environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Minggu, 21 Oktober 2018

#Ceritacerita: Jalan-Jalan ke Blitar Part 1


Jank jankk!! Voila, akhirnya menulis juga.

---

Kamis siang ketika saya masih ngasisten lab, saya memutuskan untuk menelpon Mba Uyun. Awalnya saya kira dia sedang di Jepang. Eh, ternyata di Indonesia. Ya sudah, alhamdulillah, ngobrolnya at least gak jauh wkwk. Saya punya kebiasaan #TelponBerfaeda dengan beberapa orang, salah satunya Mba Uyun, sudah semenjak 2013 seperti itu. Hehe. Nah, karena Mba Uyun di Indo, saya secara spontan nyletuk: Eh, besok kan libur tuh Mba aku di Sanata Dharma, di UGM gak ada kegiatan juga. Aku ke Blitar ya!

Spontan! Tanpa ada rencana yang matang. Kamis menentukan keputusan dan akhinya Mba Uyun langsung mencarikan tiket kereta api Jogja-Blitar. Kebetulan masih ada, dan kebetulan lagi-promo! Kurang apa coba skenario Tuhan tu, ya kan... hehe.

Kereta berangkat tanggal 17 Agustus 2018 pukul 02.50 WIB, saya bangun pukul 01.30 an sih, kemas-kemas, cuma bawa 3 baju (rencana emang cuma 3 hari), laptop, dan buku skripsi. Udah itu aja. Nah untungnya ada mamang ojek online yang available dan tepat waktu. Akhirnya....

Berangkatlah Futty ke Blitar, sendirian (udah biasa ._.).

Nah, di kereta, kebetulan duduk bareng Ibu-Ibu dan putrinya yang mau jenguk salah satu anaknya di Kediri, lagi mondok. Kami tidak mengobrol banyak soalnya memang malam kan ya, jadi gak terlalu intens. Pukul 4an pagi gitu... Salah seorang penumpangkereta tujuan Kediri (juga), Ibu muda... di samping kursi saya yang kebetulan membawa anak kewalahan. Jadi si Ibu ini membawa bayinya (usianya kitaran belum nyampe 1 tahun sih), nah dia ditemani seorang laki-laki, entah suaminya entah bukan, gak tau. Intinya bayinya nangis terus.

Berhubung kalau sudah pagi Futuha gak bisa tidur, alhasil utek-utek laptop dong, ada deadline kerjaan. Terus karena si adek nangis gak berenti, beberapa penumpang mengeluh. Si Ibu udah kelihatan panik banget, dan kebetulan si laki-laki yang sama si Ibu itu pake headset, tidur, jadi gak ngdenger mungkin. Bayinya ini laki-laki, masih nenen. Belum makan MP-ASI. Nah pas si Ibu ngegendong-gendong, kan gak enak ya kalo Futty sok cuek dengan leptop ._. akhirnya main ciluk ba-an sama si adek, nah disitu adeknya udah tenang. Ndilalah malah minta digendong ._. ya gapapa sih, adeknya mungkin suka sama saya. HAHA. kepedean.

Alhasil, dari pukul 4 sampe pukul 6 (2 jam men!) Futuha ngegendong bayi di kereta. Bukan bayinya sendiri ya.

Untungnya, saya selalu bawa kain koneng (saya nyebutnya koneng-koneng) yang dikasih temen saya, Aditya dari 2015an lalu, nah kain itu selalu saya bawa ke mana-mana, ngajar, ke luar kota, riset, acara-acara nananina, KKN, dsb dsb. Kenapa? karena kainnya ringan dan anget. Jadi bisa berubah menjadi slimut dan kerudung (jank jank!). Selain itu, dia gak makan tempat. Jadi bisa diselip-selipin. Gak bawa tas banyak. wkwk.

Si adek main-main di pangkuan sambil saya lilitin kain, takut jatoh. Ya maklum, masih belum berpengalaman sama bayi kecil. Untung si Ibu percaya sama saya, jadi si Ibu bisa istirahat. Pukul 7, si adek dan Ibunya sampai Kediri. Huhu!

Kereta sampai di Stasiun Blitar pukul 8.37. sebelum kereta berhenti, sambil nyetel lagu legend saya ketika naik kereta (re: Selamanya by Acel Runkat, sudah diputar setiap naik kereta dari 2012). Saya melihat tulisan "Blitar" di stasiun. Ini adalah kali pertama seumur hidup saya menapaki kaki ke Blitar, yang konon katanya penuh sejarah dan ke-khas.an

Oya, sebelum sampai ke Blitar saya melihat pemandangan di sekitar melalui jendela kereta. Hamparan sawah, ladang tebu, dan gunung kecil-kecil. Misty. Tapi berkesan. Hehe.

Suara kereta berbunyi. Handphone saya bergetar, ada pesan masuk: Sudah ditunggu di pintu keluar stasiun. Saya berjalan pelan, sambil senyum-senyum melihat tempat baru. Aroma khas Roti-O stasiun sudah tercium. Tepat di depan pintu keluar, ada tangan yang melambai: Mba Uyun, dia sudah ada di situ sejak pukul 8.15.

Berpeluk, senang sekali rasanya karena terakhir kami bertemu adalah tahun 2015, ketika Mba Uyun ke Jogja.

