environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Rabu, 21 April 2021

Responsibility Principle: Hutan, Lingkungan, dan Pemberdayaan Masyarakat menuju Ekonomi Lestari

 




Ngerasa gak sih kalau akhir-akhir ini tuh Bumi kayak lagi labil banget? terutama fenomena-fenomena yang terkait sama cuaca yang kemudian mengakibatkan banyak hujan lebat, banjir di beberapa daerah, hingga tanah longsor?

Hmm... yaaa mungkin kita mendengar hal tersebut terjadi akibat siklon tropis dan lain sebagainya, tapi pernah ga sih berfikir, siklon tropis terjadi karena apa? dan apakah intensitasnya setinggi ini setiap musim penghujan di awal tahun? 

well, kalau kita lihat trendnya, siklon tropis tuh akhir-akhir ini emang suka muncul lebih banyak. Kenapa bisa? Ya karena ada peningkatan SPL atau Suhu Permukaan Laut. Apa kaitannya SPL dengan kemunculan siklon tropis? 

peningkatan suhu udara akan mengakibatkan kenaikan kelembapan udara yang berdampak pula pada naiknya tekanan udara. Nah, karena ada tekanan yang lebih tinggi dari sekitarnya (sekitarnya lebih dingin), maka terjadi aliran angin yang sifatnya siklonik/memutar. Atau mungkin ilustrasinya bisa dilihat di gambar di bawah ini:

tropical cyclone (sc: Britanica)

akibatnya lagi apa? Hujan deras tidak terkendali. Bahkan BNPB pun memasukkan bencana-bencana yang terkait dengan hidrometeorologis ke dalam Top 3 Bencana Alam Triwulan 2021. Wow. 

headline berita tempo.co

Lalu, kenapa ya suhu permukaan laut bisa naik? 

Naiknya suhu permukaan laut dapat dipengaruhi oleh naiknya suhu bumi secara keseluruhan. Mengapa suhu bumi meningkat? Pernah mendengar istilah Gas Rumah Kaca? Kalo bahasa level ilmiahnya mah GRK jenisnya ada: Karbondioksida (CO2) Dinitroksida/Nitrous Oxyde (N2O) Metana (CH4) Sulfurheksafluorida (SF6) Perfluorokarbon (PFCS) Hidrofluorokarbon (HFCS). Hihi banyak kan? Jadi gas rumah kaca itu adalah gas-gas yang terdapat di atmosfer yang menyebabkan terjadinya efek rumah kaca. Efek yang seperti apatuh?

hmmm... ceritanya nih, bumi kan mendapatkan sinar dan transfer panas dari matahari, nah ada panas yang diserap ama bumi, ada pula panas yang dikeluarkan/dipantulkan ke angkasa. Nah, si gas-gas di atas ini tuh bikin panasnya keserap dan akhirnya terperangkap di atmosfer bumi (gak semua dilepas lagi ke luar angkasa), bagaikan di rumah kaca. Akibatnya apa? akibatnya suhu bumi makin memanas. 

Nah, memanasnya suhu bumi ini mengakibatkan terjadinya anomali atau perubahan kondisi klimatologis, atau simpelnya dikenal dengan perubahan iklim. Apa sih perubahan iklim?
Perubahan iklim adalah perubahan signifikan kepada iklim, suhu udaram dan curah hujan mulai dari dasawarsa hingga jutaan tahun, yang terjadi karena meningkatnya GRK yang menyebabkan gas rumah kaca (KCPI KLHK).

hubungan peningkatan GRK dengan perubahan iklim (sc: futuha disampaikan dalam agenda climate talk ICCI)


Pada beberapa waktu yang lalu dalam rangka kegiatan Eco-Blogger, materi perubahan iklim disamapaikan dengan menarik oleh Mas Yuyun Harmono (WALHI). Nah, perubahan iklim ini mengakibatkan kondisi anomali cuaca ektrem, salah satunya adalah curah hujan dengan intensitas tinggi disertai angin pada saat musim penghujan. Hal tersebut mengakibatkan adanya bencana "turunan", umumnya adalah banjir dan tanah longsor.


bencana di Indonesia Q1 2021 (sc: katadata)


Meskipun hujan deras tidak selalu menyebabkan banjir dan tanah longsor pada kondisi ideal, namun kenyataannya hal ini terjadi di kondisi umum saat ini. Faktor yang berpengaruh dalam dua bencana itu bukan hanya curah hujan, namun ada faktor lain yang bersumbangsih; untuk tanah longsor, misalnya adalah tingkat kemiringan lereng dan kondisi tanah. Namun untuk dua bencana itu (Banjir dan Tanah Longsor) yang paling krusial adalah perubahan tutupan lahan dan/atau perubahan tata guna lahan; yang mana hal ini berkaitan erat dengan proses-proses antropogenik atau proses yang diikutcampuri oleh manusia. 

