environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Jumat, 25 Desember 2015

Menyoal Jalanan

credit : s3.amazonews.com
Saya akan menceritakan sesuatu hal dan membagikan unek - unek saya yang absurd ini perihal jalanan. Terlepas dari pengalaman pribadi atau hasil tukar pikiran dengan teman - teman saya.

Futuha (19) dan Hari (20), kami memiliki hobby yang sama, bersepeda dan membaca. Walaupun hobby utama kami sangat - sangat berbeda, saya suka menulis dan membuat cerita, dia komikus dan pemain musik, biola lebih tepatnya. Suatu hari kami berjalan kaki mengelilingi area Malioboro, penghujung selepas maghrib, usai mencari buku Marx di Shopping Book Center. Kami mendapati hal - hal yang umum didapati bagi orang yang pernah atau tinggal di Jogja, Macet. Jalanan ramai, apalagi di sekitar area wisata. Sangat tidak nyaman untuk pejalan kaki. Sebelumnya, karena hal inilah, Saya (19), Fadhil (20) dan Aditya (18) menelurkan paper perihal solusi kemacetan yang dialami oleh Jogja, khususnya untuk area wisata dan (alhamdulillah) lolos seleksi untuk dipublikasikan pada acara Indonesian Scholar International Convention (ISIC) 2015 di Kings College London, Oktober 2015. Karena beberapa persoalan, sebut saja birocrazy, kami belum berkesempatan untuk berangkat ke London (Tapi semoga impian kami untuk #NgopidiLondon bisa terwujud, aamiin).

Balik lagi ke persoalan awal, Jadi, ceritanya, selain mendapati kemacetan dan crowded yang menyebabkan discomfortable index wisatawan meningkat, kami juga mendapati ketidaktertiban pengguna jalan. Tau trotoar kan? Tau fungsi trotoar kan? Itulah yang menjadi sorotan utama kami, selain kemacetan, crowded jalanan, polusi dan tetekbengeknya. Malfunctioned trotoar, lebih enak gitu kali ya.. hehe. Pukul 19.30 saya dikejutkan dengan 3 bocah yang berboncengan menggunakan motor terjatuh tepat 2 meter didepan saya karena menghindari tumpukan gerobak di trotoar. Adeknya tidak memakai helm. Kaget kan akhirnya. Saya dan Hari hendak menolong, tapi entah karena gengsi atau apalah, adek - adek (yang mungkin berusia 13 - 15 tahun) langsung bangun dan menaiki motor mereka kembali. Cenglu! tanpa helm! masih bocah! piye jal perasaanmu?!

Sebenarnya, kalo misal nih ya, dilogika saja, jika trotoar oke, ada tetumbuhan, kursi jalanan, tidak ditumbuhi PKL dan dalam kondisi yang bersih, sampingnya disediakan lajur sepeda dengan peraturan tidak diperbolehkan kendaraan bermotor melewati lajur tersebut, waaah pasti asik tuh jalanan dipake buat jalan. Hm. sayangnya, kalo pengen kayak gitu, kayanya butuh waktu yang lama dan regulasi yang tidak gampang. Mindset pengen yang instan sepertinya masih menjadi candu di masyarakat kita, makanya pada gamau antre, lajur sepeda dipake buat kendaraan bermotor, trotoar dibuat jualan dan lahan parkir. Kalo masalah jualan, kami meyakini, uang negara banyak, bahkan di akhir tahun pun "kelebihannya" dihambur - hamburkan dengan mengadakan acara - acara tertentu supaya anggaran dana bisa ter-make-up dengan baik, mengadakan seminar atau pelatihan gratis dan pulang - pulang pesertanya pada bawa pesangon uang transport sebesar 200k, jaket a**i, tempat penyelenggaraan di hotel mewah dlsb dlsb. Wat de -____- duit itu, kalo manajerialnya baik, pengaturannya baik, gabakal deh ada ceritanya masyarakat tak terfasilitasi. Ah itu bukan bidang saya ya, hihi. Maafkan, ini hanya unek - unek saya yang saya perbincangkan kemaren dengan Hari. Agak berat memang bahasnya, tapi yaa sekedar share pemikiran aja.

PKL sejatinya bisa terfasilitasi dengan tempat yang lebih layak, tentu bukan jalanan. Sek, saya kasih pertanyaan. Tau ga berapa timbal yang terlepas di jalanan akibat ban motor dan polusi udara kendaraan bermotor? Tau ga timbal itu kemana aja? Bro, sis, tidak menutup kemungkinan, logam - logam berat itu menclok ke makanan yang dijual disamping jalanan, kita beli lalu masuk kedalam perut kita, menuju sistem aliran darah, dan yaa you know lah akibatnya gimana ._. Andai kata, temen2 PKL terfasilitasi di tempat yang lebih layak, tentu akan banyak sekali keuntungan yang didapatkan, mulai dari kenyamanan, kebersihan, dan lain sebagainya. Ini harapan sih. 

LAGI.
Beberapa hari yang lalu, saya dan Yanti (21), pergi ke Sekaten, Sebut saja jomblo - jomblo kemayu lagi mengisi malam minggu. Kami berangkat pukul 20.05. sampai sana, saking macetnya, baru nyampe pukul 21.10, bagi yang mengunjungi Sekaten pasti tau, sepanjang jalan depan BI dan sebelah selatan alun - alun utara, seperti apa kondisinya? Edyan bianget. Motor ki akeh tenan, gur parkir nang pinggir dalan, dikiro ga ono wong sing butuh mlaku po? yah, intinya itu. Memang sih kalo dari segi ekonomi masyarakat, penghasilan masyarakat lokal akan bertambah pada saat momentum sekaten dengan menjadi tukang parkir, Retribusinya Rp.5000; bray per motor, bayangkan ada berapa ratus ribu motor yang silih berganti mengunjungi Sekaten setiap harinya per periode? Okelah, its okay, yang ga oke itu, JALANANNYA DIPAKE PARKIR, GA ADA RUANG BUAT PEJALAN KAKI. Thats why, itulah permasalahannya; Nampaknya ruang terbuka akan sangat sulit ditemui pada kota - kota kita saat ini, hanya pembangunan, pembangunan, dan pembangunan yang berorientasi komersial. Cah, kita ini yo bayar pajak lo, setidaknya ada effort lah. 

Btw, ini unek - unek random, ketidakjelasan saya. 


Read More

Senin, 14 Desember 2015

Pinus dalam Sebuah Retorika #2

...Di rumah, bayi monsterku sudah menunggu. Sepertinya dia kehausan. Oiya, kami akan nge-teh bersama. 

***
Jalanan masih basah, hujan belum kunjung berhenti. Aku sangat menyukai suasana hujan, tapi aku tidak menyukai hujan. Suasana hujan jauh membuat nuansa lebih romantis dari biasanya, namun karena hujan, aku basah. Kedinginan. Kelu. Pernah mendengar cerita tentang hujan dan teduh? Hujan dan teduh tidak akan pernah bertemu sekalipun mereka saling merindu dan dirindu. Belum pernah mendengar ceritanya, ya? Baiklah, nanti akan ku ceritakan saat berdua di depan teras menghirup segarnya aroma teh hijau. Tiga bocah kecil ini terus mengikutiku dari belakang, mereka tak berpayung, katanya hujan akan membersihkan debu di tubuh mereka.

Lothestoft Street XIA 346

Aku tidak mendengar jeritan atau suara apapun dari luar rumah, perlahan aku membuka pintu, menoleh kanan - kiri mencari bayi monsterku, tiga bocah itu menunggu di luar, katanya mereka takut mengotori lantai. Aahh apalah ini, lantai kotor bisa dibersihkan, sementara prasangka kotor akan susah dihilangkan. Sesegera mungkin aku menyuruhnya masuk ke dalam, memberinya handuk dan kemudian memberi mereka kecupan, masing - masing mendarat di kening. Bayi monsterku ternyata masih tidur! di sampingnya ada beberapa mainan dinosaurus, aku sering mendongeng tentang dinosaurus, besar namun akhirnya mati juga. Kadangkala dinosaurus layaknya juga revolusi industri. Tau mengapa? Akan ku ceritakan nanti. Kemarilah, bersamaku nanti otakmu tak akan pernah kosong, rumah ku terbuat dari rak pustaka, karena bayiku sangat menyukainya. 

Dapurku di dekat ruang makan, di sebelah kanan perapian. Isinya macam - macam, tidak memiliki lemari pendingin, namun di dapurku ada suatu balok kayu berlapis yang diantara lapisan didalamnya berisi pasir, sensor pendingin ter-stel otomatis. Beberapa hari yang lalu bayi monsterku baru saja menyelesaikannya. Dia sangat tertarik terhadap teknologi. 5 buah gelas kaca diatas meja, aku mengambil 2 sendok teh gula masing - masing untuk 5 gelas itu, menyeduhnya dengan air panas, lalu menyelupkan teh kantong kedalamnya. Ada rahasia besar ketika meminum teh bersama, yang pertama : kehangatan, sekalipun teh itu sudah hangat, namun ketika diminum bersama dia akan jauh lebih hangat lagi. Yang kedua : cinta, segelas teh yang dibuat dengan cinta akan menyalurkan cinta ke si peminumnya. Percayalah padaku. Yang ketiga : Senyuman. Tolong percaya padaku bahwa ketika kita diberi sesuatu dengan senyuman, maka akan kita balas pula dengan senyuman. Dan taukah? Tidak ada senyuman yang lebih hangat selain senyuman yang tercipta dari rasa cinta dan ketulusan. Segelas teh memilikinya!

Di sebuah rak, aku meletakkan kue - kue kering yang aku buat bersama bayi monsterku dua hari yang lalu. Terbuat dari cokelat, gandum, madu dan susu. Bentuknya bulat, bukan digoreng atau dikukus, namun dipanggang. Aku yakin, ketiga bocah itu akan sangat menyukainya, meskipun daritadi aku hanya membiarkan mereka melongo di kursi ruang tamu.

"Silakan!" kataku. "Horeee!! teh dan kue!" teriak mereka. "Hush, jangan keras - keras, bayiku masih tidur". Mereka terdiam, tersenyum sambil menyenggukkan kepala. Aku sesenggukan. Haru, rindu. Entahlah, wajah polos anak - anak memang tiada tara membagi kebahagiaan.

"Rumah ibu monster kecil, ya?"
Salah satu dari mereka akhirnya membuka mulut kembali. 

...bersambung...

Read More

Sabtu, 12 Desember 2015

Pinus dalam Sebuah Retorika #1

"Menulislah untuk dirimu sendiri." Kata Dewi Lestari.

Oke, kenalkan, aku akan menyamar. Bukan, ini adalah aku. Namaku Eva, induk dari monster. Konon, Eva merupakan plesetan nama dari kata "Evil". Tapi karena mungkin aku adalah perempuan, jadilah nama Eva. Walaupun sebenarnya aku meragukan keperempuananku. Hanya saja, seperti yang ku bilang tadi, aku adalah induk dari monster. Kesimpulannya? Induk ; Perempuan. Baiklah, aku adalah induk monster, bisa membayangkan monster seperti apa? Jadi, jika tidak ingin tersakiti, jangan pernah dekat atau berteman denganku.

