environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Senin, 23 September 2019

#CeritaCerita: College Lyfe dan Tips Kehidupan Perkuliahan


Postingan ini didedikasikan spesial buat temen-temen yang kemarin sudah request. well, sebenernya yang perlu aku garis bawahin disini adalah: ini murni persepsiku. kasusnya bisa jadi berbeda, dan postingan ini murni buat sharing. gak semua bener, tapi gak semua salah juga. hehe. boleh banget kalau mau diangkat jadi topik diskusi secara langsung. pun sebenernya aku udah mulai memikirkan untuk beralih ke website pribadi dan membuat tulisan lebih banyak lagi (tulisan yang agak bermutu ya, gak kayak tulisan-tulisanku sebelum tahun 2017. haha). doakan futuhasara(dot)com bisa release tahun depan. amin. 

okay. kali ini aku mau bahas tentang kehidupan kuliah. kenapa aku bahas ini? selain request dari temen-temen geografi UGM, aku rasa, aku perlu menuliskan apa yang aku pikirkan dan yang pernah aku alami (cielah wkwk) dan membagikannya. sebab, ada beberapa hal yang mungkin berbeda dengan stereotipe yang berkembang di lingkungan sekitar. Pembahasan di tulisan ini adalah mengenai strategi sebelum graduation (karena kemarin udah bahas yang strugglenya setelah graduation--dan sampai sekarang masih struggle juga ye kan namanya hidup wkwk; tp kemarin banyak curhatnya). 

apasih sebenernya yang bisa dilakukan saat kuliah? penting gak sih mempersiapkan nananina, buat kerja, buat S-2 dst dst? perlu gak sih organisasi itu? penting gak sih IPK? gimana sih caranya jadi mahasiswa ideal? wkwk yang pertanyaan terakhir aku gak bisa jawab yaa.. karena 'ideal' itu adalah tergantung persepsi. wkwk.

pembahasan pertama: awal kuliah, aku harus apa?

semester awal kuliah (di tahun pertama) memang adalah momen-momen yang bergelora. bagaimana tidak? euphoria awal masuk kuliah masih terasa (meskipun ada beberapa yang sedih karena tidak sesuai yang diharapkan- re: salah jurusan dsb), di awal masuk, aliran sambatisme (re: sambat teros) pasti terjadi. butuh penyesuaian diri dari suasana sekolah ke atmosfer kuliah.
beberpa mata kuliah yang diajarkan, dasar banget. pendidikan agama, pendidikan pancasila, dan semacamnya. kemudian kegiatan pengenalan jurusan; kegiatan pengenalan organisasi kampus dan lain sebagainya. kalau menurutku: ikuti proses dan alurnya. karena di awal adalah bagian menyesuaikan diri. termasuk social life nya. itu pula yang akan berdampak pada kehidupan di tahun-tahun selanjutnya. 

ingin ikut lomba? gak papa. coba aja. justru di awal-awal tahun kuliah, semangatnya masih bergelora. 

"tapi kak, aku belum tau kaidah nya untuk ikut lomba.." hmm. waktu pengenalan jurusan diajak kenalan sama kating kan? cari kating yang menurutmu bisa jadi 'role model' selama kuliah dan bersedia ngasih "bimbingan" atau sharing-sharing gitu. itu akan sangat bermanfaat. atau, mungkin, kamu punya teman di luar jurusan yang udah ada pengalaman. tanya. kepo in. tapi yang elegan ngepoinnya hehe jangan bikin ilfil :))

dan... setting goals ketika di awal, kuliah mau apa aja. kasih target. tapi kalau tipikal ngalir aja sih ya itu pilihan orang yak.. cuma saranku, biar gak lupa. tulis deh di kertas, hehehe. pengen apa.. misal IPK di atas 3.2 per semester, atau pengen ikut organisasi apa di kampus. is okay.
kenapa aku bilang penting untuk nulis target? karena itu bisa jadi reminder atau pengingat di saat hilang arah dan merasa down (biasanya mendekati skripsi atau pasca lulus rasa down-down banget muncul. wkwk). 

