environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Sabtu, 28 Januari 2017

Baper 97 Menit: Mengintip Film "Iqro"

Pagi-pagi selepas ritual saya ketika tidak berpuasa (a.k.a nyeruput kopi sambil baca buku dan dengerin instrumen), tiba-tiba handphone saya berbunyi. Ada telepon masuk, dari salah satu kenalan di Akademi Mahasiswa Berprestasi UGM, dia menawarkan sesuatu hal kepada saya yang membuat saya senang dan bersyukur. Setelah itu, hp saya kembali berdering. Sudah 4 hari terakhir ini saya kedatangan banyak tamu di kos. Entah adik tingkat, maupun warga sekitar sini. Jadi saya kira, saya akan kedatangan tamu lagi. Kebetulan hp saya berbunyi karena ada line masuk. Fadhilah, teman saya, mendapatkan free 1 ticket ke CGV JWalk di Babarsari. Kami mendiskusikan dan akhirnya menginginkan untuk menonton sebuah film yang, sebenernya sudah kami ketahui sejak tahun lalu-produksi Masjid Salman ITB: IQRO'.


Setibanya di Studio 2, kami kaget. Karena kami nontonnya pukul 13.10 (mempertimbangkan waktu ibadah dan jam malam kosan saya wkwkkwkkwk), di sana mayoritas penontonnya adalah.....

ANAK-ANAK! Yap, sampe saya digrundulin 3 anak, ikut saya duduk, gandulin rok saya ketika nonton, narik-narik kerudung saya.. heleh-heleh wkwkk.

Film Iqro ini memang didedikasikan untuk anak-anak, mengingat minimnya tontonan anak yang berkualitas di Indonesia, film ini hadir seperti refresh dari film "Petualangan Sherina" dahulu, cumaa... balutan religi sangat dikemas apik dalam film ini. Sesuai dengan judulnya, tujuan film ini adalah untuk memotivasi anak-anak supaya mencintai Kitab Suci Agama Islam (Al-Quran), seenggaknya untuk membaca Al-Quran. Dalam film ini, tidak hanya balutan religi, namun kemasan dengan IPTEK adalah menjadi hal yang saya soroti.

Sebagai insan pembelajar Ilmu Bumi, mungkin beberapa orang juga akan merasakan, motivasi mempelajari alam semesta baik di langit maupun di bumi. Kitab suci! Tidak basa-basi lagi, film ini soooo wooorrtthhh it. Analisis logika berfikir tentang kewajiban membaca, membaca ayat-ayat Tuhan dan membaca alam semesta, sangat mengagumkan. Dan tentu, membuat saya baper.

Begini, film itu pemeran utamanya adalah anak-anak. Mereka sangaaat semangaaaaat sekaliiii membaca kitab suci. Sementara saya? Ya Tuhan... Maafkan saya. Apalagi mendengar denting suara mereka melafalkan kitab suci dengan fasih dan sesuai tata baca. Maha Kuasa Engkau, Tuhan... Selama ini saya kemana sajaaaaa...

Daaaan, Prof.Widodo, seorang profesor yang diperankan dalam film itu untuk mengelola Boscha, hm. Saya rasa, penikmat nuansa ilmu memang sepatutnya seperti itu, ilmu pengetahuan itu adalah untuk menuju kebenaran, dan kebenaran yang paling hakiki adalah milik Tuhan. Jadi, tidak ada alasan seseorang yang berilmu untuk tidak dekat dengan Tuhan, kecuali... ada faktor lain, seperti, misal, mungkin, kesombongan, atau hal-hal yang membuat hati mati sehingga sulit mendekati kebenaran. Hahaha ngemeng epe kowe Fut...

Namun, cerita dalam film ini sangat klise, agak dramatis dalam segi penataan suaranya. Durasi 97 menit yang ada sebenarnya terlalu singkat, walaupun demikian, makna yang disampaikan dalam film ini sangaaat mendalam. Mengenai Ilmu Pengetahuan, kewajiban membaca, dan kedekatan kita dengan Tuhan.

Karena sejatinya, alam semesta dan seluruh rangkaian kejadian yang ada adalah guru untuk kita semua. Bukankah Tuhan sudah "memfasilitasi" itu semua? Supaya manusia bersyukur, supaya manusia mau dan mampu mengingatNya, dan, untuk segala bentuk ridho-Nya.

Hmm.. teman-teman bisa lihat pitchernya di sini:



BTW, akan saya ulas lagi besok, tentang film ini, dan beberapa hal terkait parenting yang sangat berkaitan. See!


0 komentar:

Posting Komentar