Beberapa hari yang lalu aku berjalan sendirian, mendeteng tas berisi laptop dan seperangkat alat tulis lainnya. Sendirian, sangat sendirian dan mungkin merasa kesepian. Aku menyusuri hiruk pikuk kota kecil ini, bertemu gelandangan, sesekali aku cekikikan bersama mereka tanpa memberikan sekeping koin pun. Jahat ya? Yaa.. memang begitulah. Hingga sampailah aku pada sebuah kafe bernama Moratella. Sekilas kafe itu tampak menyenangkan. Maksudku, bangunan dengan nuansa klasik dipadupadankan dengan pohon palm. Menyenangkan sekali, bukan? Segera aku memasuki kafe itu. Beberapa pelayan langsung menghampiriku, menyiapkan dua kursi besar untukku, karena satu kursi saja tidak akan muat. Aku meminta satu kursi lagi, kataku : Nanti kalau sahabatku datang, biarkan dia duduk disini, menikmati kopinya sambil menelan kepahitan : betapa pahitnya dia di dekatku, bisikku lirih menyatakan kalimat yang terakhir. 

Sembari menekan tuts atau entahlah apa namanya, keyboard atau tetekbengeknya, secangkir kopi telah berada di depanku. Raut muka ku masih datar saja, tampaknya pelayan kafe itu muak denganku. Ah biarkan, aku mencoba bermasabodo dan menikmati kopi. Beberapa menit kemudian, Anggi. Sebut saja demikian, dia adalah salah satu spesies non-monster, tidak sepertiku, Anggi adalah perempuan berhati malaikat, versiku. Semua yang dikatakan olehnya penuh kebijaksanaan, berbanding terbalik denganku yang selalu salah dalam bertindak dan membuat keputusan - versi beberapa orang.

Anggi bercerita kepadaku tentang angsa nya yang mulai tumbuh dewasa, beberapa diantaranya meminta segera dinikahkan. Bayangkan! Ah aku sendiri tidak pernah bisa membayangkan bagaimana angsa - angsa itu bisa tukar cincin dan mengenakan gaun pengantin. Aku tetap saja menikmati kopi, tanpa peduli keberadaan siapapun di sekelilingku. Termasuk Anggi yang awalnya ku tunggu - tunggu. Kali ini aku merasa dalam serdadu sepi, sangat sepi. Tidak merasakan keberadaan orang, bahkan angin pun enggan menerpaku. 

Aku mulai bosan, Anggi meninggalkanku begitu saja. Salahku memang, tidak mengindahkan keberadannya. Tapi dia juga goblok, mau - mau nya berteman dengan monster jahat sepertiku, sekalipun Anggi tidak akan pernah berkata di depanku bahwa aku pun sebenarnya sangat goblok. Menjadi induk monster dan berpura - pura tidak mengerti keadaan, tidak tahu diri, buruk rupa, buruk tindakan. Entahlah. Aku selalu percaya bahwa Anggi tak akan pernah mengatakan itu. 

Hujan mulai turun, menjadi stemflow pada pohon - pohon palm, aku bisa memandanginya dari dalam Moratella melalui jendela. Tiba - tiba ada kusir datang dari arah barat daya, kereta kuda nya tertutup rapi. Maklum saja, hari ini hujan. Aku mencoba memaklumi, seseorang yang ada di dalamnya, pasti akan kedinginan jika kereta itu terbuka. Pesakitan, kali ini bukan kesepian yang aku rasakan, tapi pesakitan, sangat sakit. Meskipun tidak tau penyebabnya apa. Syracuse, sebuah koloni Yunani di Pulau Sicilia. Pada masanya, mencari orang dengan logika handal untuk memenuhi kebutuhan pasar dengan berbicara secara persuatif. Aku tidak tau apakah perkiraanku ini benar. Namun Syracuse tidak ada pada abad 23. Dia hanya berada singkat di tahun 427 sebelum masehi. 

Baiklah, abaikan pemikiran randomku. Payung hitam mulai mekar, entah kenapa, warna hitam adalah warna yang paling cocok untukku, terbebas entah material penyusunnya dari hematit ataupun bitownit. Ah, ada - ada saja, betapa berat payung yang berbahan itu...

Sesegera mungkin aku menapaki jalanan. Sebuah sistem jalan metropop - demikian aku menyebutnya. Bukan karena sisi feminisme-seksi-cerdas-nan menggoda, bukan itu. Sebut saja ini sistem jalan yang mawut. Harusnya aku bisa berjalan dengan aman dan tenang di trotoar sebelah kiri, namun nyatanya, trotoar ini penuh lapak dagangan, bukan masalah pendapatan penghasilan atau bagaimana, tapi masalah penempatan. Ya, kali ini aku mempermasalahkannya. Bayangkan jika jalanan itu memiliki trotoar yang bersih, dengan lampu yang berkelip mesra ditambah beberapa pepohonan dan kursi - kursi disekitarnya. Pasti menyenangkan. Di sebelah kanan trotoar ada jalur khusus sepeda, tanpa hambatan, tanpa parkir morat - marit di sepanjang toko samping jalan. Betapa eksotisnya jalanan, akan banyak yang meninggalkan kendaraan bermotornya kemudian turut serta berjalan ataupun menggunakan sepeda, setidaknya untuk jarak yang relatif dekat, 2 km misalnya. Tidak boros, hemat energi, dan yang jelas tidak mengganggu kesehatan orang banyak. Bayangkan asap kendaraan yang dikeluarkan setiap berpindah tempat walaupun dekat, berapa emisi karbon yang dihasilkan, berapa ban motor yang bergesekan dengan jalanan lalu lepaslah Pb di area jalan kemudian dihempaskan oleh surface runoff, masuk ke dalam sistem irigasi kemudian terinfiltrasi ke dalam sistem airtanah? Udara kita hirup, airtanah kita minum! Ah, nampaknya monster ini terlalu memimpikan hal yang cukup mustahil di kota kecilnya. 

Kali ini aku tetap berjalan, melihat sosok - sosok kecil pengamen jalanan tanpa alas kaki. Mereka tak ketakutan melihatku, justru menghampiri. Mereka bernyanyi di depanku "Ibu monster yang cantik rupa, kasihanilah kami, kami berdendang untuk ibu, kami menari untuk ibu, diiringi rintik hujan dan daun berguguran" begitu kurang lebih syairnya. Aku tertawa puas, merasa terhibur, kemudian mengajak mereka berjalan bersamaku, "hai adik - adik kecil yang manis... Ikutlah bersama ibu monster, nanti kita makan kue dan minum teh bersama.". "Horeee!!" sahut mereka.

Di rumah, bayi monsterku sudah menunggu. Sepertinya dia kehausan. Oiya, kami akan nge-teh bersama. 

... bersambung ...
Read More

Senin, 23 November 2015

Hidup Minus 19


Lama ya tak meng-go-blok di blog. Hehe. Hari ini, secara demografi, usia saya pas 19 tahun. Udah 18+, kata Elmo berarti udah bisa lihat *tiiiit* hahay, abaikan :v

Alhamdulillah, masih diberi kesempatan hidup. Masih bisa ngebully orang (atau dibully orang *ups. Yaa intinya Tuhan memberi kesempatan waktu untuk memperbaiki diri. Hari ini timeline saya ramai, setiap ketemu orang hampir semua berjabat tangan. Mendapat sms dini hari dari ayahanda tercinta diiringi serangkaian doa tentunya menjadi semangat pagi dalam hidup yang berseri - seri.

Doa dari teman - teman dan kerabat bermacam - macam, ada yang mendoakan panjang umur, kebahagiaan, kesehatan, kesejahteraan, jodoh (?), karir, pendidikan dan hal - hal baik lainnya. Terimakasih atas semua doa yang diberikan. Barakallahu Fiik.

Tadi sore, ga nyangka bakal ada roti cokelat dengan lilin angka 19 dibawa oleh Mamah Uni dan Mbak Arina (sekretaris GSC) pas rapat PH-GSC. Surprisingly, much waw. Terima kasih teman - teman GSC dan organisasi yang lain.. :) Pas pulang ada cupcake strawberry di depan kamar kos, haha. ada doanya: "Makin putih, makin mancung, makin dewasa tapi jangan tua" dari Elmo. Ulalaaaa. Habis itu keluar gerbang kos ada yang udah nenteng kado isinya buku, Judulnya "PRIBADI HEBAT" karya Buya Hamka. Alhamdulillah, hari ini banyak rejeki. Emang rejekinya anak sholeh. Hehe :v

Sebenarnya ada banyak cerita dan pelajaran selama saya menghabiskan umur ke-18 ini, menginjak 19, tentu akan semakin banyak tantangan dan peluang yang dihadapi. Semoga menjadi lebih baik. Saya pengen nulisin pelajaran, cerita dan hikmah ketika saya ngabisin umur 18 kemaren, tapi sekarang lagi capek. Mungkin nanti kalo selo. FYI, bulan ini saya megang 3 event besar dan semuanya skala nasional. Edan jadinya, yaudah deh jalanin jhaa :v

Terima kasih buat semuanya, semua orang yang telah masuk dalam lembar - lembar cerita kehidupan saya, tampaknya buku saya tidak akan menebal tanpa kalian. Beberapa ada yang terbingkai. Tapi, yang istimewa bukan untuk dipublikasikan :) Hehe. Semangat ya!

*Semangat perbaikan juga, semoga kita segera dipersatukan #eehh
Read More

Minggu, 11 Oktober 2015

8 Bulan dengan 12 yang Berkesan : Sepenggal cerita PIG

"Hapus semua dendam, Hilangkan semua prasangka, kemudian terbanglah kemanapun engkau mau tanpa beban~"

Tidak terasa, delapan bulan kami menjalani amanah ini~
Flashback! Jika normalnya seorang anak terlahir ketika bulan ke-8, perumpamaan, saya ini abnormal lahir di divisi PIG (Pengkajian Isu Global, EGSA). Ketika teman - teman telah melakukan sesi pendaftaran dan wawancara, saya masih asyik "mbolang" dan kemudian terakhir mendaftar itupun sudah lewat batas pendaftaran, bahkan yang mewawancarai sampai datang ke - kosan. Hingga pada suatu hari pengumuman terpasang, Oh nama saya ada di kepengurusan EGSA rupanya. di Divisi Pengkajian Isu Global. Syukur. senang, sedih, khawatir, bangga, entah apapunlah yang bercampur menjadi satu. Tidak bisa dijelaskan. Antara awang - awang nyemplung organisasi HMJ dengan rutinitas perkuliahan yang begitu padat, dua organisasi lain yang telah saya ambil (saat itu, semester 1 saya masih 3 organisasi). Rasanya mikir - mikir tidak jelas. Takut kalau tidak bisa memanagemen diri, takut ini takut itu. Gaje lah! 

