environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Minggu, 20 November 2016

Cara Ayah: Belajar dari Beternak Bebek


Aku seorang gadis kecil, usiaku... Hmm... sekitar sembilan tahun lah. Kata orang-orang disekitarku, aku bocah yang sering bertingkah. Hai! Kenalkan, namaku Biru. Aku tinggal di sebuah desa di pulau yang besar. Guruku bilang, nama pulau itu adalah Pulau Sumatera, dekat laut, ada bukit, ada sungai. Di rumahku yang sederhana ada aku, ayah, ibu, dan abang. Rumah kami tidak di kota, masih ada sawah, empang, dan banyaak pohon.

Aku ingin becerita, beberapa hari yang lalu, ayah membelikan kami 30 ekor bebek, tentu aku dan abangku sangat senang. Ayah bilang, bebek-bebek ini harus dirawat, harus digiring ke sawah, harus diberi makan, dan dibersihkan kandangnya. Hari ini adalah hari ketiga aku dan abang merawat bebek-bebek itu, kebetulan hari ini hari minggu. Pagi-pagi, selepas ibu membuatkan kami sarapan dengan telur balado, kami beranjak ke sawah. Menggiring bebek-bebek itu supaya tetap pada jalurnya. Tetap pada lintasannya.

"Abaang! Tunggu.. Bebek yang itu larinya terlalu jauh.. Biru capek.."
"Ayo, Biru! undanglah bebek-bebek itu supaya kembali ke teman-temannya..."

Abang adalah sosok yang pekerja keras, tanpa diperintah dua kali, akupun mulai menggiring bebek-bebek itu.

"Abang... Biru lelah.."
"Ayo, Biru! Sedikit lagi bebek-bebek ini akan sampai pada tempatnya." Jawab abang.

Hingga matahari mulai di atas kepala, aku dan abang beristirahat. Makan siang bersama, dan tidur siang. Sore harinya kami harus memulangkan kembali bebek-bebek itu ke kandang.

Selanjutnya adalah hari Senin. Hari ini seusai sekolah nanti, aku ada les matematika jam 4 sore. Sekolahku usai pukul dua. tempat les dan sekolah jaraknya cukup berdekatan, tapi keduanya jauh dari rumah.

"Abang, Biru ada les sore ini, Biru ga pulang yaa selepas sekolah?" Tanyaku kepada abang yang usianya tiga tahun di atasku.
"Enak saja! Bagaimana dengan bebek-bebek kita? Kamu mau lepas tanggungjawab? Ayah sudah membelikannya untuk kita rawat, loh."
"Baik lah Bang, Biru nanti pulang.."

Ku kayuh sepedaku dengan cepat, aku membayangkan bagaimana kalau nanti bebek-bebekku kelaparan sementara Abang tidak ada teman yang membantu. Slret, sampailah. Ya, benar. Bebek-bebek kami lapar. Butuh setengah jam untuk memberi mereka makan, dan selepas itu, aku kembali lagi ke tempat awal: les matematika.

"Ayaah... Biru capek.. Tiap hari harus menggiring banyak bebek, ngasih makan bebek, pulang pergi bolak-balik naik sepeda... Biru capek, Yah..." keluhku sore harinya, saat kami sekeluarga berkumpul di dipan serambi rumah sambil menyeruput teh hangat buatan ibu.

"Biru mau jajan, nggak?" Tanya Ayah.

"Mau, ayah..."

"Nanti, bebek-bebek itu bertelur. Biru dan abang bisa menjual telur-telur itu, bisa dipakai buat beli jajan, beli buku, dan beli barang-barang bermanfaat lainnya."

Aku mengangguk semangat.


---

Hai, namaku Biru. Aku telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang manis rupa. Kata Ibu, sih.

Menggiring bebek berjumlah 30 untuk tetap pada lintasannya sama artinya dengan belajar "membersamai" banyak orang, menjadi pemimpin yang "membersamai" supaya tetap pada koridor untuk mencapai tujuan bersama. Memberinya makan tiap hari adalah perwujudan dari belajar bertanggungjawab. Ada pepatah bilang, siapa yang menanam, dia yang akan menuai. Bebek yang telah tumbuh lantas bertelur. Mungkin tanpa ada telur itu uang jajanku dan abang tidak akan bertambah. Hehehe. Bebek-bebek itu hadir bukan tanpa alasan. Ayah mendesainnya sedemikian rupa supaya kami belajar.

Selamat bertumbuh bersama!
Read More

Selasa, 08 November 2016

Meneladani Hujan

Saya ingin berkisah. Sore ini, selepas praktikum dan selepas kejadian "bersejarah" dalam hidup saya yang kaitannya erat dengan tulisan ini, dari lantai 3 Gedung D Fakultas Geografi UGM, menuruni tangga menuju lantai 1, bertemu banyak orang dan di luar masih hujan. Payung ungu saya akhirnya terbentang. Melintasi Jalan Kaliurang yang telah ramai karena segala macam aktivitas pasca senja akan dimulai. Banyak orang selepas bekerja yang pulang ke rumah, dan pedagang-pedagang yang mempersiapkan jualannya di samping-samping jalan.

