminggu 1-2 kali, karena kalau lebih dari itu atau kalau keseringan, dikhawatirkan akan merusak lapisan luar kulit dan menjadikan kulit terasa kering . Dan untuk shower scrub/sabun mandi cair dan body lotionnya aku pakai setiap hari (am/pm).

Hasilnya? Kulitku lebih lembab dan warnanya lebih merata, meskipun kurang merasakan efek mencerahkan, tapi aku senang karena kulitku tampak lebih terawat dan sehat. Kuncinya telaten juga sih! Karena merawat kulit juga butuh waktu dan kesabaran.

Repurchase yes or no?



Untuk body scrub, kemungkinan besar “yes” karena aroma kopinya aku suka banget! Sooo relaxing. Untuk body shower, kemungkinannya masih fifty-fifty. Mungkin aku akan mencoba varian aroma yang lain. Daaan untuk body lotion, big yes! Aku suka banget karena efektif bikin kulitku lembab, kemasannya yang efisien (pumping), dan ukurannya yang jumbo… sehingga aku gak perlu sering-sering beli body lotion. Mengingat bagiku body lotion adalah kebutuhan primer (karena kulitku cenderung kering ya).

Nah itu dia kesimpulanku tentang produk body care scarlett varian kopi dan lotion jolly. Rangkaian produknya bisa jadi alternatif buat teman-teman yang mau menikmati me-time dikala weekend sambil merawat kecantikan kulit! Bagaimana? Tertarik mencoba?

Teman-teman bisa cek produknya di link ini: https://linktr.ee/scarlett_whitening atau bisa kunjungi toko resmi (reseller) yang menjual produk Scarlett untuk mendorong perputaran ekonomi masyarakat kita! 



Read More

Selasa, 02 November 2021

Bukan Hanya Sekadar Ambisi: Krisis Iklim di Depan Mata


Tidak terasa agenda Conference of Parties ke 26 (COP 26) sedang diselenggarakan di Glasgow, Britania Raya, ya! Anyway, Agustus 2021 lalu, atau lebih tepatnya 3 bulan yang lalu, Intergovernmental Panel on Climate Change atau yang lebih dikenal dengan IPCC mengeluarkan sebuah report statement yang tidak main-main: “Red-Code for Humanity”!

Apa itu?

Red Code for Humanity, atau diartikan “Kode Merah untuk Kemanusiaan” berkaitan dengan kondisi bumi dan krisis iklim yang makin memprihatinkan. Krisis iklim ini meluas, makin cepat, makin intensif, dan belum pernah disaksikan sebelumnya. Begitu cuplikan singkat dari assessment report IPCC.

Quotation IPCC (sc: IPCC twitter)

Mengapa kemudian disebut sebagai kode merah? Hematnya, manusia diambang kritis. Kenapa begitu?

15 Oktober lalu, Eco-Blogger Squad mengadakan online gathering yang dibersamai oleh YayasanMadani Berkelanjutan dengan pembicara Kak Anggi mengulas dan mendiskusikan terkait dengan hal ini.

Banyak fenomena alam dan sosial yang ternyata apabila ditarik benang merahnya, maka akan terhubung ke satu penyebab: krisis iklim.

Pernah tidak kita ngerasa suhu makin panas dan udara ga sesejuk dulu? Atau pernah mendengar berita banjir ada dimana-mana, tanah longsor, kekeringan, krisis air bersih, gagal panen?

berita kekeringan di Jawa Timur (sc: CNN)

Berita Kekeringan di Kota Samarinda (sc: CNN)


Kebayang enggak sih, kalau hal ini terjadi terus-menerus? Siapa yang terkena dampaknya? Sudah tentu kita, manusia yang akan merasakan dampaknya.

Suhu bumi yang meningkat akibat peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan termal yang dapat mempengaruhi sistem atmosfer dan menyebabkan “anomali” atau kondisi yang tidak normal (tidak seperti biasanya). Keadaan ini kemudian memicu banyak kejadian hidrometeorogis yang juga mempengaruhi sistem bumi secara keseluruhan.

