environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Minggu, 20 November 2016

Cara Ayah: Belajar dari Beternak Bebek


Aku seorang gadis kecil, usiaku... Hmm... sekitar sembilan tahun lah. Kata orang-orang disekitarku, aku bocah yang sering bertingkah. Hai! Kenalkan, namaku Biru. Aku tinggal di sebuah desa di pulau yang besar. Guruku bilang, nama pulau itu adalah Pulau Sumatera, dekat laut, ada bukit, ada sungai. Di rumahku yang sederhana ada aku, ayah, ibu, dan abang. Rumah kami tidak di kota, masih ada sawah, empang, dan banyaak pohon.

Aku ingin becerita, beberapa hari yang lalu, ayah membelikan kami 30 ekor bebek, tentu aku dan abangku sangat senang. Ayah bilang, bebek-bebek ini harus dirawat, harus digiring ke sawah, harus diberi makan, dan dibersihkan kandangnya. Hari ini adalah hari ketiga aku dan abang merawat bebek-bebek itu, kebetulan hari ini hari minggu. Pagi-pagi, selepas ibu membuatkan kami sarapan dengan telur balado, kami beranjak ke sawah. Menggiring bebek-bebek itu supaya tetap pada jalurnya. Tetap pada lintasannya.

"Abaang! Tunggu.. Bebek yang itu larinya terlalu jauh.. Biru capek.."
"Ayo, Biru! undanglah bebek-bebek itu supaya kembali ke teman-temannya..."

Abang adalah sosok yang pekerja keras, tanpa diperintah dua kali, akupun mulai menggiring bebek-bebek itu.

"Abang... Biru lelah.."
"Ayo, Biru! Sedikit lagi bebek-bebek ini akan sampai pada tempatnya." Jawab abang.

Hingga matahari mulai di atas kepala, aku dan abang beristirahat. Makan siang bersama, dan tidur siang. Sore harinya kami harus memulangkan kembali bebek-bebek itu ke kandang.

Selanjutnya adalah hari Senin. Hari ini seusai sekolah nanti, aku ada les matematika jam 4 sore. Sekolahku usai pukul dua. tempat les dan sekolah jaraknya cukup berdekatan, tapi keduanya jauh dari rumah.

"Abang, Biru ada les sore ini, Biru ga pulang yaa selepas sekolah?" Tanyaku kepada abang yang usianya tiga tahun di atasku.
"Enak saja! Bagaimana dengan bebek-bebek kita? Kamu mau lepas tanggungjawab? Ayah sudah membelikannya untuk kita rawat, loh."
"Baik lah Bang, Biru nanti pulang.."

Ku kayuh sepedaku dengan cepat, aku membayangkan bagaimana kalau nanti bebek-bebekku kelaparan sementara Abang tidak ada teman yang membantu. Slret, sampailah. Ya, benar. Bebek-bebek kami lapar. Butuh setengah jam untuk memberi mereka makan, dan selepas itu, aku kembali lagi ke tempat awal: les matematika.

"Ayaah... Biru capek.. Tiap hari harus menggiring banyak bebek, ngasih makan bebek, pulang pergi bolak-balik naik sepeda... Biru capek, Yah..." keluhku sore harinya, saat kami sekeluarga berkumpul di dipan serambi rumah sambil menyeruput teh hangat buatan ibu.

"Biru mau jajan, nggak?" Tanya Ayah.

"Mau, ayah..."

"Nanti, bebek-bebek itu bertelur. Biru dan abang bisa menjual telur-telur itu, bisa dipakai buat beli jajan, beli buku, dan beli barang-barang bermanfaat lainnya."

Aku mengangguk semangat.


---

Hai, namaku Biru. Aku telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang manis rupa. Kata Ibu, sih.

Menggiring bebek berjumlah 30 untuk tetap pada lintasannya sama artinya dengan belajar "membersamai" banyak orang, menjadi pemimpin yang "membersamai" supaya tetap pada koridor untuk mencapai tujuan bersama. Memberinya makan tiap hari adalah perwujudan dari belajar bertanggungjawab. Ada pepatah bilang, siapa yang menanam, dia yang akan menuai. Bebek yang telah tumbuh lantas bertelur. Mungkin tanpa ada telur itu uang jajanku dan abang tidak akan bertambah. Hehehe. Bebek-bebek itu hadir bukan tanpa alasan. Ayah mendesainnya sedemikian rupa supaya kami belajar.

