environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Senin, 28 Maret 2016

"Terserah"

Sepertinya sangat cocok digunakan untuk para kawula yang sudah menyerah, ya?
Hm.

Suatu hari, ketika kita menawari seseorang untuk makan bersama, dan kita menanyakan "mau makan apa?" | Terserah.
Ketika ada tugas yang harus direvisi, dan kita menanyakan "Tugasnya mau digimanakan?" | Terserah.
Ketika kita mengadakan janji, misal untuk menyelesaikan makalah dan lain sebagainya, dan kita menanyakan "Enaknya mau kerjain kapan? di mana?" | Terserah

Atau,
Ketika kita sudah berusaha sepenuh hati, bekerja keras, mengeluarkan segenap upaya, dan hasil belum kunjung kelihatan | Terserah Tuhan, lah!

Kata 'terserah' sepertinya memang identik dengan suatu 'penyerahan'. Betul?
Dapat diartikan sebagai kita yang acuh, atau bisa juga karena kita tidak memiliki daya maupun opsi lain.
Namun demikian, sekali lagi, setiap tindakan mengandung konsekuensi, dan konsekuensi tidak lepas dari tanggung jawab.

choosing to follow your heart can be a rational act as long as you have weighed up every option equally.

Senin pagi.
Hari pertama UTS.
Semoga lancar dan diberi kemudahan, ya! Aamiin.

#SelfReminder
Dengan segelas air putih di meja dan cokelat almond pemberian ayahnya yang sudah habis dimakan.

Read More

Jumat, 18 Maret 2016

Perempuan yang Mempekerjakan Perempuan

Selamat Pagi :)

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti kelas perkuliahan PSDM (Pengembangan Sumberdaya Manusia / Human Resources Development). Saya sengaja mengambil mata kuliah itu, karena saya rsa itu penting (kalau saja, nanti, saya bisa bikin suatu Rumah Baca dan memerlukan banyak staff. wkwk aamiin) disamping mata kuliah tersebut diampu oleh dosen yang menyenangkan dan very open minded. 

Hari itu kami belajar mengenai 3 tahapan penting dalam pembangunan sumberdaya manusia, antara lain : Pengendalian (bagaimana supply dapat dikendalikan); Pengembangan (bagaimana potensi yang ada dapat dikembangkan); serta Pemanfaatan (bagaimana sumberdaya yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal).

Kami masih membahas satu topik pada 100 menit itu, yakni tentang pengendalian penduduk. Tujuan dari pengendalian penduduk itu adalah mengendalikan kuantitas (baik jumlah maupun komposisi) untuk mempermudah pengembangan (kualitas) dalam rangka pemanfaatan sumberdaya manusia. Nah, kebetulan saat itu kita berfokus mengenai fertilitas (kelahiran) dimana fertilitas sendiri merupakan suatu intermediet variabel. Terdapat 11 variabel yang terbagi menjadi 3, yakni : intercost (hubungan seks); konsepsi (saat pembuahan berlangsung dan berhasil tumbuh di rahim ibu); dan gestasi (berupa outcome/kelahiran).

Tiba - tiba secara tidak langsung dosen menyinggung tentang teori Schultz (education, training, and investments in health open up opportunities and choices that otherwise would be unavailable to many individuals) dari teori itu, bisa kita kembangkan 3 dimensi pengukuran human development, yakni pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Entah karena angin apa, diskusi kami menjadi "belok". Kami menyinggung mengenai perempuan; Salah satu program pengendalian penduduk adalah dengan mengendalikan fertilitas, dan pengendalian fertilitas salah satunya dapat dilakukan dengan pendidikan, utamanya woman educated. Perempuan yang cenderung berpendidikan, umumnya akan menunda usia perkawinan, setidaknya diatas usia 20 - 22 tahun, berbeda dengan 20 - beberapa puluh tahun sebelumnya dimana perempuan menikah muda seolah menjadi tradisi.