----
Saya awalnya mengira Mba Uyun akan membawa kendaraan sendiri, ternyata Mba Uyun bela-belain datang dari Wlingi ke Blitar dengan angkot. Alhasil kami memutuskan untuk jalan-jalan dulu di sekitar Kota Blitar mengingat sorenya kami dijemput ayah dan ibu Mba Uyun untuk ke Wlingi.

Di Blitar ada transportasi umum yang muat untuk 2-3 orang. Bentuknya seperti bajaj, tapi lebih mini dan lebih modern karena ada kargonya. Angkotannya berwarna kuning. Ada di sekitar stasiun, untuk tarifnya per kilometer adalah Rp.6000; Cukup menjadi solusi alternatif transportasi.

Kami berfoto bersama pada saat di dalam kendaraan. ini fotonya:
Foto bareng setelah 3 tahun gak ketemu yeeey, Futuha buluq


Tujuan pertama kami pada hari itu adalah:
1. Makam Bung Karno, Blitar,
2. De Classe Coffee and Gelato, Blitar.

Bertepatan dengan 17 Agustus 2018, cerita akan saya lanjutkan di Part 2. See!
Read More

#ChitChat: Menghargai Pilihan Orang Lain



Beberapa minggu (atau bulan?) yang lalu, saya quality time dengan salah satu teman. Sebenarnya biasa aja sih, cuma makan baso. Yang nggak bikin biasa adalah ke-ngalor-ngidul-an percakapan kami. Ya! kami sudah cukup lama tidak bertemu, terakhir bertemu yaa kitaran juni/juli saat dia sidang pendadaran di Teknik Geologi.

Percakapan kami di mulai dengan...

sebuah keadaan di mana saat ini, kami- berada di masa transisi antara kuliah dengan masa selanjutnya. Ya, meskipun dia-teman saya- sudah lulus dan saya belum, kami mengalami berbagai macam cuitan entah dari teman-teman, sanak keluarga, tetangga, dan lain sebagainya.

Pertanyaannya bisa sesederhana.. "Kapan wisuda?" "setelah ini mau ngapain?" dan lain sebagainya. pertanyaan-pertanyaan sederhana itu bisa disikapi dengan jawaban yang sederhana dan-singkat pula. Namun kadang yang membuat kita bergidik adalah kalau sudah mempertanyakan yang kaitannya dengan komparasi.
misal: "Si A lulusnya cepet nih, kok kamu belum?"; "Ih ngapain sih pilih topik skripsi susah-susah, toh skripsi kan cuma buat lulus aja."; "Mau lanjut S-2 ya? Gak dapat kerjaan lho entar, lulusan S-2 kan jarang dibutuhkan."; "Halah kayak gitu aja kok galau."

Nah, itu adalah sekian dari sekian ratus juta cuitan yang terkadang-nylekit. WKWK

Pertanyaannya sekarang: Emang pas nanya gituan tu tau kondisi orang yang kita tanyain po?

Nahlo,

Setiap orang, pasti memiliki latar belakang di dalam kehidupannya, manis asam pahitnya, lika-liku jalan hidupnya, kompleksitas perasaan dan pikirannya. Setiap orang punya itu-

Dan hal-hal tersebutlah yang menjadi salah satu bagian dari cara dan keputusannya untuk menentukan pilihan.

Mau lanjut S-2 atau tidak,
Mau nikah atau tidak,
Mau apa mau ini mau itu.
Suka K-Pop atau Jazz
Milih jadi IRT atau career mom
Mau punya anak atau tidak,
Mau sama kamu atau tidak, #eh

Dan setiap orang masing-masing memiliki keputusan atas pilihannya.

Tugas kita? Menghakimi? Big NO!

Sepanjang kita bisa melakukan apa yang dibutuhkan oleh diri kita sendiri dan kiranya bisa membantu orang lain (dalam konteks hal yang baik), itu dirasa cukup. Setelahnya, yang kita perlu lakukan adalah tetap bersikap ramah, tidak menghina, memaksa, mencibir, atau membuat down orang lain.

Caranya: Bersederhanalah dalam menyikapi kehidupan.

Hehe.

Klise. Tapi perlu.

Read More

Minggu, 15 Juli 2018

10 Penyesalan di Usia Sebelum 20


Taraaa! welcome back again. in this session, I will talk  (and maybe not to discuss) about 'My 10 regrets when the age is still bellow 20'. But I'll not use English for all.. lol. it just to give an opening. weks. lebay I think.

Setiap orang pasti memiliki jalan kehidupannya masing-masing, terlepas dari apakah dia di besarkan di lingkungan A, B, C; dengan riwayat A, B, C, pula. Tapi pernahkah kita merenung tentang apa yang sudah kita lalui selama ini?

'apa yang sudah kita lalui' bukan melulu tentang pencapaian, prestasi, dan hal-hal 'yang terlihat' lainnya. Lebih dari itu, ada banyak hal yang sebenarnya sudah kita lalui, secara sadar atau tidak sadar, dan itulah yang membentuk kita menjadi pribadi yang sekarang.

Menjelang tengah tahun ini saya ingin merefleksikan sepuluh hal ketika masih di bawah umur 20 (a.ka. belasan tahun) yang saya sesali. Bukan untuk diratapi, melainkan untuk dijadikan pembelajaran ke depannya.

mereka adalah.... *drumroll*

1. Merasa Paling Benar Sendiri.
Kata orang dewasa, masa muda adalah masa yang penuh dengan gejolak *ea*. Apalagi di usia belasan tahun yak, transisi antara anak-anak dan dewasa. Ada beberapa hal yang belum bisa maklumi, termasuk dengan adanya persepsi orang lain, yang mungkin, berbeda dengan apa yang ada di pikiran kita. Ketika tidak bisa mengendalikannya, maka yang terlintas di benak dan pikiran kita adalah: kita yang paling benar. Terlepas dari kebenaran (dari makhluk) itu pada akhirnya relatif (something new that I learn).