Pada tahun 2015 diselenggarakan COP ke 21 di Paris, yang kemudian menghasilkan “Paris Agreement”. Dalam kesepakatan tersebut, kita semua harus bisa menjaga suhu bumi agar tidak mengalami kenaikan lebih dari 2 derajat celcius, bahkan harus kurang dari 1,5 derajat celcius. Implementasi Paris Agreement memerlukan transformasi ekonomi dan sosial serta dukungan dari ilmu pengetahuan dan riset aktual. Paris Agreement bekerja dalam 5-years cycle untuk meningkatkan ambisi aksi iklim negara-negara di dunia. Di tahun 2020, negara-negara yang terlibat men-submit rencana mereka terkait dengan aksi iklim yang kemudian dikenal sebagai nationally determined contributions (NDCs)

Masalahnya yang terjadi saat ini adalah krisis iklim yang sangat cepat dan seperti tidak kenal kompromi. Sejak pre-revolusi industri hingga saat ini, suhu bumi telah meningkat sebesar 1,1 derajat celcius, dan 2.400 miliar ton CO2 yang dikeluarkan manusia hingga saat ini. Dengan hitungan rata-rata manusia mengeluarkan 40 miliar ton/tahun CO2, maka hanya ada peluang 50:50 untuk tetap bertahan di angka 1,5 derajat celcius!


Grafik perubahan suhu permukaan global tahun 1850-1900 (sc: IPCC report)

Gambar diatas menunjukkan bahwa terdapat kenaikan signifikan suhu permukaan global secara rata-rata. Apa yang terjadi jika kita tidak bisa menjaganya untuk tetap dibawah 1,5 derajat celcius?

Bayangkan, kenaikan suhu rata-rata permukaan bumi sebesar 0,1 derajat celcius saja sudah bikin banyak kondisi tidak nyaman: bencana, gagal panen, masalah kesehatan, dan lainnya. Apa kabar jika suhunya meningkat lebih dari itu?

Berdasarkan laporan IPCC, pengaruh manusia adalah "sangat mungkin" (90%) pendorong utama berkurangnya gletser global sejak 1990-an dan penurunan es di laut Arktik. Oleh sebab itu, perlu AMBISI besar untuk menjaga bumi dan agar krisis iklim tidak makin parah 😊

BUKAN SEKADAR AMBISI:

Jika hanya ambisi, siapapun pasti memiliki. Namun, bisakah kita BERGERAK tidak hanya sekadar ambisi tetapi juga kesadaran diri dan niat tulus untuk menjaga bumi?

Pemerintah dan lembaga besar dunia saat ini memang sudah gencar mengupayakan planet berkelanjutan dan memitigasi risiko krisis iklim, beberapa contohnya adalah dengan menerapkan energi terbarukan, perluasan green job sectors, pendanaan hijau, maupun mendorong perusahaan untuk menerapkan ESG. Namun hal ini tidak akan cukup apabila kita semua tidak memiliki ambisi untuk bergerak.

Ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menjaga bumi dari mimpi buruk krisis iklim yang semakin menghantui. Beberapa hal sederhana tersebut diantaranya:

  1. Habiskan makanan! Sisa makanan maupun bahan makanan ternyata dapat menjadi salah satu pemicu krisis iklim. Daripada terbuang banyak, tidak ada salahnya kan menghabiskan makanan yang sudah kita ambil? Sampah organik di dapur pun bisa jadi bahan untuk kompos kan? Hihi
  2. Diet kantong plastik! Sebisa mungkin, ketika berbelanja atau membawa sesuatu, hindari penggunaan kantong plastik. Akan lebih bijak jika kita kemana-mana bawa tas/wadah yang bisa digunakan berkali-kali untuk mengurangi sampah plastik!
  3.  #CerdasBerpakaian. Kenali, pakaian kita asalnya dari mana, apakah bahan yang digunakan terbuat dari bahan yang mudah terurai, atau malah dari mikroplastik yang butuh waktu lama untuk terurai? Selain itu, penerapan slow fashion juga tidak ada salahnya. Tidak sering-sering membeli baju selain untuk menghemat, tetapi juga bisa untuk menjaga lingkungan loh!
  4. Hidup dengan mindfulness. Mengamati alam sekitar dan menciptakan kesadaran bahwa kita adalah bagian dari alam itu sendiri; secara tidak langsung kita akan mulai tergerak untuk menjaga alam, sesederhana jalan kaki untuk menuju tempat dengan jarak yang tidak jauh, menggunakan kendaraan umum, dan hemat energi.
  5. YUK BERISIK! Sampaikan “kengerian” ini ke sekitar! Pastikan kita semua sadar dan tergerak karena isu iklim bukan hanya isu kelas pejabat, tapi semua dari kita juga terlibat dan terdampak.