Jika usia perkawinan ditunda, otomatis masa subur akan berkurang. Misal : seorang perempuan mengalami menstruasi pertama pada usianya yang ke-12, kemungkinan dia akan menopause sekitar usia 49 - 52 tahun. berarti ada sekiitar 40 tahun masa suburnya. Jika perempuan itu menikah di usia yang ke-18, itu artinya terdapat 36 tahun masa subur, nah jika perempuan tidak mampu mengendalikan waktu kelahiran, maka dimungkinkan potensi memiliki anak dalam jumlah yang banyak akan besar. Berbeda dengan perempuan yang menikah di usia ke 24 atau 25 (memang idealnya secara psikologis dan biologis adalah sekitar usia segitu ._.), maka dia akan memiliki masa subur pasca pernikahan adalah 27 tahun. Dan, perencanaan kehamilan minimal dapat dilakukan dengan baik.

Masalahnya disini yang muncul adalah, ketika perempuan berpendidikan, terdapat suatu kecenderungan perempuan akan lebih condong ke sektor publik ketimbang sektor domestik. Beberapa solusi yang ditawarkan adalah dengan perempuan tersebut tetap berada di sektor publik, bekerja, dan mendapatkan uang, sementara dia akan mempekerjakan perempuan lain untuk mengurusi sektor domestik. Hm, bahasa gampangnya gini : misal ibu Ngatiyem bekerja di kantor X dengan waktu kerja pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 16.00 WIB, apa ada waktu untuk mengurus rumah, merawat suami (hahaahha), dan menemani anak? Sangat sulit dilakukan kecuali bagi wanita yang memang bagus dalam manajemen waktu (itupun saya rasa masih sangat keteteran, karena saya melihat ibu saya yang seorang ibu rumah tangga, dan tetep riweuh ngurusin adek dan bapak... ya kan saya jarang di rumah sejak beberapa tahun yang lalu). Nah solusinya? Bu Ngatiyem akan mempekerjakan Bu Sarmini untuk mengurusi "urusan rumah".

Bagaimana dengan pendidikan anak? Jika masih kecil? Nah, inilah yang menjadi risikonya. (tapi saya cukup takut membahas tentang pendidikan anak usia dini, belum ada dasar ilmu ._. yaudah, besok belajar)

Hal ini bisa kita sangkutpautkan dengan TKW yang bekerja di luar negeri, mereka bekerja untuk wanita yang bekerja dengan penghasilan yang lebih tinggi dan mereka digaji lebih rendah. Itulah sebabnya, pahlawan devisa kita ini tidak lepas dari antek - antek politis, bau - bau makelar, apapun lah itu, yang jelas, ketika membahas masalah perempuan dan hak - haknya, saya menjadi sangat sensitif. Semoga para perempuan - perempuan tangguh yang berjuang di Negara sana bisa kuat dan selalu dalam lindungan Tuhan. Aamiin.

Nah, nanti itu siklusnya juga bakal muter - muter, serius ._.

Menjadi perempuan berpendidikan, itu penting. sangat penting, ya walaupun bukan (in case) dalam akademik. Tapi tujuan pendidikan kan "mencari kebenaran", kita belajar dari apapun yang telah kita lakukan, kita ambil kesimpulan dan pengalaman, dari situ pola pikir kita akan terasah.

Saya jadi ingat guyonan teman saya, Irvan Agung. Dia menanyakan pada saya :
"Fut, kalau anak cerdas itu berarti dari mana nya yang cerdas?"
"ibunya, dong"
"kalau anaknya bodoh?"
"ibunya, bukan?"
"bukan!!"
"lhah terus?"
"ayahnya laah..."
"kok?"
"yaa ayahnya yang gobl*ok, tidak bisa mencari ibu yang cerdas."

Ngikik sumpaah ._.
Nah, memilih untuk berada di sektor publik maupun sektor domestik adalah hak masing - masing perempuan. Tapi ya itu, semua keputusan pasti mengandung risiko, kan? Yasudah, tanggung jawab adalah bagian dari konsekuensi :"))

#PagiRandom



Read More

Selasa, 15 Maret 2016

Tentang Menyakiti dan Disakiti

Pernah nonton film "The Imitation Game?" Film tersebut menceritakan tentang bagaimana kerja keras dan usaha Alan Turing dalam memecahkan Enigma.Alan Turing adalah cryptanalyst legendaris terbaik di dunia, ahli matematika, sebagai dosen di University of Cambridge serta pemecah kode terbaik di dunia. Film yang disuteradari oleh Morten Tyldum ini pernah mendapat nominasi Academy Award untuk kategori film terbaik.

