environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Senin, 23 September 2019

#CeritaCerita: College Lyfe dan Tips Kehidupan Perkuliahan


Postingan ini didedikasikan spesial buat temen-temen yang kemarin sudah request. well, sebenernya yang perlu aku garis bawahin disini adalah: ini murni persepsiku. kasusnya bisa jadi berbeda, dan postingan ini murni buat sharing. gak semua bener, tapi gak semua salah juga. hehe. boleh banget kalau mau diangkat jadi topik diskusi secara langsung. pun sebenernya aku udah mulai memikirkan untuk beralih ke website pribadi dan membuat tulisan lebih banyak lagi (tulisan yang agak bermutu ya, gak kayak tulisan-tulisanku sebelum tahun 2017. haha). doakan futuhasara(dot)com bisa release tahun depan. amin. 

okay. kali ini aku mau bahas tentang kehidupan kuliah. kenapa aku bahas ini? selain request dari temen-temen geografi UGM, aku rasa, aku perlu menuliskan apa yang aku pikirkan dan yang pernah aku alami (cielah wkwk) dan membagikannya. sebab, ada beberapa hal yang mungkin berbeda dengan stereotipe yang berkembang di lingkungan sekitar. Pembahasan di tulisan ini adalah mengenai strategi sebelum graduation (karena kemarin udah bahas yang strugglenya setelah graduation--dan sampai sekarang masih struggle juga ye kan namanya hidup wkwk; tp kemarin banyak curhatnya). 

apasih sebenernya yang bisa dilakukan saat kuliah? penting gak sih mempersiapkan nananina, buat kerja, buat S-2 dst dst? perlu gak sih organisasi itu? penting gak sih IPK? gimana sih caranya jadi mahasiswa ideal? wkwk yang pertanyaan terakhir aku gak bisa jawab yaa.. karena 'ideal' itu adalah tergantung persepsi. wkwk.

pembahasan pertama: awal kuliah, aku harus apa?

semester awal kuliah (di tahun pertama) memang adalah momen-momen yang bergelora. bagaimana tidak? euphoria awal masuk kuliah masih terasa (meskipun ada beberapa yang sedih karena tidak sesuai yang diharapkan- re: salah jurusan dsb), di awal masuk, aliran sambatisme (re: sambat teros) pasti terjadi. butuh penyesuaian diri dari suasana sekolah ke atmosfer kuliah.
beberpa mata kuliah yang diajarkan, dasar banget. pendidikan agama, pendidikan pancasila, dan semacamnya. kemudian kegiatan pengenalan jurusan; kegiatan pengenalan organisasi kampus dan lain sebagainya. kalau menurutku: ikuti proses dan alurnya. karena di awal adalah bagian menyesuaikan diri. termasuk social life nya. itu pula yang akan berdampak pada kehidupan di tahun-tahun selanjutnya. 

ingin ikut lomba? gak papa. coba aja. justru di awal-awal tahun kuliah, semangatnya masih bergelora. 

"tapi kak, aku belum tau kaidah nya untuk ikut lomba.." hmm. waktu pengenalan jurusan diajak kenalan sama kating kan? cari kating yang menurutmu bisa jadi 'role model' selama kuliah dan bersedia ngasih "bimbingan" atau sharing-sharing gitu. itu akan sangat bermanfaat. atau, mungkin, kamu punya teman di luar jurusan yang udah ada pengalaman. tanya. kepo in. tapi yang elegan ngepoinnya hehe jangan bikin ilfil :))

dan... setting goals ketika di awal, kuliah mau apa aja. kasih target. tapi kalau tipikal ngalir aja sih ya itu pilihan orang yak.. cuma saranku, biar gak lupa. tulis deh di kertas, hehehe. pengen apa.. misal IPK di atas 3.2 per semester, atau pengen ikut organisasi apa di kampus. is okay.
kenapa aku bilang penting untuk nulis target? karena itu bisa jadi reminder atau pengingat di saat hilang arah dan merasa down (biasanya mendekati skripsi atau pasca lulus rasa down-down banget muncul. wkwk). 

"aku gak ada bayangan mau ngapain di kampus nih kak..." hmm okay. semoga dengan membaca ini, Anda mulai ada bayangan. hehe. amin. 

pembahasan ke-2: Organisasi penting gak sih?

menurutku, PENTING BANGET. BANGET PAKE BANGET BANGET BANGET. organisasi mengajari kita buat mengambil tanggung jawab dan bersosialisasi yang dibatasi oleh hak-hak orang lain. Maksudnya, di organisasi kan kita bakal ketemu orang-orang nih... dan gak semua orang punya persepsi sama, punya alur pikir sama, punya cara yang sama untuk mencapai target., makanya perlu berlatih gimana bisa BEKERJA SAMA dengan orang lain, BERTANGGUNG JAWAB dengan, mengambil KEPUTUSAN, berlatih KEPEMIMPINAN (i mean gak harus jadi ketua atau apa gitu ya, maksudnya kepemimpinan tu ya seni memilah dan memilih dan menetapkan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan), meMANAJEMEN KONFLIK, dan lain sebagainya. 

urusan nambah CV atau memperbanyak relasi... itu bonus :))

terus apakah spesifik organisasi tertentu yang diikutin?
enggak. sesuaikan aja sama passionmu. yang mana yang membuatmu nyaman. dan bertumbuh. cari lingkungan, orang-orang, yang dengannya-kamu bisa bertumbuh. 

pembahasan ke-3: IPK ngaruh gak sih?


Well, banyak banget pembahasan tentang ini. Masalah IPK adalah dualisme jajak pendapat yang tidak akan pernah ketemu. Pertama, ada yang mengatakan bahwa IPK tidak mencerminkan softskills yang dipunyai oleh seseorang (mungkin karena dianggap ansos jadi mengesampingkan hal lain selain akademik? Idk). dan yang kedua, IPK adalah cerminan dari tanggungjawab kita karena telah memutuskan suatu hal: memutuskan untuk kuliah, memutuskan untuk mengambil kelas tertentu, dan lain sebagainya-dan kita harus bertanggungjawab atas keputusan itu. 

Keduanya tidak dapat dibenarkan ataupun disalahkan mutlak.


Pengalaman ketika aku berdiskusi dengan akademisi, kakak-kakak yang lanjut kuliah di luar, kerja di corporate, gitu-gitu… (plus aku sendiri), berpendapat bahwa IPK itu penting. Bukan angkanya. Tapi prosesnya. Bagiku sendiri, IPK itu semacam “ukuran”ku terkait dengan kapasitas belajar secara akademik yang aku lalui. Kalau misalnya IPK ku jelek, berarti aku harus melakukan evaluasi, pada bagian mana yang jelek, kok bisa, kurang apa sih, dan cara perbaikinya seperti apa. Btw jangan mengira IPK ku di atas 3,7 terus ya. Aku juga pernah di angka 3.1; tapi sekali lagi ditekankan bahwa IPK itu bukan soal angka, tapi soal proses. Kamu enjoy gak belajarnya? Ada pula kok yang IPK nya tinggi tapi dua bulan setelah ujian ditanyain materi sebelumnya gak bisa jawab. Adaaa yang kayak gitu. 

Nah, niatan buat belajar ini yang harus dilurusin. Berdasarkan pengalamanku kuliah di UGM maupun di Sadhar, IPK itu mengikuti pemahaman kita dan proses yang kita lakukan. Memang di UGM nilai didominasi A, karena memang enjoy dan bisa mengikuti. Di sanata dharma? Nilai A-E ada semua. Hehe. Gak apa-apa, namanya juga belajar. Sekali lagi, IPK BUKAN SOAL ANGKA. TAPI ADALAH SOAL PROSES.

Cumaaa… ketika nanti mau lanjut S-2 maupun kerja dibidang tertentu, IPK juga menjadi syarat. Misal nih buat mau daftar ke Ivy College, ada pra-syarat IPK di atas 3.5, atau ekstrimnya Oxford dah, Oxford mensyaratkan IPK di atas 3.7; kurang ekstrim apa lagi? Huhu. Terus, kalau misal melamar kerja, ada yang mensyaratkan IPK cumlaude, dan lain sbeagainya. Meskipun di kanal beasiswa tertentu seperti AAS mensyaratkan IPK “cuma” di atas 3.25 atau beberapa pekerjaan tidak mensyaratkan IPK. Tapi sekali lagi aku tekankan di awal, tentukan tujuan. At least ketika nanti ada perubahan-perubahan mendadak, kita gak nyesel karena sudah melakukan yang terbaik ketika di masa kuliah. 

Pernah ada yang nanyain juga, cara biar dapat IPK tinggi gimana mba? Hmm. Aku sadar, IPK ku mungkin masuk jajaran IPK tinggi di Geografi UGM, tapi TIDAK kalau dicompare dengan fakultas atau prodi luar fakultas yang lain. Ada teman dari Teknik Geologi, dia pinter banget emang, IPK nya 3,92; ada pula kakaknya murid yang kuliah di KU IPK nya 3,99. hmmm. Jadi ya gitu, di atas langit masih ada langit huhuhu. But It’s okay. Jujur aku gak expect kalo kemaren bisa dapat outstanding graduate award, tapi aku akan coba jawab cara memperoleh IPK yang oke tanpa “lupa” materi di akhir setelah ujian. Huhu.