Terakhir, jangan lelah menjaga diri kita dan tempat tinggal kita satu-satunya: bumi.

Yuk share, kira-kira apa kekhawatiranmu jika krisis iklim semakin parah, dan apa yang akan kamu lakukan untuk mengurangi dampaknya? Bisa ditulis di kolom komentar yaa, siapa tau menjadi inspirasi bagi yang lain. Hihihi

Read More

Senin, 16 Agustus 2021

Mengenal Paludikultur dan Pengelolaan Ekosistem Berkelanjutan di Lahan Gambut

Haloha! pernah dengar tentang lahan gambut kan? pasti pernah dong ya. Bukan hanya orang yang menekuni bidang lingkungan saja yang familiar dengan lahan gambut, namun hampir semua kalangan masyarakat kita pasti sudah tidak asing dengan istilah "lahan gambut".

Apa sih yang ada di benak kita saat mendengar istilah "lahan gambut"? 

tanah yang gembur dan empuk? sering terjadi kebakaran di sana? ada di Sumatera dan Kalimantan? dan masih banyak lagi.

menurut pantaugambut.id, Gambut merupakan lahan basah yang terbentuk dari timbunan materi organik yang berasal dari sisa-sisa pohon, tetumbuhan termasuk rumput dan lumut, juga jasad hewan yang membusuk. Timbunan tersebut menumpuk selama ribuan tahun hingga membentuk endapan yang tebal. Pada umumnya, gambut ditemukan di area genangan air, seperti rawa, cekungan antara sungai, maupun daerah pesisir.

di dunia, lahan gambut mencakup areal seluas kurang lebih 400 juta ha, menyimpan lebih dari 500 milyar ton karbon daratan, 10% areal lahan gambut tersebut berada di wilayah tropis dan menyimpan sekitar 191 milyar ton karbon (Wibowo, A, 2009). Lahan gambut memiliki sifat "porous" sehingga mampu menyimpan air dalam jumlah besar; oleh sebab itu pula, lahan gambut dijuluki sebagai "Pengatur Tata Air yang Baik", wah keren banget gak tuh? 

Apa implifikasi penyimpan air yang baik? dalam keadaan jenuh, lahan gambut dapat mengandung air 450-850% dari berat keringnya, atau sekitar 90% dari volumenya. oleh sebab itu lahan gambut memiliki kemampuan untuk berfungsi sebagai reservoir air tawar dan dapat berfungsi sebagai pencegah banjir di kala musim hujan maupun melepaskan air pada saat musim kemarau untuk mencegah kekeringan.

di Indonesia sendiri, luasan lahan gambut belum bisa dipastikan jumlah totalnya. Namun pada 1992 Balitbang Pertanian - Pusat Penelitian Tanah Bogor memprakirakan bahwa di Indonesia terdapat sekitar 15,4 juta hektar lahan gambut, yang menduduki peringkat 4 lahan gambut terluas di dunia, setelah Kanada, Rusia, dan Amerika Serikat. wuuhhh mantap djiwa sekali!

ilustrasi lahan gambut bawah permukaan: warna coklat tua (Source: pantaugambut.id)

lahan gambut dilihat di permukaan (source: WRI Indonesia)



kalau dilihat sekilas dari gambar di atas, berasa di lahan gambut ini banyak banget biodiversitasnya ya? dan terkesan seperti hutan! Yupp! karena demikian, terapat beberapa jenis flora dan fauna khas penciri lahan gambut yang tidak ditemukan di landskap/hamparan ekosistem lainnya.

masih dari data yang dihimpun oleh pantaugambut.id, dari 258.650 spesies pohon tinggi yang tercatat di dunia, 13%-15% terdapat di lahan gambut Indonesia, yaitu sekitar 35-40 ribu spesies pohon tinggi. 

