environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Selasa, 20 Agustus 2019

#Cerita-Cerita: After-grad lyfe

Hai hai.. lama sekali Futuha gak nulis di blog setelah kelulusan kemarin. jadi niatnya mau membagikan cerita tentang…
“after-grad lyfe” and how to deal with it (meskipun sampai sekarang masih dealing dengan banyak hal lainnya wkwk)
Maafkan kalau banyak curhatnya hwahwa
-----------
Habis lulus mau ngapain Fu?

Pertanyaan yang sering dan bahkan hampir tiap hari saya dengar ketika lagi skripsian.
Ya, hal itu adalah suatu keniscayaan. Tidak mungkin tidak, apalagi di kultur masyarakat kita yang masih sangat peduli dengan kehidupan orang lain.
Suatu siang, saya pernah berpidato ketika prosesi wisuda di Fakultas Geografi, yang kurang lebih (cuplikan) isinya seperti ini:



Sudah di baca? Wkwk kalo mau teks lengkapnya bisa PM saya atau email hehe.
After graduation lyfe.
Hal yang pertamaaa kali saya rasakan sehari setelah wisuda adalah..
HAMPA.

Bagaimana tidak? Status mahasiswa? Gak ada. Kerjaan? Gak jelas kerja apa hehe. 
Kemudian, belum lagi ditambah dengan kondisi… (mmm.. ini gaboleh sih sebenernya membanding-bandingkan sama orang lain)…
Teman-teman, sudah ada yang bekerja,
Sudah ada yang memutuskan S-2,
Dan bahkan yang hendak berkeluarga.
Galau? Jelas! Saya mau ngapain habis ini wokwokwok. bingung!
Hingga suatu ketika membuka kembali lembaran mimpi-mimpi yang tercatat di selembar kertas.. ada tujuan di sana. Namun, bagaimana jika kondisi saat ini tidak relevan dengan tujuan itu?
Dulu ngiranya bakal langsung S-2, segala persiapan telah matang-matang dilakukan. Mulai dari ikut education fair, pengembangan Bahasa, nulis jurnal-jurnal internasional (publikasi), IPK, kegiatan leadership, dan semacamnya. Tapi…
Manusia hanya bisa merencanakan, kan?