Yang paling mudah dijumpai adalah: wilayah yang dulunya hijau, kini tidak lagi. 

sc: rainforest alliance


Yep! deforestasi! Kalau bicara soal deforestasi sepertinya tidak akan ada habisnya, karena datanya sangat banyak dan menarik untuk dikulik. Namun dalam tulisan kali ini tidak akan sedetil itu. 

Hutan merupakan landskap yang menarik untuk ditelaah. Banyak orang menyuarakan tentang hutan dan perubahan iklim, namun banyak pula yang masih enggan "bercengkrama" dengan hutan itu sendiri. image tentang hutan adalah sesuatu yang rimbun, susah dijamah, banyak binatang buas, bahkan banyak makhluk astral (?) hihihi. Oleh sebab itu Mas Christian Natalie (ig: @kakaktian) dari Hutan itu ID, menjelaskan mengenai pentingnya menumbuhkan rasa cinta terhadap hutan. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan, seperti: kampanye jaga hutan, cerita dari hutan, adopsi pohon, pengembangan produk hutan non kayu, hingga jalan-jalan ke hutan!

dengan tumbuhnya rasa cinta terhadap hutan dan ekosistem didalamnya, kita akan lebih menghargai peran penting hutan dalam pelestarian alam dan lingkungan, lebih menjaga ekosistem yang ada, lebih bijak menggunakan produk-produk yang ramah alam. Dampaknya apa? mungkin tidak akan terasa langsung saat ini, namun suatu hari nanti... mungkin kita akan bisa bersama-sama lebih menjaga dan mengawasi hutan agar kasus deforestasi tidak lagi terjadi. 

Ketika hutan dan alam lestari, maka ekosistem terjaga. sumber air dan daerah resapan bekerja sebagaimana mestinya, sehingga apabila terjadi hujan deras, kejadian banjir bandang dan tanah longsor dapat diminimalisir; selain--tentu saja--membutuhkan peran sinergi multipihak ya!

selain potensi bencana hidrometeorologis yang dapat diminimalisir, menjaga hutan juga dapat berdampak baik bagi pemberdayaan masyarakat di sekitarnya. Seperti kita tau bahwa banyaaak sekali tanaman-tanaman maupun komoditas lokal yang berasal dari hutan dan dapat dimanfaatkan secara lestari. Misalnya yang terkenal adalah madu hutan! mungkin masih banyak juga sumberdaya lain yang ada di hutan, sehingga jika dikelola secara bijak, tidak mustahil akan tercipta sinergi ekonomi dan lingkungan --- yang artinya, jika selama ini ekonomi dianggap tidak pernah bisa bersanding dengan kelestarian lingkungan ---- hal ini akan mungkin kita ubah bersama dengan konsep dan prinsip ekonomi lestari, seperti yang disampaikan oleh Gita Syahrani (LKTL). Hal itu tidak mustahil, sejauh ada kerjasama multipihak, kesadaran konsumen akan produk ramah lingkungan, dan tentu komitmen bersama dalam kelestarian alam.

pemanfaatan sumberdaya lokal (bambu) (sc: dokumentasi pribadi 2018)

Apakah hanya "anak lingkungan" atau penggiat lingkungan yang harus sadar tentang hal-hal ini? Tentu tidak. semua kalangan harus membuka mata untuk melihat lebih dekat tentang ekonomi lestari.

sebagai masyarakat awam, hal yang dapat kita terapkan adalah dengan "Responsibility Principle", atau prinsip yang bertanggungjawab. Apa maksudnya?