"aku gak ada bayangan mau ngapain di kampus nih kak..." hmm okay. semoga dengan membaca ini, Anda mulai ada bayangan. hehe. amin. 

pembahasan ke-2: Organisasi penting gak sih?

menurutku, PENTING BANGET. BANGET PAKE BANGET BANGET BANGET. organisasi mengajari kita buat mengambil tanggung jawab dan bersosialisasi yang dibatasi oleh hak-hak orang lain. Maksudnya, di organisasi kan kita bakal ketemu orang-orang nih... dan gak semua orang punya persepsi sama, punya alur pikir sama, punya cara yang sama untuk mencapai target., makanya perlu berlatih gimana bisa BEKERJA SAMA dengan orang lain, BERTANGGUNG JAWAB dengan, mengambil KEPUTUSAN, berlatih KEPEMIMPINAN (i mean gak harus jadi ketua atau apa gitu ya, maksudnya kepemimpinan tu ya seni memilah dan memilih dan menetapkan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan), meMANAJEMEN KONFLIK, dan lain sebagainya. 

urusan nambah CV atau memperbanyak relasi... itu bonus :))

terus apakah spesifik organisasi tertentu yang diikutin?
enggak. sesuaikan aja sama passionmu. yang mana yang membuatmu nyaman. dan bertumbuh. cari lingkungan, orang-orang, yang dengannya-kamu bisa bertumbuh. 

pembahasan ke-3: IPK ngaruh gak sih?


Well, banyak banget pembahasan tentang ini. Masalah IPK adalah dualisme jajak pendapat yang tidak akan pernah ketemu. Pertama, ada yang mengatakan bahwa IPK tidak mencerminkan softskills yang dipunyai oleh seseorang (mungkin karena dianggap ansos jadi mengesampingkan hal lain selain akademik? Idk). dan yang kedua, IPK adalah cerminan dari tanggungjawab kita karena telah memutuskan suatu hal: memutuskan untuk kuliah, memutuskan untuk mengambil kelas tertentu, dan lain sebagainya-dan kita harus bertanggungjawab atas keputusan itu. 

Keduanya tidak dapat dibenarkan ataupun disalahkan mutlak.


Pengalaman ketika aku berdiskusi dengan akademisi, kakak-kakak yang lanjut kuliah di luar, kerja di corporate, gitu-gitu… (plus aku sendiri), berpendapat bahwa IPK itu penting. Bukan angkanya. Tapi prosesnya. Bagiku sendiri, IPK itu semacam “ukuran”ku terkait dengan kapasitas belajar secara akademik yang aku lalui. Kalau misalnya IPK ku jelek, berarti aku harus melakukan evaluasi, pada bagian mana yang jelek, kok bisa, kurang apa sih, dan cara perbaikinya seperti apa. Btw jangan mengira IPK ku di atas 3,7 terus ya. Aku juga pernah di angka 3.1; tapi sekali lagi ditekankan bahwa IPK itu bukan soal angka, tapi soal proses. Kamu enjoy gak belajarnya? Ada pula kok yang IPK nya tinggi tapi dua bulan setelah ujian ditanyain materi sebelumnya gak bisa jawab. Adaaa yang kayak gitu. 

Nah, niatan buat belajar ini yang harus dilurusin. Berdasarkan pengalamanku kuliah di UGM maupun di Sadhar, IPK itu mengikuti pemahaman kita dan proses yang kita lakukan. Memang di UGM nilai didominasi A, karena memang enjoy dan bisa mengikuti. Di sanata dharma? Nilai A-E ada semua. Hehe. Gak apa-apa, namanya juga belajar. Sekali lagi, IPK BUKAN SOAL ANGKA. TAPI ADALAH SOAL PROSES.

Cumaaa… ketika nanti mau lanjut S-2 maupun kerja dibidang tertentu, IPK juga menjadi syarat. Misal nih buat mau daftar ke Ivy College, ada pra-syarat IPK di atas 3.5, atau ekstrimnya Oxford dah, Oxford mensyaratkan IPK di atas 3.7; kurang ekstrim apa lagi? Huhu. Terus, kalau misal melamar kerja, ada yang mensyaratkan IPK cumlaude, dan lain sbeagainya. Meskipun di kanal beasiswa tertentu seperti AAS mensyaratkan IPK “cuma” di atas 3.25 atau beberapa pekerjaan tidak mensyaratkan IPK. Tapi sekali lagi aku tekankan di awal, tentukan tujuan. At least ketika nanti ada perubahan-perubahan mendadak, kita gak nyesel karena sudah melakukan yang terbaik ketika di masa kuliah. 

