environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Jumat, 24 Februari 2017

Membenarkan Keburukan agar Terlihat seperti Kebaikan: Mengintip Buku 'Saving Fish From Drowning'

"Bibi Chen is dead, and she wants to tell you a story."

Begitulah kira-kira sinopsisnya. Hahaha.

Sebuah buku karya Amy Tan, yang saya dapatkan dari teman saya, Priyambudi. Oiya, saya ingin menceritakan tentang penulisnya terlebih dahulu. Amy Tan. Seorang penulis berkebangsaan Amerika yang lahir di Oakland, 65 tahun silam. Amy Ruth Tan, begitu nama panjangnya, memiliki wajah seperti orang Asia (Dan dimungkinkan masih satu rumpun mongoloid). Karya-karyanya lebih menekankan kepada hubungan ibu dan anak, serta beberapa juga bercerita mengenai seorang Asia yang tinggal dan hidup di Amerika. Sementara itu, Saving Fish From Drowning merupakan karyanya di tahun 2005.



Awalnya saya bingung, kenapa saving fish from drowning diangkat menjadi sebuah judul?

Baiklah. Tokoh utama dalam buku ini adalah Bibi Chen, bersama 12 orang turis Amerika sedang melaksanakan visi perjalanan mereka "Menyusuri Jejak Sang Budha" Sementara itu, Bibi Chen sendiri merupakan pakar bisnis, pesohor, sekaligus anggota dalam Dewan Museum Seni Asia. Tapi jangan salah, Bibi Chen yang merupakan tokoh dalam cerita ini bukanlah seorang yang hidup. Melainkan "arwah"nya yang bercerita. Kesan pertama... Hmmm.. syereemm!! But wait, I want to give you some "adorable scenes".

Bibi Chen seharusnya yang memimpin wisatawan-wisatawan tersebut dalam ekspedisi dari pojok barat China di Provinsi Yunan, berlanjut ke selatan menuju Burma Road yang konon pada saat itu termahsyur, Dalam perjalanan, Bibi Chen meninggal dalam keadaan tragis: leher terbelit tali dan benda kecil seperti penggaruk rumput mengenai tenggorokan, anehnya, Bibi Chen sendiri juga mencari penyebab mengapa dia mati.

Di lain sisi, para wisatawan tersebut tetap melanjutkan perjalanan mereka dengan menyewa jasa pemandu -tak berpengalaman- yang berdampak, sebagian besar perjalanan mereka berantakan karena ketidaktahuan. Sementara itu, arwah Bibi juga mengawal mereka, sambil penasaran terhadap karakter-karakter wisatawan tersebut. Dalam perjalanan, ada beberapa kejadian menarik, seperti kutukan yang mengenai wisatawan karena mengencingi Goa "kelamin wanita" (pardon my grammar -__-), hilangnya pesawat, ataupun tersesatnya para penglana itu yang disajikan dalam guyonan agak berat. Namun cerdas. Bibi Chen sebagai seorang arwah tidak menceritakan misteri, namun menceritakan hal-hal konyol yang dialami wisatawan selama perjalanan, dan tentu, esensi dari suatu kelompok perjalanan, yang telah menyamakan tujuan, dan rasa percaya.

Pembahasan mengenai judul dibahas pada bab 6 (halaman 145):
“Seorang laki-laki yang saleh menjelaskan kepada para pengikutnya, “Mengambil kehidupan itu jahat, dan menyelamatkannya adalah tindakan yang mulia. Setiap hari aku berjanji akan menyelamatkan ratusan kehidupan. Kutebar jalaku di danau dan ratusan ikan pun terjaring. Kutaruh ikan-ikan itu di tepi danau, dan di sana mereka melompat-lompat dan menggeliat. “Jangan takut,” kataku pada ikan-ikan itu. “Aku menyelamatkan kalian supaya tidak tenggelam.” Tak lama kemudian ikan-ikan itu tenang dan berbaring diam. Tapi sayang, aku selalu terlambat. Ikan-ikan itu mati. Dan karena tidak baik untuk membuang apapun, aku membawa ikan-ikan mati itu ke pasar dan kujual dengan harga bagus. Dengan uang itu aku membeli lebih banyak jala supaya bisa menjala lebih banyak ikan”.