Jadi, sebenernya, belajar itu harus enjoy, kalau enjoy, pasti bakal “kepo” atau rasa keingintahuannya meningkat. Nah di situlah mulai banyak baca, diskusi, dan lain sebagainya. Itulah proses belajar. Tidak ada tips yang spesial, intinya enjoy aja dalam menjalani proses belajar. Dulu aku emang sering duduk di depan sih waktu kuliah karena kalau d ibelakang kena distraksi obrolan teman-teman huhu, dan sering tanya kalau dosen habis pemaparan (ini sering dianggap annoying, but it’s okay. Kamu punya hak untuk bertanya dan diberi jawaban). terus biasanya kalau ngerjain laporan praktikum sekalian baca paper gitu, tugas juga gitu, jadi nanti bacaannya lebih luas dan insightnya lebih dalam. 

Nah, ini cerita aja, kemarin waktu ketemu Prof J pas pamitan buat kerja, Prof J bilang ke Futuha kalo “sedekah itu bukan cuma perihal ngasih uang ke yang membutuhkan. Kamu mengerjakan sesuatu ‘lebih’ dari yang diminta itu juga sedekah” atau bahasanya adalah “Going the extra miles”.

Pembahasan ke-4: Portfolio

Portfolio ibarat apa yang sudah kita tanamkan dan kita rawat untuk kemudian dipetik buahnya di kemudian hari (re: dapat kerjaan maupun beasiswa). Nah portfolio ini penting ya teman-teman. Intinya adalah “selama ini udah melakukan apa aja”, apakah sudah pernah ikut volunteering, magang, komunitas sosial, bikin project, event, dapat beasiswa, konferensi, dan lain-lain. 

Portfolio berbeda dengan CV, kalau CV kan isinya singkat ya, nah, di portfolio ini bisa lumayan panjang plus dikasih bukti (dokumentasi, berita, dan lain sebagainya). hanya saja, portfolio kita bisa masuk CV. Nah sekarang sebelum menginjak ke tips-tips, aku mau bahas soal portfolio secara singkat.

Setiap orang pasti punya orientasi tertentu ya dalam menjalani hari-harinya, nah apakah kita mengisinya dengan kegiatan akademik, non akademik, atau dua-duanya, sekali lagi aku tekankan-itu preferensi masing-masing. Tapi, kalau menurut pendapatku, jika dua-duanya bisa dilakukan, kenapa tidak?

Mungkin banyak yang bilang itu terkesan ambis ya kalau misalkan ikut banyak kegiatan gitu… FYI, tadi aku habis dengerin podcast Mba Sau yang berjudul “all the ambis ladies”… intinya, ambis itu dibedakan menjadi 2: ambis positif dan ambis negatif. 

Ambis positif yakni adalah ambis dalam artian ingin selalu meng-upgrade kapasitas diri dan fokus untuk itu tanpa memedulikan nyinyiran dan julidan orang. Sementara itu ambis negatif konotasinya lebih ke arah orang yang ingin mencapai sesuatu tapi cara yang digunakannya enggak berintegritas, seperti: menjatuhkan teman, pilih-pilih teman yang menurutnya ‘bisa dimanfaatkan’,atau merugikan orang lain dalam mencapai tujuan.. misal gak menepati janji, nitip tugas buat dikerjain, nge-klaim hasil karya orang… dan lain-lain.

So that, ambis positif memang perlu dihidupkan, tapi jangan jadi annoying (haha, pengalaman 3 tahun lalu sangat annoying). tetap fokus menata tujuan, pelan pelan gak apa apa. Istirahat sebentar juga gak apa-apa. Kerjakan semua dengan hati dan pikiran yang waras. Karena biasanya sindrom anak muda adalah mudah down ketika dinyiyirin. So, buktikan nyinyiran itu dengan usaha dan kerja keras untuk mencapai tujuan. All will paid off, on the right time. 

Nah, di portfolio ini saranku lakukan sesuai dengan passion dan apa yang kamu suka. Suka riset? Riset lah! Suka menari? Menari lah! Suka nge-event? Jalanin event why not? Dan lakukanlah dengan sepenuh hati. Maka pencapaian-pencapaian akan hadir sesuai dengan usaha yang diberikan. Eaaa hahahaa

Pembahasan ke-5: TIPS TIPS YEY

Nah ini menyentuh ke tips, setelah 4 pembahasan yang amburadul di atas. Hehe. Beberapa ini adalah tips yang lebih spesifik:

- perbanyak baca. Baca berita, media, apapun. Dulu waktu aku bilang gini ada temen yang nimpalin “kan gak harus baca, nonton film pun bisa menambah wawasan”. so that, I will say… konteks “membaca” itu gak cuma membaca buku. Bisa dari sumber apapun. Podcast, youtube, film, apapun yang bisa kamu akses.
- ikut kegiatan volunteering. Menurutku ini penting sih. Bayangkan kita melakukan sesuatu hal dan gak dibayar secara materiil (tapi puas secara batin karena telah ‘memberi’). ini akan melatih kita di beberaap situasi dan kondisi yang “gak sesuai harapan” agar bisa memiliki pandangan yang enggak itu-itu saja (percayalah kegiatan volunteering itu seru). cara mendapatkan kegiatan volunteering kak? Di instagram ada banyak banget info-info lomba, konferensi, konvensi, maupun volunteering. Coba follow ig “Apyouth” info-infonya cukup banyak di sana.
- kalau kamu passionate di riset, coba deh bikin penelitian dan lakukan publikasi/konferensi. Mulainya gimana? Kamu bisa join kelompok studi (di geografi ada GSC), ikut PKM, atau bantu hibah dosen/kakak tingkat. Kalau mau join konferensi internasional, biasanya aku dapat informasi terupdate by website conference alert (googling aja).
- kuasai bahasa asing. Kalau bahasa inggris sudah jadi keniscayaan ya… gak harus fluent, yang penting paham dan bisa menyampaikan (haha, ya itu fluent juga sih). atau kalau luang coba belajar bahasa lain. Ada apps namanya duolingo, nah itu bisa buat dicoba.. atau kamu juga bisa ikut kursus atau les-les gitu.. tergantung kemampuan dan keinginan.
- international exposure. Nah, ini sangat bisa mengubah mindset dan orientasi yakk.. aku merasakan sendiri soalnya. Haha. Kalau sudah ada pengalaman di event internasional, relasi meningkat tentu.. dan sudut pandang bisa lebih “kaya”, selain memperkaya CV dan portfolio juga yaak. Gimana bisa international exposure? Mungkin kalau kamu suka ngomong di depan publik, bisa join MUN, atau kalau ada kesempatan bisa exchange (website oia.ugm.ac.id lengkap buat update info exchange), ikut international conference, atau kegiatan volunteering yang international-based (seperti Thailand Village Academy dan semacamnya).
- magang. Nah ini yang gak aku dapat ketika kuliah. Cobalah untuk magang… mengenal dunia kerja dan pengaplikasian ilmu kita di dunia kerja. Selain itu juga akan bertemu dengan orang-orang baru yang mampu memperkaya sudut pandang kita terhadap sesuatu.
- online course. Sejujurnya kalau kita mau memanfaatkan waktu selo, banyaaak banget online course yang bisa diakses, dan beberapa ada yang bisa dapat sertifikat! Keren gak tuh. Selain dapat ilmu, bisa buat nambah CV dan portfolio juga kan ya… `kamu bisa coba beberapa penyedia online course seperti ITunesU Free Course, Stanford Online, Codecademy, MIT OpenCourseWare, UN: Learn; daan masih banyak lagiiii!!!!
- bagi yang mau S-2 LN … hmm.. bisa langsung sih, tapi kebanyakan ada masa tunggunya. Nah untuk masa tunggu itu bisa dimanfaatkan buat belajar bahasa, nyusun research proposal, dan lain-lain. Nyari beasiswa banyak sekali. Kalau yang sudah sering dikenal kan ada “LPDP, AAS, Erasmus, StuNed, dkk”.. nah, sebenernya banyaakk banget beasiswa yang bisa kita akses. Kalau mau tau infonya coba search di google “Scholarship Position” lalu submit email untuk dapat info-info beasiswa.
- bagi yang mau kerja, percayalah mencari kerja itu gak gampang, tapi bukan berarti gak bisa. Scope nya juga banyak banget. Ada yang mau berwirausaha, ada yang mau jadi ASN, dan ada yang mau di corporate. Aku bahas yang di corporate yak karena aku di sana. Haha. Intinya siapkan CV yang “menjual” sesuai bidangmu. Gak harus semua pencapaian dimasukkin, tapi spesifik aja. (makanya aku bilang kan, perbanyak portfolio karena ketika ada hal gak terduga, bisa pilah pilih portfolio buat masuk CV). Terus siapkan juga belajar buat entah itu psikotes, tes pauli, GMAT, dan lain-lain. Dan juga ada kanal website buat nyari kerja, seperti LinkedIn, Indeed, Glassdor, Jobstreet, Kalibrr, dan lain-lain (kalau aku prefer LinkedIn sih, nah kamu juga bisa mention skills kamu dengan detil di linkedin). kemudian kalau latihan buat interview (interview preparation), kamu bisa coba akses Ambitionbox, AceTheInterview, LeetCode, Careercup, dan semacamnya. 

So guys, itu adalah tulisan tentang kehidupan perkuliahan dan beberapa tips yang bisa dilakukan selama kuliah. Huhu.
Intinya adalah: lakukan yang terbaik agar tidak menyesal di kemudian hari. Huhuhu. See ya next post, based on request. Any reques? Comment or dm aja yaak. Hehe.