Pernah ada yang nanyain juga, cara biar dapat IPK tinggi gimana mba? Hmm. Aku sadar, IPK ku mungkin masuk jajaran IPK tinggi di Geografi UGM, tapi TIDAK kalau dicompare dengan fakultas atau prodi luar fakultas yang lain. Ada teman dari Teknik Geologi, dia pinter banget emang, IPK nya 3,92; ada pula kakaknya murid yang kuliah di KU IPK nya 3,99. hmmm. Jadi ya gitu, di atas langit masih ada langit huhuhu. But It’s okay. Jujur aku gak expect kalo kemaren bisa dapat outstanding graduate award, tapi aku akan coba jawab cara memperoleh IPK yang oke tanpa “lupa” materi di akhir setelah ujian. Huhu.

Jadi, sebenernya, belajar itu harus enjoy, kalau enjoy, pasti bakal “kepo” atau rasa keingintahuannya meningkat. Nah di situlah mulai banyak baca, diskusi, dan lain sebagainya. Itulah proses belajar. Tidak ada tips yang spesial, intinya enjoy aja dalam menjalani proses belajar. Dulu aku emang sering duduk di depan sih waktu kuliah karena kalau d ibelakang kena distraksi obrolan teman-teman huhu, dan sering tanya kalau dosen habis pemaparan (ini sering dianggap annoying, but it’s okay. Kamu punya hak untuk bertanya dan diberi jawaban). terus biasanya kalau ngerjain laporan praktikum sekalian baca paper gitu, tugas juga gitu, jadi nanti bacaannya lebih luas dan insightnya lebih dalam. 

Nah, ini cerita aja, kemarin waktu ketemu Prof J pas pamitan buat kerja, Prof J bilang ke Futuha kalo “sedekah itu bukan cuma perihal ngasih uang ke yang membutuhkan. Kamu mengerjakan sesuatu ‘lebih’ dari yang diminta itu juga sedekah” atau bahasanya adalah “Going the extra miles”.

Pembahasan ke-4: Portfolio

Portfolio ibarat apa yang sudah kita tanamkan dan kita rawat untuk kemudian dipetik buahnya di kemudian hari (re: dapat kerjaan maupun beasiswa). Nah portfolio ini penting ya teman-teman. Intinya adalah “selama ini udah melakukan apa aja”, apakah sudah pernah ikut volunteering, magang, komunitas sosial, bikin project, event, dapat beasiswa, konferensi, dan lain-lain. 

Portfolio berbeda dengan CV, kalau CV kan isinya singkat ya, nah, di portfolio ini bisa lumayan panjang plus dikasih bukti (dokumentasi, berita, dan lain sebagainya). hanya saja, portfolio kita bisa masuk CV. Nah sekarang sebelum menginjak ke tips-tips, aku mau bahas soal portfolio secara singkat.

Setiap orang pasti punya orientasi tertentu ya dalam menjalani hari-harinya, nah apakah kita mengisinya dengan kegiatan akademik, non akademik, atau dua-duanya, sekali lagi aku tekankan-itu preferensi masing-masing. Tapi, kalau menurut pendapatku, jika dua-duanya bisa dilakukan, kenapa tidak?

Mungkin banyak yang bilang itu terkesan ambis ya kalau misalkan ikut banyak kegiatan gitu… FYI, tadi aku habis dengerin podcast Mba Sau yang berjudul “all the ambis ladies”… intinya, ambis itu dibedakan menjadi 2: ambis positif dan ambis negatif. 

Ambis positif yakni adalah ambis dalam artian ingin selalu meng-upgrade kapasitas diri dan fokus untuk itu tanpa memedulikan nyinyiran dan julidan orang. Sementara itu ambis negatif konotasinya lebih ke arah orang yang ingin mencapai sesuatu tapi cara yang digunakannya enggak berintegritas, seperti: menjatuhkan teman, pilih-pilih teman yang menurutnya ‘bisa dimanfaatkan’,atau merugikan orang lain dalam mencapai tujuan.. misal gak menepati janji, nitip tugas buat dikerjain, nge-klaim hasil karya orang… dan lain-lain.

So that, ambis positif memang perlu dihidupkan, tapi jangan jadi annoying (haha, pengalaman 3 tahun lalu sangat annoying). tetap fokus menata tujuan, pelan pelan gak apa apa. Istirahat sebentar juga gak apa-apa. Kerjakan semua dengan hati dan pikiran yang waras. Karena biasanya sindrom anak muda adalah mudah down ketika dinyiyirin. So, buktikan nyinyiran itu dengan usaha dan kerja keras untuk mencapai tujuan. All will paid off, on the right time. 