2. Tidak Mampu Mengendalikan Ego
Hal satu ini, bahkan juga dirasakan oleh orang dewasa sekalipun. mengendalikan ego bukan merupakan suatu hal yang mudah. Kita ingin apa yang kita inginkan akan selalu bisa tercapai. Yang lebih menyedihkan lagi adalah, kita ingin keinginan kita tercapai tanpa mempedulikan apakah itu mengambil hak orang lain ataukah tidak, merugikan orang lain ataukah tidak, menyakiti orang lain ataukah tidak, bahkan, menjauhkan diri dari Tuhan ataukah tidak. Ya, egosentris. Masa-masa itu terlampau memikirkan diri sendiri. Sebenarnya ada tips simpel yang bisa diterapkan agar bisa mengendalikan ego: menyadari bahwa ambisi dan kehidupan dunia hanya sementara, dan menutrisi jiwa agar bisa melakukan penerimaan. Terhadap apapun itu, termasuk takdir Tuhan.

3. Sempitnya Penerimaan
Tidak lepas dari dua statemen sebelumnya, adanya rasa ego yang tinggi dan rasa paling benar sendiri mengakibatkan kita sulit untuk melakukan penerimaan. pada waktu itu ada hal yang salah sedikit dari teman kita rasanya dia adalah makhluk yang paling bersalah sedunia. Saat ini saya mempelajari bahwa di balik apapun, pasti ada apapun. Kita tidak akan pernah tau alasan-alasan apa yang melatarbelakangi seseorang berbuat sesuatu terhadap kita. Terlepas yang dilakukannya itu menyakiti kita ataukah tidak. Tips mengendalikannya adalah: Memaklumi.

4. Merasa 'Miskin' Eksistensi
Banyak diantara kita pasti menginginkan adanya eksistensi. merasa dianggap oleh orang-orang di sekitar kita dan senang ketika di puji. Ya, kita melakukan banyak hal supaya terlihat 'eksis' di mata manusia. Kurang lebih begitulah pemaknaan miskin eksistensi. Padahal ya, kalau kita sudah dapat menerima diri kita sendiri dengan sepenuhnya, rasa ingin eksis lama-kelamaan juga akan terkikis. Kita akan memiliki rasa damai terhadap diri kita sendiri, sebab, kita sudah merdeka dan melakukan apapun tanpa harus digembar-gembor ke banyak orang maupun membutuhkan pengakuan.

5. Menyalahkan Diri Sendiri
Agak sedikit cerita. Dulu saya sempat punya masalah pertemanan dengan teman kuliah. Sempat ada rasa 'apa yang aku lakukan tu gak salah' (see point 1), sehingga reaksinya pada saat itu adalah sedih dan seperti mejadi orang yang paling merana. Haha. Kemudian tuh dikomporin sama temen satunya lagi, makin disalah-salahin lah saya dengan berbagai macam asumsi (I think those just like assumption because idk yet what kind of fact, in case). Berbulan-bulan saya mencerca diri saya sendiri, mengutuk kelakuan saya, dan ya.. itu sangat menyiksa karena apapun yang saya lakukan-meskipun telah meminta maaf-bagi teman saya itu, saya tetaplah bersalah. Hingga akhirnya waktu berjalan, dan.. ada sebab ada akibat. apa yang saya lakukan pada saat itu-yang dianggap menyakitinya-- tidak sepenuhnya salah. terlalu berlebihan saja dalam berekasi. impulsif. Sooo, meskipun se salah apapun kita di mata orang, jangan pernah berlarut-larut menyiksa diri dengan cara menyalahkan diri sendiri. Jiwa kita itu merdeka kok!

6. Impulsif
Impulsif like umm.. terlalu cepat bereaksi. Ada apa-apa dikit langsung direspon. Wkwk. Ibarat kata kita dikasih makanan nih, kata ibu teman saya, misal kita dikasih makanan pahit, jangan langsung dimuntahkan, misal kita dikasih makanan manis, jangan langsung ditelan. Nikmati dulu, rasakan dulu, baru mengambil keputusan. Agaknya ini cukup susah ya untuk usia belasan tahun, karena memang darah muda adalah darah yang berkobkobar wkwkwkkw. Ya, impulsif, kecenderungan untuk cepat merespon sehingga kadang apa yang kita lakukan adalah hal yang tidak sepatutnya di lakukan pada saat itu juga.

7. Membanding-bandingkan diri dengan orang lain. 
Sepertinya ini juga penyakit yak. Kita sering kali ngacanya tuh ke orang lain. Menganggap A lebih keren, lebih pinter, lebih cantik, lebih bla bla bla. Apa hasilnya? Kita lupa tuh ngaca ke diri kita sendiri yang tentu juga punya keunggulan. Membanding-bandingkan diri dengan orang lain hanya akan membuat kita terengah-engah dalam berjalan di lintasan kita sendiri. So, kenapa kita tidak memaksimalkan saja potensi yang diberi sama Tuhan?

