environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Minggu, 31 Desember 2017

Tentang Ja(t)uh Cinta, Patah Hati, dan Jatuh Cinta Lagi


Be happy,
Not because everything is good
but because
you can see the good
in everything


Kenapa kalimat pembukanya getoh dah? wkwkk. Itu sebenarnya buat closing, tapi gapapa, ditulis di awal. Biar kepo.

Dari judulnya, gak usah ditebak-tebak. Ini agak sensitif, nyentil, dan apa ya.. hahaha.

Oke. agak serius. wkwkwk. Gak sih, sbenernya iseng aja nulis ini. Lha wong cuma 10 menit nulisnya wkwkk.
-----

Tentang ja(t)uh cinta

Setiap orang memiliki cara dan versinya masing-masing dalam hal ini. Bisa dari pandangan pertama, pandangan selanjutnya, pandangan ke sekian, atau bahkan pandangan batin (lhoh). setiap orang memiliki cara yang unik dalam mengekspresikan cintanya. Memiliki beeeerbagai macam hal yang membedakan dan menjadi ciri antar satu orang dan orang lainnya. Ada yang mesra dan mempublikasikannya, ada yang diam malu-malu diketahui orang banyak, ada yang hanya dengan tatapan dan senyuman serasa sudah mewakili besaran cintanya. Ya. saya yakin, setiap orang unik dengan caranya masing-masing!

Ja(t)uh cinta, bagi sebagian orang buknlah hal yang mudah. Memerlukan berbagai macam pertimbangan dan kadang, masih bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
benarkah aku jatuh cinta?
benarkah dia orangnya?
apakah yang aku lakukan benar?

Lagi-lagi, perasaan bertanya-tanya itu sering muncul. Apalagi di usia 20 tahunan ke atas. benarkah dia orangnya? adalah pertanyaan yang sering bikin kawula muda menjadi bimbang. galau. kzl sama diri sendiri. Jika sudah menemukan yang baik dan pas, selamat, Anda beruntung! Eits, tapi ingat ini....

Tentang Patah Hati

Setiap orang juga punya cara yang unik untuk patah hati. Ada yang mematahkan hatinya sendiri dengan asumsi-asumsi yang dibuatnya, ada yang mematahkan hatinya sendiri karena intuisi-intuisinya, ad pula, yang intuisinya benar, kemudian patah hati beneran! a.k.a melihat kenyataan yang sebenarnya.

Pada ikhwal ini, patah hati dapat dialami pada beberapa jenis periode: ketika jadi secret admirer/pengagum jarak jauh; ketika jadi gebetan; ketika berstatus (yang belum diakui Negara dan agama); dan ketika sudah berstatus beneran. di poin 1,2,3, semua pasti kena. Dan itu, fase yang sangat umum, bukan?
which is, patah hati patah hati pada periode-periode itu kan banyak di alami sama orang-orang wkwkwk.

Hanya saja, jangan berlarut-larut, karena ada yang namanya....

Tentang Jatuh Cinta Lagi

Ada yang mengatakan bahwa obat patah hati itu ada dua, yang pertama adalah waktu, yang kedua adalah orang baru. Namun, bagi sebagian orang, orang baru adalah jawaban paling efektif dari luka-luka itu. Ibaratnya Tanah habis digali, supaya gak bolong dan gak bikin genangan, kemudian ditutup Tanah lagi. Ada juga sebagian kecil yang mengatakan bahwa obatnya adalah waktu. Mengapa? ini ada analoginya lagi...
Bayangkan kamu seorang petinju. kamu babak belur dalam suatu pertandingan, lukamu dimana-mana, kemudian, apakah kamu akan tanding lagi? Tidak kan, tentu kamu akan menghela nafas sejenak, mengumpulkan kembali tenaga-tenagamu untuk bertanding lagi.

Memerlukan waktu.

Mengapa bertanding? Tidak bisa dipungkiri bahwa ketika kita memutuskan untuk jatuh cinta, kita harus bersiap-siap untuk patah hati. entah kecewa, kehilangan, meninggalkan dan ditinggalkan. menyakiti dan disakiti. Tidak ada yang sempurna, tapi ada yang namanya utuh. Bagaimana? Mereka yang mampu dan bersedia memahami satu sama lain. Mereka yang bisa memanajemen hati dan perasaannya, fikirannya, menyetel seeeeminim mungkin pengharapan. Mereka yang berprinsip bahwa kompromi adalah hal yang penting dalam berjalan beriringan.

Jatuh cinta dan patah hati dua-duanya memiliki seni. Dan yang namanya seni kan multiinterpretasi. menurut kita A, menurut merka B. Hmm... Yang perlu digarisbawahi adalah, walaupun klise, ini memang penting: Minimalisir pengharapan.
Kita tidak tau dinamika orang yang kita cintai saat ini. Sesuatu bisa berubah, manusia juga bisa, bukan?
maka untuk menyiasati patah hati adalah dengan cara memaksimalkan penerimaan. Apapun yang terjadi.

Kalo kata Eyang Habibie, sesuatu yang telah meninggalkan kita, ya udah, dibiarkan saja. Menyiasatinya bagaimana?

Perbanyak karya! 


Jika berkarya, maka kita akan menyibukkan diri dengan karya-karya itu. Suatu saat, skenario Tuhan pasti akan berjalan. Pasti.

Kita harus ingat bahwa, yang melewatkan kita adalah bukan yang terbaik untuk kita. Mungkin Tuhan punya cara lain untuk mempertemukan kita dengan yang terbaik. Teruslah berharap. Tapi sama Tuhan, bukan sama makhluk. Daan, lapangkanlah penerimaan, sebab... kita tidak pernah tau apa yang terjadi esok hari, bukan?

Kata Mas Gun penulis terkenal itu, karena yang baik, belum tentu tepat.

hidup akan terus berjalan bray!

Semoga kita bisa melihat segala sesuatunya dengan baik. Dan berpikir serta berperasaan baik terhadap segala sesuatu itu. Semoga kita diberi ketetapan yang tepat. Aamiin.

Tapi Ingat dua hal ini,

Meminimalisir pengharapan, memaksimalkan penerimaan.


Salam,
Futty

siap nikah 2018 :p
Read More

Kamis, 09 November 2017

ESOK

"Jika Esok adalah sudah menjadi ketetapanNya, aku bisa apa?"



Apa yang terjadi hari ini akan selalu kita syukuri esok hari...


Esok, semua kekecewaan, rasa sakit, dan kesedihan hari ini akan membuat kita tersenyum, bahwa ternyata kejadian-kejadian menyakitkan, mengecewakan, menyedihkan, -yang membuat kita terseok-seok hari ini- akan mengantarkan kita pada suatu pembelajaran dan ajian kekebalan. Adalah mengajari kita untuk bertumbuh dan lebih kuat dari waktu ke waktu.

Esok, semua penolakan dan kegagalan yang kita alami akan mengantarkan kita pada hal yang membuat kita tersenyum, pada kebahagiaan yang semestinya. esok akan kita temukan ketulusan yang benar-benar. Ketulusan yang tidak dibuat-buat. Ketulusan yang mau dan mampu menerima kita-apa adanya kita, dan-masa lalu kita.

Esok, segala macam pengorbanan, entah waktu, pikiran, perasaan, material, atau-apapun akan membuat kita menghela nafas lega. Tidak ada yang sia-sia dalam sebuah pengorbanan. Proses itu tidak akan mengkhianati hasil, dan doa... tidak ada doa yang jawabnya 'tidak', Tuhan akan selalu menjawab 'iya', kan? Entah saat itu pula, disimpan, digantikan, atau bahkan dijadikan tabungan ketika di akhirat kelak...

Esok, kita akan sampai pada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita hari ini. Mau kerja di mana kita, jadi apa, siapa yang akan mendampingi dunia-akhirat kita, berapa anak kita, tinggal di mana kita nantinya- Esok... Jawaban-jawaban itu akan hadir, di saat dan waktu yang tepat. Saat Tuhan berkata 'Iya'.

Esok, kita akan paham bahwa keresahan dan kekhawatiran kita hari ini akan membuat doa-doa kita lebih berkualitas. Lebih memiliki kekuatan, lebih merendah, lebih tulus, dan lebih berpasrah. Tuhan akan menyukainya, kan? Ah, Tuhan suka dengan cara kita yang merengek-rengek seperti itu. Dia kemudian akan berkata 'Sabar hambaKu, aku sedang menyusun skenario terbaik untukmu.'

Percayalah bahwa apa yang terjadi hari ini semua adalah proses buat kita, bukti Tuhan menyayangi kita. Tuhan ingin kita menangis untuk merasakan senang, Tuhan menciptakan rasa kecewa supaya kita berusaha menjadi orang yang tidak mengecewakan orang lain. Tuhan mengatur skenario kita disakiti, dijauhi, dikhianati, dibenci, dicemooh, agar kita paham... bahwa kita tidak boleh seperti itu, bahwa kita... jangan sampai merusak jalan cerita orang lain, meskipun sebenarnya, jalan cerita sudah terlukis indah dalam lauhul mahfudzNya.