Pada postingan saya delapan bulan yang lalu, saya memposting tentang AD/ART EGSA, saat ini saya akan memposting tentang kesan saya selama 8 bulan bersama EGSA khususnya PIG *ini nulis pasca ETT yak haha*.

Delapan bulan. Bukan waktu yang singkat, bukan waktu yang mudah dilewati begitu saja, juga bukan waktu yang terbuang sia -sia. Delapan bulan bersama sosok - sosok yang luar biasa : Mamah Naisa Aqila selaku koordinator divisi, Mbak Sintha Prameswari Santosa, Mbak Hira Delta Saputri, Mas Galih Dwi Jayanto, Mas Muhammad Fariq, Reinaldy Pratama Putra, Tatak Puji Wahyudi, Kurniawan Andre Cahyono, Atik Fauzia, Tania Dewanti, Melati Ayuning Putri.

Kemarin, dilakukan ETT (Evaluasi Tengah Tahun) kepengurusan EGSA. Bukan tengah tahun pas sih... tapi lebih 2 bulan haha :D Yang kita lakukan adalah mengevaluasi kinerja selama kita bersama *ciyeee* *puter -puter* haha. yaa intinya itu. Spesialnya, di acara ETT EGSA kali ini, panitia dari divisi PKO mendatangkan seseorang yang Futuha ga pernah sangka bakal ketemu dan tatap mata secara langsung. Yaps, Birrul Qodriyyah. Mahasiswa Berprestasi UGM 2013, dan bejibun inspiratif lainnya. Pwwrrrrrrr..... SO WAW!!!! intinya so waw! susah diungkapin, apalagi untuk seukuran orang yang udah lama nge-fans dan nge-kepo-in. Pokoknya meledak - ledak deh! *alay mode on*

Ada aura yang luar biasa yang saya tangkap dari Mbak Birrul. Bukan karena beliau mapres atau telah mendapatkan ratusan penghargaan lainnya. Bukan, melainkan karena hal - hal yang telah banyak beliau lakukan untuk orang lain, untuk lingkungannya, untuk keluarganya, pokoknya banyak. Hm, sudah dibilang, susah diungkap. Terimakasih PKO sudah mendatangkan Mba Birrul yang juga bisa me-recharge semangat kami untuk bisa memaksimalkan kontribusi dan pengabdian di dalam sebuah organisasi namun juga harus tetap prestatif. Dari mba Birrul ini, saya ingin sekali menuliskan suatu hal yang berjudul "Jangan jadi Perempuan yang Biasa - Biasa saja". Tapi rasanya saya malu sendiri. Memangnya saya siapa? telah melakukan apa? Tidak pantas sekali, kan? Hm. Tapi setidaknya kalimat itu bisa menjadi motivasi untuk terus berproses. Menjadi perempuan yang luar biasa, tentunya? Baiklah, Nanti saya salah fokus lagi... bahasannya terlalu banyak, kwkw

8 bulan bersama PIG dengan 8 proker. 2 in progress. Proker pertama kami adalah diskusi bulanan 1. Bedah buku "Applied Geomorphology" karya Hermann Th.Verstappen oleh Prof.Sutikno selaku penerjemah. Pada acara tersebut diramaikan pula oleh pameran dan bazar buku ilmu geo-kompleks dari penerbit Ombak. Acara berjalan sukses dan lancar. Disusul kemudian Diskusi Bulanan ke-2 sekaligus acara "Earthvironment Week 2015" yang berisi lomba debat, exhibition dan talkshow dengan judul "Air di Jogja Asat, Fakta atau Isu Belaka?" Menimbang berbagai macam fenomena yang ada di masyarakat yang mencakup ilmu geografi, Divisi pengkajian isu global mewadahi setiap topik yang ingin didiskusikan dengan mendatangkan panelis atau pembicara sesuai bidangnya. Acara EW 2015 berjalan dengan sukses dan lancar. Kemudian diskusi ke-3 barusaja kami lakoni, yakni tentang Kota Berketahanan Iklim, kami membantu penyelenggaraan acara dari hibah dosen dengan wadah berupa diskusi dan talkshow. Acara ini dihadiri oleh BMKG dan beberapa komunitas lingkungan seperti Jogja Berkebun, YFCC, KOPHI dan lain - lain. Diskusi bulanan ke-3 sukses dengan dimoderatori oleh Mas Mega Dharma Putra yang juga alumni PIG hehe. 

Selain diskusi bulanan, setiap bulan PIG mengkaji fenomena / isu baik lokal maupun global untuk dimuat di website egsa.org. Dalam pelaksanaannya, setiap bulan selalu ada isu - isu baik lingkungan maupun yang berhubungan dengan environmental geography dapat diangkat. Hal tersebut menjadikan produktivitas kami meningkat kwkwkw baik dalam hal latihan menulis ataupun berpikir kritis mengenai isu yang terjadi serta memberi manfaat bagi orang lain yang membaca, yakni supaya dapat mengetahui isu yang terjadi pada saat ini, penyebab, masalahnya dan opini cara penanggulangannya, Weiii... wkwk. Bukan hanya menerbitkan tulisan ke website atau mengadakan diskusi secara langsung dan mendatangkan pembicara. Akun grup line PIG juga ramai dengan diskusi ketika ada isu menarik seperti misalnya kemarin ada yang ngejarkom buat naroh ember berisi air garam pada jam 10 pagi supaya bisa hujan. Yakeleeeeessss.., Hm, kadang ini yang bikin manusia pada ricuh : media. Banyak yang nge-share tanpa meninjau ulang bener/salahnya. Apaalagi samapi diatasnamakan pihak lain yang tidak pernah menyatakan kebenaran tersebut atau yang memerintahkan hal tersebut. Duh pucing adek bang.

Baiklah... Kami saat ini sedang menjalankan amanat memegang event terbesar EGSA, yakni EGSA Fair. Ketua EGSA FAIR tahun 2015 adalah Mas Galih. Nah, mungkin bagi temen - temen yang ingin tau atau bahkan minat dalam serangkaian acara egsa fair, bisa diakses melalui website egsa (fair.egsaugm.org). Tema EGSA Fair tahun ini adalah "Manajemen Bencana : Integrasi Keilmuan menuju Indonesia Tangguh Bencana" dengan tema Exhibition adalah "Disaster Blaster" *ada lanjutannya sih, tapi nanti aja, rahasia. wkwk*. Sebelum memasuki acara inti EGSA Fair, telah banyak persiapan yang dilakukan oleh panitia, salah satunya dari Divisi MIJ yang selalu update komik mengenai kebencanaan di Indonesia. Selain itu, teman - teman GEL juga berpartisipasi aktif menyebarkan informasi mengenai EGSA Fair dengan harapan, tujuan dari pelaksanaan event EGSA Fair ini tersampaikan kepada seluruh pihak, memperkenalkan jurusan Geografi Lingkungan kepada publik. 

Welly, kalo bahas event, EGSA gabakal ada habisnya. 8 bulan jalan dan banyak sekali progres yang telah dilaksanakan. Bahasanya, Paseduluran ora Luntur. di EGSA terutama PIG saya merasakan kekeluargaan yang saaaangaaat kental. Orang - orang yang bisa menerima dan saling mendukung *ciyeee* wkwk. Intinya, Loveable lah!

Akan banyak sekali cerita tentang PIG, keterbatasan otot membuat saya mengakhiri tulisan kali ini. Mungkin lain hari akan saya sambung dengan catatan - catatan PIG. 
Read More

Minggu, 04 Oktober 2015

PADA AKHIRNYA...

Pada akhirnya, semua akan kembali pada Tuhan.
Pada akhirnya, semua tangan akan menengadah kepadaNya.
Pada akhirnya, semua keputusan Dia-lah yang menentukan.
Pada akhirnya, semua dasar pengambilan keputusan ada pada-Nya.
Pada akhirnya, semua akan kembali pada Tuhan
Pada akhirnya, semua akan mengakui bahwa ada Maha Kuasa
Pada akhirnya, titik berat pengambilan dasar ketuhanan akan kembali kepada Tuhan
Pada akhirnya, kau akan bertanya - tanya kepada Tuhan. Benarkah yang selama ini kau lakukan?
Pada akhirnya, semua nista akan terurai. Mengaku hina diri dihadapan Tuhan.
Pada akhirnya, saat kau sendirian, ada Zat yang tetap berada ddekatmu, sedekat urat nadi.
Pada akhirnya, semua akan kembali pada Tuhan
Pada Zat Yang Maha Memberi
Pada Zat Yang Maha Mengampuni

Read More

Sabtu, 03 Oktober 2015

Ketika Hujan Menyapa

Oktober :)

source : http://40.media.tumblr.com/tumblr_majbd8Y1ot1rb7nv8o1_500.jpg

Pancaroba II berakhir... Dan, aroma hujan akan menyapa.

***

... Semua terdiam, aku - kamu dan bintang yang seolah tetap pada bidang edarnya. Padahal tidak. Malam terlalu menukik tajam untuk menjelaskan romantisme yang kita rasakan...

***
Kemudian, Sederhanakanlah...

https://www.youtube.com/watch?v=60W7isIyxos

***

Sederhanakanlah....

Jika ada kisah cinta yang lebih sederhana, lantas mengapa orang - orang di luar sana menganggap kisahnya sebagai hal yang rumit?

Sederhana saja, kan?

Love is like the wind, I can't see, but I can feel it.


***
Hujan akan segera datang. Lantas mengapa masih meratapi kemarau?

***
Sederhanakanlah....


Jika disana musim gugur mulai menyebarkan aromanya, disini hujan juga sudah mulai menghembuskan baunya. Sama - sama jatuh. Entah dalam bentuk daun atau presipitasi yang lain.

Sama - sama terbawa oleh angin, dan.... Menerima begitu saja. Membiarkannya, lalu merasakan keikhlasan.

***
Jika kisah cinta kita bisa dijalani dengan sederhana, mengapa tidak?

***
Kisah kita tidak akan sebatas hujan dengan teduh. Tidak. Aku harap demikian. Karena walaupun hujan berhubungan dengan teduh, hujan tidak akan pernah bersama teduh. Teduh selalu datang ketika hujan reda.

***
Tulisan pendek di pagi hari. Subjeknya masih dirahasiakan oleh Sang Rabbi.


With Love



futuhasara
Read More

Selasa, 22 September 2015

Merangkai Seruni

"Ada hati yang termanis dan penuh cinta, tentu saja 'kan ku balas seisi jiwa. Tiada lagi, tiada lagi yang ganggu kita. Ini kesungguhan... Sungguh aku sayang kamu." - Kahitna, Cantik

Ada banyak cara menikmati kebersamaan dengan orang - orang terkasih. Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk membagi kebahagiaan sebagai wujud kesyukuran atas apa yang telah kita dapatkan. Syair lagu datas menggambarkan bunga seruni yang cantik. Ah, entah apa hubungannya. Sepertinya saya sedang dilanda kasmaran. Entah dengan siapa. Yang saya tau, saya menorehkan tulisan ini dengan rasa bahagia pasca menelpon keluarga dirumah. Menanyakan kabar, berbicara, bergurau dan bercanda, kemudian tertawa bersama meski hanya via suara. Hehe

Segala hal memiliki dimensi keindahannya masing - masing. Ada si A menganggap bahwa seruni itu indah, ada si B yang menganggap seruni itu biasa - biasa saja, bahkan ada si C yang selalu membanding - bandingkan seruni dengan mawar putih nan elok rupa. Itulah perspektif atau pandangan orang yang berbeda - beda. Toleransi sangat diperlukan, penghargaan terhadap perbedaan mutlak ada.