Read More

Minggu, 08 September 2019

Medan, satu purnama terlewat

Maret 2019 adalah kali pertama aku mendapatkan tiket AirAsia yang menuju Kualanamu. Tempat yang sebelumnya belum pernah aku kunjungi. Sore itu aku naik Gojek dan menuju Adi Sutjipto Int Airport. Telat check in! Secara tidak sengaja aku bertemu dengan Sutra-yang ternyata kami akan mengajar di project yang sama: MEDAN!

Malam sebelum berangkat-lebih tepatnya 2 malam sebelum keberangkatan.. Ada info mengenai pekerjaan yang aku lamar. Aku harus wawancara. Dan itu bertepatan dengan project mengajar yang belum selesai. Sempat galau. Tapi setelah berbagai pertimbangan, akhirnya aku tidak hadir wawancara dan memilih mengajar-tanggung jawab yang sudah aku ambil sebelumnya.

Medan kota yang panas. Aku selalu berkeringat dan mengeluh kepanasan. Satu hal yang sangat menonjol yang aku tau dari medan adalah suara klakson yang sangat keras. Kendaraan yang semrawut, pelanggaran lampu lalu lintas nampaknya sudah jadi pemandangan yang wajar.

Selama mengajar di Medan bulan Maret 2019, tidak terbesit sama sekali untuk kembali ke sini. Memang ada sedikit firasat "sepertinya bakal kesini lagi", tapi itu sekadar firasat yang langsung aku tampis. Meskipun-pada saat itu masih job-seeker, aku selalu berharap bisa kerja di Jawa, tepatnya Jawa Timur saja. Dekat dengan bapak ibuk.

Namun ternyata takdir bilang lain. Bulan Juli 2019-wawancara kerja lagi. Di situ di offer "apakah sanggup penempatan di Medan?" Dan tanpa pikir panjang aku menyanggupinya. Bukan apa-apa. Di ceritaku yang sebelumnya, aku pernah bilang kalau mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah. Apalagi untuk freshgraduate zero experience. Makanya, setelah bilang "sanggup", hati langsung menimang-nimang banyak hal.. Seperti "bagaimana kalau beneran diterima?" "Nanti sendirian di Medan?" "Jauh dari orang tua?".. Dan banyak lainnya.

Hingga semua pertanyaan itu terjawab: diterima kerja dan ditempatkan di Medan, sendirian-tanpa keluarga dan teman di sana-dan sangat jauh dari orangtua. Maksudku, beda pulau.

Tentu pertimbangan hingga memutuskan "oke" telah melalui ridha Bapak Ibuk. Hamdalah.

Agustus tanggal 9 tahun 2019 Pradev dan Ghina mengantarku. Fadil datang, Ais dan Sani juga. Sepuluh hari sebelum itu aku menghabiskan waktuku di Jogja. Ngopi bersama Mas Koko, mengunjungi pameran buku dan mengadopsi kucing buat Fadil, makan pisang goreng bersama Mela di Kopi Merapi, tidur di rumah Pradev, makan es krim bareng Ais, ketemuan sama Nurul dan masih banyak lainnya.








8 Agustus. Aku masih ingat betul: pamitan dengan Prof Junun dan Bu Emma. Pesan yang disampaikan: "Futuha, di manapun kamu berada, lakukan segala sesuatunya dengan baik."

9 Agustus pukul 15, aku kepengen nangis rasanya. Meninggalkan Jogja dan segenap kenangannya dalam waktu yang cukup lama. Sesekali aku memandangi Ghina. Bagaimana dia nanti ketika wisuda sementara aku tidak bisa hadir. Dan ketika Ais Sani datang, aku seperti ingin menangis. Dan aku meninggalkan mereka semua, masuk ke ruang check in tanpa sedikitpun menoleh ke belakang. Karena aku nangis! Haaha.



Semua tiket pesawat ditanggung oleh perusahaan. Beberapa kali penerbangan Jogja-Medan sebelumnya juga begitu. Awal aku sampai di medan pukul 19 WIB dan di follow up oleh Pak Achmad Adhitya, manajer SUSO Unilever, menanyakan apakah Futuha sudah di Medan atau belum, dan PM menjawab bahwa Futuha just landed Pak. Haha. Lumayan. Aku gak merasa sendirian.

Aku menuju ke Rumah Ibu Titi, keluarga Muthi yang sudah berbaik hati menerimaku di Medan. Sebelum mendapatkan kos dan mulai berkantor di Unilever kantor Medan.

Medan seperti yang aku lihat sebelumnya: panas, klakson sangat berisik, orang-orang bersuara keras.

Idul Adha 2019 aku habiskan bersama keluarga Ibu Titi. Kami makan bersama, dab jalan-jalan! Setelah itu kami mencari kos. Ada beberapa pilihan kos. Tapi aku memilih kos di Medan Kota (pusat kota), 2.5 km dari kantor Forum Nine (kantor Unilever di Medan). Setelah disetujui oleh Bapak dan teman, akhirnya fix bertempat di situ.

Harga sewanya tidak murah. Namun lingkungannya sesuai menurut kriteriaku: dekat masjid, khusus putri, ada yang menjaga (Bapak/Ibu/Kakak Kos), bersih, ada dapurnya! Haha.

Hal yang tidak bisa dibeli adalah lingkungan yang baik. Awal awalnya aku stres berat dan merasa kesepian. Untungnya ada kak Vinda, putri pemilik kos yang sering mengajak ngobrol. Ada rekan kerja juga: Fikri, Bu Nina, dan Pak Gullit (yang tergabung di divisi Sustainable Sourcing) serta teman-teman kantor Unilever medan.

Satu minggu pertama, bahkan untuk ke indomart yang jaraknya 500m saja aku takut. Bukan apa-apa, stereotip orang-orang sini yang kurang ramah terhadap perempuan, kasar, dan lain sebagainya membuatku takut. Sampai aku memberanikan diri buat jalan jalan sendirian. Haha. Ternyata tidak semenyeramkan itu. Minggu kedua aku mulai jalan-jalan sendiri, ke pusat kota, kafe kafe di Medan, nge mall dan nonton di bioskop-sendirian.

Ibu kos sangat baik. Beliau sering bercerita dan membagikan masakan. Memang makanan disini mahal-mahal. Tapi enak dan porsinya banyak! Haha.

Minggu ke tiga, aku mulai mengikuti event2 dan membuat habitat dengan teman-teman. Berkegiatan, bekerja, membaca, memasak. Aku menikmatinya. Aku merasakan kasih sayang di sekitarku.

Perlahan, Medan tidak semenyeramkan yang aku kira sebelumnya.

Bahwa Tuhan, entah bagaimanapun caranya, tidak akan membiarkan kita sendirian. Ada tangan-tangan baik yang selalu menerima kita.

Kalau kata Ibuk "jangan lelah berhati baik, karena hati yang baik, akan melahirkan banyak kebaikan lainnya."

Ibuk, Bapak. Doa ibuk bapak selalu mengertai. Di mana pun, kapanpun.

Semoga betah.

Read More

Selasa, 20 Agustus 2019

#Cerita-Cerita: After-grad lyfe

Hai hai.. lama sekali Futuha gak nulis di blog setelah kelulusan kemarin. jadi niatnya mau membagikan cerita tentang…
“after-grad lyfe” and how to deal with it (meskipun sampai sekarang masih dealing dengan banyak hal lainnya wkwk)
Maafkan kalau banyak curhatnya hwahwa
-----------
Habis lulus mau ngapain Fu?

Pertanyaan yang sering dan bahkan hampir tiap hari saya dengar ketika lagi skripsian.
Ya, hal itu adalah suatu keniscayaan. Tidak mungkin tidak, apalagi di kultur masyarakat kita yang masih sangat peduli dengan kehidupan orang lain.
Suatu siang, saya pernah berpidato ketika prosesi wisuda di Fakultas Geografi, yang kurang lebih (cuplikan) isinya seperti ini:



Sudah di baca? Wkwk kalo mau teks lengkapnya bisa PM saya atau email hehe.
After graduation lyfe.
Hal yang pertamaaa kali saya rasakan sehari setelah wisuda adalah..
HAMPA.

Bagaimana tidak? Status mahasiswa? Gak ada. Kerjaan? Gak jelas kerja apa hehe. 
Kemudian, belum lagi ditambah dengan kondisi… (mmm.. ini gaboleh sih sebenernya membanding-bandingkan sama orang lain)…
Teman-teman, sudah ada yang bekerja,
Sudah ada yang memutuskan S-2,
Dan bahkan yang hendak berkeluarga.
Galau? Jelas! Saya mau ngapain habis ini wokwokwok. bingung!
Hingga suatu ketika membuka kembali lembaran mimpi-mimpi yang tercatat di selembar kertas.. ada tujuan di sana. Namun, bagaimana jika kondisi saat ini tidak relevan dengan tujuan itu?
Dulu ngiranya bakal langsung S-2, segala persiapan telah matang-matang dilakukan. Mulai dari ikut education fair, pengembangan Bahasa, nulis jurnal-jurnal internasional (publikasi), IPK, kegiatan leadership, dan semacamnya. Tapi…
Manusia hanya bisa merencanakan, kan?