8. Terpuruk ketika gagal.
Ingat betul ketika gagal pas olim jaman SMA, pulang ke rumah (di Bojonegoro) pada saat itu saya tidur 20 jam. Nyaris gak makan gak ibadah juga. Apa penyebabnya? Kecewa. Saya mudah terpuruk ketika gagal pada waktu itu. Asal muasalnya adalah terlalu berharap sama kemampuan diri. Lupa kalo Yang Diatas juga berhak ngurusin diri. Selama itu, saya hanya belajar sebab gagal ada 2: usahanya kurang keras, dan belum ditakdirkan Tuhan. so, pas kuliah ini saya juga sering gagal sih, tapi yaudah gitu lo udah kebal juga.. jadi serasa so so gitu la... Gak terlalu mikirin terus bangkit lagi. Kata pembimbing saya nih, ada kalanya kita perlu mencontoh banteng. kenapa banteng?

Banteng itu perlu merunduk dan mundur sedikit untuk bisa menyeruduk kencang.

9. Pengen Banyak Hal
Pengen banyak hal itu wajar sih.. dulu saya pas ikut volunteering IYD #1 dan sebagai volunteer termuda pada saat itu (umur 18th), tanggungan tugas kuliah sooo banyak, di tambah pas itu masih semester 3 yaak, dan yaa gitu deh.. kurang bisa memanajemen diri sehingga apapun diikutin, pengen ini, pengen itu sampe lupa kapasitas diri. Sampe-sampe salah satu kakak volunteer (namanya Mba Ayu, sekarang S-3 di Perancis) bilang ke saya: dek, nanti akan kamu rasain ketika sudah mendewasa, ambisi masa muda itu sangat bergelora, kita pengen melakukan banyak hal tapi juga sering lupa kapasitas diri. Jangan sampai dengan ambisi dan keinginan akan banyak hal-mu itu, kamu merugikan orang lain maupun menyakitinya.
Iya! Jleb gak sih,.. Mba Ayu bilang gitu karena saya jarang ikut rapat uey, :(

10. Gak ikut GEGAMA.
Jangan ketawa, ini salah satu hal yang agak receh sih, saya menyesal karena gak ikut gegama (UKM pecinta alam di Geografi). Kenapa gitu? Ketika di akhir masa kuliah saya baru sadar pentingnya si badan ini ditempa dengan alam. Dan tentu, butuh teman dan trigger kan yak.. Hehe. Dulu saya takut masuk GEGAMA karena banyak yang gondrong. Saya waktu itu takut dan beranggapan bahwa orang gondrong itu nakal (Nah!Mudah menjustifikasi kan yak). Akhirnya saya memutuskan untuk mengurungkan niat daftar gegama. Beberapa bulan yang lalu saya diundang gegama untuk mengisi salah satu acaranya. dan disitulah titik saya menganggap bahwa: tidak semua hal yang tampak dari luar akan mencerminkan dalamnya. Dalamnya GEGAMA sangat hangat :)


Voila! Begitulah cuitan sepuluh hal yang saya refleksikan dari kesalahan, kecerobohan, kebodohan saya sendiri. Hal-hal tersebut, seperti yang saya tulis sebelumnya, bukan untuk diratapi melainkan digunakan untuk mengevaluasi diri kita dan kesehatan jiwa kita tentunya. Hehe.

Misalpun saya gak menyadari ke-10 hal tersebut, tentu saya tidak akan bertransformasi menjadi jiwa yang seperti sekarang ini. Yaps. Jiwa kita merdeka! hanya Tuhan yang punya. So, anggapan manusia-manusia di luar sana biarlah ada, kesalahan yang kita lakukan di masa lalu biarlah berlalu. Hidup akan jalan terus... makanya, jadilah seperti anak panah. yang meskipun harus mundur dan mengalami kesakitan, dia tetap fokus dan mencapai tujuannya.

Kita, dalam garis hidup kita, salah benarnya, jadikanlah ia sebagai mana pembelajaran, nikmati. Seperti saat sedang belajar sambi menyeruput hangatnya secangkir teh.

cheers!

Futty¬

Read More

Jumat, 01 Juni 2018

WINDA DAN HATI YANG BAIK

foto th 2015 dan 2018



Suatu sore sekitar pertengahan 2014, mungkin kali ke sekian perempuan itu menginjakkan kakinya ke kota yang… mmm… katanya dia, menyenangkan dan nyaman. Masih ingat betul ketika kami dipertemukan di acara PPSMB Geospace, pertemuan pertama kami sebenarnya pada saat OSN 2013. Beda bidang, tapi pada saat itu kami hanya sekadar saling tau nama. Belum kenal. Pertemuan selanjutnya selalu menyenangkan. Kami sama-sama diterima di jurusan yang sama melalui jalur yang sama. Waktu itu sih Namanya kumpul perdana mahasiswa SNMPTN 2014 di jurusan kami. Ya, semuanya mengalir begitu saja.

Kami semakin dekat ketika mengikuti beberapa event yang sama. Masih ingat dengan jelas, mimpinya kala itu adalah menikah muda, menjadi ibu yang baik, dan berbakti kepada suami, sementara saya... yaa... pokoknya nih, pokoookknyaaaa..... aku nikah belakangan aja! Mau sekolah lagi! Mau nge-dosen! Haha. Mimpi saya masih menggebu-gebu pada saat itu. Ada yang lebih menggebu lagi: pokoknya aku harus dapat suami cakep! Titik. Tanpa koma. Dia hanya tertawa dan mengaminkan.