Namun tidak semua orang paham akan hal itu, terkadang, mementingkan ego jauh lebih dielu - elukan. Termasuk saya juga masih seperti itu. "Jadilah Pembelajar yang Baik", begitu yang disampaikan oleh Prof.Suratman tadi pagi sebelum mengakhiri kuliah Ilmu Tanah. Ada banyak cara ketika kita ingin merangkai kebahagiaan, memberikan cinta kepada sesama, kemudian menghargai setiap perbedaan.

Pernahkah kita berfikir bahwa satu senyuman dapat mengubah raut muka orang yang awalnya nelingsut menjadi mengembang? turut tersenyum bersama kita! Taukah kita, dengan kita memeluk seseorang yang dilanda kesedihan, dapat menurunkan tingkat stress atau kesedihannya. Taukah kita, bahwa hanya dengan menanyakan kabar kepada orang tua/sahabat yang jauh/teman kenalan yang mungkin sudah hampir lupa dengan kita, dapat memberikan ketertarikan jalinan kasih sayang yang bermuara pada hubungan horizontal. Taukah kita... Hal - hal kecil itu yang dapat kita lakukan!

Layaknya lebah pada seruni, layaknya simbiosis mutualisme. Hendaklah kita dapat mencermatinya, mengambil sebaik - baik keputusan dengan dasar terbaik versi kita.

Jadilah pembelajar yang haus belajar.

Peringatan untuk diri sendiri.
Yogyakarta, 22 September 2015.
Setelah beberapa hari tidur selama 3 jam.


Mari menebar sayang!

Read More

Selasa, 25 Agustus 2015

Bertindak sebagai Perempuan (Surat Balasan)

.....
...
Perempuan (14): Mencintai sewajarnya, membenci sekadarnya, bersyukur sebanyak-banyaknyaSemangat pagi, mbloooo Fut. Apa kabar? Semoga selalu baik ya. Semoga makin baik. Apa ya mblo. Jomblo, Lu! Ide darimu untuk menulis: Mencintai sewajarnya, membenci sekadarnya, kemudian bersyukur sebanyak-banyaknya itu hufet. Gila. Lu udah kayak Mario Teguh aja. Bijak tingkat Dewa Siwa. Sedang Mbak Dita, salah satu tempat segala hal dalam hidupku bermuara sedang tidak ada di Solo. Jadi aku harus bagaimana? Padahal aku begitu butuh menanyakan pendapatnya menyoal kalimat metamutiaramu(?) eh apalah aku.
Read More

Selasa, 11 Agustus 2015

The Random Trip (Cerita Perjalanan - Mbolang ke Surakarta)

"Maaf mbak, tiket ke Tasikmalaya nya habis sampai tanggal 12..."
Glaaarrr...
"Gimana?"
"Yaudah ga jadi. ga memungkinkan"
diam sejenak....
"Besok ke Solo yuk, naik prameks". Ceritanya, Futuha jadi pemrakarsa buat mbolang (re : mbocah ilang) ke Solo. -- teman percakapan diatas : Priyambudi Hari Putranto

Akhirnya, setelah dikecewakan oleh PT KAI *tsaah kita memutuskan buat balik ke kampus, ke sekre GSC. Pasca perayaan ulang tahun Mas Domi yang telat, disana ada banyak temen. Terus nyeletuk "ada yang besok bersedia ke Solo?" tanggapannya macem - macem. Misal "jam berapa?" "besok banget po?" "gileee"... dsb.

Jadi, singkat cerita, ada 5 orang yang bersedia diajak membocah ilang ke Solo.
Taraaa!!
Debrina Agnes, Dominikus Yoeli Wilson, Futuha Helen Sara, Ika Heppy Putri Lase, dan Priyambudi Hari Putranto. *urut abjad*
Hari, Mas Domi, Futuha, Mbak Debi, Mbak Ika Lase

Kami berangkat dari stasiun Lempuyangan. Pukul 06.00 Futuha dan Hari berangkat dari tempat tinggal masing - masing menggunakan sepeda. Mas Domi dan Mbak Ika Lase menggunakan TransJogja, sementara Mbak Debi diantar mama tercinta :3. Tiket kereta api Prameks seharga Rp.8.000; per orang. Prameks merupakan kereta api yang melayani rute Yogyakarta - Surakarta. Pokoknya sekitaran itu. Hehe. Kereta yang kami naiki berangkat pukul 07.42. Ngapain aja di stasiun? Diskusi! Sadar nggak sih, ruang terbuka yang menyediakan tempat duduk di Indonesia ini sangat sedikit ditemui? Itulah efek antek - antek orde baru. Dimana pasal 28 UUD dipertanyakan. Jika ada tempat yang seperti itu, makin memungkinkan suatu kelompok untuk berdiskusi bahkan mengkritisi kebijakan. Hehe.

Kereta berangkat 07.42 dan kami turun di Stasiun Purwosari pukul 08.40. Disana sebenarnya kami tidak memiliki rencana tujuan sama sekali. Kami hanya mengandalkan GPS dan GPS. GPS pertama yang dimaksud adalah murni aplikasi GPS yang ada di smartphone kami, sedangkan GPS yang kedua adalah Global Pitakonan Sistem. Alias mengandalkan bertanya jika tidak mengetahui.
Wait. sebelumnya, itu adalah ruteku bersepeda :3 Jadi, dari kosan tercinta ke stasiun lempuyangan. entah berapa km, bisa sesuaikan lah ya dengan skalanya :3 wkwkk

Hmm...
ini dia, Jogja - Solo
Jogja - Solo via Google Earth
Kebayang jauhnya? Biasanya kalau naik bus sekitar 2 jam. Tapi kalau naik kereta dari Jogja - Solo atau Solo - Jogja bisa hemat waktu se jam.

Taraaa!! ini dia trip random kami yang awalnya tanpa tujuan. Hahaha

Dari stasiun Purwosari, kita berjalan *tanpa tujuan* terus ketemu Taman Sriwedari dan bingung mau ngapain. Oke, sebenernya tujuan kami adalah mencari RTH (Ruang Terbuka Hijau) karena bingung mencari RTH di Jogja ada dimana *untuk kotanya* *abaikan*. Jadi, RTH itu dapat menjadi standarisasi kebahagiaan masyarakat kota. selain dapat digunakan untuk bersantai, RTH - jika pemanfaatannya benar- dapat digunakan untuk hal yang bermanfaat seperti meng-up-booming-kan urban farming. hehe. Akhirnya, kami menemui sistem jalan yang bagus di Solo. dengan adanya jalur pejalan kaki / trotoar, memberikan kenyamanan bagi pejalan kaki, tukang becak, ataupun masyarakat yang bersepeda. Dengan demikian, tidak ada ceritanya orang yang bersepeda berdesak - desakan dengan mobil gedhe atau ratusan motor di jalan raya*curhat*. Salut! Meanwhile, kemacetan dapat diminimalisir.

Secara garis besar, Solo ternyata sudah menjelma menjadi kota dengan basis aktivitas perekonomian yang tinggi. Ditemuinya banyak tempat berdagang, hotel, ataupun bangunan - bangunan indikasi aktivitas perekonomian, menunjukkan bahwa kota ini terus berkembang. Hm... btw di Solo (tempat yang kami kunjungi) jarang ditemukan alfam*rt, ind*mart, dan kawan - kawannya lhoo! KEREN! kenapa keren?! mereka meminimalkan adanya politik perekonomian kapitalis! Why? sekarang tempat2 perbelanjaan dengan nama mentereng itu punya siapa? pemegang sahamnya siapa? tunggal jamak joint venture la la la nya?? Hmm.. abaikan pemikiran random ini hahaaha. disepanjang jalan yang kami jumpai, hanya ada toko - toko yang dikelola warga lokal. dengan demikian, perputaran uangnya masih berada pada dominasi warga lokal. CMIIW
Ini nih kenampakannya (kota Solo dan sekitarnya)... bisa dilihat pake geoplanner.com

Disana banyak dijumpai bangunan. Hal ini merupakan salah satu ciri pembeda desa - kota hehe *keingat mata kuliah berkode GPW dan GKP LOL* Okay, perjalanan random kami ini juga membawa misi menyampaikan selamat ulang tahun kepada Mbak Heni Ermawati, Bendahara GSC #10. Happy Milad Mbak Hen!! ada 5 foto di 5 tempat berbeda. hahha
salah satunya, iniii
Berfoto di depan patung di dekat Pasar Klewer. Captured by Futuha
Setelah itu, kita mengisi perut di Mie Gajah Mas. Mie nya enak sih, harganya yang enggak wkwkk. Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Stasiun Balapan Solo.

Ing Stasiun Balapan, Rasane koyo wong kelangan, Koe ninggal aku....
Di kereta, kami berlima tertidur pulas. *Yaiyalah habis jalan kaki sejauh itu*. Trus pukul 14.05 kami sampai dii...
Pulang ke kotamu... Ada setangkup haru dalam rindu... ....Terhanyut aku akan nostalgia, saat kita sering luangkan waktu... Nikmati bersama, Suasana Jogja...
 Jogja! yups. The most romantic city ever :3 *cukupkan mblo* Niatnya Futuha mau beli sepatu gitu kan, akhirnya pergi gowes sama Hari dari Stasiun Lempuyangan (Daerah Operasi VI Yogyakarta wkwkkw) ke Jl. Solo. Muter - muter cari sepatu yang cocok... nemu deh warna abu - ungu. Tapi ga ada ukuran yang cocok -______-" KZL.

Walhasil, kami pulang ke kos. Sebelum itu, beli susu fapet dulu di Plaza Agro. Gaes, susu itu penting loh untuk masa pertumbuhan. Kalsium yang terkandung dalam susu, baik untuk perkembangan tulang dan gigi *apasiiih* wkwkkw.

Oiya, di Plaza Agro (Kompleks FAPET UGM) menyediakan berbagai macam sajian olahan dari peternakan maupun pertanian organik. Pokoknya cocok lah buat yang pengen menerapkan gaya hidup sehat dengan membeli sayur, buah, susu, atau kebutuhan lainnya di Plaza Agro. Jadi, kalau lagi di Jogja *bagi masyarakat luar Jogja* bisa mampir niih kesini... Kaliaja ada mas - mas kasir yang ganteng *ups  wkwk candaaa

Sesampainya di kos...
Tepar deh.

