environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Jumat, 25 Desember 2015

Menyoal Jalanan

credit : s3.amazonews.com
Saya akan menceritakan sesuatu hal dan membagikan unek - unek saya yang absurd ini perihal jalanan. Terlepas dari pengalaman pribadi atau hasil tukar pikiran dengan teman - teman saya.

Futuha (19) dan Hari (20), kami memiliki hobby yang sama, bersepeda dan membaca. Walaupun hobby utama kami sangat - sangat berbeda, saya suka menulis dan membuat cerita, dia komikus dan pemain musik, biola lebih tepatnya. Suatu hari kami berjalan kaki mengelilingi area Malioboro, penghujung selepas maghrib, usai mencari buku Marx di Shopping Book Center. Kami mendapati hal - hal yang umum didapati bagi orang yang pernah atau tinggal di Jogja, Macet. Jalanan ramai, apalagi di sekitar area wisata. Sangat tidak nyaman untuk pejalan kaki. Sebelumnya, karena hal inilah, Saya (19), Fadhil (20) dan Aditya (18) menelurkan paper perihal solusi kemacetan yang dialami oleh Jogja, khususnya untuk area wisata dan (alhamdulillah) lolos seleksi untuk dipublikasikan pada acara Indonesian Scholar International Convention (ISIC) 2015 di Kings College London, Oktober 2015. Karena beberapa persoalan, sebut saja birocrazy, kami belum berkesempatan untuk berangkat ke London (Tapi semoga impian kami untuk #NgopidiLondon bisa terwujud, aamiin).

Balik lagi ke persoalan awal, Jadi, ceritanya, selain mendapati kemacetan dan crowded yang menyebabkan discomfortable index wisatawan meningkat, kami juga mendapati ketidaktertiban pengguna jalan. Tau trotoar kan? Tau fungsi trotoar kan? Itulah yang menjadi sorotan utama kami, selain kemacetan, crowded jalanan, polusi dan tetekbengeknya. Malfunctioned trotoar, lebih enak gitu kali ya.. hehe. Pukul 19.30 saya dikejutkan dengan 3 bocah yang berboncengan menggunakan motor terjatuh tepat 2 meter didepan saya karena menghindari tumpukan gerobak di trotoar. Adeknya tidak memakai helm. Kaget kan akhirnya. Saya dan Hari hendak menolong, tapi entah karena gengsi atau apalah, adek - adek (yang mungkin berusia 13 - 15 tahun) langsung bangun dan menaiki motor mereka kembali. Cenglu! tanpa helm! masih bocah! piye jal perasaanmu?!

Sebenarnya, kalo misal nih ya, dilogika saja, jika trotoar oke, ada tetumbuhan, kursi jalanan, tidak ditumbuhi PKL dan dalam kondisi yang bersih, sampingnya disediakan lajur sepeda dengan peraturan tidak diperbolehkan kendaraan bermotor melewati lajur tersebut, waaah pasti asik tuh jalanan dipake buat jalan. Hm. sayangnya, kalo pengen kayak gitu, kayanya butuh waktu yang lama dan regulasi yang tidak gampang. Mindset pengen yang instan sepertinya masih menjadi candu di masyarakat kita, makanya pada gamau antre, lajur sepeda dipake buat kendaraan bermotor, trotoar dibuat jualan dan lahan parkir. Kalo masalah jualan, kami meyakini, uang negara banyak, bahkan di akhir tahun pun "kelebihannya" dihambur - hamburkan dengan mengadakan acara - acara tertentu supaya anggaran dana bisa ter-make-up dengan baik, mengadakan seminar atau pelatihan gratis dan pulang - pulang pesertanya pada bawa pesangon uang transport sebesar 200k, jaket a**i, tempat penyelenggaraan di hotel mewah dlsb dlsb. Wat de -____- duit itu, kalo manajerialnya baik, pengaturannya baik, gabakal deh ada ceritanya masyarakat tak terfasilitasi. Ah itu bukan bidang saya ya, hihi. Maafkan, ini hanya unek - unek saya yang saya perbincangkan kemaren dengan Hari. Agak berat memang bahasnya, tapi yaa sekedar share pemikiran aja.

PKL sejatinya bisa terfasilitasi dengan tempat yang lebih layak, tentu bukan jalanan. Sek, saya kasih pertanyaan. Tau ga berapa timbal yang terlepas di jalanan akibat ban motor dan polusi udara kendaraan bermotor? Tau ga timbal itu kemana aja? Bro, sis, tidak menutup kemungkinan, logam - logam berat itu menclok ke makanan yang dijual disamping jalanan, kita beli lalu masuk kedalam perut kita, menuju sistem aliran darah, dan yaa you know lah akibatnya gimana ._. Andai kata, temen2 PKL terfasilitasi di tempat yang lebih layak, tentu akan banyak sekali keuntungan yang didapatkan, mulai dari kenyamanan, kebersihan, dan lain sebagainya. Ini harapan sih. 