Sebulan sebelum wisuda, saya bahkan gak tau mau kerja di mana. Gak kebayang buat cari kerja, saya pikir… “ah gampang mah cari kerja.” Sampai pada akhirnya…
HELL, NO!
Seminggu setelah lulus dan dokumen-dokumen kelulusan sudah ditranslate dalam Bahasa Inggris, saya mulai apply pekerjaan.
Nah awalnya bingung kan ya,.. magang gak pernah, “orang dalam” gak ada.. gak ada kepikiran buat kerja sebelumnya.. gak tau harus cari kerja di mana… lewat apa.. caranya gimana… yaa begitulah yang terjadi seminggu setelah lulus hahaha. GALAW.
Akhirnya saya memutuskan untuk googling-googling, plus, sahabat saya, Uyun, membagikan pula cerita-ceritanya ketika menjadi jobseeker (anyway, Uyun saat itu sudah diterima bekerja di salah satu perusahaan yg bergerak di bidang riset di Jakarta). Uyun cerita kalau dia sudah melamar more than 100 jobs sampai pada akhirnya diterima. Mirip dengan Uyun, Evi juga begitu. Evi melamar sudah lebih dari 40 lowongan kerja sejak lulus November 2018 sebelum dia dapat kerja kontrak di Batam. Pikir saya waktu itu yang masih bau kencur adalah… “ih serius? Sesusah itu po?” a.ka saya menyepelekan dan menganggap mencari kerja itu adalah hal yang REMEH,
Sekali lagi,
HELL, NO!
Hingga pada akhirnya mengalaminya sendiri. Jadi seorang job seeker. Mungkin teman-teman banyak yang menanyakan kenapa gak jadi S-2 saja? Hmm. Jika dibilang, setiap orang pasti punya strategi untuk mencapai tujuannya ya. Dan menurut saya bekerja adalah salah satu hal yang memang saat ini sangat dibutuhkan (selain asupan duid tentu wkwk); membutuhkan pengalaman bertemu dengan orang-orang baru, belajar implementasi langsung di lapangan, mengenal dunia luar lebih banyak, dan semacamnya. Setiap orang punya preferensi, dan itu yang saya pilih.
Awal mulanya melamar pekerjaan via LINE Jobs wk lol. Ya karena gak tau portal-portal kerja gitu.. sampai akhirnya bikin akun jobstreet, kalibbr, nouvoo, memoles LinkedIn secantik mungkin, dan portal-portal lowongan kerjaan lainnya. Saya mendatangi tiap ada jobfair, drop CV sana sini, ngirim email ke instansi dan/atau perusahaan di bulan Maret itu. Kehitung mungkin sekitar 25 pekerjaan yang saya apply sejak 7 Maret 2019 hingga 30 Maret 2019. Berarti bisa dibayangin dong ya, hampir tiap hari nglamar 1 kerjaan. Hahaha.
Dan… ternyata, jalannya tidak semudah itu fergusso!! Semua aplikasi saya ditolak!
Jleb.
Down? Banget, uring-uringan juga. Dunia rasanya gak ada warnanya sama sekali. Tapi pada saat itu  masih fine-fine aja (maksa kwkwk) dan mulai menyusun strategi biar gak stress serta mulai mengevaluasi diri, apa yang salah dari yang saya lakukan dalam apply meng apply pekerjaan.
Beruntungnya, gak nganggur-nganggur banget. Jujur, sudah memprediksi kalo pasti akan ada masa tunggu, entah mau kerja atau S-2. Gak bisa langsung gitu.. maka strategi yang diterapkan adalah menjadi budak asisten lab. Di sisi lain saya terima aja kalau ada tawaran ngajar ke luar kota, dan tentu ikut kegiatan-kegiatan volunteering. Untungnya, masih punya organisasi Gerakan Indonesia Emas (GIE) yang baru mendirikan Sekolah Ilmuwan Minangkabau. Jadi ya bisa mengalihkan energinya kesitu. Ngajarin anak-anak, nge follow up mereka, jadi koor asisten (yang gak selo), ke sanata dharma, trs ikut kelas-kelas crafting, jalan-jalan, dan lain sebagainya (overall aku gak nganggur-nganggur banget sih).
TIPS 1 AFTERGRAD MENGHINDARI GALAU DI MASA TUNGGU: CARI KEGIATAN DAN PERBANYAK RELASI.
Kenapa itu penting? Menurut saya, kalau lulus, then caw ke kampung halaman, banyak ortu dan lingkungan di sini tuh masih nanyain “kapan kerja” dsb dsb dan itu bisa bikin kitanya juga uring-uringan. Plus, kalo di kampung halaman kan zona nyaman banget ya, takutnya terlalu nyaman… yang harusnya cari kerja dengan qerja qeras bagai qooda, eh malah nyender banget kayak qooda nil. Hmm.. no no. makanya waktu itu memutuskan buat stay di Jogja dan melakukan banyak hal ketika masa tunggu itu. Orang tua masih support finansial meskipun sayanya menghindari banget, tp ya kayaknya udah jadi rahasia publik kalau saya memenuhi kebutuhan dengan bekerja (freelancer) sejak tahun 2015. Yaa gak gede-gede amat hasilnya, tapi Alhamdulillah selalu merasa cukup dan dicukupkan sama Tuhan.
Then, selain melakukan kegiatan-kegiatan itu, evaluasi juga terus dilakukan, kenapa 25 lamaran ditolak semua.
Hmmm. Dulu… bikin CV itu overall general banget. Cuma 1 CV dan isinya seluruh capaian, kemudian itu dong yang dipake buat apply. Terus, pengantar surat atau email.. ternyata ada kaidahnya sendiri lho! Omo! Belum lagi yang mensyaratkan cover letter dan sejenisnya. Gak bisa disiapkan H-1 coy!
Akhirnya, mau gak mau harus belajar lagi. Belajar memoles CV, menata focus dan orientasi pekerjaan apa yang diinginkan.
TIPS 2 AFTERGRAD: UPGRADE YOUR SKILL. APAPUN YANG BISA DIUPGRADE, TERMASUK PERSONAL BRANDING (DAN LINKEDIN!)
Saya mendownload buku panduan dari Harvard Extension School tentang cara bikin CV dan cover letter, contoh-contoh CV nya Ivy College, dan lain sebagainya. Akhirnya, punya 4 macam CV (pada saat itu) yang bisa digunakan untuk scope-scope pekerjaan tertentu. Mis: CV Environmental Related ya berarti pengalaman proyek terkait lingkungan, matkul2 lingkungan, publikasi. Trs misal lagi CV yang murtad geo: dipenuhi sama organisasi2 yang saya ikutin, leadership program, courses, dan lain sebagainya.
Akhirnya saya mulai jual diri (wk!) jika awalnya punya target yang muluk-muluk, mis: harus kerja di perusahaan multinasional yang skala nya gede, dsb.. saya mulai menurunkan standar.. yaitu ngapply yang kiranya saya bisa masuk. Awalnya saya gak mau di lingkup pemerintahan/birokrasi, tp pada akhirnya saya apply juga (dan FYI gak ada yang ketrima, bahkan administrasi aja ketolak lol gatau kenapa). Tapi juga saya punya prinsip, gak mau bergelut dibidang perbankan/asuransi. Dan itu tetap saya pegang (tp tiap orang persepsinya bisa beda ya tentang prinsip ini wkwk).
Puun walhasil mencoba menyebar CV ke more than 40 perusahaan/instansi di Bulan April s/d awal Mei. Hasilnya? Gagal semua. Ada sih yang lolos sampai wawancara, tapi gak dibolehin ortu karena alasan tertentu.
Dan pada saat itu adalah titik nadir saya. Sampe sebegitunya, stress, merasa gak guna, gak punya skill, di lain sisi tabungan mulai menipis. Rasanya berat sekali. Beruntung saya dikelilingi oleh orang-orang baik yang mau nerima ocehan Futty.. Oppa Bendi yang sangat sabar menghadapi saya, memberi cerita-cerita dan memotivasi, trs teman-teman yang lain kayak geng Keluarga Bahagia, sinta dan keluarga, pradev dan etik, serta teman-teman kampret lainnya yang memang kampret tapi saya sayang hehe. Pun… juga sampe saya nge-WA mas Mega: “Futuha gak kuat Mas”, dan mas Mega bilang “istighfar futty…”. --- deg. Mungkin selama ini saya terlalu ngoyo dan meluapkan energy tapi lupa kepada yang ngasih energy: Tuhan.
Setelah itu kan Ramadhan yak, sengaja Ramadhan ini tu jadi semacam kayak agenda menenangkan diri. Mengevaluasi diri, dan refleksi. Ibaratnya berhenti sebentar lah. Jadi ingat quote nya Prof J:
“Kerbau itu perlu mundur dan merunduk untuk bisa maju dan menyeruduk kencang.”