Tujuan itu, untuk esok itu, tidak kemana-mana. Jangan berhenti. Nanti tidak sampai.

Mari lakukan sebaik mungkin versi kita. Sematkan pula doa dan harapan-harapan baik, Semoga Tuhan mempertemukan kita kedalam kebaikan-kebaikan versiNya.

Sleman, 9 November 2017



Read More

Kamis, 02 November 2017

Lemonia: Tentang Harapan dan Kesempatan Berkarya (Awal Mula)

Sesungguhnya Lemonia bukan hanya merk biskuit saja teman-teman...


Suatu sore di penghujung 2016, saya memikirkan sesuatu, pengen ikut PKM lagi di tahun 2017. Karena dulu pernah ada RISAR GSC di Dieng, dan pernah nimbrung Aditya nulis di Jurnal internasional, akhirnya kepikiranlah untuk mengangkat Dieng menjadi lokasi riset dan frost / embun beku sebagai kajian utamanya. Masih duduk-duduk di kursi ruang tamu seperti biasa: dengan kopi dan buku, dan hp (karena saya gemar ber-instastory), saya kemudian nge-Line Aditya, ngajak bikin grup PKM, tapi nanti anggotanya harus dari anak-anak Keilmuan Atmosfer nya GSC. Voila, Adit say yes, akhirnya saya bikin oprec di grup atmosfer, masih ada 3 slot anggota. Dalam waktu kurang dari 5 menit, slot itu sudah terpenuhi dengan komposisi: Aditya, Futuha, I'im, Sani, dan Aida.

Awal mulanya, kami ingin melakukan kajian terkait frost saja, yang melahirkan proposal pertama kami terkait Kajian Geomorfologi terhadap Proses Pembentukan Frost, namun pada suatu ketika, Futuha dan Aida sedang mencari dosen pembimbing dan menemui Dr.Emilya untuk ditanyai apakah bersedia membimbing tim kami ataukah tidak. Dr.Emil menyetujui dan akhirnya memberikan saran kepada kami untuk membuat satu judul proposal lagi terkait solusi penanganan bencana frost dalam bentuk indeks asuransi iklim. Asing ya? Hehe, FYI kami juga baru mengenal istilah itu saat konsultasi.

Butuh waktu sekitar 3 minggu bagi kami dalam membuat proposal. Awal mulanya adalah pembagian tugas dan sesi 'penyamaan visi misi' di Bale Bebakaran hahahah. Akhirnya kami membuat dua proposal, di wilayah kajian yang sama dengan 2 topic berbeda. Untuk pembagian tugas, ada yang bertugas membuat dasar teori, latar belakang, tujuan dsb (Sani dan Aida), ada yang bertugas nyusun metode dan timeline (saya dan adit), serta urusan administrasi (pengesahan, rincian dana dll, Iim).

Memang dibutuhkan kekompakan dan komitmen antar-anggota yang tinggi ketika akan melakukan submit proposal. Karena apa? Dikti dalam melakukan penjurian yang pertama dilihat selain judul adalah kerapihan dan kualitas proposal, makanya gabisa dong bikinnya asal-asalan, apalagi dua hari jadi. Ngayal kali yeee hehehe.

Nama grup line kami dan akhirnya menjadi nama tim kami adalah Lemonia.

Penasaran gak kenapa Lemonia? Gak ya? Ah yaudah :p wkwkwk

Jadi, ceritanya, saya sangaat suka dengan lemonia. hampir setiap hari menyediakan lemonia di kosan. Ketika teman-teman kerja kelompok bareng, saya menyuguhkan lemonia. Kan, rasanya enak, renyah, tipis, bikin ketagihan (ahahaha promo), trus waktu itu Lemonia ada hadiah goes to Japan nya.. hehe, kami juga berharap suatu saat bias ke sana. Makanya grup kami bernama Lemonia. sampe sekarang pun gambar grup kami masih itu hehe

Awalnya saya mengira, itu hanya akan menjadi grup sampah ketika proposal tidak didanai, namun siapa sangka...

dua judul proposal kami didanai :"") Puji Tuhan, Alhamdulillah Gustiiii :""

Antara senang, namun saat itu kami juga ketar-ketir. Bayangkan dua judul, bagaimana kami bisa menghandle keduanya?

Lika-liku perjalanan per-PKM-an Lemonia hingga PIMNAS akan diuraikan ke dalam cerita selanjutnya.

See!
Read More

Selasa, 24 Oktober 2017

Perempuan: Tentang Fokus dan Menentukan Pilihan

Beberapa hari yang lalu, saya nge-date dengan mba ala-ala saya, Mba Naisa. Malamnya motor Mba Nai, begitu saya memanggilnya, kejebak di basemen. Gabisa keluar. Akhirnya dia pulang diantar oleh Mba Heni pake helm saya. Terus paginya sekalian mengantar helm, sekalian kami sarapan bersama: lontong telur padang favorit saya.

Dua jam kami habiskan untuk mengobrol. Topiknya tidak jauh beda dengan tulisan-tulisan selera kami. Membincangkan artis tumblr. Sebut saja Mba Mutia Prawitasari, kebetulan perbincangan saya dengan Mba Nai terkait Mba Mutia sudah berlangsung lebih dari setahun yang lalu. Saat Mba Mutia masih lajang, hingga sekarang sudah merawat Yuna. Putri pertamanya.

Akan saya mulai darimana tulisan ini? Baiklah, dari sini dulu saja.

Mba Mutia sebelum dan setelah menikah

Mba Mutia adalah seorang alumnus UI, saat dia masih melajang, cita-cita dia gantungkan sedemikian rupa. Aktif ini-itu, ikut ini-itu, kuliah di sini-situ, dan harapan-harapan besar terkait impiannya. Beliau aktif di kegiatan sosial, akademik, dan kepenulisan. Hingga terbitlah buku 'Teman Imaji' yang mengantarkannya bertemu dengan sang jodoh. Mas Yunus Kuntawiaji.

Setelah lulus, ternyata Mas Yunus datang. Mau menolak lelaki dengan kualitas macam Mas Yunus? Ah rasanya semua perempuan pun tidak akan melakukannya. Akhirnya Mba Mutia menikah. Mimpinya? Tetap terjaga. Hanya mungkin berpindah haluan. 'Karena perempuan juga harus mengendorkan ego, kan?' Mba Mutia memilih untuk membersamai Mas Yunus. Mengandung, kemudian merawat Yuna. Saat setelah menikah, Mas Yunus harus melanjutkan pendidikan spesialisasi di bidang syaraf.

Bayangkan. Baru saja menikah, eh ditinggal-tinggal?

Mungkin bagi sebagian perempuan hal itu berat. Apalagi ketika sedang mengandung. Tapi bagi sebagian perempuan lainnya... Komunikasi, kompromi, dan komitmen adalah kunci. Saya masih ingat tulisan Mba Mutia tentang kebaikan perempuan. Salah satunya adalah paket mengalah dan menerima. Ketika perempuan melakukannya, ia dapat dicukupkan. Dapat dibahagiakan.

Mba Mutia dan Mas Yunus selalu berkomitmen untuk 'makan di rumah',  konon, romantisme itu ada di meja makan. Yang disiapkan istri kepada suami. Dan hanya akan makan di luar jika ada acara tertentu. Seperti hajatan misalnya. Mereka berkomitmen untuk tetap hidup sederhana namun tetap bersahaja. Sebuah komitmen yang mungkin sudah jarang dilakukan oleh pasangan milenial.

--
Sampai situ ya, cerita tentang Mba Mutia nya... Hehe.

Kemudian akan saya lanjutkan. Dari cerita tersebut dapat diambil beberapa statemen:
1. Perempuan dalam menentukan pilihan, adalah tergantung kebutuhan dan apa yang menjadi orientasi kedepan.
2. Perempuan dalam melaksanakan pilihan, adalah menjadikan fokus sebagai kekuatan.

Sejatinya kami sebagai perempuan akan mengalami fase-fase menentukan pilihan.

Melanjutkan s2 atau bekerja, berkarir dulu ataukah langsung menikah, menjadi pure ibu rumahtangga atau harus nyambi bekerja, dan pilihan-pilihan lainnya yang akan datang bertubi-tubi,

Termasuk mungkin, menentukan pasangan.
--
Bagi saya, menentukan fokus adalah hal yang teramat sangat wajib. Fardhu ain lah ibaratnya. Menyusun rencana. Strategi. Dan apapun untuk mencapai tujuan. Tapi kan itu baru ikhtiar. Lanjutannya? Tuhan sudah lebih lihai dan tau tentang takdir kita. Dia tau semuanya. Yang terbaik buat kita. Sementara kita hanya bisa membuat rencana dan berusaha mewujudkannya.

Namun seringkali, ada hal yang belum disiapkan ketika kita membuat rencana dan berusaha melaksanakannya: kesiapan menerima.

Sebab apa yang kita prediksi, belum tentu itu yang terjadi, kan? Apa hal yang terbaik yang bisa kita lakukan? Ya menerima.