"when I buy something from you, I am responsible for how it is made"

Ketika hendak mengonsumsi/membeli sesuatu, setidaknya kita tau darimana sumbernya. Hal tersebut dapat kita lakukan agar kita bisa lebih bijak: mendapatkan apa yang kita butuhkan sekaligus berkontribusi pada kelestarian alam dengan membeli/mengonsumsi barang/kebutuhan yang diproduksi secara ramah lingkungan dan ramah sosial.

Bukan hal yang mudah, tapi belum tentu tidak bisa, kan?

Mari bergotong royong untuk bumi dan ekonomi yang lebih lestari!

Read More

Senin, 19 April 2021

Mengenal "Chain of Custody" dalam Produk Perawatan Kecantikan

 




Well, hai! selamat datang di blog Futuha, blog yang niatnya hanya untuk curcol dan cerita-cerita sejak tahun 2014 akhirnya kini menjelma menjadi blog yang (lebih) berfaeda. haha. Sejak kemarin berniat untuk mengikuti kompetisi blog (baru tau informasinya H-1 penutupan lomba, baru submit siangnya di hari-H penutupan, dan baru pertama ikut kompetisi blog), sangat tidak menyangka kalau bisa masuk 30 besar! yey! Alhamdulillah. 

Karena terpilih masuk ke 30 blog terbaik (?), kami diberikan kesempatan berharga untuk mengikuti online gathering sesuai topik kompetisi blog, yakni #LestarikanCantikmu. Online gathering kali ini dilakukan via zoom meeting dan live streaming youtube Lingkar Temu Kabupaten Lestari. 
poster blogger gathering #LestarikanCantikmu (sc: bloggerperempuan)


Menariknya, disini pembicaranya sangat kolaboratif dalam menyampaikan materi terkait #LestarikanCantikmu: Ada dari skincare expert, ada dari pemerhati lingkungan, dan tentu ada pula dari spesialis produk berkelanjutan.

Nah, sebelum membahas lebih banyak tentang online gathering kemarin, mungkin ada baiknya ngasih disclaimer dulu, hehe. Teman-teman, disini yang mengikuti online gathering (OG) ada sekitar 30 orang, dan keseluruhannya akan menyampaikan materi dari apa yang sudah dipelajari selama OG, naahh teman-teman pembaca juga bisa nih, kepo ke blog teman-teman blogger lainnya, coba deh pakai hashtag di ig #LestarikanCantikmu atau #TemenanLagi, nanti akan terhubung ke banyak artikel keren-keren lainnya ^^

Disini mungkin tidak akan membahas mengenai topik OG secara lengkap kap kap kap, karena ingin lebih diverse dalam menyampaikan insight. oleh sebab itu, tulisan ini lebih mengarah pada satu topik, yaitu Chain of Custody  atau Rantai Ketertelusuran.

APA SIH CHAIN OF CUSTODY ITU?
Ketika kita mengetik "Chain of Custody" pada mesin pencari, maka terdapat artikel atau sumber utama yang mengarah pada suatu topik yang berkaitan dengan hukum. Namun, apakah selalu begitu? Ternyata tidak. konteks chain of custody berkaitan juga dengan manajemen rantai pasok (supply chain management).

dalam konteks perdagangan dan rantai pasok, Chain of Custody dapat dilihat dari industri hulu (supply base, atau bahan baku) hingga ke industri hilir (market base, konsumen). 

Chain of Custody, sumber: https://www.youtube.com/watch?v=1BV1iKqHg_E 


Jadi, chain of custody dapat diartikan pula sebagai rantai pasok suatu produk/barang dimulai dari sumber bahan baku, proses yang dijalaninya, hingga produk/barang tersebut sampai ke tangan konsumen.

APA HUBUNGAN CHAIN OF CUSTODY DENGAN PRODUK PERAWATAN KECANTIKAN?

Rasanya sudah tidak asing bahwa hampir semua produk yang kita konsumsi berasal dari industri; kita mengenalnya sebagai jenis industri FMCG (Fast Moving Consumers Good); atau industri yang menghasilkan produk cepat pakai-cepat habis, seperti detergen, sabun mandi, shampoo, dan lain-lain. termasuk produk kecantikan yang kita gunakan. Nah, bicara soal produk kecantikan, ini akan sangat menarik. Banyak orang yang merawat dirinya dengan produk-produk kecantikan. Tapi, apakah kita mengetahui esensi dibalik pemakaian produk itu? atau malah hanya ikut-ikutan saja?