Meneladani hujan.

Jika kita ada suatu kegiatan yang urgent dan bersamaan dengan hujan, mungkin ada beberapa di antara kita yang sebal bahkan (mohon maaf) mengumpat ketika ia datang. Keberadaan hujan dinilai dapat mengganggu banyak aktivitas, terutama yang berhubungan dengan mobilitas. Bagi para pejalan kaki mungkin, hujan membuat mager. Karena selebar apapun payung yang disediakan oleh produsen payung, tetap saja kita akan basah. Iya, kan? Tapi hujan akan selalu datang. November ini.

Lantas sampai kapan kita ingin menghujat hujan?

Secara ilmu kebumian, hujan merupakan salah satu fenomena alam yang diakibatkan kelembapan relatif sudah mencapai titik jenuhnya (100%). Tapi disini saya tidak akan membahas tentang itu. hehehe. Hujan adalah pelajaran bagi semesta cinta. Hai, para pencinta yang selalu sendu dibuat hujan. Katanya hujan selalu identik dengan kenangan, bukan? Kenangan menyenangkan, dan atau mungkin menyakitkan? Entahlah apapun itu, fenomena alam satu ini mengajarkan kita tentang satu hal: Melepaskan.

Hujan tidak pernah protes ketika dihujat, dia akan datang, lagi dan lagi. Memang begitu kodratnya. Dia jatuh begitu saja, tidak ada yang menghambatnya (lain cerita kalo virga haha), telah banyak orang yang menulis ceita tentang hujan, intinya hanyalah sendu. Biru. Apapun itu. Tapi hujan akan selalu datang selama troposfer masih dalam fungsi normalnya, dia akan lepas dari awan dengan tenang, tanpa paksaan dan menerima begitu saja.

Maka itulah hari ini, lepas.

Adakah cara terbaik selain melepaskan sesuatu ketika telah mencapai titik jenuh? Bahkan awan melepaskan bagian yang menyusunnya ketika tumbukan dan tangkapan itu telah melewati batas, di mana kelembapan relatif telah tinggi, dan... bagian penyusun itu adalah air, melebur jadi satu menjadi butiran hujan, turun ke bumi, damai, tenang, tanpa paksaan.

Percayalah, akan selalu ada keindahan pasca hujan. Karena hujan adalah kodrat-Nya, sesuatu yang diciptakanNya pasti selalu membawa hikmah. Percayalah.

Nanti, coba kamu satu payung dengan saya, saya akan bercerita banyak tentang hujan dan biru, FYI, Biru adalah rencana nama anak saya. Nanti.

--

“Tahukah kau, untuk membuat seseorang menyadari apa yang dirasakannya, justru cara terbaik melalui hal-hal menyakitkan. Misalnya kau pergi. Saat kau pergi, seseorang baru akan merasa kehilangan, dan dia mulai bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya dia rasakan.”
--Tere Liye, novel "Sunset & Rosie"
Read More

Kamis, 03 November 2016

"Aku Iri..."


Aku iri pada pasir
Butiran halusnya membuat orang jatuh cinta,
Biasanya dengan gelombang membuat desah yang indah

Aku iri pada air
Mengalir di sela-sela bebatuan, riuh gemericik
Membuat orang terlena dengan iramanya

Aku iri pada gelombang
Glar! Tegas dan menghantam,
Siapa sangka, dia bisa menjadi sumber energi terbarukan

Aku iri pada angin,
Mengganti udara lama dengan udara baru
Menghembuskan kesejukan dan membuat suasana hati menjadi sendu

Aku iri pada hujan,
Mampu membasahi rerumputan, bahkan menyuburkan padi-padian
Hujan selalu membawa kenangan bagi kebanyakan orang, katanya

Aku iri pada awan,
Meneduhkan, dan indah dipandang
Kata orang, awan adalah bentuk lain dari air yang sama-sama menenangkan

Sementara aku,

Batu

Begitu orang mengatakan,
Tampak keras dan tidak menyenangkan
Siapa yang tak tau batu?
Tanpa batu, pondasi rumah tidak akan terbentuk,
Tidak ada ceritanya untaian zamrud dan giok
Tidak ada kisah tentang artefak dan prasasti
Bahkan, ahli kebumian akan sulit mengidentifikasi...
Jenis mineral dari batuan apa yang menyusun pasir,
Batuan apa yang mampu meloloskan air,
Pada tebing dengan resistensi batuan yang bagaimana gelombang bisa pecah,
Dari topografi mana angin berasal,
Seperti apa alas yang dijatuhi hujan,
Dan... Bagaimana awan dapat terbentuk jika tanpa bantuan material hasil pancaran?

Percayalah, menjadi dirimu sendiri akan jauh lebih menentramkan
Read More