Atau pernah nonton film "San Andreas"? Sebuah film yang diluncurkan pada 2015 lalu dan menyita perhatian publik. Film ini disuteradarai oleh Brad Peyton dengan penggubah musik yang luar biasa, Andrew Lockington. Film Sains-Fiksi tersebut menceritakan bagaimana sebuah keluarga yang saling mencari dan menyelamatkan diri dari akibat adanya gempa besar yang mengguncang patahan San Andreas dan berujung pada tsunami. Ya walaupun secara teoritik ilmu pengetahuan, film ini terlalu berlebihan. Hehe.

Dalam film The Imitation Game, ada suatu klise dimana Alan Turing bertemu dengan seorang gadis yang cerdas, pada saat itu Joan Clarke, nama gadis tersebut, terlambat untuk mengikuti seleksi agen rahasia sebuah stasiun radio melalui jalur seleksi teka - teki silang. Waktu yang diberikan adalah sebanyak 6 menit dan Joan berhasil menyelesaikan pertanyaan - pertanyaan itu dalam waktu 5 menit 13 detik, semua lawannya adalah pria, dan Joan, yang paling cepat.

Turing dan Joan bekerja di sebuah stasiun radio untuk memecahkan suatu kode rahasia yang digunakan oleh pasukan Jerman pada saat perang kala itu dengan Inggris. Hitler begitu epik dalam merancang kode sehingga sangat sulit untuk dipecahkan. Bekerjalah Turing dan kawan - kawannya untuk menguak informasi dari kode - kode tersebut. Awalnya, Turing bukanlah team leader, namun dia ingin merancang suatu mesin yang kiranya bisa digunakan secara efektif dan efisien dalam pembacaan Enigma. Hingga suatu hari, ketika rancangannya disetujui oleh Pemerintah Britania Raya, Turing menjadi team leader dan kemudian memecat dua anggotanya (salah satu anggota tersebut adalah ketua saat sebelum Turing menjadi ketua). 2 anggota tersebut marah, protes, kesal, dan bahkan, teman - teman satu tim dengan Turing menganggap bahwa Turing tidak memiliki rasa kemanusiaan. Hampir setiap hari ruang kerja berasa dingin walaupun terdapat 3 anggota dari project itu.

Christoper, nama mesin itu, pernah mengalami kegagalan pada saat pengujian pertama. Anggota Turing marah besar dan menganggap Turing tak becus. Hingga akhirnya terjadilah baku hantam, Namun semenjak keberadaan Joan di tim itu, Turing bekerja sewajarnya, hingga ketekunannya berbuah manis : Christoper dapat memecahkan enigma. Suatu hari, Turing menemui Joan dan Joan mengatakan bahwa ia harus pulang ke orang tuanya dan menikah. Turing menahannya, dan mengatakan bahwa dia bahagia bersama Joan disini. Walaupun, keduanya adalah sosok sosok karirisme *abaikan istilah hehe*. Turing mengajak Joan untuk menikah, akhirnya dipinanglah Joan dengan sebuah cincin yang terbuat dari filamen kabel.

Suatu ketika, Turing mengatakan bahwa dia membatalkan rencana pernikahan, sebabnya adalah, Turing takut kalau tidak bisa mencintai Joan dengan selayaknya, karena dia sendiri adalah seorang homoseksual. Joan awalnya dapat menerima hal tersebut dengan statemen bahwa "cinta kita adalah cinta yang sewajarnya. Aku tetap menjadi aku, dan kamu tetap menjadi kamu." namun Turing tidak bisa. Kecewalah Joan, dia menampar Turing lalu meninggalkannya.

Beberapa tahun kemudian, Joan datang berkunjung ke kediaman Turing, saat itu ternyata dia telah bersuami dengan seorang tentara. Joan meminta Turing untuk kembali membuka mata terhadap dunia luar, hingga akhirnya, Turing mati bunuh diri setahun setelah itu. 4 tahun setelah Turing mati, Inggris membunuh hampir 4000 pasangan homoseksual karena dianggap menyalahi norma. Dan larangan itu dihapuskan (kira - kira, kalau tidak salah) ketika tahun 2013.