Nah, di portfolio ini saranku lakukan sesuai dengan passion dan apa yang kamu suka. Suka riset? Riset lah! Suka menari? Menari lah! Suka nge-event? Jalanin event why not? Dan lakukanlah dengan sepenuh hati. Maka pencapaian-pencapaian akan hadir sesuai dengan usaha yang diberikan. Eaaa hahahaa

Pembahasan ke-5: TIPS TIPS YEY

Nah ini menyentuh ke tips, setelah 4 pembahasan yang amburadul di atas. Hehe. Beberapa ini adalah tips yang lebih spesifik:

- perbanyak baca. Baca berita, media, apapun. Dulu waktu aku bilang gini ada temen yang nimpalin “kan gak harus baca, nonton film pun bisa menambah wawasan”. so that, I will say… konteks “membaca” itu gak cuma membaca buku. Bisa dari sumber apapun. Podcast, youtube, film, apapun yang bisa kamu akses.
- ikut kegiatan volunteering. Menurutku ini penting sih. Bayangkan kita melakukan sesuatu hal dan gak dibayar secara materiil (tapi puas secara batin karena telah ‘memberi’). ini akan melatih kita di beberaap situasi dan kondisi yang “gak sesuai harapan” agar bisa memiliki pandangan yang enggak itu-itu saja (percayalah kegiatan volunteering itu seru). cara mendapatkan kegiatan volunteering kak? Di instagram ada banyak banget info-info lomba, konferensi, konvensi, maupun volunteering. Coba follow ig “Apyouth” info-infonya cukup banyak di sana.
- kalau kamu passionate di riset, coba deh bikin penelitian dan lakukan publikasi/konferensi. Mulainya gimana? Kamu bisa join kelompok studi (di geografi ada GSC), ikut PKM, atau bantu hibah dosen/kakak tingkat. Kalau mau join konferensi internasional, biasanya aku dapat informasi terupdate by website conference alert (googling aja).
- kuasai bahasa asing. Kalau bahasa inggris sudah jadi keniscayaan ya… gak harus fluent, yang penting paham dan bisa menyampaikan (haha, ya itu fluent juga sih). atau kalau luang coba belajar bahasa lain. Ada apps namanya duolingo, nah itu bisa buat dicoba.. atau kamu juga bisa ikut kursus atau les-les gitu.. tergantung kemampuan dan keinginan.
- international exposure. Nah, ini sangat bisa mengubah mindset dan orientasi yakk.. aku merasakan sendiri soalnya. Haha. Kalau sudah ada pengalaman di event internasional, relasi meningkat tentu.. dan sudut pandang bisa lebih “kaya”, selain memperkaya CV dan portfolio juga yaak. Gimana bisa international exposure? Mungkin kalau kamu suka ngomong di depan publik, bisa join MUN, atau kalau ada kesempatan bisa exchange (website oia.ugm.ac.id lengkap buat update info exchange), ikut international conference, atau kegiatan volunteering yang international-based (seperti Thailand Village Academy dan semacamnya).
- magang. Nah ini yang gak aku dapat ketika kuliah. Cobalah untuk magang… mengenal dunia kerja dan pengaplikasian ilmu kita di dunia kerja. Selain itu juga akan bertemu dengan orang-orang baru yang mampu memperkaya sudut pandang kita terhadap sesuatu.
- online course. Sejujurnya kalau kita mau memanfaatkan waktu selo, banyaaak banget online course yang bisa diakses, dan beberapa ada yang bisa dapat sertifikat! Keren gak tuh. Selain dapat ilmu, bisa buat nambah CV dan portfolio juga kan ya… `kamu bisa coba beberapa penyedia online course seperti ITunesU Free Course, Stanford Online, Codecademy, MIT OpenCourseWare, UN: Learn; daan masih banyak lagiiii!!!!
- bagi yang mau S-2 LN … hmm.. bisa langsung sih, tapi kebanyakan ada masa tunggunya. Nah untuk masa tunggu itu bisa dimanfaatkan buat belajar bahasa, nyusun research proposal, dan lain-lain. Nyari beasiswa banyak sekali. Kalau yang sudah sering dikenal kan ada “LPDP, AAS, Erasmus, StuNed, dkk”.. nah, sebenernya banyaakk banget beasiswa yang bisa kita akses. Kalau mau tau infonya coba search di google “Scholarship Position” lalu submit email untuk dapat info-info beasiswa.
- bagi yang mau kerja, percayalah mencari kerja itu gak gampang, tapi bukan berarti gak bisa. Scope nya juga banyak banget. Ada yang mau berwirausaha, ada yang mau jadi ASN, dan ada yang mau di corporate. Aku bahas yang di corporate yak karena aku di sana. Haha. Intinya siapkan CV yang “menjual” sesuai bidangmu. Gak harus semua pencapaian dimasukkin, tapi spesifik aja. (makanya aku bilang kan, perbanyak portfolio karena ketika ada hal gak terduga, bisa pilah pilih portfolio buat masuk CV). Terus siapkan juga belajar buat entah itu psikotes, tes pauli, GMAT, dan lain-lain. Dan juga ada kanal website buat nyari kerja, seperti LinkedIn, Indeed, Glassdor, Jobstreet, Kalibrr, dan lain-lain (kalau aku prefer LinkedIn sih, nah kamu juga bisa mention skills kamu dengan detil di linkedin). kemudian kalau latihan buat interview (interview preparation), kamu bisa coba akses Ambitionbox, AceTheInterview, LeetCode, Careercup, dan semacamnya. 

