environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Kamis, 19 April 2018

Skripsi dan Ketakutan

Bukan ketakutan akan jejalan pertanyaan 'kapan future hasben teridentifikasi' lho yaa. Karena bagi mahasiswi tingkat akhir, pertanyaan itu adalah suatu keniscayaan. HAHA.

Saya aktif melakukan riset terhitung sejak tahun 2012. Riset pertama saya pada saat itu adalah tentang penambangan pasir di sebuah penggal Sungai Bengawan Solo di Kecamatan Bojonegoro. Riset pertama? Hha. Iya, ngerasain dibentakin sama penambang pasir gara-gara dikiranya saya mau laporin tu kegiatan ke pihak yang berwenang. Riset saya itu kemudian membawa saya ke Olgenas tahun 2013, titik balik saya bertemu dengan orang-orang yang berpengaruh ke dalam kehidupan saya. Hingga saat ini.

Tahun 2014 dan seterusnya, saya masih aktif melakukan riset, baik yang dimintai oleh dosen, maupun riset mandiri yang didanai oleh kementerian melalui program PKM, kegiatan UKM, dan lain sebagainya. Jadi banyak yang menganggap bahwa
'Fut, kamu kan udah terbiasa riset, gaada masalah dong buat kerjain skripsweet?'

FYI, Riset-riset yang pernah saya lakukan bertema: water quality, frost, environmental sustainability, conservation methods, participatory mapping, geophysics, daaaan flood hazard assessment. Hmmm, lebih concern ke environmental sustainability sih ._. wkwkkkk



2012: diamuk penambang pasir

2017: jinjit-jinjit di kebun kentang, penelitian frost

2017: pemetaan wilayah RT dan RW partisipatif di Desa Mergolangu (KKN Coooy)

2018: masih petakilan. di Jembrana, Bali. Gapapa, bangga jadi woman geograph

Futty dan makhluk-makhluk underwater ._.


Sementaraaaaa.... skripsi saya adalah SOIL MAPPING :3 :3 :3

Emang tentang apa sih skripsinya sampai ada ketakutan?

Anyway, yang namanya ketakutan dalam pengerjaan riset itu pasti ada. Entah takut salah metode, takut data ga terkumpul, takut dana kurang, dan ketakutan-ketakutan tambahan lainnya. Riset saya tentang pemetaan fase tanah. Apa sih fase tanah? bedanya sama tanah-tanah yang lain apa?

Jadiii... berangkat dari sistem klasifikasi tanah di dunia saat ini yang menggunaka pendekatan geomorfologi dari global ke detil, dari ordo ke seri. Nah, geomorfologi (lereng a.ka) itu kan lumayan stabil kan ya, misalpun berubah juga memerlukan waktu yang cukup lama. Tapi pernah dengar tentang era baru yang akan diluncurkan oleh para ilmuwan?

Antropocene!

Nah di era antropocene iini, manusia adalah main agent yang mengontrol berbagai hal. Dan sangat dinamis. Tak terkecuali tanah. United States Department of Agriculture yang mengeluarkan bukunya pada November 2017 menyatakan bahwa 'Jika tanah terpengaruh dan berasosiasi dengan aktivitas manusia, maka dapat terkategorikan ke dalam unique taxa'. Nah, unique taxa yang dimaksud ini adalah fase tanah, di mana hirarkinya lebih detail dari hirarki yang paling detil sebelumnya (seri).

Jika untuk pemetaan tanah dari ordo-seri sistem pemetaannya sudah cetha menggunakan geomorfo, di riset saya yang dibimbing oleh Dr.Dyah Rahmawati Hizbaron,M.T.,M.Sc; Prof.Dr.rer.nat.Junun Sartohadi,M.Sc., Dr.rer.nat.M.Anggri Setyawan,M.Sc., dan Assoc.Prof.Dr.Krisnawati Suryanata (dari Hawaii) ini mencoba untuk menemukan sistem pemetaan tanah dari detail ke global. Nah, cara alternatif yang kami gunakan adalah menggunakan pendekatan partisipatif. Hehehe. Disini, manusia dianggap memiliki kearifan persepsi tentang tanah maupun pengelolaannya. Riset ini kalo di dunia perilmuwan sana disebut pula sebagai etnopedologi. Bedanya, saya melakukan pemetaan. Hehe.

Nah, di riset yang rencananya akan saya lakukan penuh selama empat bulan itu, ada beberapa yang perlu dipersiapkan memang. Seperti biaya, tenaga periset, kematangan metode, perlunya PDKT dengan warga di lokasi kajian, kematangan hati *ea*. Sebenarnya ada satu yang harus saya buang jauh-jauh. Yaitu ketakutan. Bagi saya, skripsi ini sangat menantang jika dibandingkan dengan riset yang lain. Saya harus mengerjakan sesuatu yang  berasosiasi dengan ketakutan saya sendiri. Sempat saya berfikir untuk mengurungkan niat. Tapi bukankah menerima tantangan dan memperjuangkan akan terasa lebih melegakan nantinya? Heheh.

Sebenarnya,

Saya takut cacing tanah.

Dan riset saya pemetaan tanah. Mantap sekali kan?
Cerita tentang awal mula saya takut cacing tanah agak panjang. Kapan kapan akan saya ceritakan. 
Read More