Masih ingat juga... ketika kami di negara antah berantah, kehabisan uang, VISA dan Mastercard hilang, lalu kami berjalan sore-sore sekitar satu jam perjalanan jalan kaki ke KBRI negara tersebut... menceritakan kepahitan yang kami alami, ditraktir makan oleh staff KBRI, lalu diberi uang (biar bisa pulang ke Indo) hahahaha. Katanya pada saat itu sih, kita tu Fut, sebagai wanita, harus kuat dua hal: hatinya dan fisiknya.

Oh pantes kamu milih geografi ya biar fisiknya juga ter-tempa. Alasan yang baik.

Atau...
Malam hari, dengan jalan kaki, tiba-tiba saya membuka pintu kosnya, bercucuran airmata. Dia peluk, dia suruh saya cerita, dan dia mendengarkan. Kemudian memberi arahan dan saran sesuai persepsinya.

Lugas, dewasa, penuh kasih sayang, dan cantik dari kebaikan hatinya.

Windarti Wahdaningrum.

23 Mei lalu mungkin adalah hari membahagiakan, bisa jadi juga menyedihkan. Winda resmi bergelar Sarjana Sains (S.Si). Ada rasa haru baginya, artinya dia telah menyelesaikan tanggung jawabnya kepada dirinya sendiri dan orangtuanya untuk pendidikan strata-1. Di ikhwal yang berbeda, sebagai anak pertama, tentu dia memikirkan, mau apa setelah ini.

Kemarin winda menghubungi saya, waktu itu saya masih UAS di Sanata Dharma. Dia bilang, katanya mau menginap. Saya tidak menaruh curiga apa-apa dan biasa saja karena saya pikir Winda ingin mendapatkan suasana yang berbeda atau malah ingin menemani saya.

Malam itu Winda bercerita banyak hal. Tentang apa saja yang dialaminya, kisah-kisahnya, persepsinya, kebingungannya. Hingga saya sadar bahwa Winda menginap karena dia sudah tidak punya kos di Jogja. Tanggal 1 Juni dia harus meninggalkan Jogja. Yang artinya… saya akan sangat jarang bertemu dia lagi.

Dan di titik itu saya sadar, Winda ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan temannya yang sangat rempong ini. Dari sore hingga sore lagi, kami makan Bersama, tidur Bersama, ke toko buku, belanja, maskeran, lalu... saya harus terpisah dengan Winda sampai entah kapan.

Dan disinilah titik, bahwa… kita harus siap ditinggalkan sahabat kita satu per-satu. Kelulusan artinya adalah menyiapkan diri untuk berpisah. Karena ada jalan yang masing-masing dari kita harus menempuhnya. Karena ada harapan baik di setiap perjalanan ke depannya. Dan kita tentu tidak bisa melulu terus bersama, kan?

Sore ini,
saya mengantarnya ke pintu gerbang kosan, kekasihnya sudah menjemput dan mereka akan ke rumah Winda. Sore itu pula Winda kejedot pintu. Saya menertawakan,
Sore itu,
sesaat setelah melambaikan tangan dan kembali lagi ke dalam rumah,
pipi saya basah.
Oh. Ternyata saya menangis.

Ada dua tangisan sederhana: bahagia karena sahabat saya telah memulai kehidupannya yang baru setelah kelulusan, sedih karena... saya belum siap menanggung rindu. Saya belum siap mencari orang yang selalu bersedia uuntuk saya, menerima keluh kesah, cengengekan, dan hal hal absurd lainnya.

Pada akhirnya...

Sampai jumpa di lain hari Win, terima kasih atas hati baiknya yang ditularkan kepada orang-orang disekitarmu. Saling mendoakan ya, Win... semoga lekas mendapatkan pekerjaan, dan menikah dengan orang yang kamu inginkan.

Read More

Kamis, 19 April 2018

Skripsi dan Ketakutan

Bukan ketakutan akan jejalan pertanyaan 'kapan future hasben teridentifikasi' lho yaa. Karena bagi mahasiswi tingkat akhir, pertanyaan itu adalah suatu keniscayaan. HAHA.

Saya aktif melakukan riset terhitung sejak tahun 2012. Riset pertama saya pada saat itu adalah tentang penambangan pasir di sebuah penggal Sungai Bengawan Solo di Kecamatan Bojonegoro. Riset pertama? Hha. Iya, ngerasain dibentakin sama penambang pasir gara-gara dikiranya saya mau laporin tu kegiatan ke pihak yang berwenang. Riset saya itu kemudian membawa saya ke Olgenas tahun 2013, titik balik saya bertemu dengan orang-orang yang berpengaruh ke dalam kehidupan saya. Hingga saat ini.

Tahun 2014 dan seterusnya, saya masih aktif melakukan riset, baik yang dimintai oleh dosen, maupun riset mandiri yang didanai oleh kementerian melalui program PKM, kegiatan UKM, dan lain sebagainya. Jadi banyak yang menganggap bahwa
'Fut, kamu kan udah terbiasa riset, gaada masalah dong buat kerjain skripsweet?'

FYI, Riset-riset yang pernah saya lakukan bertema: water quality, frost, environmental sustainability, conservation methods, participatory mapping, geophysics, daaaan flood hazard assessment. Hmmm, lebih concern ke environmental sustainability sih ._. wkwkkkk



2012: diamuk penambang pasir

2017: jinjit-jinjit di kebun kentang, penelitian frost

2017: pemetaan wilayah RT dan RW partisipatif di Desa Mergolangu (KKN Coooy)

2018: masih petakilan. di Jembrana, Bali. Gapapa, bangga jadi woman geograph

Futty dan makhluk-makhluk underwater ._.