Berbeda dengan San Andreas yang lebih menceritakan tentang kekeluargaan, Ray dan Emma, orang tua dari Blarke. Keduanya mengalami permasalahan rumahtangga dan Emma memiliki pacar baru. Suatu hari, Pacar Emma mengajak Blake untuk mengunjungi suatu pameran bisnis di California. Namun pada saat itu terjadilah gempa dan Tsunami, Pacar Emma tidak peduli dengan keselamatan Blake justru dia meninggalkan Blake dan melarikan diri untuk mencari perlindungan. Beruntunglah Blake ditolong oleh seorang laki - laki yang baru dikenalnya, mereka berusaha menyelamatkan diri. Sementara itu, Emma yang saat itu sedang berada dengan koleganya di tempat yang juga mengalami gempa, tidak bisa berbuat banyak. Ray, seorang tim kebencaaan US, mendengar kabar bahwa tempat dimana anak dan istri mereka berada sedang dalam bahaya. secepat mungkin Ray menghampiri istrinya dengan helikopter dan menjemputnya, lalu bersama - sama mencari Blake dan mereka akhirnya bersatu kembali.

Ya, kita tidak akan pernah bisa memaksa orang lain untuk tidak menyakiti, dan bahkan kita, belum tentu bisa mencegah diri untuk tidak menyakiti.

Cara terbaik adalah : Menerima. Kemudian memaafkan. Baik diri sendiri maupun orang lain.

Kalau kata Mas Duta "Ku harus bisa, bisa berlapang dada, ku harus bisa, bisa ambil hikmahnya".

Segala sesuatu dalam hidup ini layaknya hukum newton iii : aksi - reaksi, sebab akibat.

Selamat Malam!

Tertanda,
Gadis dengan Chococips di meja belajarnya.

Yogyakarta. 15.03.16
#self.reminder
Read More

Jumat, 11 Maret 2016

Random : Jumat Pagi bersama Hujan

Kompilasi Jumat pagi yang menyenangkan : chatting vertikal dan horizontal, kopi, buku, musik ilahiah dan, pop-klasik. Menyenangkan. Sungguh.

Bagaimana aku akan memulai ceritaku? Sementara draft dongeng menumpuk di komputer, memang sih, animatornya sudah dapat. Dan salah satu animatornya pula adalah aku. Walaupun harus berjubel buat belajar sketchbox (bukan sketch book ya, beda), tapi yaa... hmm. Yasudahlah! Haha.

Aku akan memulainya, ini terlepas dari Survey Tanah, Geomorfologi, dan lain - lainnya. Nanti kalau sudah "siap". In case, sudah menemukan titik terang dari semua konsep ke-geografi-an yang sudah sejak 7 tahun ku bangun (dari kelas 2 SMP, semenjak nyemplung dari OSN Fisika ke OSN IPS. Apalah itu, abaikan), aku akan mengisi web site/blog/youtub dengan tema bener - bener pure geografi. Tapi sasaranku disini bukan cuma orang dewasa, melainkan utamanya adalah anak - anak. Thats why, doakan ya!

Apa ya.. Ceritanya sekarang, saat menulis ini, aku sedang rehat sejenak, tepatnya dari 2 jam belajar mengklasifikasikan tanah pakai sistem USDA, wah, cukup ribet. Dari mulai ordo hingga subgroup, itupun, bagi yang belum terbiasa dan ingin akurat, harus berkali - kali baca biar paham, biar paham data juga supaya bisa mengklasifikasikan. And somehow. ini semua pakai text berbahasa Inggris, Nak. Kamu harus belajar bahasa. Catat itu!