Tapi ya refleksi dan menenangkan diri bukan berarti gak apply kerja. Cuma bedanya, pada saat itu bisa lebih calm, tenang, dan karena gak tau mau kemana, yaa sudah.. yakin aja.. Tuhan siapkan yang terbaik. Bulan Mei-Juni, saya apply lagi sekitar lebih dari 20 perusahaan/instansi. Mencoba banyak kali ini, yang sesuai standar (saya pribadi) maupun yang di bawah standar (but still, no perbankan!). Untungnya di Bulan dari akhir April itu saya punya temen yang yaa… saya rasa dia mampu mengimbangi saya dalam hal cerita-cerita dan keresahan saya. Maksudnya, saya bisa menceritakan mimpi-mimpi saya, ketakutan dan kekhawatiran saya padanya.. dan responnya baik. Hamdalah (trs menghujat takdir: kenapa baru dipertemukan sekarang!!!!) lol.
TIPS 3 AFTERGRAD LYFE: TEMUKAN ORANG YANG MAU DAN MAMPU MENDENGAR DAN DIAJAK SHARING.
Itu penting sih.. soalnya pada masa-masa gak jelas gini rawan down. Hehe.
Akhirnya setelah apply itu.. bulan Mei dan Juni lebih banyak pasrahnya dan menyusun strategi lain, yaitu pengen belajar lagi aja. Ambil kursus dan atau semacamnya. Untungnya juga gak nganggur-nganggur banget karena ada kerja remote, kontrak mei-juli. Setelah itu belum ada rencana lagi selain belajar haha.
1 Juli, ada WA masuk, bilang kalau saya ada jadwal wawancara tanggal 5 Juli. Karena perusahannya multinasional dan gak bisa datang ke tempatnya, akhirnya saya wawancara by skype. Dan baru pertama itu wawancara yang bener-bener ngalir.. bahkan guyon-guyon. Sama sekali gak nanyain kenapa saya lamar di perusahaan ini, kelebihan dan kelemahan (yang mana biasanya ini ditanyain di banyak company local maupun di institusi). Hmmm habis wawancara lega, dan pasrah banget. Sampai pada tanggal 7 Juli--setelah apply lebih dari 70 perusahaan/instansi-- Futty diterima kerja di sebuah perusahaan multinasional yang bahkan ini di atas ekspektasi (baik dari segi perusahaannya, atasannya, work-lyfe nya, dan gajinya hwahwa)… masyaa Allah… Alhamdulillah.
Jadi gitu dehhh ceritanyaa.. lika-liku jobseeker yang awalnya pengen S-2 aja hahaha.
-------
singkatnya ceritanya seperti itu. Sebenernya tulisan di atas sudah saya buat sejak bulan juli lalu, waktu itu saya sedang training di Sumatera Utara. dan hamdalah, sekarang sudah bekerja di sini.
kalau dari hal yang saya ambil sih,..
"sesuatu yang worth it belum tentu mudah untuk aku dapatkan".
sama Tuhan disuruh merasakan prosesnya yang naik turun, yang menguras tenaga, pikiran, perasaan, dan tentu.. ujung dari itu semua adalah agar kitanya gak menyerah dan tetap yakin.
berusaha. doa.
yang udah usaha sedemikian rupa aja tidak menjamin berhasil, apalagi kalau gak mau berusaha.. ya kan?
dan yang paling penting itu niatkan segala sesuatunya untuk belajar. sebagai freshgraduate tentu pengalamannya masih minim, tapi kadang menginginkan sesuatu yang lebih berorientasi ke gaji. well, hal yang aku lihat sekarang adalah, gaji itu (meskipun gak selalu benar) akan mengikuti kompetensi kita. usia-usia ini adalah to learn-not earn. 
ada pula satu tips yang mungkin bias diterapkan. gak mudah, tapi bukan berarti gak bisa: DON'T COMPARE. jangan ngebanding-bandingin progress kita sama orang, pencapaian kita sama orang, gaji kita sama orang dsb. karena kita gak akan tau apa yang telah dilalui orang itu hingga akhirnya mendapat yang seperti kita lihat sekarang. daripada waktu kita habis digunakan untuk comparing with others, kenapa gak kita pakai aja buat menambah skills, evaluasi diri, dan melakukan hal-hal lainnya yang lebih produktif dan progresif, hehe. ya kan?
dan Allah, terima kasih.
satu lagi pembelajaran terkait iman…
"bagaimana aku khawatir berlebihan, sementara Tuhanku, amat tau segala sesuatu yang baik untukku."
fa inna ma'al usri yusroo, inna maal usri yusroo. 
---
next aku bahas tentang #TipsSebelumLulus spesial buat adek-adek tingkat yang kemaren request (more than 15orang makanya harus ditulis hehe). 

Read More

Rabu, 23 Januari 2019

#CeritaCerita: SKRIPSI (dan suka dukanya)


Voila! Akhirnya tulisan ini tertelurkan setelah ujian pendadaran kemarin.. alhamdulillah Futuha dinyatakan (unofficially) lulus. hehe

Baiklah, sampai mana?

Oiya, ini mau #CeritaCerita. kalau #CeritaCerita di blog ini tu memang bawanya santai gitu la ya.. hehe. Jadi.. mau Diwali dari mana?

Baiklah. saya mau bilang, skripsi ini memang berasa serial drama :) hihihi

Salah satu hal yang besar yang pernah saya korbankan selama masa kuliah adalah mengikuti blok termin 2. hal ini berarti saya memiliki "masa kosong" pada saat semester 6. kenapa masa kosong? karena sudah tidak ada mata kuliah yang perlu saya ulang dan hanya mengambil mata kuliah syarat wajib blok: Pendidikan agama. mata kuliah wajib yang belum saya ambil di semester 1-5. Syok? pasti! kenapa syok? karena hal tersebut tidak sesuai ekspektasi. Saya berekspektasi bisa mengikuti blok 1 agar lulus lebih awal (paling tidak Agustus 2018 targetnya wisuda). Setelah itu saya mau "ngambis" entah cari beasiswa ataupun kerja. Ya, harapannya memang begitu.


Tapi manusia kan hanya bisa merencanakan, kan?

Sebenernya, banyak cerita setelah kejadian itu, menjadi hikmah dan bisa membuat Futuha bertransformasi seperti saat ini. Ceritanya yang itu kapan-kapan aja. Hehe.

--
Blok 2 dimulai pada bulan Agustus 2017, 10 hari setelah penarikan KKN.
Awalnya, pada "masa kosong" selama 1 semester di semester 6 itu, saya telah melakukan penelitian di bawah bimbingan Dr.Anggri tentang metode konservasi erosi (yang hasilnya jadi paper pada IOP Earth and Environment: proses pengerjaannya 5 bulan cuy! link: http://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/148/1/012018/pdf ). Tapi karena sebab suatu hal, saya tidak diperbolehkan menggunakan penelitian tersebut untuk skripsi (padahal pengen pake itu. biar lulus cepet lol. setan emang). Alhasil saya harus memutar otak lagi untuk menentukan tema penelitian.


Bulan November 2017 setelah saya mengikuti konferensi di Bali (dan jalan-jalan tentunya), saya mendapatkan wangsit. haha. wangsit itu tidak datang dari saya saja, melainkan juga dari para dosen  di lab GLMB (Geomorfologi Lingkungan dan Mitigasi Bencana). seebnarnya ide itu sudah hadir dari semester 5, saat saya dan Prof Junun (yang waktu itu masih DPA saya) berdiskusi ketika hendak KRS. Ya, ide itu adalah tentang "The Era of Anthropocene" yang berkaitan dengan tanah. Pada bulan November 2017, saya memutuskan untuk kembali mempelajari Ethnopedology, dan berencana menjadikan itu sebagai topik skripsi.

Desember 2017, saya galau maksimal karena ternyata Etnopedologi sooo syusah :( referensinya di Indo gak ada hiks, belum ada yang sesuai metodenya untuk kondisi di Indo. Saya rasanya mau menyerah saja karena memang sepertinya.. yaa seems impossible. Akhirnya saya memutar otak. Karena background yang saya tekuni adalah ilmu kebumian (re: minor saya di geo adalah bidang geologi, geomorfologi, struktur, ilmu tanah, dan mineralogi), saya memutuskan untuk ingin meneliti pseudosand sebagai akibat dari erosi percik (pada saat itu). Hingga akhirnya saya berkonsultasi kembali dengan Prof Junun tentang topik itu. Apa tanggapan beliau?


"Sesuatu yang terlihat sudah akan menjadi mudah untuk ditekuni. Hanya butuh kekonsistenan dan ketekunan"


Alhasil, saya kembali (mencoba) mempelajari tentang Ethnopedology.

Hati saya dikuatkan dengan pikiran: futuha,, topikmu ini akan sangat berguna kedepannya. kamu bisa belajar banyak hal. 

Bulan Desember 2017, setelah mata kuliah ASDME dan PL (blok), kami para dedengkot blok 2 diperintahkan untuk mempersiapkan form pengajuan judul skripsi dan rencana dosen pembimbing. Pada saat itu dengan PD nya saya menulis judul "Pemetaan Tanah Partisipatif Berdasarkan Pengetahuan Lokal Masyarakat di Sub-DAS Bompon" deengan rencana dosen pembimbing yakni Prof Junun. Beberapa hari setelah rencana tersebut, saya mendapat kabar bahwa ternyata saya tidak bisa dibimbing oleh Prof Junun. Kami akhirnya bertemu dan berdiskusi, kemudian disepakati bahwa Futuha (rencananya) dapat dinaungi dalam bimbingan Ibu Dyah Rahmawati Hizbaron.