Sementaraaaaa.... skripsi saya adalah SOIL MAPPING :3 :3 :3

Emang tentang apa sih skripsinya sampai ada ketakutan?

Anyway, yang namanya ketakutan dalam pengerjaan riset itu pasti ada. Entah takut salah metode, takut data ga terkumpul, takut dana kurang, dan ketakutan-ketakutan tambahan lainnya. Riset saya tentang pemetaan fase tanah. Apa sih fase tanah? bedanya sama tanah-tanah yang lain apa?

Jadiii... berangkat dari sistem klasifikasi tanah di dunia saat ini yang menggunaka pendekatan geomorfologi dari global ke detil, dari ordo ke seri. Nah, geomorfologi (lereng a.ka) itu kan lumayan stabil kan ya, misalpun berubah juga memerlukan waktu yang cukup lama. Tapi pernah dengar tentang era baru yang akan diluncurkan oleh para ilmuwan?

Antropocene!

Nah di era antropocene iini, manusia adalah main agent yang mengontrol berbagai hal. Dan sangat dinamis. Tak terkecuali tanah. United States Department of Agriculture yang mengeluarkan bukunya pada November 2017 menyatakan bahwa 'Jika tanah terpengaruh dan berasosiasi dengan aktivitas manusia, maka dapat terkategorikan ke dalam unique taxa'. Nah, unique taxa yang dimaksud ini adalah fase tanah, di mana hirarkinya lebih detail dari hirarki yang paling detil sebelumnya (seri).

Jika untuk pemetaan tanah dari ordo-seri sistem pemetaannya sudah cetha menggunakan geomorfo, di riset saya yang dibimbing oleh Dr.Dyah Rahmawati Hizbaron,M.T.,M.Sc; Prof.Dr.rer.nat.Junun Sartohadi,M.Sc., Dr.rer.nat.M.Anggri Setyawan,M.Sc., dan Assoc.Prof.Dr.Krisnawati Suryanata (dari Hawaii) ini mencoba untuk menemukan sistem pemetaan tanah dari detail ke global. Nah, cara alternatif yang kami gunakan adalah menggunakan pendekatan partisipatif. Hehehe. Disini, manusia dianggap memiliki kearifan persepsi tentang tanah maupun pengelolaannya. Riset ini kalo di dunia perilmuwan sana disebut pula sebagai etnopedologi. Bedanya, saya melakukan pemetaan. Hehe.

Nah, di riset yang rencananya akan saya lakukan penuh selama empat bulan itu, ada beberapa yang perlu dipersiapkan memang. Seperti biaya, tenaga periset, kematangan metode, perlunya PDKT dengan warga di lokasi kajian, kematangan hati *ea*. Sebenarnya ada satu yang harus saya buang jauh-jauh. Yaitu ketakutan. Bagi saya, skripsi ini sangat menantang jika dibandingkan dengan riset yang lain. Saya harus mengerjakan sesuatu yang  berasosiasi dengan ketakutan saya sendiri. Sempat saya berfikir untuk mengurungkan niat. Tapi bukankah menerima tantangan dan memperjuangkan akan terasa lebih melegakan nantinya? Heheh.

Sebenarnya,

Saya takut cacing tanah.

Dan riset saya pemetaan tanah. Mantap sekali kan?
Cerita tentang awal mula saya takut cacing tanah agak panjang. Kapan kapan akan saya ceritakan. 
Read More

Minggu, 25 Februari 2018

Catatan Perjalanan: #56Days KKN PPM-Asupan Kebaikan di Pagi Hari

Akhirnya aku dan Husna memiliki tempat tinggal yang akan kami tempati selama 56 hari ke depan.

Alarm saling berbunyi. Kadang milikku, kadang milik Husna. Bersahut-sahutan. Dinginnya udara di Wonosari membuat kami menarik selimut kembali. Aku tidak menggunakan selimut. Tapi sleeping bag di atas kasur. Mirip kepompong bobo. Pukul 3, alarm kami selalu berdering pada waktu-waktu itu. Jika kami bangun pada jam-jam tersebut selain di hari KKN adalah untuk 'nugas'. di KKN ini, serasa sangat gabut: liburan yang mendapatkan penilaian sejumlah 3 SKS.

Maka waktu yang kami gunakan serasa sangat panjang. Kami seranjang, aku yang di sisi dekat tembok, dan Husna di sampingku. Sengaja aku mengambil sisi dekat tembok karena.. kalau aku tidak di sisi itu, pasti tiap pagi badanku sakit karena terjatuh dan terguling di lantai. Tiap malam aku tidak pernah tau gerakan apa yang ku lakukan sehingga sering jatuh dari tempat tidur. Pagi, ketika bangun, yang ku lihat setelah langit-langit rumah adalah Husna. Entah dia sudah menunaikan dua rakaat sunnahnya, atau masih molor tertidur. Pun setelah subuhan kami akan menarik selimut kembali. Karena aktivitas masak memasak dan bersih-bersih rumah di keluarga Pak Kahono baru akan dimulai pukul tujuh.