LAGI.
Beberapa hari yang lalu, saya dan Yanti (21), pergi ke Sekaten, Sebut saja jomblo - jomblo kemayu lagi mengisi malam minggu. Kami berangkat pukul 20.05. sampai sana, saking macetnya, baru nyampe pukul 21.10, bagi yang mengunjungi Sekaten pasti tau, sepanjang jalan depan BI dan sebelah selatan alun - alun utara, seperti apa kondisinya? Edyan bianget. Motor ki akeh tenan, gur parkir nang pinggir dalan, dikiro ga ono wong sing butuh mlaku po? yah, intinya itu. Memang sih kalo dari segi ekonomi masyarakat, penghasilan masyarakat lokal akan bertambah pada saat momentum sekaten dengan menjadi tukang parkir, Retribusinya Rp.5000; bray per motor, bayangkan ada berapa ratus ribu motor yang silih berganti mengunjungi Sekaten setiap harinya per periode? Okelah, its okay, yang ga oke itu, JALANANNYA DIPAKE PARKIR, GA ADA RUANG BUAT PEJALAN KAKI. Thats why, itulah permasalahannya; Nampaknya ruang terbuka akan sangat sulit ditemui pada kota - kota kita saat ini, hanya pembangunan, pembangunan, dan pembangunan yang berorientasi komersial. Cah, kita ini yo bayar pajak lo, setidaknya ada effort lah. 

Btw, ini unek - unek random, ketidakjelasan saya. 


Read More

Senin, 14 Desember 2015

Pinus dalam Sebuah Retorika #2

...Di rumah, bayi monsterku sudah menunggu. Sepertinya dia kehausan. Oiya, kami akan nge-teh bersama. 

***
Jalanan masih basah, hujan belum kunjung berhenti. Aku sangat menyukai suasana hujan, tapi aku tidak menyukai hujan. Suasana hujan jauh membuat nuansa lebih romantis dari biasanya, namun karena hujan, aku basah. Kedinginan. Kelu. Pernah mendengar cerita tentang hujan dan teduh? Hujan dan teduh tidak akan pernah bertemu sekalipun mereka saling merindu dan dirindu. Belum pernah mendengar ceritanya, ya? Baiklah, nanti akan ku ceritakan saat berdua di depan teras menghirup segarnya aroma teh hijau. Tiga bocah kecil ini terus mengikutiku dari belakang, mereka tak berpayung, katanya hujan akan membersihkan debu di tubuh mereka.

Lothestoft Street XIA 346

Aku tidak mendengar jeritan atau suara apapun dari luar rumah, perlahan aku membuka pintu, menoleh kanan - kiri mencari bayi monsterku, tiga bocah itu menunggu di luar, katanya mereka takut mengotori lantai. Aahh apalah ini, lantai kotor bisa dibersihkan, sementara prasangka kotor akan susah dihilangkan. Sesegera mungkin aku menyuruhnya masuk ke dalam, memberinya handuk dan kemudian memberi mereka kecupan, masing - masing mendarat di kening. Bayi monsterku ternyata masih tidur! di sampingnya ada beberapa mainan dinosaurus, aku sering mendongeng tentang dinosaurus, besar namun akhirnya mati juga. Kadangkala dinosaurus layaknya juga revolusi industri. Tau mengapa? Akan ku ceritakan nanti. Kemarilah, bersamaku nanti otakmu tak akan pernah kosong, rumah ku terbuat dari rak pustaka, karena bayiku sangat menyukainya. 

Dapurku di dekat ruang makan, di sebelah kanan perapian. Isinya macam - macam, tidak memiliki lemari pendingin, namun di dapurku ada suatu balok kayu berlapis yang diantara lapisan didalamnya berisi pasir, sensor pendingin ter-stel otomatis. Beberapa hari yang lalu bayi monsterku baru saja menyelesaikannya. Dia sangat tertarik terhadap teknologi. 5 buah gelas kaca diatas meja, aku mengambil 2 sendok teh gula masing - masing untuk 5 gelas itu, menyeduhnya dengan air panas, lalu menyelupkan teh kantong kedalamnya. Ada rahasia besar ketika meminum teh bersama, yang pertama : kehangatan, sekalipun teh itu sudah hangat, namun ketika diminum bersama dia akan jauh lebih hangat lagi. Yang kedua : cinta, segelas teh yang dibuat dengan cinta akan menyalurkan cinta ke si peminumnya. Percayalah padaku. Yang ketiga : Senyuman. Tolong percaya padaku bahwa ketika kita diberi sesuatu dengan senyuman, maka akan kita balas pula dengan senyuman. Dan taukah? Tidak ada senyuman yang lebih hangat selain senyuman yang tercipta dari rasa cinta dan ketulusan. Segelas teh memilikinya!