Misal, kita menarget menikah di usia 23. Tapi jodoh belum kunjung tiba. Apakah kita akan memaksakan diri dari ketentuanNya? Tuhan selalu berkata supaya kita bersabar. Supaya kita mengikhtiarkan, kemudian menerima ketetapanNya pun juga harus dengan sabar. Tidak mudah. Tapi sesuatu yang worth it memang seringkali tidak mudah, kan?

Ahaha yaaa itu cuma salah satu contoh. Masih banyak contoh yang lain.

Di usia seperti ini, banyak perempuan yang telah melakukan berbagai macam pertimbangan dalam pilihan. Jangankan jauh-jauh memilih menikah dengan siapa. Hal yang saangaat krusial karena berhubungan dengan hidup dan mati. Berhubungan dengan tanggungjawab dengan manusia dan Tuhan.

Menentukan seperti apa calonnya saja kadang masih banyak yang bingung. Sebenarnya, apa toh yang dibutuhkan itu?
Blaaammm.

Pertanyaan demi pertanyaan akan bermunculan.

Namun ada kalanya, jika lebih baik kita, sebagai perempuan terlebih dahulu mengikhtiarkan pula. Bagi saya, ikhtiar itu berbagai macam bentuknya. Bisa berbentuk menyiapkan kedewasaan dan pikiran seperti memperbanyak pengetahuan dan pengalaman, bisa dalam bentuk mendoakan, bahkan mengungkapkan apa yang kita rasakan.

Mungkin bagi sebagian orang tabu dengan perempuan yang mengungkapkan perasaan. Tapi pertanyaan saya balik lagi, apakah di dunia ini hanya boleh laki-laki yang menyatakan perasaannya?

Hanya mengungkapkan. Bukan memaksakan. Antara meminta dan memaksa itu berbeda. Dan Rumi pun pernah berkata, walaupun konteksnya adalah cinta Ilahiah, tetap saja. Cinta itu meminta. Bukan memaksa (dalam kitab Fihi ma Fihi).

Sebab, perempuan pun berhak menentukan pilihan. Kewajibannya bukan cuma menantikan siapa yang datang. Perempuan juga memiliki hal-hal fundamental yang ingin dia dapatkan dalam memperoleh pasangan: memiliki visi dan misi yang sama.

Saya pernah membaca di beberapa buku. Ketika seseorang telah memiliki visi misi yang sama, terkoneksi pikiran dan hatinya, mereka bukanlah lagi dua orang. Melainkan manunggal. Satu kesatuan. Dan menurut saya pribadi, hal itu memang benar. Sementara menikah bukan sekedar dibangun atas 'cinta', kan? Banyak hal yang perlu dipertimbangkan.

Ketika usia makin merangkak, perempuan tidak lagi menarget muluk-muluk mengenai pasangan. Tidak lagi berapi-api menginginkan pacar (?), melainkan telah berada dalam fase-berserah. Tetap berproses terhadap diri dan untuk Rabbi, dan percaya-Tuhan akan mengatur semuanya.

--
Catatan pagi hari,
Ditulis oleh mahasiswi tahun terakhir yang ketika kumpul keluarga besar selalu ditanyakan 'sudah ada calon apa belum?'

Yogyakarta. 24 Oktober 2017. 30 hari sebelum usia ke-21.

Read More

Selasa, 10 Oktober 2017

Keluarga Baru: #56Days KKN-PPM UGM 2017


Upacara penerjunan KKN-PPM menjadi salah satu momentum khas bagi mahasiswa UGM: Antara PPSMB (penerimaan mahasiswa baru) dan wisuda. Kami sedang menapaki menuju yang kedua. Bagi kebanyakan orang, tidak afdhol rasanya jika semester "tua" tapi belum KKN. Ya, di UGM, periode KKN ada banyak ragamnya, mulai dari antar-semester, hingga periode dalam semester. semua tergantung kebutuhan mahasiswa. tinggal pilih.

Setelah pengumuman diterimanya saya ke dalam tim KKN, ada pertemuan dengan cluster sains dan teknologi. Karena ya tadi, geografi masuk rumpun saintek. Rapat perdana yang saya hadiri berlangsung di KPFT. Wah, bibit-bibit kenangan nih! Saat itu saya baaruuu saja menghadiri kelas malam di Universitas Sanata Dharma, sebelum ke KPFT menggunakan ojek online, saya menyempatkan diri membeli jagung manis di PKL depan USD kampus 1 (antara atmajaya-sanata dharma). Oiya, jagung manis disitu menurut saya adalah jagung manis terenak yang pernah saya coba, apalagi rasa cokelat keju. Wuuiih, mantaaapp!!
Momentum pertama ketemu saintek

Kedatangan saya ke KPFT bagaikan orang hilang. Saya belum kenal orang-orang baru ini yang bagi saya saat itu.... orang-orang asing yang akan masuk ke dalam kehidupan saya, dan akan memberi pengaruh tentunya. Yang dipikiran saya saat itu adalah... saya akan berhadapan dengan orang-orang baik. saya akan dipertemukan dengan kebaikan. Sugesti saya dari awal. Saat itu sainstek hanya terdiri 6 orang plus saya yang baru masuk. Hingga akhirnya saya bertemu dengan mereka. Sebenarnya hampir 50% kisah per-KKN-an saya lewati bersama mereka.

Jagung manis yang saya bawa berhasil dimakan oleh dua orang, yang, bagi saya, merupakan sinyal baik untuk sinergitas kami di tim KKN ini. Agenda kami saat itu adalah menyusun program. Jujur, hahahha *ketawa dulu* saya belum memahami apa-apa dalam procedural KKN-PPM. jadi pada saat itu asal waton ikut nyumbangin ide. Walaupun belum pernah ke lokasinya langsung, wilayah Desa Mergolangu bisaa diamati melalui citra. daaaan! isinya tutupan vegetasi dengan permukiman yang jaaaraang wkwkkw.

itulah kisah mini saya bertemu dengan tim skluster saintek. Bibit-bibit mitjin lovers.
----
Berbeda ceritanya, pertemuan saya dengan Tim KKN full, terjadi di pelataran Fakultas Psikologi UGM, karena kormanitnya berasal dari sana :). Dia adalah Atikah, manusia paling sabar dan "adem" yang pernah saya temui. Gaya memimpinnya lemah lembut. Saat itu tim kami masih 26 orang (kalo ga salah). Dan memang, ketika saya masuk, struktur kepengurusan tim sudah dibentuk. Tinggal melanjutkan aja progresnya. Utamanya adalah cari duit (re: danusan).

Tim kami mungkin berbeda dnegan tim lain. Ketika rapat dan disandingkan dengan beberapa tim KKN lain, kesan "adem" ada pada tim kami, mungkin juga karena pengaruh kormanitnya kali yaa hahahaa. Tapi saya senang. Orang-orang yang saya temui ini adalah orang-orang keren yang sederhana namun tetap berwibawa.
---

Kami berngkat pada 10 Juni 2017, menggunakan bus. Sempat ada tragedi, di mana kami harus keluar masuk bus karena salah armada. Haha. perjalanan kami tempuh hingga kantor kecamatan Kalibawang selama  3,5 jam, kemudian kami melanjutkan perjalanan menggunakan truk ke Desa Mergolangu dikarenakan aksesnya yang kurang memadai. Perjalanan yang kami tempuh menuju desa adalah sekitar satu setengah jam. Bertepatan dengan bulan Ramadhan, kami buka puasa di atas truk.

Sesampainya di sana, kami berkumpul di Kantor Desa untuk disambut dan pembagian orang tua asuh. Satu rumah (pondokan) terdiri atas dua orang. Ketika pembagian, nama Kelurga Kahono muncul sebagai orangtua asuh saya, daan, saya juga memiliki "pasangan" alias saudara di pondokan, yaitu Hitznaiti Husna. Gadis jawa asal fakultas teknik, prodi teknik geologi, menjadi teman sekasur saya selama 56 hari kedepannya, menjadi orang yang tau cerita-cerita saya pada hari-hari berikutnya, dan tentu, menjadi orang yang pertama kali saya lihat saat bangun tidur selama 56 hari berikutnya.

---
Fajar pertama saya dan Husna di tempat pengabdian. Kami telat bangun karena kecapaian sorenya perjalanan. Ibu dan Bapak (begitu kami memanggil 'orangtua baru' kami) telah menyiapkan makanan untuk kami. Awal-awal, canggung itu ada. Saya dan Husna masih gengsi, akhirnya kami hanya makan sedikit. Hehe.

Ada kebiasaan baik yang ibu tanamkan kepada kami: shalat subuh berjamah di mushalla. Jadi, selepas sahur, kami langsung wudhu dan ke mushalla. Mergolangu merupakan wilayah pegunungan, sehingga di sana pada dini hari sangat dingin sekali. suhu rata-ratanya saja 19 derajat celcius. Di pagi hari bias mencapai 15 derajat. Saya, Husna, Ibu, dan Bapak pergi ke mushalla bersama-sama dengan jalan kaki. Tanpa lampu jalan. kami menggunakan senter dan berjalan perlahan menuju mushalla. Sambil menahan dingin tentunya.