baiklah, setelah ini saya akan menuliskan dalam bentuk time series saja, haha.
Januari 2018
Kami, para Jejak Petualang (FYI Jejak Petualang adalah nama grup obrolan Blok 2 di LINE) dipersilakan untuk mengisi form pengajuan dosen pembimbing skripsi. Setelah bulan sebelumnya ada drama-drama gabisa dibimbing oleh Prof J, maka di bulan ini saya belajar untuk legowo. Bahwa apa yang sudah direncakan dan dipersiapkan jauh-jauh hari belum tentu akan mutlak berhasil. Akhirnya saya menulis judul yang sama. dengan rencana DPS yakni Ibu Emma. waktu itu dalam hati saya cuma bilang: Ya Allah, mudahkan urusan hamba. sudah. Bismillah saja. Saya tidak terlalu khawatir apabila pengajuan saya untuk mendapatkan DPS Bu Emma ditolak, karena saya yakin, waktu itu cuma bisa yakin, Tuhan pasti sudah siapkan yang terbaik. FYI, penentuan DPS itu dilakukan oleh Departemen. Jadi kita cuma bisa mengajukan, selanjutnya… ya monggo kersa dari departemen. hehe.
Nah di bulan Januari ini ada cerita menarik, pada saat kuliah Metode Penelitian Geografi (MPG), kami disuruh oleh salah satu dosen membuat alur pikir dan kerangka ilmiah untuk metode. Kemudian diacak random bagi mahasiswa untuk melakukan presentasi di depan kelas tentang projectnya, daaan, kebetulan… saya termasuk ke dalam salah satu mahasiswa yang harus presentasi. Saya mempresentasikan project saya dan memaparkan teori-teori yang sudah ada sebelumnya. kemudian, dosen tersebut mengatakan kepada saya agar saya mengganti topik skripsi saya karena beliau beranggapan bahwa itu mustahil dilakukan oleh mahasiswa S-1, apalagi anak blok 2 (anyway, anggapan bahwa anak2 Blok 2 pemalas, ogeb, dlsb waktu itu masih terasa. bawaan dari atas mungkin). Beliau menambahkan lagi dengan kalimat yang sangat nge-jleb bahwa saya sok-sok an. Yaaa ampuuuun berasa pengen nangis ditempat. tapi hati bilang gini: It's okay futty, let's do it well. very well. Sambil (sebenernya) nahan nangis dan sedih karena merasa di-underestimate-kan, saya bilang kepada dosen tersebut: Saya bisa mengerjakannya kurang dari satu tahun sejak dimulainya skripsi ini. Semoga Tuhan memudahkan. 
Terus dosennya bilang: "yaaa silakan, kalua yakin." Haaaffff. rasanyaaaaa…… haaissshh pengen misuh-misuh ditempat tapi… "tahan… tahan…" . akhirnya pulang kos mengambil nafas, minum, wudhu, mewek sekenceng-kencengnya ngadu sama Tuhan. 
Kepikiran untuk mundur dari topik skripsi? Oh tidak! :)

Februari 2018
Skip, di sini saya stop ngurusin per-skripsian dulu karena disibukkan dengan rencana KKL III yang akan diselenggarakan pada bulan April mendatang. KKL III ini selain menguras waktu, pikiran, dan perasaan juga. Haha. Awalnya kami (Temen2 blok 2) membuat rencana KKL di Lembang. Nah, waktu itu kalau gak salah, saya, maria, sama ka dita dipanggil oleh Prof Aris dan menyampaikan bahwa beliau memiliki opsi lain yang lebih bijak ketimbang Lembang. Alhasil, beberapa dari kami yang sudah survai dan menentukan topik KKL harus memutar otak siiieeenggg. wkwk. setelah itu, barulah kami dinyatakan… KKL di Bali!
Proposal belum bikin, sponsorship juga belum ada, harus nyari, topik harus brainstorming juga. wahaha, pokoknya.. ya begitulah. intinya pada bulan ini, saya ga focus ke skripsi karena ngurus KKL III (KL Mandiri itu cuy).

Maret 2018
Nama DPS keluar, taraa!! "Yakinlah, berdoalah, Tuhan akan mengabulkan". Bulan itu, saya resmi mendapatkan DPS. Sesuai dengan yang saya tuliskan: Dr.Dyah Rahmawati Hizbaron, M.T.,M.Sc. Bulan Maret 2018 Kami telah diperbolehkan berkonsultasi dan diwajibkan mengumpulkan proposal penelitian. Saat itu agak oleng juga karena ngurusin KL dan proposal dan Sadhar lagi UTS. WKWK. lari lari sana sini tapi saya menikmati alhamdulillah. haha. 
Proposal harus dikumpulkan seminggu setelah mendapat DPS. Saya yang waktu itu riweuh (masya Allah rasanya waktu itu tu badan capek tapi jiwa bergelora) akhirnya menyelesaikan proposal skripsi dalam waktu 3 hari. 3 hari mameenn lengkap dengan tinjuan pustakanya. wkwk. pada tanya lah, kenapa bisa cepet? jawabannya sederhana: Karena saya sudah baca dan belajar sejak lama, jadi udah paham mau ngapain dan butuh nulis apa aja gitu deeh. hehe. 

April 2018
KKL di Bali yey


Akhir Maret hingga awal April adalah penyelenggaraan KKL III di Jembrana, Bali. Pada saat itu saya diamanahi sebagai koordinator keilmuan di bidang Geomorfologi Kebencanaan. Kajian kami pada saat itu adalah mengidentifikasi kerawanan banjir genangan di DAS Sowan, sebagian Kabupaten Jembrana melalui metode Topographic Wetness Index dan pendekatan geomorfologi lingkungan. Tau nggak? Saya mumet sendiri lho sebenernya untuk KKL III ini. Bayangkan saja, saya project koordinatornya, dan saya tidak mengambil mata kuliah inti kajian ini (Manajemen Kebencanaan). Akhirnya saya belajar dari awal. Untung teman-teman banyak yang ambil, jadi diajarin juga. Oya, Pada tanggal 17 April 2017, saya melakukan ujian komprehensif.
Ada cerita menarik di sini
Jadi, sebenarnya, saya mengerjakan usulan penelitian untuk ujian komprehensif hanya selama 3 hari. Hehehe. Kemudian saya submit dan saya membuat ppt serta berlatih presentasi selama 3 hari juga. Selama 3 hari itu pula saya masih rutin kuliah di Sanata Dharma dan tetap melakukan yoga maupun main main. Seminggu sebelum ujian komprehensif, saking selonya, sambil jagain lapak PKM Center yang waktu itu masih di Asem Kranji, saya membuat poster jadwal dan judul skripsi teman-teman yang akan ujian kompre. Hal itu saya lakukan biar ada diseminasi. Biar temen-temen yang di luar prodi tu tau (seenggaknya ngeh) tentang kajian geografi lingkungan. Karena ujian kompre bersifat terbuka, poster tersebut juga bisa dijadikan acuan referensi adik-adik tingkat yang tertarik pada minat studi minor tertentu dengan mendatangi ujian kompre teman-teman blok 2.
Alhasil, poster bertema pink pastel menyebar. Respon positif teman-teman terkait ujian komprehensif bermunculan, kami saling menguatkan satu sama lain. Terkadang belajar (sambil rumpik) bareng juga. Ya Allah.. aku terharu. Inilah kebersamaan yang suatu saat akan kami rindukan.
D-DAY UJIAN KOMPREHENSIF
Pukul 09.00 adalah jadwal ujian saya. Sebelumnya, saya sudah meminta Ais untuk jadi notulen. Pukul 09.00 tepat, datanglah dosen penguji saya yang ternyata adalah… Pak Anggri! WQWQWQ senyum senyum lah saya. Tanda senang. Alhamdulillah. Pada saat itu saya ujian di ruang D304 yang memiliki kapasitas sekitar 50 orang, dan di ujian terbuka saya, sebanyak 35 orang hadir. Hehe. deg-degan sihh karena gak nyangka bakal banyak temen-temen yang dateng. 
Ujian komprehensif saya biasa-biasa saja. cuma 1 jam 15 menit. pertanyaannya pun singkat dan biasa saja. Bu Emma dengan ramah di beberapa kali kesempatan membantu saya menjawab pertanyaan dari audien maupun penguji. Alhamdulillah, ujian komprehensif done! 
yang artinya… pengerjaan skripsi bisa dimulai setelah ini.
Mei 2018
Setelah ujian kompre, pasti ada yang namanya revisi. Hamdalah, revisi saya tidak banyak. yakni hanya mengganti "Avenza Map" menjadi "Mobile GPS" dan mengganti judul skripsi. Bulan Mei, KKL belum selesai haha karena masih harus presentasi, bikin laporan, dan... kami mengeluarkan output berupa buku yeay~. kebetulan saya tim inti penulisan buku itu, jadi ya agak riweuh juga. di sela-sela keriweuhan, saya menyempatkan untuk ke lapangan penelitian. ditemani oleh Mela pada saat itu karena belum berani berangkat sendiri Jogja-Salaman naik motor. sekalian nemenin Mela ambil data juga sih. 
Mela lapangan masuk ke gully

Lapangan pada bulan ini saya tujukan untuk orientasi. masuk akal apa tidak kalau saya pemetaannya se DAS. WQWQ. Setelah melihat kondisi (lingkungan, geomorfo, masyarakat), saya merasa tidak sanggup untuk luasan satu DAS, akhirnya saya mempersempit wilayah kajian menjadi bagian hilir DAS dan menambahkan tujuan penelitian yang lebih "mengena" hehe. Ya, bagaimanapun, harus tetap realistis. Alhamdulillah Bu Emma, Pak Junun, dan Pak Anggri menyetujui. 
Bulan Mei saya dikenalkan oleh Mela dengan Pak Miftahudin, kepala dusun Kalisari yang berhati malaikat, dan masakan bu udin yang enaaakkk. wkwk. alhamdulillah,
Juni 2018.
teman-teman tim transbulent (kami di bawah naungan lab transbulent das bompon) semuanya KKN kecuali saya (karena udah th 2017 kemaren hehe). Kesepian? Oh tidaaaq. nelangsa iya. haha. karena ga ada yang nemenin lapangan ke sana. Untungnyaaa ada AAAIIISS MY LUUPP yang setia nemenin Futuha lapangan. Bulan Juni saya fokuskan untuk orientasi wilayah kajian dan pendekatan kepada masyarakat. Hal ini tidak bisa dipungkiri, karena pendekatan yang saya pakai adalah pendekatan kualitatif (persepsi masyarakat) terhadap suatu hal yang fisik banget (fase tanah). 
ini lagi pdkt sama warga
selain Ais, Zithny, mba Hen, dan Bangnun juga menemani saya lapangan. Alhamdulillah. Pada bulan Juni, sebagian (hampir seluruh) warga di daerah penelitian saya sudah familiar dan tidak asing lagi dengan saya yeyeyeeeeyyy sehingga informasi bisa dengan mudah saya dapatkan wkwkw. 
Lapangan sama Zithny a.ka Popo