Sebulan sebelum wisuda, saya bahkan gak tau mau kerja di mana. Gak kebayang buat cari kerja, saya pikir… “ah gampang mah cari kerja.” Sampai pada akhirnya…
HELL, NO!
Seminggu setelah lulus dan dokumen-dokumen kelulusan sudah ditranslate dalam Bahasa Inggris, saya mulai apply pekerjaan.
Nah awalnya bingung kan ya,.. magang gak pernah, “orang dalam” gak ada.. gak ada kepikiran buat kerja sebelumnya.. gak tau harus cari kerja di mana… lewat apa.. caranya gimana… yaa begitulah yang terjadi seminggu setelah lulus hahaha. GALAW.
Akhirnya saya memutuskan untuk googling-googling, plus, sahabat saya, Uyun, membagikan pula cerita-ceritanya ketika menjadi jobseeker (anyway, Uyun saat itu sudah diterima bekerja di salah satu perusahaan yg bergerak di bidang riset di Jakarta). Uyun cerita kalau dia sudah melamar more than 100 jobs sampai pada akhirnya diterima. Mirip dengan Uyun, Evi juga begitu. Evi melamar sudah lebih dari 40 lowongan kerja sejak lulus November 2018 sebelum dia dapat kerja kontrak di Batam. Pikir saya waktu itu yang masih bau kencur adalah… “ih serius? Sesusah itu po?” a.ka saya menyepelekan dan menganggap mencari kerja itu adalah hal yang REMEH,
Sekali lagi,
HELL, NO!
Hingga pada akhirnya mengalaminya sendiri. Jadi seorang job seeker. Mungkin teman-teman banyak yang menanyakan kenapa gak jadi S-2 saja? Hmm. Jika dibilang, setiap orang pasti punya strategi untuk mencapai tujuannya ya. Dan menurut saya bekerja adalah salah satu hal yang memang saat ini sangat dibutuhkan (selain asupan duid tentu wkwk); membutuhkan pengalaman bertemu dengan orang-orang baru, belajar implementasi langsung di lapangan, mengenal dunia luar lebih banyak, dan semacamnya. Setiap orang punya preferensi, dan itu yang saya pilih.
Awal mulanya melamar pekerjaan via LINE Jobs wk lol. Ya karena gak tau portal-portal kerja gitu.. sampai akhirnya bikin akun jobstreet, kalibbr, nouvoo, memoles LinkedIn secantik mungkin, dan portal-portal lowongan kerjaan lainnya. Saya mendatangi tiap ada jobfair, drop CV sana sini, ngirim email ke instansi dan/atau perusahaan di bulan Maret itu. Kehitung mungkin sekitar 25 pekerjaan yang saya apply sejak 7 Maret 2019 hingga 30 Maret 2019. Berarti bisa dibayangin dong ya, hampir tiap hari nglamar 1 kerjaan. Hahaha.
Dan… ternyata, jalannya tidak semudah itu fergusso!! Semua aplikasi saya ditolak!
Jleb.
Down? Banget, uring-uringan juga. Dunia rasanya gak ada warnanya sama sekali. Tapi pada saat itu  masih fine-fine aja (maksa kwkwk) dan mulai menyusun strategi biar gak stress serta mulai mengevaluasi diri, apa yang salah dari yang saya lakukan dalam apply meng apply pekerjaan.
Beruntungnya, gak nganggur-nganggur banget. Jujur, sudah memprediksi kalo pasti akan ada masa tunggu, entah mau kerja atau S-2. Gak bisa langsung gitu.. maka strategi yang diterapkan adalah menjadi budak asisten lab. Di sisi lain saya terima aja kalau ada tawaran ngajar ke luar kota, dan tentu ikut kegiatan-kegiatan volunteering. Untungnya, masih punya organisasi Gerakan Indonesia Emas (GIE) yang baru mendirikan Sekolah Ilmuwan Minangkabau. Jadi ya bisa mengalihkan energinya kesitu. Ngajarin anak-anak, nge follow up mereka, jadi koor asisten (yang gak selo), ke sanata dharma, trs ikut kelas-kelas crafting, jalan-jalan, dan lain sebagainya (overall aku gak nganggur-nganggur banget sih).
TIPS 1 AFTERGRAD MENGHINDARI GALAU DI MASA TUNGGU: CARI KEGIATAN DAN PERBANYAK RELASI.
