environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Minggu, 15 Januari 2017

Cara Ibu: Belajar dari "Padasan"

"Biru, Ibu ke kebun dulu ya, pagi ini.."

Matahari baru muncul, bau makanan di meja makan sudah menggoda lidah. Aku asyik tiduran di dipan depan TV sambil menonton film kartun, dan Ibu... Hm, Ibu hari ini harus menyiangi rumput di kebun, karena beberapa bagiannya akan ditanami jagung. Abang masih menggeliat di dalam selimut hangatnya, dan Ayah sudah melaksanakan tugas. Hari ini memang hari minggu, sehingga aku tidak berangkat ke sekolah. Kegiatanku siang nanti adalah menemani Ibu membuat kue basah pesanan tetangga untuk digunakan sebagai jamuan hajatan. Dan kamu tau? Aku suka loh, membuat kue! :)

"Biru, segera sarapan yaa nanti kalau sudah jam setengah tujuh. Ibu mau ke kebun sebentar, jam sembilan ibu balik. Jangan lupa Abang diajak sarapan bareng ya.."
"Baik, Ibu.. Biru ingin nonton TV dulu."

Ibu melangkah pasti dengan caping dan jaket kebunnya. Matanya berseri-seri, mengambil sepeda biru kami, dan beranjak ke kebun yang jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari rumah.

"Abang.. Sudah jam setengah tujuh. Sarapan bareng yuuk..."
"Ini hari minggu, Biru.."
"Abang ga mau kan, kalau diperutnya ada ulet? Hiii."
"Iya iya, abang bangun sekarang."

Aku mengikuti abang ke belakang, di belakang Abang menggosok gigi dan membasuh muka.
"Biru, tolong dong, kran nya dinyalakan yaa.. terimakasih Biru.."
"Udah, bang."

Kruyuk-kruyuk-kruyuk...

"Abang kok cuci muka aja pake kran? Mana airnya banyak lagi... Kan kasian, Bang.. Kata guru Biru, di dearah yang jauh sana, ada lo temen-temen Biru yang tidak bisa mandi pakai air bersih, tidak bisa minum air yang layak.. Nah ini, kok Abang boros pakenya?"

"Mumpung masih ada air, Biru. Nyahaha"

Abang memang baik, tapi kadang menyebalkan. Abang adalah orang yang paling tidak mempan dinasehati orang lain selain Ibu dan Ayah.

Akhirnya kami berdua menuju meja makan, Pukul sembilan, Ibu pulang dari kebun. Selepas mandi dan berganti pakaian, Ibu menemani aku dan Abang bermain lego.

"Ibu, Abang tadi pake airnya banyaaak. Mana cuma cuci muka sama gosok gigi..."Ujarku.

"Eh, Si Biru, engga yaa.. Abang menggunakan air dengan wajar, ini namanya optimalisasi sumber daya. Kan Ibu bilang, di daerah tropis kayak kita ini, sumberdaya airnya melimpah! Hahahhaa". Dasar Abang. Aku tidak mengerti kenapa hari ini dia begitu menyebalkan.

"Abang, adek, sini nak... Ibu beritahu kalian sesuatu..."

Diluar sana, ketika ayah, ibu, kakek, nenek, bahkan Abang dan Adek hendak sholat, pasti akan mengambil wudhu. Ketika Ibu masih kecil, kakek selalu mengajarkan kepada Ibu untuk berwudhu di padasan. Kata kakek, airnya akan jauh lebih bersih dan adem kalau ditaruh di padasan. 

Pada saat Ibu dewasa, Ibu menyadari bahwa padasan adalah suatu hal filosofis yang diajarkan turun temurun oleh orang-orang terdahulu. Kalian ingat kan, kalau lubangnya kecil? Rasul kita, ketika wudhu hanya menggunakan sekitar setengah liter air, itu kondisinya di wilayah yang beriklim arid atau kering. Sementara kita? Abang benar, sumberdaya air di wilayah tropis yang banyak hujan seperti di negara kita sangat berlimpah. Pernah dengar tentang hikmah?

Padasan mengajarkan kepada kita untuk menyederhanakan suatu hal, tidak berlebih-lebihan. Air yang keluar dari padasan itu jumlahnya tidak lebih banyak dari air kran, dan, padasan itu tidak seperti kran, anak-anakku sayang... Untuk bisa mengambil wudhu di padasan, kita harus mengisinya dengan air terlebih dahulu. Taukah? Seperti ketika kita memiliki tujuan, kita harus berusaha terlebih dahulu. Sedikit demi sedikit, berproses, bertahap, kemudian barulah kita bisa memetik manfaatnya. Dan, air yang keluar tidak secepat air yang masuk. Tandanya apa? Kalian pernah mendengar tentang peribahasa "besar pasak daripada tiang?" intinya adalah, dalam hidup pun kita harus senantiasa bersyukur dan menggunakan nikmat yang telah diberikan Tuhan dengan baik dan bijak. Nanti, saat kalian telah dewasa dan berkeluarga, kalian akan mengerti. 

Ibu. Sosok yang bagi kami, adalah hikmah. Dan Biru senantiasa ingin bercita-cita seperti Ibu. Mampu mengambil hikmah dari setiap sesuatu yang dirasakannya, dilihatnya, dialaminya.



*Note: Padasan=dalam bahasa Jawa artinya tempat air yang terbuat dari gerabah dengan lubang besar di atas untuk mengisi air dan lubang kecil di bawah untuk mengeluarkan air.



Yogyakarta, draft lama 2016


0 komentar:

Posting Komentar