So guys, itu adalah tulisan tentang kehidupan perkuliahan dan beberapa tips yang bisa dilakukan selama kuliah. Huhu.
Intinya adalah: lakukan yang terbaik agar tidak menyesal di kemudian hari. Huhuhu. See ya next post, based on request. Any reques? Comment or dm aja yaak. Hehe.


Read More

Minggu, 08 September 2019

Medan, satu purnama terlewat

Maret 2019 adalah kali pertama aku mendapatkan tiket AirAsia yang menuju Kualanamu. Tempat yang sebelumnya belum pernah aku kunjungi. Sore itu aku naik Gojek dan menuju Adi Sutjipto Int Airport. Telat check in! Secara tidak sengaja aku bertemu dengan Sutra-yang ternyata kami akan mengajar di project yang sama: MEDAN!

Malam sebelum berangkat-lebih tepatnya 2 malam sebelum keberangkatan.. Ada info mengenai pekerjaan yang aku lamar. Aku harus wawancara. Dan itu bertepatan dengan project mengajar yang belum selesai. Sempat galau. Tapi setelah berbagai pertimbangan, akhirnya aku tidak hadir wawancara dan memilih mengajar-tanggung jawab yang sudah aku ambil sebelumnya.

Medan kota yang panas. Aku selalu berkeringat dan mengeluh kepanasan. Satu hal yang sangat menonjol yang aku tau dari medan adalah suara klakson yang sangat keras. Kendaraan yang semrawut, pelanggaran lampu lalu lintas nampaknya sudah jadi pemandangan yang wajar.

Selama mengajar di Medan bulan Maret 2019, tidak terbesit sama sekali untuk kembali ke sini. Memang ada sedikit firasat "sepertinya bakal kesini lagi", tapi itu sekadar firasat yang langsung aku tampis. Meskipun-pada saat itu masih job-seeker, aku selalu berharap bisa kerja di Jawa, tepatnya Jawa Timur saja. Dekat dengan bapak ibuk.

Namun ternyata takdir bilang lain. Bulan Juli 2019-wawancara kerja lagi. Di situ di offer "apakah sanggup penempatan di Medan?" Dan tanpa pikir panjang aku menyanggupinya. Bukan apa-apa. Di ceritaku yang sebelumnya, aku pernah bilang kalau mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah. Apalagi untuk freshgraduate zero experience. Makanya, setelah bilang "sanggup", hati langsung menimang-nimang banyak hal.. Seperti "bagaimana kalau beneran diterima?" "Nanti sendirian di Medan?" "Jauh dari orang tua?".. Dan banyak lainnya.

Hingga semua pertanyaan itu terjawab: diterima kerja dan ditempatkan di Medan, sendirian-tanpa keluarga dan teman di sana-dan sangat jauh dari orangtua. Maksudku, beda pulau.

Tentu pertimbangan hingga memutuskan "oke" telah melalui ridha Bapak Ibuk. Hamdalah.