Selain fauna, terdapat pula sebaran flora di lahan gambut, yaitu 35 spesies mamalia, 150 spesies burung, dan 34 spesies ikan. Beberapa fauna merupakan spesies endemik dan dilindungi International Union for Conservation of Nature (IUNC) yang masuk ke dalam Red List IUNC, seperti buaya senyulong, langur, orang utan, harimau Sumatera, beruang madu, dan macan dahan. Spesies-spesies itu kini mulai terancam dan keberadaannya makin sedikit.

Langur/monyet daun/Trachypithecus auratus (Sc: TIMES)
Senyulong/Buaya Sapit/Tomistoma schlegelii (sc: Wikipedia)
Macan dahan/Neofalis diardii (sc: Wikipedia)


Selain fauna yang beranekaragam, di lahan gambut juga terdapat beberapa jenis flora/tetumbuhan yang dapat dimanfaatkan masyarakat di sekitarnya sebagai upaya sustainable livelihood atau penghidupan berkelanjutan. 

Mungkin banyak masyarakat kita yang masih menganggap bahwa banyak tanaman yang susah dibudidayakan di lahan gambut karena lahannya yang selalu basah, sementara tanaman-tanaman yang memiliki nilai ekonomi pada umumnya merupakan tanaman lahan kering (seperti karet, sengon, kelengkeng, dan lain-lain). 
agroforestry karet dan nenas (sc: Mongabay)

Nah, karena beberapa tanaman budidaya yang bisa ditanam di lahan gambut memerlukan teknik pengeringan, maka hal itu bisa berdampak bagi keberlanjutan lahan gambut. Mengapa? Lahan gambut pada "nature" nya selalu basah, apabila dikeringkan, maka akan membuat regenerasi biomasanya berkurang, sehingga tidak menghasilkan siklus yang berkelanjutan. 

Ada satu istilah yang digunakan untuk budidaya pertanian lahan gambut, yaitu sistem  paludikultur. Paludikultur itu sendiri diartikan sebagai pemanfaatan lahan rawa gambut dan gambut yang dibasahi kembali secara produktif, yang dilakukan dengan cara menyimpan karbon stok dalam jangka waktu yang panjang, dengan mempertahankan tinggi muka air tanah sepanjang tahun. 

Sistem ini dikenal pula sebagai sistem "tanpa drainase". Berbeda dengan ketika ditanami karet/kopi (liberika)/kakao dan semacamnya yang memerlukan drainase, di sistem paludikultur, sejatinya kita kembali lagi ke "apa yang disediakan oleh alam".

yep, SAGU dan PURUN.

pohon sagu (sc: Agrotek.id)
tanaman purun (sc: wikipedia)


Dua tanaman ini merupakan tanaman yang bisa hidup dengan baik di habitat alami lahan gambut. Sagu dikenal sebagai bahan makanan pokok, sementara tanaman purun dimanfaatkan sebagai salah satu bahan kerajinan (anyaman). 

olahan sagu (sc: twitter.com/KelanaRasa)

berbagai kriya anyaman purun (sc: shopee)

Pemanfaatan sumberdaya lokal menjadi salah satu alternatif dalam pelestarian lingkungan secara berkelanjutan. selain memberikan dampak ekologis yang baik, pemanfaatan sumberdaya lokal juga dapat mendorong perekonomian berkelanjutan.

Tidak hanya tanaman, hewan pun juga harus dilindungi agar tidak membawa dampak yang buruk bagi ekosistem (melalui rantai makanan). Karena apabila rantai makanan tidak seimbang, maka alam akan "kolaps" dan berdampak ke kehidupan manusia.

Pada awal Agustus 2021 lalu, #EcoBloggerSquad menerima materi terkait perlindungan fauna di Lahan Gambut. materi ini disampaikan oleh Kak Ola Abas dari Pantau Gambut ID dan Ibu Herlina Agustin dari Pusat Studi Komunikasi Lingkungan Universitas Padjajaran.

dalam kesempatan itu dipaparkan mengenai pelestarian fauna di lahan gambut. Beberapa kendala dalam pelestariannya adalah: perburuan liar, perburuan, perdagangan, invasi spesies, dan rekayasa genetika. Hal ini menjadi PR tersendiri untuk kita bisa menjaga dan melindungi biodiversitas yang ada. salah satunya adalah melalui edukasi.

dengan edukasi, harapannya banyak wawasan dan pengetahuan baru yang tersalurkan kepada masyarakat luas, sehingga kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan kian meningkat, dan mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. 
Read More