Pulang dari mushalla, saya dan Husna membiasakan kebaikan-kebaikan di pagi hari, yang menjadi kebiasaan kami selama 56 hari berturut-turut tentunya.



Pagi menyapa, matahari di Mergolangu tetap teduh seperti biasa, sederhana.
Pagi, embun, dan sepoi angin di Mergolangu selalu mengajarkan tentang kebaikan,
bahwa..
Kebaikan adalah sesuatu yang lahir, tumbuh, dan terus berkembang.
Maka tugas kita adalah menghidupkannya!

Cerita ini akan berlanjut, dengan berbagai ekspresi kesyukuran tentunya!

Salam,

Yogyakarta, 10/10/17 02.05 WIB
Read More

Sabtu, 07 Oktober 2017

Rapel Jejak Menuju KKN-PPM 2017: Kisah-Perjalanan-Kasih


Sekitar Februari 2016, sebuah pesan di akun line saya terbaca: "Mohon maaf, Anda tidak berkesempatan untuk turut mengabdi dalam KKN-PPM *****",
atau di Official account line "calon" Tim KKN-PPM yang saya ikuti... "Hasil open recruitmen..." tidak ada nama saya.
atau ketika saya mendaftarkan diri, disuruh membawa CV, diwawancarai, ditanya memiliki keahlian apa, dan itu semua berujung penolakan.
Maret 2016 sepertinya adalah bulan patah hati saya, pada saat itu saya mendaftar salah satu "calon" Tin KKN-PPM, lokasinya di Jawa Tengah, tidak jauh. Dan kamu tau apa yang saya dapatkan?

"Mohon maaf, Mba, tim kami tidak membutuhkan rekan dari geografi".


Kesal rasanya. Saya sudah capek ikut oprec-oprec an lagi, ngirim CV lagi, diwawancarai lagi, ditanyain keahliannya apa lagi. Yah, begitulah, proses di mana saya mencari Tim KKN yang mau menerima saya. Apa adanya tentu.

Hingga suatu ketika, teman saya, di grup angkatan Geografi 2014 menanyakan: Adakah yang bisa KKN di Wonosobo dan bisa melakukan pemetaan longsor atau setidaknya analisis bencana longsor?

Saya langsung tuh nge-PM temen saya, Tanya, kenapa nyari orang, lokasinya di mana, kormanit nya siapa, dan lain-lain. Pada saat itu ceritanya saya juga mendapat tawaran tim KKN di lokasi lain, di NTT. Namun belum saya iyakan. Hatinya masih ganjel hehe. Kemudian segeralah saya Tanya ke Bapak,

Bapak, NTT apa Wonosobo?

What Bapak said?


"Wonosobo ae Ndhuk..."


Izin di tangan, tapi saya tidak serta merta langsung mengiyakan tawaran teman saya, akhirnya saya nge-PM Aditya, jejaka asal Wonosobo yang sudah mahir mengenali kabupaten/kota-nya, kemudian dia googling terkait calon lokasi KKN saya itu. daaan, ternyata calon lokasi itu adalah Desa Wisata!

Akhirnya, saya mengiyakan tawaran teman saya yang di grup angkatan tadi. Tanpa fafifu, saya diterima di tim tersebut. Senang. Akhirnya bisa dapat tim. Alasan saya memilih Wonosobo sebagai lokasi KKN adalah, pada saat itu saya masih terikat PKM-PE 2 judul, yang lokasi penelitiannya di Dieng, Wonosobo. Daaan, pada saat itu pula, adek-adek UKM saya, GSC, sedang ada RISAR di Dieng. Saya kepengen menjenguk mereka. Tidak hanya itu sih, alasan saya memilih Wonosobo selain pemandangannya yang bagus adalah: Kalo balik Jogja bisa enak, 2 jam naik prameks dari Purworejo. Hehe.

Alhasil, sebuah desa di Rangkaian Pegunungan Serayu Selatan, dengan ketinggian berkisar 850-1200 mdpl, iklim monsunal, menjadi lokasi saya mengabdi selama 56 hari. Desa tersebut bernama Mergolangu. Terletak di Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Wonosobo.

Sebuah desa yang terletak di Jawa, namun sensasinya serasa di luar Jawa.



Puji Allah, setelah banyak penolakan yang saya terima, Tuhan mempertemukan saya dengan kebaikan-kebaikan lainnya.


Cerita-cerita ini akan berlanjut,
Rajutan kebaikan-kebaikan yang terikat kasih.
Kisah-kisah yang selalu disyukuri.

Semangat Paagiiii!

Read More

Selasa, 05 September 2017

Tidak Sebatas Kegiatan Lapangan (Cerita Perjalanan Penelitian Longsor di Ponorogo)

Sekitar april lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk bias memperoleh ilmu baru yang menakjubkan dari dosen pembimbing akademik saya, Prof.Junun. Pagi-pagi sekali, kepala lab geomorfologi lingkungan dan mitigasi bencana, Pak Anggri, menelpon saya, katanya saya harus ke lab. Setelah "meniti" kegiatan lab terhitung dari Desember 2016, saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi asisten penelitian di lab tersebut. Kesempatan yang sangat saya syukuri.

Pemanggilan saya ke lab bukan tanpa alasan, Pak Junun mengajak saya bersama beberapa rekan freshgraduate jurusan geografi lingkungan dan 2 orang mahasiswa S2 yang concern di bidang ilmu Tanah, konservasi, dan longsor untuk pergi ke Banaran, Pulung, Ponorogo. Longsor besar yang terjadi awal april itu menimbun setidaknya 32 rumah di lahan permukiman milik warga. Lebih dari 150 warga terdampak, dan infrastruktur juga rusak. Longsor yang menewaskan lebih dari 30 orang, sementara lebih dari belasan orang hilang (tidak ditemukan). Kami pergi dengan rombongan dari UGM yakni dari departemen geografi lingkungan 2 kubu, serta dari Pusat Studi Bencana Alam UGM. Perjalanan dari Jogja ke Ponorogo adalah sekitar 5 jam menggunakan mobil.

Sesampainya di sana? pemandangan luar biasa sangat indah, sawah berterasiring menghijau, udara sejuk, namun sungainya keruh akibat adanya sedimen dari hasil longsoran. Sesampainya di titik lokasi, mungkin hanya ada haru. Pemandangan duka. Rumah-rumah rata dengan Tanah, pohon-pohon tumbang, banyak posko tanggap bencana, sumbangan di mana-mana, dan yang jelas, bendera partai politik yang "berbela sungkawa" juga berkibar di mana-mana.
Kenampakan sekitar lokasi longsor Banaran

dilihat dari jalan utama yang menghubungkan wilayah aman dan wilayah terdampak

suasana di posko pengungsian
Kira-kira... begitulah gambarannya. Nah, kembali lagi, apa yang kami teliti? kami ingin meneliti sampel Tanah yang diambil dari lokasi longsor, mengukur sifat-sifat fisiknya untuk mengetahui kecenderungan Tanah tersebut. kami mengambil sekitar 15 titik sampel dengan parameter uji per sampel berkisar 6-8 pengujian. Selain itu, kami juga melakukan orientasi lapangan, berjalan kaki dari pagi hingga maghrib. Di siang hari, hujan deras melanda. Kami berdiri di atas timbunan longsor, menyaksikan satu per satu Tanah menggelincir dari atas tebing. Suara petir bergemuruh, kabut menebal, dan kami satu per satu mulai kedinginan. Bau amis di mana-mana, mungkin, bau makhluk hidup seperti binatang atau bahkan manusia yang tertimbun dan membusuk di sekitar lokasi kami berdiri. Saya, yang baru pertama kali ini menginjakkan kaki tepat di badan longsor yang sebesar itu, jujur ada sedikit rasa takut, atau lebih tepatnya pengen nangis. Gak tau kenapa, pokoknya pengen nangis. Selama satu setengah jam kami berdiri di badan longsor, ditengah guyuran hujan, melihat alam menampakkan kegagahannya.

Penelitian di lapangan kami lakukan selama tiga hari untuk pengambilan sampel dan pengamatan lapangan. Selain mengambil sampel, kami juga melakukan analisis konservasi, dipandu salah seorang ahli pertanian, beliau mengatakan bahwa teknik konservasi yang ada di Banaran "tidak masalah", jadi lebih ke factor lain untuk penyebab longsor itu tadi. Sampai saat ini, kami masih melakukan penelitian-penelitian terkait hal-hal tersebut. Pengalaman yang unik bagi saya. Sekaligus mendebarkan.

Read More

Jumat, 24 Februari 2017

Membenarkan Keburukan agar Terlihat seperti Kebaikan: Mengintip Buku 'Saving Fish From Drowning'

"Bibi Chen is dead, and she wants to tell you a story."

Begitulah kira-kira sinopsisnya. Hahaha.