Kenapa itu penting? Menurut saya, kalau lulus, then caw ke kampung halaman, banyak ortu dan lingkungan di sini tuh masih nanyain “kapan kerja” dsb dsb dan itu bisa bikin kitanya juga uring-uringan. Plus, kalo di kampung halaman kan zona nyaman banget ya, takutnya terlalu nyaman… yang harusnya cari kerja dengan qerja qeras bagai qooda, eh malah nyender banget kayak qooda nil. Hmm.. no no. makanya waktu itu memutuskan buat stay di Jogja dan melakukan banyak hal ketika masa tunggu itu. Orang tua masih support finansial meskipun sayanya menghindari banget, tp ya kayaknya udah jadi rahasia publik kalau saya memenuhi kebutuhan dengan bekerja (freelancer) sejak tahun 2015. Yaa gak gede-gede amat hasilnya, tapi Alhamdulillah selalu merasa cukup dan dicukupkan sama Tuhan.
Then, selain melakukan kegiatan-kegiatan itu, evaluasi juga terus dilakukan, kenapa 25 lamaran ditolak semua.
Hmmm. Dulu… bikin CV itu overall general banget. Cuma 1 CV dan isinya seluruh capaian, kemudian itu dong yang dipake buat apply. Terus, pengantar surat atau email.. ternyata ada kaidahnya sendiri lho! Omo! Belum lagi yang mensyaratkan cover letter dan sejenisnya. Gak bisa disiapkan H-1 coy!
Akhirnya, mau gak mau harus belajar lagi. Belajar memoles CV, menata focus dan orientasi pekerjaan apa yang diinginkan.
TIPS 2 AFTERGRAD: UPGRADE YOUR SKILL. APAPUN YANG BISA DIUPGRADE, TERMASUK PERSONAL BRANDING (DAN LINKEDIN!)
Saya mendownload buku panduan dari Harvard Extension School tentang cara bikin CV dan cover letter, contoh-contoh CV nya Ivy College, dan lain sebagainya. Akhirnya, punya 4 macam CV (pada saat itu) yang bisa digunakan untuk scope-scope pekerjaan tertentu. Mis: CV Environmental Related ya berarti pengalaman proyek terkait lingkungan, matkul2 lingkungan, publikasi. Trs misal lagi CV yang murtad geo: dipenuhi sama organisasi2 yang saya ikutin, leadership program, courses, dan lain sebagainya.
Akhirnya saya mulai jual diri (wk!) jika awalnya punya target yang muluk-muluk, mis: harus kerja di perusahaan multinasional yang skala nya gede, dsb.. saya mulai menurunkan standar.. yaitu ngapply yang kiranya saya bisa masuk. Awalnya saya gak mau di lingkup pemerintahan/birokrasi, tp pada akhirnya saya apply juga (dan FYI gak ada yang ketrima, bahkan administrasi aja ketolak lol gatau kenapa). Tapi juga saya punya prinsip, gak mau bergelut dibidang perbankan/asuransi. Dan itu tetap saya pegang (tp tiap orang persepsinya bisa beda ya tentang prinsip ini wkwk).
Puun walhasil mencoba menyebar CV ke more than 40 perusahaan/instansi di Bulan April s/d awal Mei. Hasilnya? Gagal semua. Ada sih yang lolos sampai wawancara, tapi gak dibolehin ortu karena alasan tertentu.
Dan pada saat itu adalah titik nadir saya. Sampe sebegitunya, stress, merasa gak guna, gak punya skill, di lain sisi tabungan mulai menipis. Rasanya berat sekali. Beruntung saya dikelilingi oleh orang-orang baik yang mau nerima ocehan Futty.. Oppa Bendi yang sangat sabar menghadapi saya, memberi cerita-cerita dan memotivasi, trs teman-teman yang lain kayak geng Keluarga Bahagia, sinta dan keluarga, pradev dan etik, serta teman-teman kampret lainnya yang memang kampret tapi saya sayang hehe. Pun… juga sampe saya nge-WA mas Mega: “Futuha gak kuat Mas”, dan mas Mega bilang “istighfar futty…”. --- deg. Mungkin selama ini saya terlalu ngoyo dan meluapkan energy tapi lupa kepada yang ngasih energy: Tuhan.
Setelah itu kan Ramadhan yak, sengaja Ramadhan ini tu jadi semacam kayak agenda menenangkan diri. Mengevaluasi diri, dan refleksi. Ibaratnya berhenti sebentar lah. Jadi ingat quote nya Prof J:
“Kerbau itu perlu mundur dan merunduk untuk bisa maju dan menyeruduk kencang.”