Di sebuah rak, aku meletakkan kue - kue kering yang aku buat bersama bayi monsterku dua hari yang lalu. Terbuat dari cokelat, gandum, madu dan susu. Bentuknya bulat, bukan digoreng atau dikukus, namun dipanggang. Aku yakin, ketiga bocah itu akan sangat menyukainya, meskipun daritadi aku hanya membiarkan mereka melongo di kursi ruang tamu.

"Silakan!" kataku. "Horeee!! teh dan kue!" teriak mereka. "Hush, jangan keras - keras, bayiku masih tidur". Mereka terdiam, tersenyum sambil menyenggukkan kepala. Aku sesenggukan. Haru, rindu. Entahlah, wajah polos anak - anak memang tiada tara membagi kebahagiaan.

"Rumah ibu monster kecil, ya?"
Salah satu dari mereka akhirnya membuka mulut kembali. 

...bersambung...

Read More

Sabtu, 12 Desember 2015

Pinus dalam Sebuah Retorika #1

"Menulislah untuk dirimu sendiri." Kata Dewi Lestari.

Oke, kenalkan, aku akan menyamar. Bukan, ini adalah aku. Namaku Eva, induk dari monster. Konon, Eva merupakan plesetan nama dari kata "Evil". Tapi karena mungkin aku adalah perempuan, jadilah nama Eva. Walaupun sebenarnya aku meragukan keperempuananku. Hanya saja, seperti yang ku bilang tadi, aku adalah induk dari monster. Kesimpulannya? Induk ; Perempuan. Baiklah, aku adalah induk monster, bisa membayangkan monster seperti apa? Jadi, jika tidak ingin tersakiti, jangan pernah dekat atau berteman denganku.

Beberapa hari yang lalu aku berjalan sendirian, mendeteng tas berisi laptop dan seperangkat alat tulis lainnya. Sendirian, sangat sendirian dan mungkin merasa kesepian. Aku menyusuri hiruk pikuk kota kecil ini, bertemu gelandangan, sesekali aku cekikikan bersama mereka tanpa memberikan sekeping koin pun. Jahat ya? Yaa.. memang begitulah. Hingga sampailah aku pada sebuah kafe bernama Moratella. Sekilas kafe itu tampak menyenangkan. Maksudku, bangunan dengan nuansa klasik dipadupadankan dengan pohon palm. Menyenangkan sekali, bukan? Segera aku memasuki kafe itu. Beberapa pelayan langsung menghampiriku, menyiapkan dua kursi besar untukku, karena satu kursi saja tidak akan muat. Aku meminta satu kursi lagi, kataku : Nanti kalau sahabatku datang, biarkan dia duduk disini, menikmati kopinya sambil menelan kepahitan : betapa pahitnya dia di dekatku, bisikku lirih menyatakan kalimat yang terakhir. 

Sembari menekan tuts atau entahlah apa namanya, keyboard atau tetekbengeknya, secangkir kopi telah berada di depanku. Raut muka ku masih datar saja, tampaknya pelayan kafe itu muak denganku. Ah biarkan, aku mencoba bermasabodo dan menikmati kopi. Beberapa menit kemudian, Anggi. Sebut saja demikian, dia adalah salah satu spesies non-monster, tidak sepertiku, Anggi adalah perempuan berhati malaikat, versiku. Semua yang dikatakan olehnya penuh kebijaksanaan, berbanding terbalik denganku yang selalu salah dalam bertindak dan membuat keputusan - versi beberapa orang.

Anggi bercerita kepadaku tentang angsa nya yang mulai tumbuh dewasa, beberapa diantaranya meminta segera dinikahkan. Bayangkan! Ah aku sendiri tidak pernah bisa membayangkan bagaimana angsa - angsa itu bisa tukar cincin dan mengenakan gaun pengantin. Aku tetap saja menikmati kopi, tanpa peduli keberadaan siapapun di sekelilingku. Termasuk Anggi yang awalnya ku tunggu - tunggu. Kali ini aku merasa dalam serdadu sepi, sangat sepi. Tidak merasakan keberadaan orang, bahkan angin pun enggan menerpaku. 