Dan kutipan di atas jelas membuat saya berfikir, tentang membenarkan suatu keburukan agar terlihat seperti kebaikan. "Saving Fish from Drowning" kiasan dari makna dalam 'sebuah penyelamatan yang sia-sia'. Ini mengerikan, sangat mengerikan. Dan mungkin umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang kita jalani.

Tapi, mungkin, persoal baik dan buruk erat kaitannya dengan kesepakatan, dalih, persepsi dan terutama keyakinan. Oleh sebab itu, mengubah keyakinan seseorang jauh lebih memuaskan dibandingkan mempertunjukkan tipuan-tipuan yang hanya menimbulkan kekaguman sesaat.

Saya tidak ingin membahas banyak terkait keyakinan, tapi yang saya garis bawahi di sini adalah, kaitannya dengan kejadian-kejadian dunia yang terjadi saat ini. Jika suatu kelompok orang sudah beriman, dan memegang teguh suatu keyakinan, akan menjadi sangat diprioritaskan dalam konflik kepentingan, dibandingkan "makanan" sikap kemanusiaan yang universal. Kebaikan adalah harapan, ia adalah jawaban kenapa seseorang hingga saat ini bertahan hidup.

Untuk suporter "isi otak" saya, Priyambudi Putranto,

Terima kasih!

Yogyakarta, 24 Februari 2017
Read More

Minggu, 12 Februari 2017

Kangen! (Part ke-sekian)

Sabtu-minggu ini saya memilih untuk menghabiskan waktu di-kosan, kemarin, beberapa teman datang membahas project-project kerjasama mereka dengan saya. Selain mengolah kertas-kertas bekas bungkus makanan menjadi kotak hias, saya memiliki kesibukan lain akhir-akhir ini, menjadi freelance illustrator, di mana lukisan-lukisan saya yang ga jelas itu satu per satu mulai mendapat respon positif. Oiya, saya memakai teknik aquabrush dalam melukis, agak abstrak, tapi mendekati ketegasan gitu sih, dikasih penebalan gitu pake drawpen. apaan sih. hehe

Tadi pagi, saya benar-benar maaageeer (males gerak), jogging saya batalkan, agenda mencuci saya batalkan, beres-beres kosan saya batalin juga. Akhirnya saya memilih untuk mendekam di kosan saya, di ruang tamu yang saya sulap jadi perpus pribadi. Like this:


Dan gara-gara itu, saya jadi sering mager ke mana-mana, ujung-ujungnya, semua kerja kelompok, tugas dll dikerjakan di sini, kenapa? Yaa karena ada wifi dan tempatnya yang enak. Haha, deket dari kampus pula.

Tapi, karena dari pagi sampai siang mendekam di kos, dan kerjaan saya cuma nonton youtube (debat cagub wkwk)-buka tumblr-cek proyek. Soooo, itu sangat membosankan. Akhirnya saya ke pekerjaan lama saya: stalking tulisan teman-teman saya. Hahahaa. 

Saya punya sahabat, sekarang sedang menempuh studinya di Ritsumeikan Asia-Pasific Univesity, di Jepang. Beberapa hari yang lalu dia mengikuti kontes fotografi bertema wetland, menanggapi wetland days yang diselenggarakan oleh UN. Foto yang dilombakan oleh dia sangat familiar. Pada awal tahun 2016, dia mengirimkan foto ini ke saya:

Foto di atas adalah sunset 1 Januari 2016 di Matama Beach, konon, di sini adalah salah satu panorama sunset terindah di Jepang, dan dia ke sana lagi untuk yang ke dua kalinya pada awal tahun 2017.

Saya terus membaca tumblr nya dan menghindari ada cerita-cerita yang terlewat, akhirnya saya mengetahui bahwa dia akan segera pulang! Senang sekali rasanya, sayangnya dia pulang hanya sebentar, kami tidak dapat memastikan apakah kami akan bertemu ataukah tidak. Setidaknya, kerinduan-kerinduan itu akan terbayar dengan indah ketika kami membaca tulisan satu sama lain, pun sebenarnya tulisan itu tidak ditujukan secara personal.

Saya selalu meyakini bahwa, keterikatan hati dan emosional yang sudah diciptakan oleh orang lain terhadap kita atau kita terhadap orang lain, akan membawa rasa tentram meskipun jauh, rasa aman meskipun tak sering berkirim pesan, rasa saling menjaga dalam doa, dan menurut saya, itulah kasih sayang yang sederhana. 
Read More