Juli 2018 
dats real pengambilan data. pengambilan data saya lakukan setiap hari (lol) selama seminggu untuk memperoleh data kualitatif supaya jenuh. Saya ndak mau merepotkan orang-orang dan karena uang pribadi saya terkuras habis buat nyewa porter lapangan, alhasil saya NEKAT NAIK MOTOR SENDIRI JOGJA-MAGELANG jarak tempuh 1.5 jam dengan jalan berbukit bukit dan bertruk-truk besar setelah bisa prigel naik motor dari bulan Maret 2018 sebelumnya. HUEHUE. Akhirnya saya menakhlukkan ketakutan saya. Pada saat lapangan all the days ituu. ga bohong ya, saya masih ada kuliah di sadhar setiap jam 2-6 sore. pagi banget jam 6 saya berangkat dari kosan ke daerah skripsi. dingin-dingin, negbut, biar ga kena tilang polisi yang biasanya nyegat di deket Borobudur (karena saya belum punya sim C haha). dan setelah itu, pukul 11.30 saya balik lagi ke Jogja. begitu terus selama seminggu, sampai datanya JENUUHHH. 

Setelah lebaran, akhirnya saya memutuskan untuk lapangan lagi berharap bisa pemetaan partisipatif. Puji Allah, tak terduga, nggak saya bayangkan sebelumnya kalau ternyata pemetaan partisipatif yang saya kira bakal lama selesainya (at least 1 bulan) ternyata hanya selesai dalam waktu 2 hari saja. Ya ALLAH! Waktu itu saya ditemani Risna, lapangan berdua. Niatnya sih pelan-pelan aja, tapi … ya memang kuasa Tuhan itu gabisa dikira-kira ya. peta tanah partisipatif saya selesai dalam waktu 2 hari!
pemetaan partisipatif mengunakan metode S2DM, difoto oleh Risna


setelah saya konsultasikan dengan Bu Emma, akhirnya saya sudah boleh fix mengambil sampel tanah dan diuji di lab. Sebenernya, saya sudah gak dapat slot lagi untuk nge lab karena hendak tahun ajaran baru dan lab akan dipenuhi sampel project dari perusahaan waindo. tapi alhamdulillah lagi… Allah ngasih saya kemudahan, laboran mengizinkan saya menguji lab mandiri. 

Agustus 2018.

Sampel saya masuk pada tanggal 1 Agustus 2018 dan harus dikeringanginkan terlebih dahulu. ada sampel yang … susah kering, dan... ada cacingnya. anyway, saya sudah pernah cerita kalau saya phobia cacing. Akhirnya saya melakukan hal bodoh yakni menjemur sampel tanah tersebut sampai cacingnya kering :(. dan pada tanggal 7 Agsutus barulah saya mengolah sampel huhu. 

Pada saat saya nge-lab, ada ujian tak terduga, temen deket saya yang menjalani masa perkenalan dengan saya (konteks laki perempuan-re- kekasih, sudah 3 tahun) ngediemin saya selama seminggu entah karena masalah apa, saya lupa. dan itu membuat saya tidak functioning properly. ditengah data yang belum selesai dan saya "mumet", akhirnya saya memilih untuk rehat sejenak dan berlibur ke tempat Mba Uyun. benar saja, pikiran saya langsung fresh. 3 hari setelahnya, saya balik ke Jogja dan mengerjakan analisis lab lagi. 

Homey sweety. liburan bareng mba uyun


Nha, ini akhir agustus ada drama juga. jadi kan saya untuk kebutuhan kuliah udah ga minta ortu kan sejak 2015, so far, skripsi dan nananinanya pake kantong pribadi futty. di sini, analisis lab sudah mau selesai dan duid futty menipisss sad :(( akhirnya saya ikut partime entah ngelesin bocah, ngajar OSN, jadi surveyor, dsb apapun saya lakukan demi memperoleh 2 juta di akhir bulan.Konsekuensi nya adalah specimen saya yang sering saya tinggal di lab. tapi alhamdulillah, Ya Allah... Engkau sangat baik, ada Noviyanti yang mau membantu menghandle analisis lab saya dan sembari saya bekerja mengumpulkan uang. 

Akhir bulan, Data selesai. Pembayaran beres. Puji Allah. tinggal pembahasan. 

September 2018.

karena ada beberapa hal di awal bulan dan kompleks sekali, saya belum menyentuh kembali skripsi saya, sampai pada tengah bulan September 2018, Me broke up. saya diputusin :)) wkwkwkwkwkwkwk. 
alay ya, tapi emang begitu sih ceritanya. jadi selama itu kerjaan saya kayak orang ga bener gitu, nangis, males maem, dsb dsb. pokoknya itu berat banget buat saya. dan ini juga, diluar dugaan lho.. saya ga pernah ngira momen ini terjadi pada saat saya sedang skripsian. Memang ya, factor XYZ itu sangat banyak dan kita ga berkuasa atas itu. Daan, tanggal 21 akhirnya saya ngajak temen saya, sahabat saya, Aditya, buat ketemu. Baru bisa ketemu adit pada momen itu karena jadwal adit honestly sangat padat. Saya cerita Panjang lebar ke dia. Adit mau ujian tanggal 2 oktober, dan pada saat itu yang adit lakukan ke saya adalah gimana caranya nge support futuha agar bisa ngerjakan skrfipsi lagi dannn bodoamat apapun yang terjadi, harus bisa ujian skripsi bulan depan. Tanggal 25 draft saya selesai. tanggal 26 saya bertemu Bu Emma dan menyerahkan draft saya. Tanggal 27 Aditya mengirimkan semua berkas untuk ujian agar saya mudah buat nge arrange dokumen dan persiapan dokumen pengajuan pun selesai. Ga ngira saya tuh, dari yang awalnya stuck banget nangis nangis gajelas terus draft selesai dalam waktu 4 hari tu... wkwkw. alhamdulillah. the power of bodoamat dengan broken heart.. no time for loser huahahaha 

Oya, kenapa sedih dan kecewa waktu broken heart? ya karena (saya) sudah menaruh harapan dan rencana menikah. HAHA. yasudah, berarti bukan jalannya. disyukuri saja. Untung saya di masa-masa remaja akhir sudah bodoamat dengan hal macam ginian. Nikah alhamdulillah, ga nikah yowes. Hidup harus terus jalan ye. 


Muka futuha pas lagi curhat sama adit lol. September 2018

Oktober 2018. 

tanggal 2, 15 menit sebelum Aditya ujian, SKRIPSI SAYA DI ACC!! sebelumnya Bu Emma sudah menyampaikan bahwa beliau akan pergi (gak di indo) selama sebulan sampai tanggal 29 Oktober. Nah ini juga factor eksternal lainnya nih dalam agenda perskripsian. jadi jangan menggeneralisir orang orang lulus lama atau skripsinya ga selesai selesai tu karena malas ya :)). Oya, sebelum itu, Bu Emma sudah bisa menebak kenapa saya hilang dari peradaban selama bulan September kemarin, karena itu bukan futuha banget katanya gitu. hhe. alhasil, saya disuruh cerita dan menceritakan apa yang terjadi. Bu Emma khawatir saya galau2 terus selama menunggu beliau balik dan ujian, akhirnya saya diberi amanah untukk persiapan dies natalis dan mengerjakan beberapa pekerjaan untuik kerjasama Indonesia-Belanda. Bareng Adit, katanya biar ada yang nemenin Futuha gitu. Ya Allah... alhamdulillah, nikmat manakah yang hendak didustakan. 

bulan Oktober pula adalah healing time bagi saya untuk realistis dan legowo terhadap hal-hal yang terjadi, seperti yang sudah saya bilang… putus cinta, gagal wisuda November. wkwk. ya begitulah. Nah, awalnya pada tengah Oktober saya mau daftar ujian skripsi, tapi setelah bertemu dengan Prof Junun, ada beberapa bagian (ya intinya 'akar' srkipsi saya) harus dihilangkan atau diubah. Ya ampun syok dong ya... saya cuma bisa gelor-gelor selepas itu..

itu tu semacam kayak... pas pengambilan data Futuha sangat dimudahkan, tapi gak boleh terlena dengan keadaan, jadi sama Tuhan dikasih sesuatu yang lebih menantang lagi. 

Akhirnya setelah proses negosiasi antara futuha, bu emma, dan prof j, Futuha tetep bisa maju dengan skripsi Futuha untuk daftar ujian.

November 2018

Saya mlipir dari kampus di awal November untuk mengikuti Dutch Placement Day dan tes IELTS di Surabaya. Kenapa memilih di Surabaya? padahal di JKT juga ada. yaa as simple as, saya ingin merenungi perjalanan saya selama ini, karena Surabaya juga adalah salah satu saksi perjalanan hidup saya. Di sana saya berkumpul dengan keluarga besar dan touching momentnya adalah… Yaampun selama ini Futuha terlalu sibuk dengan mimpi-mimpinya dan egonya.., saya baru merasakan di mana keluarga adalah tempat 'pulang' yang sebenarnya. Lagi-lagi, Tuhan memberikan hikmah lewat rasa sakit, kesulitan, bahkan bahagia sekalipun.