Sebuah buku karya Amy Tan, yang saya dapatkan dari teman saya, Priyambudi. Oiya, saya ingin menceritakan tentang penulisnya terlebih dahulu. Amy Tan. Seorang penulis berkebangsaan Amerika yang lahir di Oakland, 65 tahun silam. Amy Ruth Tan, begitu nama panjangnya, memiliki wajah seperti orang Asia (Dan dimungkinkan masih satu rumpun mongoloid). Karya-karyanya lebih menekankan kepada hubungan ibu dan anak, serta beberapa juga bercerita mengenai seorang Asia yang tinggal dan hidup di Amerika. Sementara itu, Saving Fish From Drowning merupakan karyanya di tahun 2005.



Awalnya saya bingung, kenapa saving fish from drowning diangkat menjadi sebuah judul?

Baiklah. Tokoh utama dalam buku ini adalah Bibi Chen, bersama 12 orang turis Amerika sedang melaksanakan visi perjalanan mereka "Menyusuri Jejak Sang Budha" Sementara itu, Bibi Chen sendiri merupakan pakar bisnis, pesohor, sekaligus anggota dalam Dewan Museum Seni Asia. Tapi jangan salah, Bibi Chen yang merupakan tokoh dalam cerita ini bukanlah seorang yang hidup. Melainkan "arwah"nya yang bercerita. Kesan pertama... Hmmm.. syereemm!! But wait, I want to give you some "adorable scenes".

Bibi Chen seharusnya yang memimpin wisatawan-wisatawan tersebut dalam ekspedisi dari pojok barat China di Provinsi Yunan, berlanjut ke selatan menuju Burma Road yang konon pada saat itu termahsyur, Dalam perjalanan, Bibi Chen meninggal dalam keadaan tragis: leher terbelit tali dan benda kecil seperti penggaruk rumput mengenai tenggorokan, anehnya, Bibi Chen sendiri juga mencari penyebab mengapa dia mati.

Di lain sisi, para wisatawan tersebut tetap melanjutkan perjalanan mereka dengan menyewa jasa pemandu -tak berpengalaman- yang berdampak, sebagian besar perjalanan mereka berantakan karena ketidaktahuan. Sementara itu, arwah Bibi juga mengawal mereka, sambil penasaran terhadap karakter-karakter wisatawan tersebut. Dalam perjalanan, ada beberapa kejadian menarik, seperti kutukan yang mengenai wisatawan karena mengencingi Goa "kelamin wanita" (pardon my grammar -__-), hilangnya pesawat, ataupun tersesatnya para penglana itu yang disajikan dalam guyonan agak berat. Namun cerdas. Bibi Chen sebagai seorang arwah tidak menceritakan misteri, namun menceritakan hal-hal konyol yang dialami wisatawan selama perjalanan, dan tentu, esensi dari suatu kelompok perjalanan, yang telah menyamakan tujuan, dan rasa percaya.

Pembahasan mengenai judul dibahas pada bab 6 (halaman 145):
“Seorang laki-laki yang saleh menjelaskan kepada para pengikutnya, “Mengambil kehidupan itu jahat, dan menyelamatkannya adalah tindakan yang mulia. Setiap hari aku berjanji akan menyelamatkan ratusan kehidupan. Kutebar jalaku di danau dan ratusan ikan pun terjaring. Kutaruh ikan-ikan itu di tepi danau, dan di sana mereka melompat-lompat dan menggeliat. “Jangan takut,” kataku pada ikan-ikan itu. “Aku menyelamatkan kalian supaya tidak tenggelam.” Tak lama kemudian ikan-ikan itu tenang dan berbaring diam. Tapi sayang, aku selalu terlambat. Ikan-ikan itu mati. Dan karena tidak baik untuk membuang apapun, aku membawa ikan-ikan mati itu ke pasar dan kujual dengan harga bagus. Dengan uang itu aku membeli lebih banyak jala supaya bisa menjala lebih banyak ikan”.


Dan kutipan di atas jelas membuat saya berfikir, tentang membenarkan suatu keburukan agar terlihat seperti kebaikan. "Saving Fish from Drowning" kiasan dari makna dalam 'sebuah penyelamatan yang sia-sia'. Ini mengerikan, sangat mengerikan. Dan mungkin umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang kita jalani.

Tapi, mungkin, persoal baik dan buruk erat kaitannya dengan kesepakatan, dalih, persepsi dan terutama keyakinan. Oleh sebab itu, mengubah keyakinan seseorang jauh lebih memuaskan dibandingkan mempertunjukkan tipuan-tipuan yang hanya menimbulkan kekaguman sesaat.

Saya tidak ingin membahas banyak terkait keyakinan, tapi yang saya garis bawahi di sini adalah, kaitannya dengan kejadian-kejadian dunia yang terjadi saat ini. Jika suatu kelompok orang sudah beriman, dan memegang teguh suatu keyakinan, akan menjadi sangat diprioritaskan dalam konflik kepentingan, dibandingkan "makanan" sikap kemanusiaan yang universal. Kebaikan adalah harapan, ia adalah jawaban kenapa seseorang hingga saat ini bertahan hidup.

Untuk suporter "isi otak" saya, Priyambudi Putranto,

Terima kasih!

Yogyakarta, 24 Februari 2017
Read More

Minggu, 12 Februari 2017

Kangen! (Part ke-sekian)

Sabtu-minggu ini saya memilih untuk menghabiskan waktu di-kosan, kemarin, beberapa teman datang membahas project-project kerjasama mereka dengan saya. Selain mengolah kertas-kertas bekas bungkus makanan menjadi kotak hias, saya memiliki kesibukan lain akhir-akhir ini, menjadi freelance illustrator, di mana lukisan-lukisan saya yang ga jelas itu satu per satu mulai mendapat respon positif. Oiya, saya memakai teknik aquabrush dalam melukis, agak abstrak, tapi mendekati ketegasan gitu sih, dikasih penebalan gitu pake drawpen. apaan sih. hehe

Tadi pagi, saya benar-benar maaageeer (males gerak), jogging saya batalkan, agenda mencuci saya batalkan, beres-beres kosan saya batalin juga. Akhirnya saya memilih untuk mendekam di kosan saya, di ruang tamu yang saya sulap jadi perpus pribadi. Like this:


Dan gara-gara itu, saya jadi sering mager ke mana-mana, ujung-ujungnya, semua kerja kelompok, tugas dll dikerjakan di sini, kenapa? Yaa karena ada wifi dan tempatnya yang enak. Haha, deket dari kampus pula.

Tapi, karena dari pagi sampai siang mendekam di kos, dan kerjaan saya cuma nonton youtube (debat cagub wkwk)-buka tumblr-cek proyek. Soooo, itu sangat membosankan. Akhirnya saya ke pekerjaan lama saya: stalking tulisan teman-teman saya. Hahahaa. 

Saya punya sahabat, sekarang sedang menempuh studinya di Ritsumeikan Asia-Pasific Univesity, di Jepang. Beberapa hari yang lalu dia mengikuti kontes fotografi bertema wetland, menanggapi wetland days yang diselenggarakan oleh UN. Foto yang dilombakan oleh dia sangat familiar. Pada awal tahun 2016, dia mengirimkan foto ini ke saya:

Foto di atas adalah sunset 1 Januari 2016 di Matama Beach, konon, di sini adalah salah satu panorama sunset terindah di Jepang, dan dia ke sana lagi untuk yang ke dua kalinya pada awal tahun 2017.

Saya terus membaca tumblr nya dan menghindari ada cerita-cerita yang terlewat, akhirnya saya mengetahui bahwa dia akan segera pulang! Senang sekali rasanya, sayangnya dia pulang hanya sebentar, kami tidak dapat memastikan apakah kami akan bertemu ataukah tidak. Setidaknya, kerinduan-kerinduan itu akan terbayar dengan indah ketika kami membaca tulisan satu sama lain, pun sebenarnya tulisan itu tidak ditujukan secara personal.

Saya selalu meyakini bahwa, keterikatan hati dan emosional yang sudah diciptakan oleh orang lain terhadap kita atau kita terhadap orang lain, akan membawa rasa tentram meskipun jauh, rasa aman meskipun tak sering berkirim pesan, rasa saling menjaga dalam doa, dan menurut saya, itulah kasih sayang yang sederhana. 
Read More

Sabtu, 28 Januari 2017

Baper 97 Menit: Mengintip Film "Iqro"

Pagi-pagi selepas ritual saya ketika tidak berpuasa (a.k.a nyeruput kopi sambil baca buku dan dengerin instrumen), tiba-tiba handphone saya berbunyi. Ada telepon masuk, dari salah satu kenalan di Akademi Mahasiswa Berprestasi UGM, dia menawarkan sesuatu hal kepada saya yang membuat saya senang dan bersyukur. Setelah itu, hp saya kembali berdering. Sudah 4 hari terakhir ini saya kedatangan banyak tamu di kos. Entah adik tingkat, maupun warga sekitar sini. Jadi saya kira, saya akan kedatangan tamu lagi. Kebetulan hp saya berbunyi karena ada line masuk. Fadhilah, teman saya, mendapatkan free 1 ticket ke CGV JWalk di Babarsari. Kami mendiskusikan dan akhirnya menginginkan untuk menonton sebuah film yang, sebenernya sudah kami ketahui sejak tahun lalu-produksi Masjid Salman ITB: IQRO'.