Pukul enam kami berdua bangun. Kadang kami menertawakan diri kami sendiri: anak gadis macam apa ini, habis subuhan bangun lagi. Sebab kami bingung akan melakukan apa setelah ibadah fajar. Suhu udara rata-rata di sana tiap pagi adalah 14 derajat celcius. Aku yang memiliki kebiasaan baca tiap pagi pun terpaksa harus menarik selimut kembali dan baru melanjutkan bacaan pada pukul enam pagi. Biasanya sambil menyeduh cokelat panas.

Kami membuka jendela kamar yang kami tempati. Udara sejuk perlahan masuk. Di luar sana, ada semburat cahaya pagi di antara dedaunan pohon aren. Kadang kokok ayam jantan pun bersahutan merdu. Diiringi merdunya lantunan ayat-ayat kitab suci yang diputar Husna tiap pagi.

"Aku menikmati pagi ini", kataku.
"Pagi kita akan selalu seperti ini, bukan?" Jawab Husna sambil membolak balik buku ku yang aku bawa dari Jogja ke lokasi KKN.

"Hus. Kalau sudah pulang KKN, sepertinya aku akan sering rindu suasana pagi yang seperti ini."
"Lebih tepatnya kamu akan rindu dengan cahaya pagi, udara dinginnya, aroma tanah basahnya."

Benar saja kata Husna, aku akan selalu merindukan pagi-pagi di Mergolangu. Pagi adalah waktuku bercerita dengan Husna tentang apa yang kami rencanakan seharian, apa mimpi-mimpi kami yang harus kami wujudkan. Tidak jarang, lambe turahan, mengobrolkan baju yang tak kunjung kering, sudah tiga hari karena tidak ada panas matahari. Obrolan receh membincangkan anak dusun yang kegirangan ketika kami bernyanyi "tralala trilili".

Pertanyaan terbesarku kepada Husna kali itu adalah, "Hus, bisakah kita selalu bersyukur tiap pagi? Tiap kita bernafas dan ada, tiap kita diberi nikmat sehat dan nikmat bahagia?"

Akhirnya Husna menjawab: Kebaikan akan melahirkan kebahagiaan. Termasuk kebaikan-kebaikan di pagi hari.

Aku bertanya lagi, apa itu kebaikan-kebaikan di pagi hari?

Menunaikan ibadah fajar, membaca kitab suci, mensyukuri nikmat Tuhan, dan memberi asupan untuk pikiran dan perasaan, misalnya.
Jawab Husna.

Jawaban yang cukup menenangkanku. 
Read More

Sabtu, 20 Januari 2018

Bersiap! bukan meratap: Sebuah perspektif perempuan jomblo awal dua puluhan tentang pernikahan

Judul ini merupakan judul yang sudah terpikirkan lama oleh saya. Sempat ragu menuangkannya ke dalam tulisan dan mempublikasikannya di dalam blog, akhirnya saya memberanikan diri *hela nafas* untuk menulis dan mempublikasikannya.

disclaimer: tulisan ini juga sebagai pengingat untuk diri saya sendiri, ada beberapa curhatan, jadi tulisan ini bersifat menekan ke subjektifitas dan opini saya pribadi. Kasusnya boleh tidak diseragamkan, tetapi harapannya melalui tulisan ini, selain tadi-pengingat buat saya, juga sebagai salah satu sudut pandang yang mungkin berguna bagi teman-teman yang membacanya.

----

Bersiap! Bukan Meratap.

Di usia dua puluhan, beragam kompleksitas kehidupan yang mungkin tidak pernah kita duga satu per satu akan muncul. di usia dua puluhan pula, beberapa ilmuwan dan psikolog menyebutnya sebagai quarter life crisis. Di mana akan ada kebimbangan, kebingungan, dan hal-hal kompleks lainnya yang kita hadapi dan mau tidak mau harus kita rasakan dan fikirkan. Salah satunya adalah mengenai pasangan.

Di usia seperti ini, bicara mengenai pasangan, kiranya bukan lagi tentang how to hahahihi with ur boy/girlfriend. Melainkan ada selipan, how to prepare our future together. Tidak ada salahnya memang ketika beberapa dari kita yang menganggap 'ah ntar aja deh, aku kan masih muda. belum pengen serius. aku nembak dia ga ada niatan serius ko'. Tapi pernah gak sih, kita terpikirkan....

Berapa lama waktu dan energy yang kita habiskan untuk sebuah hal yang... yaa.. you know, bersifat semu?

Saya tidak mengatakan sia-sia loh ya, karena apapun dalam hidup kita ga bakal ada yang sia-sia. Tuhan itu baik kok, percaya aja :)

Nah, bedanya, antara laki-laki dan perempuan, beberapa laki-laki (berdasarkan survey mini futty wkwk) akan cenderung menginginkan waktu yang agak panjang untuk mencapai jenjang pernikahan. Mereka ga terlalu sensi tuh, ketika ada temennya yang udah nikah dan gendong anak. Beda cerita bagi para ceciwi. Lihat kondangannya temen nikah aja langsung pada baper. 'Aduuuh harusnya kan datang kondangan sama pasangan. Eladalaa, gue masih jomblo aja.' atau... 'Mah, temen aku kemaren barusan punya baby, lucu banget deh Mah, jadi mamimud gitu.. Mami muda, hehe. Aku kapan ya Mah?'

ATAU....