Di DPD,saya bertemu dengan banyak orang-orang keren. Bu Ponti, Mbak Ella, dsb. dikasih motivasi dan insight yang …. "whoaaaa" saya speechless lah pokoknya ketemu mereka. huhu. Ga membayangkan.Akhirnya setelah 5 hari di Surabaya dan mampir ke Tuban (pulang) terus balik ke Jogja, dan langsung memutuskan untuk memproses pendaftaran skripsi. 

Saya rasa, ada kesalahan fatal yang saya buat: perencanaan keuangan saya gagal total tahun ini. income saya lebih kecil daripada outcome. Dan... mau minta ortu tu gaenak rasanya karena yaa dari SMA sudah mandiri secara finansial (biasalah anak ambis lomba, kalo menang dapat duid). sehari sebelum daftar skripsi, uang di rekening saya tinggal 200rb. dan itu ga cukup buat ngeprint skripsi 3 copies berwarna (FYI skripsi saya lebih mendekati ke pameran fotografi karena isinya banyak gambarnya). Meh sambat kalih sinten menawi mpun menika… Alhamdulillah saya bertemu Nooriza, dia bilang, Etik masih ada printer di kos yang dia sewa dan tintanya masih banyak. Saya tanya ke Etik, bisa ga saya print disitu. daaan, Puji Allah.. Etik mengizinkan. saya hanya bermodal 50rb rupiah saja untuk membeli kertas 1 rim, mika biru, dan klip. sehingga saya bisa berhemat luar biasa banyak. Terima kasih Etikkk.

Oya, Kamis mendaftar skripsi (tanggal 14) tu Rabunya saya baru ngeformat daftar isi, daftar table, dsb. Itu pukul 3 sore :")) ditemenin Evi, terus karena Etik di jkt dan yang nemenin iza dan iza masih ada acara, jadi saya baru ngeprint pas jam 8. Dianterin evi ke kosan etik hujan-hujan. Ya Allah... alhamdulillah dipertemukan dengan orang-orang baik ini. 
Pukul 2 dinihari, perprintan skripsi saya selesai. saya tidur, dan pukul 8 (hari kamis) saya mendaftar. Alhamdulillah daftarnya ga nyampe 15 menit. Puji Allah.

Selanjutnya adalah menanti kapan jadwal keluar. Sambil nungguin jadwal keluar, alhamdulillah ada pemasukan. Hehehe. Ga jadi misqueen lagi dan bisa beli laptop baruuu alhamdulillah (karena laptop lama futuha sudah sangat rapuh kek hati. cerita tentang laptop lama Futuha cari aja di post "Bopon"). 


Tanggal 22 saya nemenin Aditya wisuda, masya Allah.... huhu, terharu. tanggal 23, saya ulang tahun ke-22, malamnya diajak Adit mamam malam di kafe baru deket kentungan, dan pada tanggal 23 itu-saat saya ultah, jadwal ujian skripsi saya keluar yeeey. Disitu tertulis 4 Desember.
Futuha dan Adit, waktu futuha ultah dan jadwal keluar

Buat Aditya: Terima kasih sudah setia menemani huhuhuuuu. se-riweuh riweuhnya futuha, up-downnya…  anw Adit sangat sibuk dan masih menyempatkan diri. Alhamdulillah..

Desember 2018

Jadwal sidang saya diundur :")

menjadi 7 Desember. so far saya gabisa yudisium bulan Desember karena periode yudisium dimajuin tanggal 20 Desember dan di geo ada syarat baru bisa ngumpulin revisi skripsi paling cepat 14 hari setelah ujian. 

D-DAY UJIAN SKRIPSI

Pukul 8 saya sudah ngrecokin Michul buat nemenin. Roti dibeliin sama mas mantan alhamdulillah. tapi habis itu dia pulang wkwk. Nah, bersyukurnya, pas saya ujian, temen-temen banyak yang nge support sampe nungguin di depan ruang ujian. Ya Allahhh aku terharuuuuwww. 

Ujian skripsi adalah ujian tertutup. Saya diuji oleh 3 dosen, Bu Emma, Pak Anggri, dan Pak Bowo (dosen KPJ). Nah.. ini ada kejadian di luar ekspektasi. Michul adalah bimbingannya Bu Emma juga. pas michul ujian, Bu Emma ga nanya2 banyak bahkan terkesan cuma jadi moderator. Sudah merasa "aman" lah ya... ternyataaa. pas ujian….

Ya ALLAH!!

Pak Anggri nanyain konsep2 dasar tentang geomorfologi dan ilmu tanah.  Pak Bowo nanyain materi2 kartografi dan pj semester awal, Bu Emma ngetes pendekatan partisipati saya. Pertanyaannya susah-susah :" Nyaris di depan mereka bertiga futty menciut dan menyadari bahwa ilmu yang sekarang didapatkan belum ada apa-apanya. Ketiga dosen itu pas, kebetulan banget, semua ahli dibidangnya dan skripsi saya mencakup ketiga bidang tersebut (saya gabisa bacot sama sekali anw). 

1 jam 10 menit dalam hati saya cuma pengen nangis dan lihat jam dinding kapan ini selesai. Saya revisi mayor. Karena ada beberapa konsep yang gak "pas" di mata salah satu dosen ketika ujian. Tapi akhirnya, Futuha tetep dinyatakan lulus. hehe. 


Bu Emma, Futuha, Pak Bowo, Pak Anggri. matur nuwunnn



Bagi saya, ujian skripsi kali ini adalah paling mengerikan sepanjang pengalaman saya memaparkan penelitian. Lebih mengerikan daripada saya harus berbicara di depan bule-bule asing maupun jajaran "orang-orang besar" di sana. Haff. dan … ada cerita koplaks: Futuha PMS ketika habis presentasi. Perut melilit lilit aw. 
muka waktu keluar ruangan: hati nangis, wajah senyum

Setelah keluar ruangan… sebenernya saya nahan nangis sih itu.. wkwk. temen temen banyak yang berdatangan. Terharuu :"" akhirnya saya masang muka fun aja walaupun di hati berasa teriris iris gegara ujian. daan, ini potret kebahagiaan kami:




dan.. masih banyak foto-fotonya tp blm dipindah :") terima kasih temen2 GEL, PKM Center, GSC, KKN, BKLN, Keluarga Prestatif, Rekan-rekan transbulent, bomponers14.. bimbingane bu emma, special thanks for Sinta, Guritno, dan Husna yang sudah bersedia menjadi saksi up-down nya Futuha dan menyempatkan untuk datang (Sinta), Guu dan Husna yang mengirimkan kado dari jauh. Terima kasih :))

Akhirnya, hari itu… saya senang, sedih, campuraduk. tapi tetep, Alhamdulillah. Begitu pulang saya langsung mamam, minum obat, dan tidur karena perutnya masih sakit.

Bulan Desember juga saya memaksimalkan waktu untuk belajar lagi karena revisi mayor itu tadi. Bukan Futuha dong kalau menyerah begitu saja. Akhirnya setelah melalui proses Panjang dan berdiskusi Bersama dosen penguji… yey~ skripsi futty tetap dipertahankan baik konsep, teknis, dan nananininanya,. Hehe, walaupun harus ngerombak uji statistic dan lapangan lagi untuk mengambil gambar. Tapi alhamdulillah lagi, saya gak lapangan langsung karena ada acara dan dibantu Dita dan Astuti mengambil gambar. Alhamdulillah.

Januari 2019.

Revisi selesai, semua dosen pembimbing dan penguji telah menyetujui dan membubuhkan tanda tangan. S-1 saya selesai.

Saatnya persiapan wisuda :))

----

Baik teman-teman… jadi begitulah lika liku satu tahun per-skripsian saya. di sini mungkin ga cuma saya saja yang mengalami drama-drama gini. Alhamdulillahnya, ketika sudah terlampai, kita bisa naik kelas… ada kesabaran yang makin meningkat, keyakinan terhadap keputusan Tuhan juga makin meningkat, dan bisa mengambil banyak pelajaran ga cuma teori akademik doang. 

Hehe. begitu ya? jadi intinya, apapun yang terjadi, tetep yakin sama Tuhan. tetep doa, usaha, meskipun kita tidak tau apa yang terjadi kedepannya mau gimana. justru karena kita gatau itu, kita diajarin biar tetep husnudzan sama keputusan Allah. 


"Bagaimana bisa aku khawatir berlebih? Allah sangat mengetahui segala sesuatu yang terbaik buatku."


Alhamdulillah...
Alhamdulillah...
Alhamdulillah...

Terima kasih guru-guruku… ilmunya, dedikasi, tidak bisa disebutkan satu-satu. intinya, terima kasih banyak,,

Terima kasih kepada semua pihak yang mendukung. Terutama keluarga saya.. sahabat sahabat saya, orang orang baik yang selalu menerima dan memberi saya support maupun yang menghambat. Alhamdulillahh… 

semua memang ada waktunya masing-masing. tugas kita adalah berusaha sekuat kuatnya, berdoa dan beribadah se benar-benarnya, kemudian berserah setulus-tulusnya.

Terima kasih semuanya!
Semoga selalu diberikan perlindungan, kemudahan, dan kebahagiaan.

Read More