Aku mulai bosan, Anggi meninggalkanku begitu saja. Salahku memang, tidak mengindahkan keberadannya. Tapi dia juga goblok, mau - mau nya berteman dengan monster jahat sepertiku, sekalipun Anggi tidak akan pernah berkata di depanku bahwa aku pun sebenarnya sangat goblok. Menjadi induk monster dan berpura - pura tidak mengerti keadaan, tidak tahu diri, buruk rupa, buruk tindakan. Entahlah. Aku selalu percaya bahwa Anggi tak akan pernah mengatakan itu. 

Hujan mulai turun, menjadi stemflow pada pohon - pohon palm, aku bisa memandanginya dari dalam Moratella melalui jendela. Tiba - tiba ada kusir datang dari arah barat daya, kereta kuda nya tertutup rapi. Maklum saja, hari ini hujan. Aku mencoba memaklumi, seseorang yang ada di dalamnya, pasti akan kedinginan jika kereta itu terbuka. Pesakitan, kali ini bukan kesepian yang aku rasakan, tapi pesakitan, sangat sakit. Meskipun tidak tau penyebabnya apa. Syracuse, sebuah koloni Yunani di Pulau Sicilia. Pada masanya, mencari orang dengan logika handal untuk memenuhi kebutuhan pasar dengan berbicara secara persuatif. Aku tidak tau apakah perkiraanku ini benar. Namun Syracuse tidak ada pada abad 23. Dia hanya berada singkat di tahun 427 sebelum masehi. 

Baiklah, abaikan pemikiran randomku. Payung hitam mulai mekar, entah kenapa, warna hitam adalah warna yang paling cocok untukku, terbebas entah material penyusunnya dari hematit ataupun bitownit. Ah, ada - ada saja, betapa berat payung yang berbahan itu...

Sesegera mungkin aku menapaki jalanan. Sebuah sistem jalan metropop - demikian aku menyebutnya. Bukan karena sisi feminisme-seksi-cerdas-nan menggoda, bukan itu. Sebut saja ini sistem jalan yang mawut. Harusnya aku bisa berjalan dengan aman dan tenang di trotoar sebelah kiri, namun nyatanya, trotoar ini penuh lapak dagangan, bukan masalah pendapatan penghasilan atau bagaimana, tapi masalah penempatan. Ya, kali ini aku mempermasalahkannya. Bayangkan jika jalanan itu memiliki trotoar yang bersih, dengan lampu yang berkelip mesra ditambah beberapa pepohonan dan kursi - kursi disekitarnya. Pasti menyenangkan. Di sebelah kanan trotoar ada jalur khusus sepeda, tanpa hambatan, tanpa parkir morat - marit di sepanjang toko samping jalan. Betapa eksotisnya jalanan, akan banyak yang meninggalkan kendaraan bermotornya kemudian turut serta berjalan ataupun menggunakan sepeda, setidaknya untuk jarak yang relatif dekat, 2 km misalnya. Tidak boros, hemat energi, dan yang jelas tidak mengganggu kesehatan orang banyak. Bayangkan asap kendaraan yang dikeluarkan setiap berpindah tempat walaupun dekat, berapa emisi karbon yang dihasilkan, berapa ban motor yang bergesekan dengan jalanan lalu lepaslah Pb di area jalan kemudian dihempaskan oleh surface runoff, masuk ke dalam sistem irigasi kemudian terinfiltrasi ke dalam sistem airtanah? Udara kita hirup, airtanah kita minum! Ah, nampaknya monster ini terlalu memimpikan hal yang cukup mustahil di kota kecilnya. 

Kali ini aku tetap berjalan, melihat sosok - sosok kecil pengamen jalanan tanpa alas kaki. Mereka tak ketakutan melihatku, justru menghampiri. Mereka bernyanyi di depanku "Ibu monster yang cantik rupa, kasihanilah kami, kami berdendang untuk ibu, kami menari untuk ibu, diiringi rintik hujan dan daun berguguran" begitu kurang lebih syairnya. Aku tertawa puas, merasa terhibur, kemudian mengajak mereka berjalan bersamaku, "hai adik - adik kecil yang manis... Ikutlah bersama ibu monster, nanti kita makan kue dan minum teh bersama.". "Horeee!!" sahut mereka.

Di rumah, bayi monsterku sudah menunggu. Sepertinya dia kehausan. Oiya, kami akan nge-teh bersama. 

... bersambung ...
Read More