Pelajaran lain yang bisa dipetik adalah... Berikan waktu kita untuk orang - orang disekitar kita. Dengan berbagi kebahagiaan dan kebersamaan misalnya. Karena bahagia itu sebenarnya sederhana. maka sederhanakanlah versi bahagia kita :)

Mari berbahagiaaa~~
 
Read More

Rabu, 05 Agustus 2015

Di Sudut Kotamu (Cerpen)

Mendung menggantung. Pagi buta berhias kabut di penghujung jalanan. Para penarik becak sibuk mencari penumpang yang hendak membawa barang dagangannya ke pasar. Tempat yang selalu ramai. Walaupun disampingnya ada Bengawan Solo mengekor. 

Pagi ini tidak seperti pagi biasanya. Minggu pagi, sangat asyik, kan untuk melepas penat? apalagi setelah dijejali setumpuk teori di tempat belajar. Orang - orang asyik bersepeda kesana - kemari bersama keluarga, atau... sekadar jalan - jalan di alun - alun kota menyaksikan para pemuda - pemudi asyik ngobrol berdua. Mereka - reka kisah mereka, atau mungkin merencanakan masa depan. Ah, tidak ada yang tau. Termasuk aku -- yang selalu tidak ingin tau.

Sudah ku bilang, tak seperti biasanya, kan? Ini akan menjadi pagi yang spesial. Aku - dengan sepeda biruku akan menjadi makhluk hidup - tak hidup paling berbahagia pagi ini. Oke. Jalanan ini akan menjadi saksi, betapa hatiku loncat - loncat dibuatnya. Badan gemetaran, mata berkunang - kunang, semesta seolah mendorong bahwa...

Akulah satu - satunya.... Yang akan bersamanya.

Sejenak aku menyandarkan sepedaku disamping pohon rindang, kemudian menghirup udara segar. Berharap hati-yang-tak-karuan ini akan mereda. Menjadi stabil seperti sedia kala. Temaram kabut jalanan. Aku melihat sosok-itu-datang. Semakin mendekat.... Kacamatanya lembab, mengembun. Sweater biru bertuliskan huruf "H" besar dibagian depan semakin meyakinkanku bahwa itu... Dia!

"Sudah lama menunggu?"

Aduhduuuhh... Jantungku semakin loncat - loncat tak karuan, mungkin sudah tidak bisa membedakan aliran darah mana yang harus melewati arteri dan yang harus melewati vena. Atau oksitosin ku mulai meledak? Entah. Aku memerah.

"Nggak kok..." Jawabku, menggantung memang, karena aku bingung mau membicarakan apa lagi.

"Mmm... Apa kabar? Sehat?" Lanjutnya mengawali pembicaraan.
"Alhamdulillah... seperti ini keadaannya. Hehe." Gugup, gup, gup, gup!

Kemudian aku duduk di pembatas jalan. Dia menyandarkan sepedanya di sisi pohon yang lain dan mengambil jarak sekitar satu meter di sampingku. "Oleh - oleh" - sambil menyodorkan sebuah kotak bergambar Paris.

"Hah?" Tanyaku, bingung. salting, atau entah apalah.
"Iyaa... Suka warna ungu, kan? Itu hasil rajutanku selama liburan musim panas."
"Uwooowwww!!! Keren sekalii!! Boleh aku pakai?" Ah, kegirangan. Kegajean, entah ke-apa-an-ku lah keluar semua.
"Silakan..." Jawabnya sambil tersenyum.
"Heheheheee..." Kemudian aku meringis.

Sebuah syal berwarna ungu bertuliskan huruf "H" berwarna abu - abu terlihat cantik aku kenakan. H adalah salah satu inisialku. 

Bengong, diam semua. Burung nuri berkicauan. Matahari mulai muncul. Kabut - kabut menghilang dan jalanan mulai ramai.

"Bojonegoro... Hmm..." Dia mulai membuka pembicaraan lagi.
"Lumbung pangan dan energi. Haha" lanjutku.
"Benar... Tapi kalau siang semakin panas saja ya. Haha"
"Yee... Mentang - mentang udah pernah tinggal di negara yang musimnya enggak tropis. Songong ih. Haha"
"Akhiri saja semua dengan 'haha'"
Tawa pecah : Hahahahahahahahahahaha


.... Masih berlanjut
Read More

Kamis, 30 Juli 2015

KECEWA



Setiap orang pasti pernah merasakannya.
Malam ini, saya menulis tentang itu, karena saya merasakannya. Niatnya, nasehat diri. Ditulis di blog, kali aja ada manfaatnya.

Perasaan kecewa, kita sendiri yang 'menciptakan'. Semua perasaan sebenarnya kita sendiri yang 'menciptakan' sensasinya. Kecewa diakibatkan karena menaruh harapan. Tapi, bukankah harapan adalah nafas yang lebih dekat menuju impian?
Baiklah. Satu - satu

Kita berharap entah apa itu kepada seseorang / sesuatu hal

Apa yang kita harapkan ternyata tidak sesuai kenyataan

Kecewa deh.

Alurnya cuma itu saja, kan? entah dalam hal positif atau negatif. Harapan seperti halnya dua mata pisau. Jika terwujud kita akan senang, dan jika tidak tentu kita akan kecewa. Bahkan sedih. Maka benar adanya jika satu - satunya yang patut sebagai tempat berharap adalah Tuhan. Dia selalu tau apa yang hamba-Nya butuhkan. ingat, butuhkan. Bukan inginkan.

Baiklah. Yang dapat saya petik dari yang saya rasakan, Nasehat untuk diri sendiri : Hubungan horizontal; selama masih bisa dikomunikasikan, komunikasikanlah. Bicaralah baik - baik. Jangan membiarkan prasangka baik yang telah ditanam orang lain terhadapmu menjadi sebaliknya. Bersikaplah loyal, Adil lah terhadap dirimu sendiri. ingat, kamu pernah merasakan kekecewaan terhadap orang lain. Sudah bisa merasakan "sakit"nya kan? Terus, apakah mau kamu perlakukan orang lain seperti itu? Apa gunanya? Tidak ada... Berbaiksangka memang dianjurkan, tapi tau porsi. sekadarnya saja. Orang didunia ini sangat banyak macamnya, ada yang baik, sok baik, pura - pura baik, kadang baik, tidak baik, bahkan sangat tidak baik. Tapi apapun yang kamu lakukan, dasarilh dengan kebaikan. kebaikan versimu lebih menenangkan. Hanya saja yang perlu digarisbawahi adalah : Orang lain merupakan salah satu penyumbang kebaikan dalam dirimu. Mengambil hikmah atau meninggalkannya. Itu semua hakmu. Terserah kamu.

See ya. unek - unek malam ini cukup tertelurkan. Mari wudhlu.


Read More

Minggu, 26 Juli 2015

Istafti Qalbak!

What should I do?
Suatu ketika, pasti kita pernah merenung. Bingung mengambil keputusan atas pilihan atau kejadian yang ada didepan kita. Beralih kesana - kemari meminta pendapat orang lain, dan memikirkannya lagi. Lantas mengambil sebuah kesimpulan besar bahwa yang mengambil keputusan adalah diri kita sendiri. Pengecualiannya kalau bersikap seperti air diatas daun talas.

"Istafti Qalbak! Mintalah fatwa kepada hatimu; kebaikan adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hati tenang, dan keburukan adalah sesuatu yang membuat jiwa gelisah dan hati bimbang." (HR. Ahmad dalam Al Daarimii)
Disini, hati menjadi tempat bertanya dikala harus memutuskan sesuatu yang penting, walaupun pada hakekatnya didalam diri kita masih terdapat proporsi rasionalitas, namun hati juga bisa mengetahui apa yang diingkari oleh pengetahuan rasional.

Hati, seperti yang kita tau, sulit ditebak. Dan tak jarng pula, sering kita "ingkari" keputusannya karena pertimbangan dari orang lain dan lain sebagainya. Semoga diri kita senantiasa dibalut dalam keimanan dan keikhlasan, pembuah dari hati yang bersih untuk fatwa pembawa kebenaran pula. aamiin.
Read More

Minggu, 19 Juli 2015

Langit - Langit

Matahari malu malu bersembunyi dibalik horizon. Perahu mulai dijalankan. Sepertinya orang - orang sudah bersiap - siap untuk menuju desa seberang, mengadu rejeki katanya. Sambil membawa ubi, jagung, cabai, atau apapun yang bisa dibawanya. Bengawan Solo tidak menjadi penghalang mereka berangkat dengan perahu kecil berpenggerak mein diesel. Ongkosnya 500 rupiah sekali jalan. Keadaan Bengawan Solo di musim penghujan tidak pernah bersahabat. Semenjak ada berita bahwa waduk Gajah Mungkur jebol, warga sudah memanen dini palawija yang mereka tanam di teras sungai Bengawan Solo.

Pukul 04.00 pagi, debit air Bengawan Solo mulai meningkat.
terlihat semakin jarum jam bergerak, semakin meningkat pula debit air yang kemudian mengalir menuju perkampungan. Cepat sekali air mengalir. Hanya membutuhkan waktu 7 jam, air sudah menggenangi seluruh desa.

Perempuan itu mondar mandir kalang kabut membawa rakit yang terbuat dari batang pisang untuk mencari suatu hal di sebuah rumah yang tinggal separo ketinggiannya lagi akan tenggelam. Si anak menunggui di atas rakit sambil terus memainkan sampan. Perempuan itu satu persatu meraih benda - benda milik anaknya didalam rumah kecil sederhana yang hampir tenggelam itu : buku.

Sang anak meraih buku - buku itu dengan ceria, berkata dia akan belajar di tempat yang tinggi selama sekolahnya terendam air banjir. Katanya, setelah masuk nanti dia akan menulis mengenai Banjir Bengawan Solo. Tulisan klasik untuk anak perempuan kelas 5 SD.

Setiap malam, dalam keheningan, dimana semua akses desa terputus, listrik padam, kebutuhan pangan kian mencekik, persediaan minyak tanah menipis, dan wabah penyakit mulai berdatangan. Perempuan itu khusyu ditemani lampu teplok membaca ayat - ayat-Nya, sang anak menunggui sambil menjaga adiknya yang masih kecil, sesekali protes, malas menunggui adiknya yang nakal. Katanya, lebih baik dia membaca buku sambil berlindung dibawah selimut hangat.

"Bacalah dengan nama Tuhan mu yang menciptakan." Perempuan itu berkata kepada kedua anaknya.
"Coba nak, hafalkan surat ini." Sambil menunjuk QS Al Alaq. Kemudian si anak membacanya lirih. Sesekali memandangi perempuan itu, dalam hatinya berkata "saya sudah pernah disuruh menghafal surat ini pas kelas 3 SD di TPA."
si anak kemudian berkata pada perempuan itu "sudah hafal", kemudian perempuan itu menjawab "maknai ayat 1 -5". Si anak jengkel karena merasa waktu tidurnya diganggu. Kemudian, akhirnya dia melakukan apa yang diperrintahkan oleh perempuan tadi.

Si anak mulai mengantuk, disuruhnya pergi ke dipan. Sebelum itu, sang perempuan berkata pada anaknya "nak, maafkam ibumu. Ibu tidak pernah bisa memberimu harta, karena memang tidak ada yang bisa ibu berikan. Ibu hanya bisa memberimu ilmu, karena hanya itu yang bisa ibu lakukan. Belajarlah apa yang kamu suka. Kelak ilmu itu akan menuntunmu." Temaram hening suasana pertengahan bulan. Purnama menampakkan kegagahannya.