Bicara soal "skin care with purpose", dalam blog gathering #LestarikanCantikmu, pembicara pertama (Mas Danang Wisnu Wardhana) menyebutkan bahwa ketika kita hendak menggunakan suatu produk perawatan, hendaknya akan lebih baik jika kita mengetahui esensi dari penggunaan produk tersebut. Misalnya adalah menggunakan sun screen yang ditujukan untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Nah, disini, Mas Danang juga menyampaikan bahwa merawat diri adalah bagian dari mensyukuri nikmat Tuhan atas hal-hal yang sudah diberikan kepada kita. 

Mungkin masih ada beberapa dari kita yang beranggapan bahwa semua skincare atau produk kecantikan yang kita gunakan ini adalah SAMA SAJA--DIPRODUKSI DI PABRIK, dan belum ngeuh dengan sumber asal muasal bahan bakunya maupun apakah produk tersebut berasal dari ethical sourced atau produk yang dihasilkan tanpa eksploitasi terhadap pekerjanya. Namun seiring berjalannya waktu, berdasarkan survai yang dipaparkan oleh Kak Gita Syahrani dari LKTL, ternyata terjadi pergeseran concern konsumen terhadap produk yang digunakan. Seiring dengan perubahan iklim dan degradasi lingkungan, kini konsumen mulai memikirkan keberlanjutan atau sustainability , baik secara lingkungan, ekonomi, maupun sosial. Hal ini menarik, karena dalam kaitannya dengan sustainable supply chain, ketiganya menjadi pilar seperti yang diilustrasikan oleh gambar berikut:


SSCM source: https://www.sciencedirect.com/journal/international-journal-of-production-economics


Tentu dalam chain of custody suatu produk kecantikan ramah lingkungan, kita tidak hanya memperhatikan kemasan produknya berasal dari material yang dapat didaur ulang atau tidak, melainkan juga bahan bakunya. apakah bersumber dari minyak nabati yang lestari? apakah bersumber dari ekstrak tumbuhan yang ditanam di penggunaan lahan yang sesuai? apakah dikelola oleh pekerja yang tidak mengalami eksploitasi? 

semua itu kemudian menjadi hubungan kausal antara produk yang kita gunakan dengan environmental, economy, and social sustainability. tentunya, ketika kita memilih produk yang dapat kita telusur proses dan bahan bakunya, tentu kita dapat lebih menghargai setiap apa yang kita keluarkan (materi dan usaha untuk membeli produk tersebut).

MERAWAT DIRI? SAYANGI DIRI, ALAM, DAN SOSIAL!
Hmmmm... sudah ada gambaran mengenai chain of custody untuk produk perawatan kecantikan, kan? nah, kini saatnya membahas mengenai produk yang bagaimana sih yang bisa kita pilih untuk merawat diri sekaligus merawat alam dan sosial?

Terdapat pembahasan menarik yang disampaikan oleh Mba Christina Pan dari Segara Naturals, kita tinggal di Indonesia yang kaya akan sumberdaya alam, termasuk tetumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan-bahan produk kecantikan. Bahan-bahan tersebut mungkin belum terlalu dikenal, seperti misalnya adalah Tengkawang. Tapi taukah? ternyata manfaatnya luar biasa besar lhoh! sayangnya banyak diantara kita yang belum tau bagaimana cara menggunakannya. Nah, Segara Naturals menyediakan produk perawatan kecantikan berbasis bahan alami yang diolah sedemikian rupa dengan basis riset yang mumpuni untuk menghasilkan produk yang bisa dengan mudah langsung digunakan.

harganya? eummm.. mungkin tidak semurah produk yang selama ini kita kenal dari FMCG, tapi hal ini wajar, karena dalam proses pencarian bahan baku, riset, ekstraksi dan proses pembuatannya tidak mudah dan tidak sebesar skala industri FMCG. Namun meskipun dari segi harga "agak berbeda", tapi kita tau value yang kita dapatkan dari menggunakan produk tersebut. Apa itu? tentu produk ramah lingkungan dan ramah sosial. 

dengan kita mengetahui alasan dan esensi perawatan diri dan kecantikan, serta mendukung terciptanya leberlanjutan lingkungan, tentu kita akan semakin sadar untuk #CantikMelestari! 

Read More