Kopiku.
Baru matang dari penggodokannya. Kopi Robusta mix Arabica. rasanya agak aneh memang, ada asam manis pahitnya. Tapi sengaja beli yang moderate caffein, Atau misal kalo kamu ingin menyelami duniaku, anggap saja begitu, sisanya, tambahkan bahan - bahan sesuai seleramu *ahahha*. Yasudah sih, cuma mau menulis saja. Terus apalagi? Oiya, aku cukup sedang kesal. Mengenai informasi yang simpang siur, istilahnya pemberi harapan palsu. Ada baiknya memang, kalau kita mendapat info, di cek dulu kebenarannya. Dan, di keep dulu sampai terbukti benar. Kalau terpaksa? Ya dijelaskan, kalo ini belum tentu benar. Kalo memaksa? Ya disuruh sabar. Tapi nyatanya hubungan horizontal tidak sesimpel itu, percayalah padaku :v

Sebenarnya, ada hal lain yang ingin kuutarakan, lebih tepatnya keinginan dari dalam diri sendiri : Aku pengen ke pantai.

Yasudahlah, mungkin nanti.

Read More

Selasa, 01 Maret 2016

Analogi Kampus dan Lahan

"Kamu semakin dewasa dan aku semakin tak paham". Muallifa, 2016

Pagi itu mengalir biasa saja, hanya ada bunyi - bunyian pertanda ada chat masuk. Yaa... dari orang yang selama ini aku "respect", entah pemikiran, kepribadian, dan beberapa hal menarik lainnya. Aku menganggapnya kakak. Laki - laki paling sabar menghadapiku yang pecicilan ini, bersedia membagi ilmu dan pengalamannya, serta mampu memberi keputusan dengan cepat dan bijak. Yaa, begitulah sosok yang aku kenal. Mas Yoesep. Aku biasa memanggilnya Mas Ocep. Hari itu aku menemaninya membeli tas jinjing sebagai pengganti tas yang hilang saat kuliah lapangan.

Jalanan Jogja masih ramai seperti biasa. Aku dan Mas Ocep berbincang ringan, diselingi guyonan namun menyebalkan. Kami menaiki sebuah supermarket menggunakan eskalator menuju lantai 3. Tidak menunggu lama, barang yang diinginkan pun akhirnya ada di tangan. Karena tepat jam makan siang, akhirnya kami memutuskan untuk menyebrang jalanan Terban dan mendaratkan diri di sebuah restoran cepat saji. Entah ada angin apa Mas Ocep mentraktir, padahal aku masih punya janji untuk mentraktir dia (janjinya : kalau aku ada pencapaian, nanti aku traktir). Haha, yaudah sih, namanya juga rejeki.

Beliau banyak bercerita padaku mengenai hari - hari saat supercamp. Tidak hanya itu, kami bercerita panjang lebar mengenai akademik, ide - ide penelitian, dosen - dosen kece, study abroad, pengembangan diri, dan lain sebagainya. Hingga tibalah pemancingan itu datang. Oke, aku tidak bisa berbohong. Aku mengakui, Kebingungan, pilihan yang sulit, jejak keputusan yang pelik. Di lain sisi, aku masih ragu. Pada akhirnya, Mas Ocep mengeluarkan jurus mautnya : caranya memberi nasihat.

"Dek. Dulu kamu sebelum masuk UGM membayangkan UGM itu seperti apa?"
"Yaaa keren banget sih Mas, hmm.."
"Sekarang?"
"Udah biasa aja, soalnya udah tau ini itu nya."
"Oke, sekarang aku tanya?"
"piye?"
"Kamu punya sebuah lahan, lahan itu masih kosong. Apa yang pertama kamu lihat?"
"Yaa kekosongan lah Mas."
"Terus, apa yang akan kamu perbuat?"
"Mungkin mengolah tanahnya terus menanami lahan itu, dengan tanaman misalnya."
"Hmm... Apakah setelah itu kamu akan senang melihat tanaman itu tumbuh subur?"
"Yaiyalah Mas, orang tanamannya di rawat, kalo ada hasilnya pasti aku seneng laah."
"Tolong pertimbangkan itu baik - baik."

***
Hubungan antara laki - laki dan perempuan, memang selalu aneh, menurutku. Andai aku boleh meminta, aku tidak ingin terjerembab dalam periode ini. Sayangnya mau tidak mau usiaku semakin bertambah, Manutup diri tentu bukan solusi, kan? Bagaimanapun, periode ini harus tetap dilalui.

Semoga,
Semoga lahan yang tepat.
Atau jika tidak, 
Entahlah.

Kamu pasti datang, kan? :)
Read More