_ sepenggal kisah banjir Bengawan Solo, 2007. Di tempat saudara, mengungsi. Malam - malam_

2015...
*menyetrika baju sambil mereview hafalan*
"Ibu, hafalanku banyak yang hilang. Aku terlalu banyak melakukan maksiat, bu."

...
Read More

Rabu, 15 Juli 2015

Aku Ingin Menjadi Peta Mu

Aku ingin lama jadi peta mu. -- Uyun C. Aziza

Sebelumnya, selamat berpuasa *telat sekali* insyaAllah h-2 lebaran kan ya. Hihi. Setelah lamaaa sekali saya tidak mencorat coret blog ini, entah kenapa siang ini ketiban wangsit alias kepingin nulis.

Tenang, kali ini saya gak akan berlagak belagu jadi mentor yang menjelaskan tentang konsep peta, cara pembuatan, penggunaan peta, dan lalalanya. Tapi ingin menganalogi secara konseptual mengenai peta. Dalam hal ini, hubungan horizontal secara tidak langsung dikatakan oleh judul diatas. Terimakasih Mbak Uyun jadi inspirasi buat nulis. Hehe. Tapi mungkin arti dari quote diatas berbeda dengan yang saya artikan.

Kaay, "aku ingin menjadi peta mu".
Selama ini kita mengenal peta sebagai penunjuk jalan supaya tidak tersesat kan? Atau sebagai media informasi mengenai hal - hal tertentu. Banyak sekali kegunaan dari peta, mulai dari anak Tk yang menggunakannya untuk melakukan outdoor penjelajahan kecil - kecilan, anak pramuka, geograf *wkwk*, pengemudi, sampai pejabat negara yang menggunakan untuk mengetahui informasi tapal batas wilayah negara *wesyeh*. Peta juga memiliki ciri khas masing - masing. Misal peta tematik tentunya berbeda ciri khas dengan peta umum. Peta geologi memiliki ciri yang berneda pula dengan peta geomorfologi.

Begitu pula apa yang kita sebut teman. Mereka memiliki ciri khas yang berbeda, masing - masing pribadi yang tak serupa, tapi apa yang kita sebut "teman" itulah yang membersamai kita, saling mengingatkan kebaikan dan bersama menjauhi keburukan. Teman laksana peta, banyak sekali hal - hal yang mereka berikan kepada kita. Senyum membahagiakan, canda penggores tawa, atau mungkin kesedihan yang memberi hikmah dan pelajaran. Setiap orang didunia ini pasti punya yang namanya teman. Entah dalam bentuk apapun.

Peta yang baik, tentu tidak akan menyesatkan penggunanya, begitupun dengan teman yang baik. Namun demikian, tergantung dari si pengguna juga, kalau misalkan peta digunakan untuk kebaikan, niscaya niatan kebaikan akan dibalas dengan kebaikan pula.

Apa yang kita sebut sebagai teman, itulah salah satu hal berharga yang kita punya. Maka dari itu, jangan sia - siakan orang yang bersedia menjadi peta mu, bersama menuntun dan memberikan info untuk mencapai tujuan.

Aku ingin menjadi peta mu. Boleh kan? :)

Read More

Minggu, 17 Mei 2015

Rohingya, Kasus Kemanusiaan dalam Peradaban

Saat ini :
Ribuan etnis Rohingya dan orang Bangladesh diperkirakan telantar di laut dekat pantai Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Sekira 2.000 orang mendarat di pantai ketiga negara tersebut. Namun, Pemerintah Thailand dan Malaysia menolak kedatangan mereka dan melepaskan kembali perahu-perahu mereka ke lautan. Sementara, 6.000 orang lainnya diperkirakan masih telantar di tengah lautan.
pengungsi Rohingya. Sumber : tempo.co

Rohingya? Asing dengan kata "Rohingya"?
Ketika saya diberi kesempatan untuk berkunjung ke negri Burma, dan sekadar melakukan "trip" kecil - kecilan sepanjang jalan menuju Bogyoge Au San Market, akan jarang sekali dijumpai orang berjilbab dengan mata sipit. Bahkan hampir tidak ada. Sepanjang jalan pun, tidak saya lihat adanya masjid. dan pula di bandaranya.

Berjalanlah saya menuju pedagang sepanjang jalan didekat monumen (saya lupa apa namanya, di daerah Yangon). Terdapat sekelompok pedagang kecil yang menggelar lesehannya di tepi jalan, didekat selokan yang amat sangat kotor. Pedagang - pedagang itu menggunakan sehelai kain penutup berwarna hitam, bajunya juga seadanya, tubuh kurus, dan anak - anak mereka tidak beralas kaki. beberapa waktu setelah saya melihat itu, menujulah saya kesana. Mereka langsung mengucapkan salam "assalamualaikum" dengan wajah yang penuh keriang-gembiraan. senyum ikhlas mereka terpancar jelas. Subhanallah... di negara yang begitu sedikit sekali penduduk muslimnya. Mereka sangat senang melihat kami, merasa kedatangan saudara seiman (mereka tau kami muslim karena kami (saya dan teman saya) menggunakan jilbab). 

Baiklah, Rohingya. 
Seorang sejarawan seperti Khalilur Rahman mengatakan, kata "Rohingya" berasal dari bahasa Arab yaitu "Rahma" yang berarti pengampunan. Sejarawan itu menelusuri pula peristiwa kecelakaan kapal pada abad ke-8, tepatnya pada saat kapal Arab terdampar di Pulau Ramree (perbatasan Burma dan Bangladesh). Pada saat itu, para pedagang keturunan Arab itu terancam hukuman mati oleh Raja Arakan. Mereka memberontak dan berteriak "Rahma." Penduduk Arakan kesulitan untuk menyebut Kata "Rahma" mereka justru menyebut "Raham" (kasihanilah kami) dari "Raham" kata itu berubah menjadi "Rohang" dan akhirnya menjadi "Rohingya."


Sementara itu sejarahwan asal Myanmar, Khin Maung Saw menjelaskan, warga Rohingya tidak pernah muncul dalam sejarah Myanmar, sebelum tahun 1950. Sejarahwan Myanmar lainnya juga yakin, tidak ada kata "Rohingya" dalam sensus penduduk 1824, yang dilakukan oleh Inggris.
 
Klaim baru pun muncul dari Universitas Kanda yang menyebutkan bahwa warga Rohingya merupakan keturunan dari bangsa Benggala yang bermigrasi ke Burma pada dekade 1950an. Mereka melarikan diri di era kolonialisme. 
 
Bersamaan dengan itu, Dr. Jacques P mengatakan bahwa penggunaan kata "Rooinga" sudah ada pada abad ke-18, dan kata itu dipublikasikan oleh seorang warga Inggris. 
 
Menurut sejarah, peradaban Muslim di Arakan sudah ada pada abad ke-8, tepatnya di saat pedagang Arab tiba di Asia. Mereka bermukim di Kota Mrauk-U dan Kyauktaw, wilayah itu saat ini dipenuhi oleh etnis Rohingya.
 
Tepat pada 1785, Burma menguasai Arakan dan sekira 35 ribu warga Arakan kabur ke wilayah Chittagong yang dikuasai Inggris. Mereka menyelamatkan diri dari penindasan Burma dan meminta perlindungan tehradap Inggris.
 
Di bawah perlindungan Inggris, warga Arakan diminta untuk membantu Inggris dalam bidang pertanian. Mereka diminta untuk bermigrasi ke sebuah lembah di Arakan dan bercocok tanam. Perusahaan Hindia Timur Britania meluaskan kontrol administrasi Benggala di Arakan. (okezone.com)

Jadi, secara garis besar, kaum Rohingya merupakan kelompok muslim minoritas yang berada di negara dengn penduduk mayoritas Buddhis (Myanmar). Kebanyakan dari mereka tinggal di wilayah barat negara bagian Rahkhine yang berdekatan dengan Bangladesh.

Perserikatan Bangsa - Bangsa (PBB) menyebutkan bahwa etnis Rohingya merupakan kelompok minoritas yang paling dianiaya dan tidak memiliki status kewarganegaraan.

Masalah yang dihadapi etnis Rohingya adalah sulitnya akses fasilitas pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan, dan tidak dapat beribadah dengan bebas. Kaum Rohingya tidak diakui oleh pemerintah Myanmar sebagai kelompok etnis resmi. Pemerintah Myanmar juga menolak kependudukan mereka. Sejak beberapa tahun terakhir, banyak kaum Rohingya yang diserang dan dikucilkan di hutan - hutan dekat ibukota negara bagian Rakhine. disana mereka hidup menyedihkan dan tidak mendapat kesempatan kerja yang layak. Maka dari itu, mereka memiliki keinginan untuk melarikan diri dari "cengkraman menyedihkan" dan pindah ke negara lain dengan harapan dapat hidup layak. Negara tujuan mereka adalah negara - negara dengan mayoritas penduduk muslim. seperti yang dilansir pada tempo news (http://www.tempo.co/read/news/2015/05/15/118666416/Ditolak-Sana-Sini-Pengungsi-Rohingya-Minum-Urine-untuk-Hidup) kasus kaum minoritas Rohingya saat ini adalah mereka yang ingin melarikan diri dari negara asalnya dengan menggunakan kapal - kapal menuju negara seperti Malaysia, Thailand, dan Indonesia mengalami penolakan dari negara - negara sekitar. mereka mengalami kelaparan, kesakitan, banyak diataranya ditemukan meninggal dunia dan dibuang ke laut lepas.

Kasus - kasus kemanusiaan dimuka bumi ini begitu banyak. Dari yang dulu misalnya politik apartheid, pengungsi suriah, kasus kejahatan genosida pada perang Bosnia, dan masih banyak lagi. Fenomena ini mengingatkan kita kembali bahwa diluar sana banyak sekali saudara kita yang jauh kurang beruntung jika dibandingkan dengan kita. Kasus kemanusiaan Rohingya menurut saya tidak lepas dari ideologi maupun politik di negara asal. namun saya tidak akan menyinggung lebih mengenai hal ini karena keilmuan saya belum cukup untuk mengarah kesana.

Saya hanya membayangkan satu hal : kaitan kaum Rohingya jika bermigrasi ke Indonesia dengan bonus demografi yang diprediksi akan terjadi lima tahun mendatang dan pengaruhnya terhadap pasar bebas maupun MEA / AEC (Masyarakat Ekonomi ASEAN).

Selamat Malam.
Menulis sambil mendengarkan suara kucing "bertarung" diatas genting kos. Setelah "Packing" untuk kegiatan Kuliah Kerja Lapangan 1 besok pagi sampai dengan 4 hari kedepan.

Read More

Selasa, 12 Mei 2015

Langit : Antara Kekonyolan dan Resolusi #curhatpagi



Semua orang tau, langit itu tinggi.