Setibanya di Studio 2, kami kaget. Karena kami nontonnya pukul 13.10 (mempertimbangkan waktu ibadah dan jam malam kosan saya wkwkkwkkwk), di sana mayoritas penontonnya adalah.....

ANAK-ANAK! Yap, sampe saya digrundulin 3 anak, ikut saya duduk, gandulin rok saya ketika nonton, narik-narik kerudung saya.. heleh-heleh wkwkk.

Film Iqro ini memang didedikasikan untuk anak-anak, mengingat minimnya tontonan anak yang berkualitas di Indonesia, film ini hadir seperti refresh dari film "Petualangan Sherina" dahulu, cumaa... balutan religi sangat dikemas apik dalam film ini. Sesuai dengan judulnya, tujuan film ini adalah untuk memotivasi anak-anak supaya mencintai Kitab Suci Agama Islam (Al-Quran), seenggaknya untuk membaca Al-Quran. Dalam film ini, tidak hanya balutan religi, namun kemasan dengan IPTEK adalah menjadi hal yang saya soroti.

Sebagai insan pembelajar Ilmu Bumi, mungkin beberapa orang juga akan merasakan, motivasi mempelajari alam semesta baik di langit maupun di bumi. Kitab suci! Tidak basa-basi lagi, film ini soooo wooorrtthhh it. Analisis logika berfikir tentang kewajiban membaca, membaca ayat-ayat Tuhan dan membaca alam semesta, sangat mengagumkan. Dan tentu, membuat saya baper.

Begini, film itu pemeran utamanya adalah anak-anak. Mereka sangaaat semangaaaaat sekaliiii membaca kitab suci. Sementara saya? Ya Tuhan... Maafkan saya. Apalagi mendengar denting suara mereka melafalkan kitab suci dengan fasih dan sesuai tata baca. Maha Kuasa Engkau, Tuhan... Selama ini saya kemana sajaaaaa...

Daaaan, Prof.Widodo, seorang profesor yang diperankan dalam film itu untuk mengelola Boscha, hm. Saya rasa, penikmat nuansa ilmu memang sepatutnya seperti itu, ilmu pengetahuan itu adalah untuk menuju kebenaran, dan kebenaran yang paling hakiki adalah milik Tuhan. Jadi, tidak ada alasan seseorang yang berilmu untuk tidak dekat dengan Tuhan, kecuali... ada faktor lain, seperti, misal, mungkin, kesombongan, atau hal-hal yang membuat hati mati sehingga sulit mendekati kebenaran. Hahaha ngemeng epe kowe Fut...

Namun, cerita dalam film ini sangat klise, agak dramatis dalam segi penataan suaranya. Durasi 97 menit yang ada sebenarnya terlalu singkat, walaupun demikian, makna yang disampaikan dalam film ini sangaaat mendalam. Mengenai Ilmu Pengetahuan, kewajiban membaca, dan kedekatan kita dengan Tuhan.

Karena sejatinya, alam semesta dan seluruh rangkaian kejadian yang ada adalah guru untuk kita semua. Bukankah Tuhan sudah "memfasilitasi" itu semua? Supaya manusia bersyukur, supaya manusia mau dan mampu mengingatNya, dan, untuk segala bentuk ridho-Nya.

Hmm.. teman-teman bisa lihat pitchernya di sini:



BTW, akan saya ulas lagi besok, tentang film ini, dan beberapa hal terkait parenting yang sangat berkaitan. See!


Read More

Kamis, 26 Januari 2017

Bumi dan Matahari: Percakapan Tiga Kali


Engga tau kenapa pengen banget kasih judul headline "Bumi dan Matahari", haha. Abaikan. Mungkin cuma keinginan saja.

Saya memiliki seorang teman baik, sudah cukup lama tau satu sama lain, sehingga kami sering mengatakan antardiri kami adalah "partner", Aditya. Pemuda asal Jawa Tengah yang selalu saya katakan "rempong" (padahal enggak, saya aja sebenernya yang ribet). Saya dan Adit memiliki banyak kesamaan, dalam hal menyukai ilmu bumi, mengajar, atau paket-paket lainnya. Kecuali drakor. Saya engga minat. Haha. Sehingga, dari kesamaan-kesamaan itu, saya menganggapnya "nyambung", suatu hari kami pernah berbincang tentang peran laki-laki dan perempuan ketika sudah berumah tangga (Nah, bahasannya mulai memberat nih), sebab antara laki-laki dan perempuan memiliki peranannya masing-masing ketika sudah dipanggil "ibu" dan "ayah".

"Adit, menurut penelitian, kecerdasan seorang anak itu diturunkan dari Ibu, sementara karakter dan sikap itu dari ayah.."

"Hmmm"

"Hmmm"

Terus?

"Berarti ada kesinambungan dan hubungan kausal ketika ingin menjadi super parents."

"Hmmmm"

Saya selalu sebal kalau saya berbicara panjang lebar dan engga ditanggapin. Haha.

Di kesempatan yang lain, kami membicarakan hal yang sama. Kedua kalinya.

"Makanya aku pengen berwawasan luas. Kayaknya aku harus bermesraan dengan banyak buku."

"Hmm...."

"Kayaknya beli buku baru lagi asik deh."

"Makanya aku terdorong untuk berkarakter baik, selalu memperlakukan orang lain dengan baik."

ngek ngok.

Beberapa minggu yang lalu, saya makan di sebuah Resto Korea bersama Adit. Katanya sih "back to my country ya, Fut" Heleh.

Ceritanya saya abis ngeborong buku. Dan, kami sharing-sharing, evaluasi masing-masing dari kami selama setahun 2016. Masalahnya, yo kok keceplosan lagi.

"Fut nananina nananina !@$$$^*(&^^%&*....@#$^"

"Tau kan, aku masih pengen belajar... Yaa bukan orang lain lah, aku punya tujuan yang mungkin banyak orang ga paham. Termasuk buat anak-anakku. Aku butuh memperluas wawasan dan pengetahuan. Soalnya, kata ilmuwan, kecerdasan itu dari ibu, dan karakter itu dari ayah."

"Kamu udah ngomongin ini tiga kali lo, Fut."

"Oiyaaaa? Aku lupaaa wakakakkaka."

"Hmm... Yaa yaa.. kalau gitu aku harus memperbaiki karakter, ya."

....
....
....
Iya, karena kamu laki-laki.

--------

Sebenernya engga saklek harus gitu. wkwkk. entah laki-laki, entah perempuan, masing-masing harus mempersiapkan dirinya. Wawasannya, keyakinannya kepada Tuhan, emosi, dan lain-lainnya sebelum menjadi orang tua. makanya, untuk melangkah ke jenjang yang "lebih" entah bagi laki-laki maupun perempuan diperlukan kesiapan dan agar tidak tergesa-gesa. Karena setelah "itu" peran mereka akan melengkapi satu sama lain. Karena karakteristik orang beda-beda, dan kita engga pernah tau nanti jodoh kita kayak gimana, yaudah, seenggaknya kita bisa mempersiapkan fundamental: kelapangan penerimaan dan keyakinan bahwa itulah yang terbaik dari Tuhan.

Laki-laki menggunakan logikanya dan perempuan cenderung perasaannya.

Awalnya saya menolak statemen ini karena saya merasa rasional. Wakakak. Sombs. Tapi, ketika ada sepucuk surat yang melayang kepada saya di akhir semester tiga lalu, bukan kepayang, saya dirundung baper. Beeerminggu minggu saya berfikir, Tepuk jidat, kepo, Usap-usap alis, menimang-nimang suratnya. Dan akhirnya saya mengakui kalo mau seeeekeraskepala apapun perempuan, hatinya tetap lembek. Ya begitu. Tuhan menganugerahkan kepada perempuan "kelembutan". Dari hatinya. Dan laki-laki, kadang sikapnya ngga berperasaan, kadang lo ya. Seolah-olah mereka selalu punya tujuan dan bergerak kesana, menggunakan anugerah akal yang dimilikinya untuk mencapai itu semua. Ya begitu, Tuhan menganugerahkannya sebagai kekuatan. Cuma kadang ada beberapa kasus, misal, laki-laki menggunakan akalnya dan kemudian ada saja perempuan yang kurang lihai mengelola perasaannya. Akhirnya muncul istilah "pemberi harapan" atau apalah. Taapi, setelah saya amati. Ga semua kasus sama. Ga saklek kayak gitu, Makanya, penting menyeimbangkan antara hati dan isi kepala. Sebab, kadang kalau kebablasan pakai hati terus, sometimes di situasi dan kondisi tertentu tidak relevan.

Jadi ya, memang antara laki-laki dan perempuan, keduanya harus mau belajar. Melengkapi, menjadi bagian, bukan cuma hasrat memiliki.

Read More

Selasa, 24 Januari 2017

Senja Itu: Percakapan Bersama Bapak


Senja, kata kami, adalah di mana saat bumi harus melepas matahari dengan tentram, karena keyakinannya bahwa matahari akan kembali lagi esok hari.