Agustus tanggal 9 tahun 2019 Pradev dan Ghina mengantarku. Fadil datang, Ais dan Sani juga. Sepuluh hari sebelum itu aku menghabiskan waktuku di Jogja. Ngopi bersama Mas Koko, mengunjungi pameran buku dan mengadopsi kucing buat Fadil, makan pisang goreng bersama Mela di Kopi Merapi, tidur di rumah Pradev, makan es krim bareng Ais, ketemuan sama Nurul dan masih banyak lainnya.








8 Agustus. Aku masih ingat betul: pamitan dengan Prof Junun dan Bu Emma. Pesan yang disampaikan: "Futuha, di manapun kamu berada, lakukan segala sesuatunya dengan baik."

9 Agustus pukul 15, aku kepengen nangis rasanya. Meninggalkan Jogja dan segenap kenangannya dalam waktu yang cukup lama. Sesekali aku memandangi Ghina. Bagaimana dia nanti ketika wisuda sementara aku tidak bisa hadir. Dan ketika Ais Sani datang, aku seperti ingin menangis. Dan aku meninggalkan mereka semua, masuk ke ruang check in tanpa sedikitpun menoleh ke belakang. Karena aku nangis! Haaha.



Semua tiket pesawat ditanggung oleh perusahaan. Beberapa kali penerbangan Jogja-Medan sebelumnya juga begitu. Awal aku sampai di medan pukul 19 WIB dan di follow up oleh Pak Achmad Adhitya, manajer SUSO Unilever, menanyakan apakah Futuha sudah di Medan atau belum, dan PM menjawab bahwa Futuha just landed Pak. Haha. Lumayan. Aku gak merasa sendirian.

Aku menuju ke Rumah Ibu Titi, keluarga Muthi yang sudah berbaik hati menerimaku di Medan. Sebelum mendapatkan kos dan mulai berkantor di Unilever kantor Medan.

Medan seperti yang aku lihat sebelumnya: panas, klakson sangat berisik, orang-orang bersuara keras.

Idul Adha 2019 aku habiskan bersama keluarga Ibu Titi. Kami makan bersama, dab jalan-jalan! Setelah itu kami mencari kos. Ada beberapa pilihan kos. Tapi aku memilih kos di Medan Kota (pusat kota), 2.5 km dari kantor Forum Nine (kantor Unilever di Medan). Setelah disetujui oleh Bapak dan teman, akhirnya fix bertempat di situ.

Harga sewanya tidak murah. Namun lingkungannya sesuai menurut kriteriaku: dekat masjid, khusus putri, ada yang menjaga (Bapak/Ibu/Kakak Kos), bersih, ada dapurnya! Haha.

Hal yang tidak bisa dibeli adalah lingkungan yang baik. Awal awalnya aku stres berat dan merasa kesepian. Untungnya ada kak Vinda, putri pemilik kos yang sering mengajak ngobrol. Ada rekan kerja juga: Fikri, Bu Nina, dan Pak Gullit (yang tergabung di divisi Sustainable Sourcing) serta teman-teman kantor Unilever medan.

Satu minggu pertama, bahkan untuk ke indomart yang jaraknya 500m saja aku takut. Bukan apa-apa, stereotip orang-orang sini yang kurang ramah terhadap perempuan, kasar, dan lain sebagainya membuatku takut. Sampai aku memberanikan diri buat jalan jalan sendirian. Haha. Ternyata tidak semenyeramkan itu. Minggu kedua aku mulai jalan-jalan sendiri, ke pusat kota, kafe kafe di Medan, nge mall dan nonton di bioskop-sendirian.

Ibu kos sangat baik. Beliau sering bercerita dan membagikan masakan. Memang makanan disini mahal-mahal. Tapi enak dan porsinya banyak! Haha.

Minggu ke tiga, aku mulai mengikuti event2 dan membuat habitat dengan teman-teman. Berkegiatan, bekerja, membaca, memasak. Aku menikmatinya. Aku merasakan kasih sayang di sekitarku.

Perlahan, Medan tidak semenyeramkan yang aku kira sebelumnya.

Bahwa Tuhan, entah bagaimanapun caranya, tidak akan membiarkan kita sendirian. Ada tangan-tangan baik yang selalu menerima kita.

Kalau kata Ibuk "jangan lelah berhati baik, karena hati yang baik, akan melahirkan banyak kebaikan lainnya."

Ibuk, Bapak. Doa ibuk bapak selalu mengertai. Di mana pun, kapanpun.

Semoga betah.

Read More