Tapi ya refleksi dan menenangkan diri bukan berarti gak apply kerja. Cuma bedanya, pada saat itu bisa lebih calm, tenang, dan karena gak tau mau kemana, yaa sudah.. yakin aja.. Tuhan siapkan yang terbaik. Bulan Mei-Juni, saya apply lagi sekitar lebih dari 20 perusahaan/instansi. Mencoba banyak kali ini, yang sesuai standar (saya pribadi) maupun yang di bawah standar (but still, no perbankan!). Untungnya di Bulan dari akhir April itu saya punya temen yang yaa… saya rasa dia mampu mengimbangi saya dalam hal cerita-cerita dan keresahan saya. Maksudnya, saya bisa menceritakan mimpi-mimpi saya, ketakutan dan kekhawatiran saya padanya.. dan responnya baik. Hamdalah (trs menghujat takdir: kenapa baru dipertemukan sekarang!!!!) lol.
TIPS 3 AFTERGRAD LYFE: TEMUKAN ORANG YANG MAU DAN MAMPU MENDENGAR DAN DIAJAK SHARING.
Itu penting sih.. soalnya pada masa-masa gak jelas gini rawan down. Hehe.
Akhirnya setelah apply itu.. bulan Mei dan Juni lebih banyak pasrahnya dan menyusun strategi lain, yaitu pengen belajar lagi aja. Ambil kursus dan atau semacamnya. Untungnya juga gak nganggur-nganggur banget karena ada kerja remote, kontrak mei-juli. Setelah itu belum ada rencana lagi selain belajar haha.
1 Juli, ada WA masuk, bilang kalau saya ada jadwal wawancara tanggal 5 Juli. Karena perusahannya multinasional dan gak bisa datang ke tempatnya, akhirnya saya wawancara by skype. Dan baru pertama itu wawancara yang bener-bener ngalir.. bahkan guyon-guyon. Sama sekali gak nanyain kenapa saya lamar di perusahaan ini, kelebihan dan kelemahan (yang mana biasanya ini ditanyain di banyak company local maupun di institusi). Hmmm habis wawancara lega, dan pasrah banget. Sampai pada tanggal 7 Juli--setelah apply lebih dari 70 perusahaan/instansi-- Futty diterima kerja di sebuah perusahaan multinasional yang bahkan ini di atas ekspektasi (baik dari segi perusahaannya, atasannya, work-lyfe nya, dan gajinya hwahwa)… masyaa Allah… Alhamdulillah.
Jadi gitu dehhh ceritanyaa.. lika-liku jobseeker yang awalnya pengen S-2 aja hahaha.
-------
singkatnya ceritanya seperti itu. Sebenernya tulisan di atas sudah saya buat sejak bulan juli lalu, waktu itu saya sedang training di Sumatera Utara. dan hamdalah, sekarang sudah bekerja di sini.
kalau dari hal yang saya ambil sih,..
"sesuatu yang worth it belum tentu mudah untuk aku dapatkan".
sama Tuhan disuruh merasakan prosesnya yang naik turun, yang menguras tenaga, pikiran, perasaan, dan tentu.. ujung dari itu semua adalah agar kitanya gak menyerah dan tetap yakin.
berusaha. doa.
yang udah usaha sedemikian rupa aja tidak menjamin berhasil, apalagi kalau gak mau berusaha.. ya kan?
dan yang paling penting itu niatkan segala sesuatunya untuk belajar. sebagai freshgraduate tentu pengalamannya masih minim, tapi kadang menginginkan sesuatu yang lebih berorientasi ke gaji. well, hal yang aku lihat sekarang adalah, gaji itu (meskipun gak selalu benar) akan mengikuti kompetensi kita. usia-usia ini adalah to learn-not earn. 
ada pula satu tips yang mungkin bias diterapkan. gak mudah, tapi bukan berarti gak bisa: DON'T COMPARE. jangan ngebanding-bandingin progress kita sama orang, pencapaian kita sama orang, gaji kita sama orang dsb. karena kita gak akan tau apa yang telah dilalui orang itu hingga akhirnya mendapat yang seperti kita lihat sekarang. daripada waktu kita habis digunakan untuk comparing with others, kenapa gak kita pakai aja buat menambah skills, evaluasi diri, dan melakukan hal-hal lainnya yang lebih produktif dan progresif, hehe. ya kan?
dan Allah, terima kasih.
satu lagi pembelajaran terkait iman…
"bagaimana aku khawatir berlebihan, sementara Tuhanku, amat tau segala sesuatu yang baik untukku."
fa inna ma'al usri yusroo, inna maal usri yusroo. 
---
next aku bahas tentang #TipsSebelumLulus spesial buat adek-adek tingkat yang kemaren request (more than 15orang makanya harus ditulis hehe). 

Read More