Saya selalu menyukai beberapa hal: saat embun pagi mulai bermunculan, saat hujan, dan saat temaram senja.

Sore itu di bale-bale rumah, selepas membantu Ibu membuat pisang goreng dan the hangat, saya bercengkrama dengan Bapak. Momen yang paaaling saya rindukan selama menjadi anak rantau. Sebab, laki-laki mana lagi yang mau dan bersedia menjadi tempat berkeluh kesah, menuangkan pikiran dan hal gila, serta bebagi kebahagiaan dalam waktu yang bersamaan?

Sebagai anak gadis satu-satunya di rumah dan di keluarga kecil kami, dengan usia yang menginjak dewasa, akan menjadi sangat wajar bila sang anak bertingkah manja kepada Bapaknya, berharap nanti akan ada laki-laki yang bisa memberikan kehangatan yang setara dengan itu. 

Bapak, saya ini galak, keras kepala, semaunya sendiri. Yah intinya, sikap saya ini kok sangat tidak keperempuanan. Haaha

Terus?

Ya… saya takut. Saya takut kalau nanti laki-laki yang menyukai saya hanya sebatas tampilan luar saya tanpa melihat hingga jauh ke dalam, saya takut jika laki-laki yang nanti datang kepada saya tidak bersedia menerima hal-hal lain di hidup saya.

Hal-hal lain apa Nak, yang kamu maksud?

Ya, paling fundamental, keluarga… cacat fisik yang saya miliki, mungkin… sifat keras kepala saya, ambisi-ambisi saya, atau yang lainnya…

Terus?

Ya… sudah sih, tapi saya yakin, pasti akan ada.

Nduk, yang namanya pasangan itu, ga semua mak blek, pleketek, sama. Enggak. Bahkan bapak ibumu yang lama berumahtangga juga mengalami perbedaan-perbedaan. Tidak jarang kami selisih paham. Itu normal. Ingat dua telapak kakimu, apakah bentuknya sama? Tidak,kan? Mereka ada karena untuk saling melengkapi fungsinya satu sama lain.

Bersyukurlah bila ada orang yang jatuh cinta denganmu lengkap dengan kurangmu. Karena pada dasarnya antara laki-laki dan perempuan itu adalah penerimaan, menerima perbedaan satu sama lain dengan lapang, untuk menjalankan fungsi dan peranannya dalam hidup, kepada manusia lain, kepada Tuhan.

Kira-kira, nanti yang datang akan seperti apa ya, Pak?

Berdoa saja. Bapak sih berharap yang kayak air, biar bisa menetralkan kamu ke suhu normal. Haha

Iya sih, setiap orang memiliki karakter yang berbeda sebab peranannya berbeda. Saya akan sangat bersyukur jika nanti dapat pasangan *ehem* yang bisa nyenengin Bapak Ibu. Haahaha

Hush, usiamu masih berapa to,Ndhuk?

20, masa Bapak lupa?

Maunya berapa emang? Bapak pengennya di atas 23.

Bapak, saya sempat kepikiran ga pengen nikah! Haha.

Lah, kenapa?

Ga tau. Ya tapi kalau nanti saya menikah, ya itu rezeki. Cumaaa.. saya juga memimpikan bisa membersamai hidup insan lain, haha. Menyiapkan teh hangat setiap pagi, haha, menjadi teman cerita setiap malam, huahahaa. Mendengar suara bayi, wakakka, menanam bunga matahari di taman dengan anak-anak saya. Huahahahhaa

Saya ngekek sendiri.


Dan Bapak Cuma diam. Anak ini sudah agak-agak. Batinnya.


Read More

Kamis, 19 Januari 2017

Harapan (2): Academic Thought, Mahasiswa Tahun Ketiga

Paaaaaggiiii!!!!

Sebenarnya saya masih compang camping mengapa blog ini ada dan saya gunakan untuk "curhat", saya sebarkan di media sosial saya, dan dibaca oleh banyak orang. Saya tidak tau, yang jelas, di dunia nyata sangat berbeda jauh dengan apa yang ada di dalam blog saya. Wkwk, karena saya rasa, saya lebih hidup ketika menulis. Dan, saya mendapatkan kesenangan jika tulisan saya dibaca oleh orang lain *lhaaaa ngopooooooo*.

Berhadapan dengan komputer, aplikasi pemetaan, buku-buku tentang geomorfologi, iklim, ilmu tanah, novel-novel di rak buku yang sengaja saya letakkan di samping kasur dan meja belajar saya di kos. Hai, Fut! Tahun ke-tigaaa!!!!

Ngapain ajaa wwoiiiiiiii


Baiklah, saya akan bercerita ke-duka-an saya menjadi mahasiswa saat ini.

Sepanjang saya kuliah, dari semester 1-4, tidak ada mata kuliah berkode GEL yang mendapatkan nilai B,C,D, maupun E. Mata kuliah berkode "GEL" artinya adalah mata kuliah yang wajib dikuasai ketika kita belajar di departemen geografi lingkungan dan mencerminkan penguasaan kita terhadap minat studi GEL tersebut. IP saya nyaris sempurna, bahkan di beberapa kesempatan, 4 BULAT! Coy. IP 4,00! Sebenernya saya tidak pernah ngoyo banget sih, ya belajar seadanya saja. Tapi karena tuntutan ekonomi keluarga, saya harus bisa belajar, parttime (ngajar olim), dan mengerjakan berbagai hal (terutama masalah finansial) dengan mandiri. Oke, dengan adanya IP itu, saya bisa mendapatkan double scholar (bahkan menjelang triple). Alhamdulillah. Salah satu beasiswa saya mensyaratkan IP>3.7, so far, di semester-semester yang lalu, saya BISA MELAMPAUINYA DENGAN SANGAT MULUS. Saya senang, orang tua senang, kuliah saya jalan.

TAPI....

SEMENJAK NEGARA API MENYERAAAANG,

Semester lima adalah bagian hidup perkuliahan saya yang paling HANCUR. Masalah pribadi, ini lah, itu lah, ga berhenti-berhenti (makanya blog juga sempat vakum. nyahahaha). Daaan, masalah akademik pun menghampiri. Yaakniii,

Saya gagal revisi. Ada dua mata kuliah dalam Kartu Rencana Studi saya yang saya revisi dan gagal dicatat oleh sistem akademik. Padahal, saya sudah menyerahkan yang offline. Njuk gak dicek ngono karo akademik fakultas. Nyebai. Hingga akhirnya, saya harus menerima kenyataan pahit yakni 3 SKS dengan Nilai E. Sebel? Banget. Ya lah, lha wong saya gak ambil.

Kenyataan pahit lainnya, karena terdapat satu mata kuliah wajib yang belum saya ambil, saya tidak bisa mengikuti sistem perkuliahan blok termin 1. Akhirnya, saya harus menunggu satu semester dan kkn di tahun ini. Masalahnya?

SYARAT KKN GA BOLEH ADA NILAI E.

Dan, kata akademik, nilai E hanya bisa dihapus jika, pas yudisium. Daaan, mata kuliah yang harusnya ga saya ambil dan bernilai E itu, ada di semester ganjil. PIYE PERASAANMU? Untungnya, yang jadi "korban" di sistem online akademik fakultas cukup banyak, sekitar 10 orang, jadi kemungkinan besar akan ada pengawalan dari Advokasi BEM untuk mengurus masalah ini.

Semogaaaa bisa terselesaikan. AAMIIN

Anyway. Tahun ke-tiga. Saya engga tau kapan bakal lulus. Semoga kurang dari lima tahun deh. Aamiin. Tapi saya menikmati kuliah. Hahahaha. Tapi saya juga harus menyiapkan beasiswa. Hahahaha. S-2. Hahahhaa.

Hahahahaha Hahahaha

Sementara, yang saya pengenin, adalah ini. Buka aja websitenya, dan lihat syaratnya apa aja. SADAR DIRI WOY. Bahasa masih kacau, IP ancur semenjak nilai E menyerang, Publikasi baru dua, Etdah, entahlah.

Ya sudah sih. Saya masih kuat. Hahaha. Iyaa... Jadi sebenernya saya tipikal orang yang, yaa walaupun kecewa, sakit,luka, mungkin akan marah-marah ngoceh-ngoceh protes-protes bentar, tapi udah itu ilang. Saya bisa telen aja semuanya. Taaapiii, kalo saya bilang "aku udah ga kuat", ya bener berarti, saya emang udah ga kuat. Hahahaha. Apasih.

Daan, harapan saya, saya bisa memperbaiki semuanya.

Udah, sesimpel itu.

Fa inna ma'al 'usri yusro.


Ini saya lagi semangat nulis loh. Makanya penyampaian bahasanya kayak gini. Hahahaa


Ditemani kopi, headset, buku, dan pagi.