'YAAMPUN SEHARIAN KAGA ADA YANG NGE-CHAT, MERANA BANGET SIH HIDUP GW'

Memang, di usia dua puluhan, pernikahan seolah menjadi isu yang sensitif bagi para ceciwi. FYI, dalam standar BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional), usia ideal perempuan menikah adalah 21-25, kemudian batas maksimal melahirkan adalah 31 tahun. Makanya, kita tidak bisa menyamakan persepsi antara laki-laki dan perempuan dalam hal terkait dengan orientasi pernikahan.

Masalahnya, kebanyakan dari kita, terlalu sibuk meratapi nasib diri sebagai seorang jomblo ketimbang sibuk mempersiapkan diri terhadap pernikahan, yang konon, kata ibu saya, pernikahan itu ga cuma tentang ena(ena) nya doang. Bukan hanya rangkulan, selfie, terus upload Instagram. Bayangkan lah, dua kepala yang berbeda harus hidup bersama dengan berbagai permasalahan, kegiatan, tantangan, pasang surutnya rezeki, dan lain sebagainya.

Dalam rata-rata pemahaman kita, yaudah lah ya, kan yang ceciwi nanti dihidupin sama suami. Masalahnya lagi, ini bukan soal siapa yang menghidupi. Namun bagaimana kita menyiapkan kelapangan hati untuk berkompromi agar tetap bias terhidupi. Lahir batin.

Nah, apakah kelapangan hati, ilmu, pengalaman, hanya kita dapatkan dengan cara meratapi diri? bermalas-malasan menunggu chat masuk dari seseorang? kemudian jalan-jalan keluar nongkrong hahahihi? Tentu tidak.

Persiapan itu penting. Jika selama ini kita mengaku ingin menikah, coba tanyakan kepada diri kita lagi,

siapkah saya membersamai seseorang?
cukupkan pengetahuan dan pengalaman dasar saya?
bisakah saya mengendorkan ego?
cukup lapangkah hati saya ketika nanti satu persatu kekurangan dari pasangan terkuak?
masih adakah hutang ambisi masa muda yang belum saya lunasi?

daaan lain sebagainya. setiap orang memiliki pertanyaan khasnya. 

Menikah bukan hanya soal cinta. Menikah berarti juga menyatukan dua keluarga dan membentuk sebuah keluarga baru. Unit terkecil yang akan menentukan generasi mendatang. Jika dinyinyirin temen aja kita masih sering tersinggung, gimana coba kalo kita dapat mertua yang (bisa jadi) seperti itu? WKWKWK. Atau, mungkin kita masih perlu belajar dari berbagai macam persepsi orang, karena manusia kan juga dinamis. Kita tidak bisa memprediksi masa depan. Maka yang kita perlukan adalah mempersiapkannya.

Mampersiapkan kelapangan hati, maksudnya. Hehe.

Kelapangan hati menerima, menerima masa lalu kita, menerima pasangan kita, keluarga pasangan kita, dan persiapan menerima kejadian-kejadian mendatang bersama pasangan kita.

Itu dari segi psikologis ya, terus dari segi material apa dong?

Sebenernya saya menganggap pernikahan itu bukan sebagai benteng yang menghalangi seorang perempuan untuk mengenyam jenjang pendidikan tinggi maupun berkarir. Asal ya itu tadi, harus ada komunikasi, kompromi, dan komitmen antar-pasangan. Tapi, yang perlu dijadikan pertimbangan di sini adalah... meskipun menikah merupakan pembuka pintu rezeki, yang namanya makhluk, hidup di zaman yang serba unpredictable, kebutuhan akan finansial dan tabungan itu perlu ya. Selain investasi pendidikan. Ibaratnya untuk tawakkal, kita juga perlu ikhtiar, Mungkin beberapa skill dasar seperti memasak, membersihkan rumah, dan mencuci piring dapat menjadi salah satu bekal untuk kehidupan pernikahan.  

Daaan, apakah dengan cara meratap, menjadi seolah-olah jomblo merana akan membuat kita siap di jenjang itu?

Pikirkan kembali.

Ketika saat ini kita malas-malasan untuk belajar hal-hal baru, apakah kita akan tega, mengobrol bersama suami dengan bahan gosipan dari grup line? Apakah kita tega membiarkan anak-anak kita berwawasan momplong? 

Pikirkanlah kembali.

Ada hati yang perlu dilapangkan,
Ada otak yang perlu dinutrisi,
Ada pikiran dan perasaan yang perlu dipositifkan,
Tentu itu tidak akan terwujud hanya dengan cara meratap, kan?

Ceciwi baik, yakinkanlah pada diri kita bahwa dengan sibuknya kita, dengan belajarnya kita (entah material maupun belajar secara interaksional), adalah bentuk rasa cinta kita pada pasangan kita (nanti). Meratap bukanlah solusi. Ayo produktif, ayo tebar kebaikan. Dengan begitu, waktu kita tidak akan terbuang untuk sesuatu hal yang semu. Dengan begitu, setidaknya masa tunggu kita ada membawa suatu hal yang mungkin berguna untuk kehidupan ke depan. 

Jodoh memang telah ditentukan, tapi bukan berarti kita hanya menodongnya tanpa persiapan, kan?

Ada satu quote menarik yang saya dapatkan tadi setelah berdiskusi dengan teman saya,

'Tingkat tingginya spiritualitas  seseorang bukan diukur dari bahagianya ia, melainkan dari seberapa mampu ia memaklumi sesuatu.'

Semoga aku, kamu, dan kita, senantiasa dalam kebaikan.

Salam,

Futuha <3



Read More