Hah, pagi ini... maaf sekalian curcol. saya bangun telat. jam 3.30 tadi baru bangun. yasudahlah.
Minggu - minggu yang penuh kesibukan (Atau saya sendiri yang merasa sibuk(?)) seusai menjalankan amanat menjadi koordinator sie acara dalam serangkaian Earthvironment Week 2015 sebagai gabungan proker dua HMJ EGSA dan ARDGISS, ternyata masih banyak tetekbengek lainnya yang harus diselesaikan. entah itu laprak (MOST OF ALL AS YOU KNOW ABOUT IT!), nama yang tercanntum di kepanitiaan, atau yang lainnya. Minggu depan adalah KKL 1. Kuliah Lapangan pertama bagi mahasiswa semester 2. hm,

Beberapa bulan ini, saya serasa dijatuhi banyak amanah. dan bau - bau IP turun mulai terasa. btw saya sebenarnya bukan orang yang terlalu peduli dengan nominal. tapi masalahnya ini adalah berhadapan langsung dengan orang yang saya cintai : ibu, bapak. Tau sih, ga ada orang yang menanyakan berapa IP mu. entah nasakom atau empat sempurna. tapi disini, penguasaan ilmu yang akhir - akhir ini sulit untuk mendapatkan "porsi" tersendiri dari yang saya agendakan.

saya mulai khawatir tentang itu.

Tapi disisi baiknya, saya bisa bergabung dengan beberapa organisasi walaupun beberapa diantaranya mungkin saya kurang terlihat.

Anggota Pengkajian Isu Global di EGSA (HMJ); Sekretaris di GSC (Studi Klub); paduan suara; Divisi Media dan Riset IMM Al Khawarizmi; dan baru - baru ini muncul nama saya didalam sebuah pengumuman dari Youth For Climate Changes, Litbang alias penelitian dan pengembangan.

Bukan untuk dikeluhkan walaupun kenyataannya sangat susah untuk menghindari keluhan. as normally, manusia biasa.

Mengikuti banyak kegiatan bukan tanpa tujuan. semua bertujuan. as well as, kita punya mimpi. kita memerlukan tahapan mewujudkan itu. saya ingin bercerita tentang keinginan saya yang saya sendiri menganggap itu semua konyol. oke, konyol

Mendapat beasiswa eksternal
Memperbanyak relasi dan pengalaman riset
Mengikuti Indonesia Menginspirasi
Menulis (banyak hal)
Mendalami Environmental Geomorphology
Membuat permodelan kawasan rawan bencana di DAS Bengawan Solo dan menemukan solusi untuk mengatasi banjir disekitar wilayah tersebut
Menyelesaikan kuliah tepat waktu dan lulus berpredikat Cumlaude
Mendapat beasiswa S2. mengambil jurusan ilmu hukum di salah satu universitas di Inggris. (may be konyol yeah)
Bertemu kamu.

oke, abaikan pernyataan paling akhir.
itu jangka pendek.!!

kilasan secara umum saja sih, rinciannya ada di "tembok mimpi"
Oke, curhatan pagi.
nanti ada acara free course di PSJ bareng PPI Jerman. Kumpul tim PKM PE
besok ada agenda Europe Day di PKKH
besoknya lagi libur (dan kayaknya gabakal free)
besoknya lagi besoknya lagi besoknya lagi......

Mmm.. hadapi, nikmati, syukuri.
Langit masih luas untuk menggantungkan harapan. setidaknya dia selalu ada, dan tidak pernah berdusta.

Selamat beraktivitas!


Read More

Sabtu, 18 April 2015

Memotret Hujan

Air hujan yang jatuh dari langit.. jatuh begitu saja. tanpa diminta, kadangpula diminta. entah dengan doa ataupun dengan garam - garaman yang dihempaskan ke atmosfer sebagai inti kondensasi.
Tahukah kita? ketika hujan turun... Anak - anak dilarang bermain diluar, semua harus masuk. Ada yang mau dan ada yang tidak. Para orang tua melarang anak - anaknya bermain diluar ketika hujan jatuh bukan karena tanpa sebab. Semua larangan, peringatan, tindakan, pasti ada sebabnya. sayangnya... tidak semua anak mengerti akan perintah yang diberikan orang tuanya. tidak semua anak paham ada kebaikan apa dibalik itu semua.

Tahukah kita? ada beberapa orang yang khusyu' sekali menikmati hujan. entah dengan sujud panjang ataukah mengintip hujan dari jendela kamar sambil menghirup harumnya kopi panas. Tidak hanya itu, beberapa orang menikmati hujan dengan cara yang beragam. Pergi ke toko buku lalu menatap etalase sambil membayangkan seluruh isi buku misalnya? hm.. Setiap orang memiliki cara masing - masing untuk menikmati hujan, kan? ada yang suka hujan ada yang tidak.

Tahukah kita? para petani terkadang sedih ketika hujan tak kunjung tiba. sawah mengering, air irigasi jadi rebutan, sumur - sumur asat, binatang ternak kehausan... namun... terkadang petani pun resah ketika hujan turun tak henti - henti. resah apabila sawah tergenang, resah apabila banjir melanda, resah jika gagal panen, resah ketika menatap anak istri yang mereka hidupi. mau makan apa selama 3,5 bulan jika panen gagal?

Tahukah kita? ketika hujan turun di tempat yang berbeda, dengan intensitas dan kapasitas yang berbeda. dibeberapa keadaan, hujan turun dengan derasnya, dengan lama durasinya. namun dibeberapa keadaan pula hujan turun rintik - rintik, pun singkat. Orang bertanya. Mengapa? tak adilkah? tidak demikian, kawan.

Tahukah kita? ketika hujan diklasifikasikan begitu beragamnya oleh para ilmuwan, mulai dari jenis orografis sampai konvektif, dengan segala perbedaan proses dan sebab - akibatnya... Kadang, ada yang menganggap bahwa itu merupakan hal yang rumit, menambah keruwetan. Padahal... diantara kita banyak yang mengklasifikasikan sesama kita dengan berbagai hal tertentu. Mulai dari yang dianggap apatis hingga optimis. Kita membuat sekat - sekat pembeda antara satu dengan yang lainnya. Alasannya sama seperti ketika para ilmuwan mengklasifikasikan hujan... Proses, Sebab - akibat. ya.... memang begitu. kita dan ilmuwan sama - sama manusia,kan? sayangnya tidak ada manusia yang mutlak benar, semua pasti pernah melakukan kesalahan. Limit x menuju kebenaran, mungkin?

Ada hal - hal diluar sana yang kadang disepelekan, namun justru mampu membawa hikmah.
wallahu'alam.

Ditemani hujan.
Pelukis asa
Yogyakarta, 18 April 2015
*Niatnya renungan mingguan. Habis daftar volunteer lagi, entah bagaimana hasilnya. 
Read More

Minggu, 05 April 2015

BOPON

"Dua hal yang ndak boleh kamu tinggalkan, Nduk. Sholat dulu sebelum menuntut ilmu disekolah, sama ngaji, supaya hatimu ayem." 

Serambi rumah tua berdinding kayu jati selalu menjadi saksi perbincangan kami. Aku dan kakek ku. Setiap hari selepas beliau mengkhatamkan satu juz pukul 02.00 pagi, beliau mengusap ubun - ubunku. mengatakan, "Allah kangen sujudmu, Nduk." aku terbangun, diantarnya ke kiwan untuk ambil wudhlu, kemudian dua rakaat ditambah tiga rakaat, beliau tuntun.

Fajar selalu menjadi saksi ketika kakek dan aku bercengkrama didepan teras rumah, dengan buku digenggamanku. Saat itu aku masih kelas VI SD. Mendekati Ujian Nasional. Aku tidak bisa lepas dari buku - buku itu, entah kenapa. buku yang setiap hari selalu kubaca hingga sampai saat ini aku masih ingat betul dihalaman berapa buku itu membahasan kerusakan glomerulus. Buku itu adalah buku milik bapakku ketika beliau masih SMA. Orang keren tamatan SMA Muhammadiyah Sumberejo itu masih menyimpan buku - bukunya, dan aku menyukai buku - buku itu, buku terbitan Balai Pustaka tahun 1972.

"Hidup itu harus disikapi secara sederhana." timpal kakek. 
aku masih menggenggam buku itu dan mendengarkan kakek. matahari mulai kelihatan. 
"Mandilah. Majlis ilmu wis ngenteni."

Read More

Sabtu, 28 Maret 2015

Sebuah Nasehat untuk Diri

Setelah hampir satu bulan (re : 4 minggu) gak punya akhir pekan, akhirnyaa... sekarang (menjelang UTS) masih punya hari Minggu untuk yaa review lah. hari ini ada dua agenda. intinya saya hanya punya hari minggu untuk minggu ini. *curcolmode*

Sebuah Nasehat Untuk Diri.
Ketidakpunyaan akhir pekan selama beberapa minggu ini melahirkan hikmah. saya bertemu dengan orang - orang luar biasa yang mengajari banyak hal. tentang hidup, rasa syukur, pertemanan, dan masih banyak lagi.

Saya lupa kapan jelas tanggalnya. Berbincang dengan salah seorang santri As Salam sebelum ngaji dimulai (dan pas itu yang dateng emang sedikit jadi agak nunggu lama). namanya Hafidz. sesuai namanya, anak yang baru berusia 7 tahun ini pintar sekali mengaji. bersama 8 santri yang datang pada saat itu, saya menanyakan "apa kabar sholatnya?" dan mereka dengan riangnya menjawab ada yang bolong, ada yang penuh, ada yang lain - lain. nah, Si Hafidz ini terdiam. saya menanyakan lagi, "Mas Hafidz sehari sholat berapa kali?". dengan menundukkan kepala Hafidz menjawab "enam". subhanallah! "apa saja mas?" tanyaku. "sholat lima waktu ditambah tahajjud jam tiga." jawabnya. melanjutkan perbincangan, menunggu pukul 16.15
"wah, keren sekali. siapa yang membangunkan mas Hafidz?"
"bangun sendiiri, Mbak Puput."
"setelah itu ngapain?"
"membaca Al Qur'an."

*dyyaaarr
*tepukdada
*selamainikamungapainajaFut

Seorang anak 7 tahun broohhh!!!!
ketika saya memikirkan bagaimana seorang mahasiswa (termasuk saya) yang bekerja menyelesaikan "proyeknya" entah itu tugas, laprak, penelitian dsb.. lembur sampai pagi dan "lupa" tentang Dzat Mahamemberi.
#TamparanKeras

Dari Hafidz ini, pembelajaran baru didapat. dia adalah guru yang sudah mengajarkan hal yang berharga.

beberapa hari sebelum itu, saya bertemu dengan ibu luar biasa yang melahirkan ilmuwan muda Indonesia. ibu beranak 6 yang teguh dan super sekali. beliau adalah sulung dari 10 bersaudara. pembicaraannya bijak, kisahnya mengurai motivasi. mulai dari perjuangannya merawat adik - adiknya sedari kecil hingga saat ini merawat dan menjaga 6 anaknya.