Yogyakarta, 19 Januari 2017
Read More

Minggu, 15 Januari 2017

Harapan (1)

Aku memiliki seorang teman perempuan. Usianya mungkin lebih tua dariku, tapi dia senang bercerita kepadaku bahkan membawakanku cokelat batangan kesukaanku saat dia datang untuk bercerita. Suatu hari temanku ini sangat murung. Sambil membawa tasnya, dia merebahkan diri di kursi ruang tamuku. Aku heran, gadis seceria dia bisa berubah seperti sedang tertutup oleh awan cumulonimbus. Aku membawakannya air putih, dan kemudian dia memulai percakapan,


"Sarah, aku sedang bingung. Ada dua laki-laki baik yang mengutarakan kekagumannya kepadaku."

Aku diam, hal ini tentu terasa sulit. Walaupun mungkin aku pernah mengalaminya juga.

"Laki-laki yang satu ini, sebut saja A, dia sedang bersamaku. Tapi aku merasa hal tersebut adalah suatu kesalahan. Aku tau dia menyayangiku, tapi aku tidak merasa tentram dengan itu. Sedangkan, laki-laki satunya lagi, sebut saja B, dia menyukaiku dari dulu, ketika aku sedang bersama laki-laki lain,  dia tetap menunggu. Bahkan hingga sekarang. Beberapa temanku mengatakan, laki-laki ini pernah tersakiti lantaran aku membersama laki-laki A. Dan dia sangat tersakiti ketika mengetahui bahwa laki-laki A tidak memperlakukanku dengan baik. Kisah ini nampak seperti drama, tapi ya begini adanya. Disitu aku berfikir, kasih sayang keduanya mungkin ada. Tapi aku tidak tau kadarnya.

Ketika aku bertanya, atas dasar apa mereka menyukaiku, jawaban keduanya hampir sama, sama-sama karena wawasan, keanggunan, dan pemikiranku. Aku tidak keberatan ketika ada laki-laki yang menyukaiku lantaran hal tersebut. Tapi yang aku titikberatkan di sini adalah, mau sampai kapan dua laki-laki itu menunggu? Aku tidak tega jika melihat mimpi mereka kandas gara-gara hal tersebut. Di lain sisi, jika mereka benar-benar menyukaiku, dan keduanya datang suatu saat nanti, aku harus memilih salah satu,kan? Itu sangat berat bagiku."

Temanku berhenti ceita sampai disitu, aku menangkap poin penting dalam ceritanya: kebingungan.

Waktu yang akan menjawab semuanya. Tuhan telah menyiapkan orang yang tepat, di waktu yang tepat. Kita hanya perlu bersabar dan menyikapi semua dengan wajar. Perihal siapa nanti yang akan disakiti dan menyakiti, hal itu mutlak akan ada, dan kita semua tidak bisa menghindarinya, kan?

Tetaplah berhati baik, sebab, hati yang baik akan mengenali hati yang baik pula. Dan, selipkanlah harapan dalam setiap permohonan kita. Sebab, harapan membuat impian selangkah lebih maju, kan? Dengan usaha, doa, tentunya. Kita harus meyakini sepenuh hati bahwa masa depan adalah kuasaNya. Apapun yang kita lakukan hari ini atau di masa lalu, baik kesalahan maupun hal-hal yang baik, itu semua adalah pelajaran. Yang notabenenya, dapat kita ambil hikmahnya. Sebab Tuhan telah bersedia menjadi guru kita, kan? Lewat seluruh rangkaian proses kehidupan yang kita jalani.

Hidup memang sebuah pilihan, ada saat sulit, dan ada pula saat mudah. Tugas kita hanyalah mengerjakan hari ini dengan sebaik-baiknya, menyelesaikan urusan satu untuk mengerjakan urusan lainnya, setalah itu, sisanya adalah harapan baik yang kita sampaikan kepada Tuhan.

Yogyakarta, 15 Januari 2017
Read More

Cara Ibu: Belajar dari "Padasan"

"Biru, Ibu ke kebun dulu ya, pagi ini.."

Matahari baru muncul, bau makanan di meja makan sudah menggoda lidah. Aku asyik tiduran di dipan depan TV sambil menonton film kartun, dan Ibu... Hm, Ibu hari ini harus menyiangi rumput di kebun, karena beberapa bagiannya akan ditanami jagung. Abang masih menggeliat di dalam selimut hangatnya, dan Ayah sudah melaksanakan tugas. Hari ini memang hari minggu, sehingga aku tidak berangkat ke sekolah. Kegiatanku siang nanti adalah menemani Ibu membuat kue basah pesanan tetangga untuk digunakan sebagai jamuan hajatan. Dan kamu tau? Aku suka loh, membuat kue! :)

"Biru, segera sarapan yaa nanti kalau sudah jam setengah tujuh. Ibu mau ke kebun sebentar, jam sembilan ibu balik. Jangan lupa Abang diajak sarapan bareng ya.."
"Baik, Ibu.. Biru ingin nonton TV dulu."

Ibu melangkah pasti dengan caping dan jaket kebunnya. Matanya berseri-seri, mengambil sepeda biru kami, dan beranjak ke kebun yang jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari rumah.

"Abang.. Sudah jam setengah tujuh. Sarapan bareng yuuk..."
"Ini hari minggu, Biru.."
"Abang ga mau kan, kalau diperutnya ada ulet? Hiii."
"Iya iya, abang bangun sekarang."

Aku mengikuti abang ke belakang, di belakang Abang menggosok gigi dan membasuh muka.
"Biru, tolong dong, kran nya dinyalakan yaa.. terimakasih Biru.."
"Udah, bang."

Kruyuk-kruyuk-kruyuk...

"Abang kok cuci muka aja pake kran? Mana airnya banyak lagi... Kan kasian, Bang.. Kata guru Biru, di dearah yang jauh sana, ada lo temen-temen Biru yang tidak bisa mandi pakai air bersih, tidak bisa minum air yang layak.. Nah ini, kok Abang boros pakenya?"

"Mumpung masih ada air, Biru. Nyahaha"

Abang memang baik, tapi kadang menyebalkan. Abang adalah orang yang paling tidak mempan dinasehati orang lain selain Ibu dan Ayah.

Akhirnya kami berdua menuju meja makan, Pukul sembilan, Ibu pulang dari kebun. Selepas mandi dan berganti pakaian, Ibu menemani aku dan Abang bermain lego.

"Ibu, Abang tadi pake airnya banyaaak. Mana cuma cuci muka sama gosok gigi..."Ujarku.

"Eh, Si Biru, engga yaa.. Abang menggunakan air dengan wajar, ini namanya optimalisasi sumber daya. Kan Ibu bilang, di daerah tropis kayak kita ini, sumberdaya airnya melimpah! Hahahhaa". Dasar Abang. Aku tidak mengerti kenapa hari ini dia begitu menyebalkan.

"Abang, adek, sini nak... Ibu beritahu kalian sesuatu..."

Diluar sana, ketika ayah, ibu, kakek, nenek, bahkan Abang dan Adek hendak sholat, pasti akan mengambil wudhu. Ketika Ibu masih kecil, kakek selalu mengajarkan kepada Ibu untuk berwudhu di padasan. Kata kakek, airnya akan jauh lebih bersih dan adem kalau ditaruh di padasan. 

Pada saat Ibu dewasa, Ibu menyadari bahwa padasan adalah suatu hal filosofis yang diajarkan turun temurun oleh orang-orang terdahulu. Kalian ingat kan, kalau lubangnya kecil? Rasul kita, ketika wudhu hanya menggunakan sekitar setengah liter air, itu kondisinya di wilayah yang beriklim arid atau kering. Sementara kita? Abang benar, sumberdaya air di wilayah tropis yang banyak hujan seperti di negara kita sangat berlimpah. Pernah dengar tentang hikmah?

Padasan mengajarkan kepada kita untuk menyederhanakan suatu hal, tidak berlebih-lebihan. Air yang keluar dari padasan itu jumlahnya tidak lebih banyak dari air kran, dan, padasan itu tidak seperti kran, anak-anakku sayang... Untuk bisa mengambil wudhu di padasan, kita harus mengisinya dengan air terlebih dahulu. Taukah? Seperti ketika kita memiliki tujuan, kita harus berusaha terlebih dahulu. Sedikit demi sedikit, berproses, bertahap, kemudian barulah kita bisa memetik manfaatnya. Dan, air yang keluar tidak secepat air yang masuk. Tandanya apa? Kalian pernah mendengar tentang peribahasa "besar pasak daripada tiang?" intinya adalah, dalam hidup pun kita harus senantiasa bersyukur dan menggunakan nikmat yang telah diberikan Tuhan dengan baik dan bijak. Nanti, saat kalian telah dewasa dan berkeluarga, kalian akan mengerti. 

Ibu. Sosok yang bagi kami, adalah hikmah. Dan Biru senantiasa ingin bercita-cita seperti Ibu. Mampu mengambil hikmah dari setiap sesuatu yang dirasakannya, dilihatnya, dialaminya.



*Note: Padasan=dalam bahasa Jawa artinya tempat air yang terbuat dari gerabah dengan lubang besar di atas untuk mengisi air dan lubang kecil di bawah untuk mengeluarkan air.



Yogyakarta, draft lama 2016


Read More