Beliau adalah ibunda Ricky Elson. sosok yang mengajarkan bahwa hidup ini harus ikhlas, apapun yang kita dapatkan, itulah pemberian-Nya. hidup ini sementara, apapun kehidupan kita didunia pasti nanti akan berujung pada kematian. Hidup ini adalah memberi, berikan yang terbaik, apapun, pada orang - orang disekitar atau pada siapapun. hidup ini adalah bagaimana kita mengambil hikmah.

Dan... kisah mengenai Bang Ricky, dimulai dari kisah masa kecilnya hingga menjadi Ilmuwan seperti sekarang ini. Beliau adalah seorang yang bahkan saya sendiri tidak bisa menguraikannya menjadi kata - kata, yang jelas, perjuangan beliau SUPER SEKALI. menjad tamparan pula ketika mengingat bahwa kita sering mengeluh ketika memiliki masalah, namun masalah bukan untuk dikeluhkan, harus dihadapi.

Kisah sederhana sehari - hari saya dengan teman saya... Intan, diskusi, walaupun terkadang kita memiliki perbedaan sudut pandang dan pemikiran yang berbeda. justru itulah yang memperkaya :

- Banyak orang didunia ini yang beragama, namun tidak berketuhanan.
saya tidak akan menjabarkan itu.

- Proporsi berdoa. sudah seimbangkah doa yang kita panjatkan? hanya untuk diri sendiri kah?

doa merupakan salah satu substansi yang penting, namun kadangkala kita terlalu egois dalam berdoa. meminta ini itu untuk diri sendiri. yaa demikian.

Akhirnya, jam sudah menunjuk pukul 5.39. pernah suatu ketika ada yang menanyakan... ALAY banget e ditulis di blog? hehe. saya menulis karena ini adalah suatu kesenangan. siapa tau suatu hari nanti bermanfaat bagi saya sendiri maupun pembaca ^_^

sebenarnya masih banyak sekali pelajaran berharga yang ingin saya tuliskan. pelajaran dari "guru" kehidupan. tapi nanti, saya akan mencoba menuliskan setelah "tetekmbengek" ini selesai.

Asrama Putri Ny.Suharti V
Pagi - pagi dengan kopi

Read More

Selasa, 17 Maret 2015

Bapak

Bapak
Seorang anak perempuan yang saat ini jauh darimu. berjalan sendirian, meniti cita - citanya meskipun engkau selalu mengatakan "kamu tak sendiri,nak. Ada Allah membersamaimu."

terkadang aku malu ketika engkau menciumku ketika mengantarku sampai gerbang sekolah. entah kenapa. taukah Pak? ketika jauh aku rindu. aku rindu pelukan hangat sayangmu. senyumanmu, bahkan aku kangen marahmu.

Bapak, anak perempuanmu ini terlalu sering berbuat salah. minta ini minta itu tanpa paham betapa keras usahamu, peluh keringat dan tetesan air matamu.

Bapak. tidak ada cinta yang nyaman selain cintamu. cinta yang mampu melindungi dan menjagaku. mendidikku hingga menjadi seperti ini. membiarkanku terbang mewujudkan harapan tanpa lepas dari kontrol peradaban.

Bapak. Tidak ada cinta yang menggantikan cintamu. Cintamu terlampau tulus. cinta yang selalu mengatakan bahwa akulah satu - satunya anak perempuan yang tercantik di dunia. versimu.
sekarang, seiring bertambahnya digit umur, engkau mulai khawatir. khawatir jika aku pergi dan tidak memberikan cintaku kepadamu. taukah? ketika anak perempuanmu ini bertambah tinggi dengan suara makin halus, disanalah kasih sayangnya pada seorang bapak terpatri. aku tidak bisa mengungkapkan apapun, Pak. hanya bisa mendoakan.

Read More

Rabu, 04 Maret 2015

Percakapan

"Ah bobrok!! apa kata bangsa ini? Ide tak layak jual!? murahan!? Edan semua!"
"sudahlah, cukup."
"Cukup untuk hal besar yang tak diapresiasi?"
"hmm..."
"Aku mau kembali kesana saja."
"Jerman?"
"Ya. karena aku disini, di tempat yang ku anggap rumah, tapi nyatanya ini hanya penjara tanpa kenal satu dengan yang lainnya."
"lantas bagaimana denganku?"
"tetaplah disini. banga ini masih membutuhkanmu,"
"berarti kau masih peduli,kan?"

Read More

Senin, 02 Maret 2015

Keluarga Baru, Sepenggal Kisah EGSA 2015

Jangan terlalu diambil hati ya, 2 kata depan judulnya :p wkwk

Keluarga baru. iyaa, kami adalah satu kesatuan keluarga mahasiswa jurusan Geografi Lingkungan atau biar lebih keren tulis aja Environmental Geography yang tergabung dalam suatu rumah bernama EGSA (Baca : Environmental Geography Student Association).

EGSA merupakan organisasi Himpunan Mahasiswa jurusan yang terdiri dari pengurus dan anggota tentunya. dan alhamdulillah saya mendapat amanah untuk menjadi salah satu pengurus di divisi Pengkajian Isu Global (katanya sih namanya kece badai, orang2nya kece, dan imut :p). selain divisi Pengkajian Isu Global, ada divisi lain seperti Penelitian dan Pendidikan, Pengabdian Lingkungan dan Masyarakat, Pengembangan Kepribadian dan Organisasi, serta Media Informasi dan Jaringan.

Pada tanggal 27 - 28 Februari kami melaksanakan sidang AD / ART disalahsatu hotel (lupa namanya -__-) di Kaliurang. dibawah lereng kepundan merapi purba. panitia pelaksanaan sidang kali ini diketuai oleh Novita GEL 2014 dan dipimpin oleh Mas Jihadduddin, Mbak Aida, dan Mbak Sintha GEL 2013.

Tanggal 27 sekitar pukul 17.00 kami berangkat dari surga kami *cielah* Fakultas Geografi UGM tercintah menuju Kaliurang. sekitar pukul 20.00 dilaksanakan Laporan pertanggungjawaban dari pengurus EGSA periode sebelumnya yang akan berakhir masa jabatan. ada Mas Rifan selaku ketua, dan kadiv lain seperti mas Garda, Mbak Dhika, Mbak Riri, Mbak Khairina (atau siapa ya lupa nama lengkapya), dan Mas Yoesep. (mas Yoesep ini kadiv Pengkajian Isu Global 2014/2015 yang juga kece badai :v)

pelaksanaan LPJ berakhir dilanjutkan sidang AD/ART sesi 1 dan berakhir pukul 00.30. beberapa diantara panitia dan pengurus sebelumnya masih ada rapat lanjutan. beberapa lagi sudah terkapar (termasuk saya), dan bebeerapa lagi ada yang berwisata kuliner menikmati sate kelinci. hihi di Kaliurang atas dingin beeuud.. pasti enak makan sate kelinci anget - anget. kapan2 sana lagi ah, dan wajib coba! hahaha *evilmode

pelaksanaan dilanjutkan pada 28 Februari 2015. kami menutup bulan Februari dengan sidang AD/ART. AD/ART seperti halnya "undang - undang" kami dalam berorganisasi. jadi kami yang menentukan mau dibawa kemana hubungan kami *salah fokus*. bukaaan, maksudnya, AD/ART ini adalah landasan yuridis kami dalam kebijakan dan pengambilan keputusan. haha. ada yang lain sih tujuannya, tapi dituliskan itu aja biar singkat.

Sidang AD/ART memang melelahkan dan membuat saya tertidur di tengah sidang. hingga (Alhamdulillah) ketukan palu terakhir menandakan sidang berakhir pada pukul 15.15 dan dilanjutkan serah terima jabatan ketua EGSA yang baru. yup, Mas Afid. sertijab kaliini diwakili oleh Mas Zulhan (ketua EGSA dua tahun diatas kita) karena mas Rifan berhalangan hadir. janji dikumandangkan dan....
WELCOME FAMILY....
EGSA 2015/2016

Dilanjutkan foto - fotoo :p

Pengkajian Isu Global Fams :))

center of point nya mas galih :v

macak kece :p


Hello Fams :)
Proud to be Environmental Geography Family
love you all mumumu :3


Read More

Kamis, 19 Februari 2015

Perjalanan Empat Negara #4

Setelah beberapa hari libur nge-blog....
hehe

cerita dilanjutkan #4 : akhir cerita kali ini sekaligus hikmah.

pada tanggal 11 Februari 2015,.. kami harus pulang ke Indonesia. sehari sebelumnya, kami kehabisan uang. dan untuk naik taksi ke Bandara pun tidak cukup. disana ada problema : rupiah tidak bisa ditukarkan ke Kyats, dan... *tara banget iini* Taraaa!!! kartu kredit Futuha tertelan ^_^ walhasil, kami kere mendadak. hahaa

akhirnya, inisiatif saya dan Winda pergi ke Embassy. sebelumnya, kami menceritakan problema kami kepada dormmate kami yang berasal dari Malaysia dan Jepang. mereka juga mengalami problema yang sama. Ringgit dan Yen tidak bisa ditukarkan ke Kyats. okedeh dan dolar mereka tinggal sedikit.

apa karena iba gitu ya, kami besoknya pulang dan tidak punya dana bahkan untuk naik taksi, Joice, teman kami dari malaysia memberikan kami $3. kami sempat menolak, namun dia memaksa. akhirnya kami mengantongi $3 itu. hehe

dengan $3 sebenernya tidak cukup untuk naik taksi ke bandara. karena harga taksi ke bandara adalah $7. akhirnya kami memutuskan untuk ke Embassy tanpa Adit. teman kami yang dari Jepang saat setelah mandi mengejar kami dan memberikan $3 kepada kami. padahal kami sebenarnya tau dia juga tidak punya dolar lagi untuk berkeliling Yangon. namanya Hiroko Diana. asal Tokyo. yang menghabiskan liburannya di Myanmar. dia langsung memeluk saya dan meminta saya untuk menerima dolar. saya dan Winda sempat menolak, dia memeluk kami lebih erat dan mengatakan "karena kita teman.." *dan dengan itu, seorang Futuha yang susah terharu akhirnya tersentuh juga hatinya*. kami menerima pemberian Hiroko dan berjanji akan mengembalikannya ketika kami sudah mendapat dana dari embassy. akhirnya....
dua orang perempuan jalan kaki 2,5km di negeri orang. dan Adit tidak mengetaui ini. hehe. sesampainya di Embassy, kami disambut oleh dubes Indonesia di Myanmar. dengan wajah melas dan kucel kami diijinkan masuk ke dalam kantornya. kami menceritakan banyak hal yang kami alami disana. dan.... dengan wajah iba, dubes memberikan kami sejumlah dolar dan kyats serta jajanan halal khas sana. sementara itu, kami pulang diantarkan dengan mobil pribadi kedubes. hehe

sekitar pukul 17.50 waktu sana, problem solved! uang sejumlah $30 dan 20.000 kyats ada ditangan! kami mengembalikan kembali uang Joice dan Hiroko. akhirnya, pukul 06.00 pm kami berangkat menuju Yangon International Airport.

Read More