Selamat bertumbuh bersama!
Read More

Selasa, 08 November 2016

Meneladani Hujan

Saya ingin berkisah. Sore ini, selepas praktikum dan selepas kejadian "bersejarah" dalam hidup saya yang kaitannya erat dengan tulisan ini, dari lantai 3 Gedung D Fakultas Geografi UGM, menuruni tangga menuju lantai 1, bertemu banyak orang dan di luar masih hujan. Payung ungu saya akhirnya terbentang. Melintasi Jalan Kaliurang yang telah ramai karena segala macam aktivitas pasca senja akan dimulai. Banyak orang selepas bekerja yang pulang ke rumah, dan pedagang-pedagang yang mempersiapkan jualannya di samping-samping jalan.

Meneladani hujan.

Jika kita ada suatu kegiatan yang urgent dan bersamaan dengan hujan, mungkin ada beberapa di antara kita yang sebal bahkan (mohon maaf) mengumpat ketika ia datang. Keberadaan hujan dinilai dapat mengganggu banyak aktivitas, terutama yang berhubungan dengan mobilitas. Bagi para pejalan kaki mungkin, hujan membuat mager. Karena selebar apapun payung yang disediakan oleh produsen payung, tetap saja kita akan basah. Iya, kan? Tapi hujan akan selalu datang. November ini.

Lantas sampai kapan kita ingin menghujat hujan?

Secara ilmu kebumian, hujan merupakan salah satu fenomena alam yang diakibatkan kelembapan relatif sudah mencapai titik jenuhnya (100%). Tapi disini saya tidak akan membahas tentang itu. hehehe. Hujan adalah pelajaran bagi semesta cinta. Hai, para pencinta yang selalu sendu dibuat hujan. Katanya hujan selalu identik dengan kenangan, bukan? Kenangan menyenangkan, dan atau mungkin menyakitkan? Entahlah apapun itu, fenomena alam satu ini mengajarkan kita tentang satu hal: Melepaskan.

Hujan tidak pernah protes ketika dihujat, dia akan datang, lagi dan lagi. Memang begitu kodratnya. Dia jatuh begitu saja, tidak ada yang menghambatnya (lain cerita kalo virga haha), telah banyak orang yang menulis ceita tentang hujan, intinya hanyalah sendu. Biru. Apapun itu. Tapi hujan akan selalu datang selama troposfer masih dalam fungsi normalnya, dia akan lepas dari awan dengan tenang, tanpa paksaan dan menerima begitu saja.

Maka itulah hari ini, lepas.

Adakah cara terbaik selain melepaskan sesuatu ketika telah mencapai titik jenuh? Bahkan awan melepaskan bagian yang menyusunnya ketika tumbukan dan tangkapan itu telah melewati batas, di mana kelembapan relatif telah tinggi, dan... bagian penyusun itu adalah air, melebur jadi satu menjadi butiran hujan, turun ke bumi, damai, tenang, tanpa paksaan.

Percayalah, akan selalu ada keindahan pasca hujan. Karena hujan adalah kodrat-Nya, sesuatu yang diciptakanNya pasti selalu membawa hikmah. Percayalah.

Nanti, coba kamu satu payung dengan saya, saya akan bercerita banyak tentang hujan dan biru, FYI, Biru adalah rencana nama anak saya. Nanti.

--

“Tahukah kau, untuk membuat seseorang menyadari apa yang dirasakannya, justru cara terbaik melalui hal-hal menyakitkan. Misalnya kau pergi. Saat kau pergi, seseorang baru akan merasa kehilangan, dan dia mulai bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya dia rasakan.”
--Tere Liye, novel "Sunset & Rosie"
Read More

Kamis, 03 November 2016

"Aku Iri..."


Aku iri pada pasir
Butiran halusnya membuat orang jatuh cinta,
Biasanya dengan gelombang membuat desah yang indah

Aku iri pada air
Mengalir di sela-sela bebatuan, riuh gemericik
Membuat orang terlena dengan iramanya

Aku iri pada gelombang
Glar! Tegas dan menghantam,
Siapa sangka, dia bisa menjadi sumber energi terbarukan

Aku iri pada angin,
Mengganti udara lama dengan udara baru
Menghembuskan kesejukan dan membuat suasana hati menjadi sendu

Aku iri pada hujan,
Mampu membasahi rerumputan, bahkan menyuburkan padi-padian
Hujan selalu membawa kenangan bagi kebanyakan orang, katanya

Aku iri pada awan,
Meneduhkan, dan indah dipandang
Kata orang, awan adalah bentuk lain dari air yang sama-sama menenangkan

Sementara aku,

Batu

Begitu orang mengatakan,
Tampak keras dan tidak menyenangkan
Siapa yang tak tau batu?
Tanpa batu, pondasi rumah tidak akan terbentuk,
Tidak ada ceritanya untaian zamrud dan giok
Tidak ada kisah tentang artefak dan prasasti
Bahkan, ahli kebumian akan sulit mengidentifikasi...
Jenis mineral dari batuan apa yang menyusun pasir,
Batuan apa yang mampu meloloskan air,
Pada tebing dengan resistensi batuan yang bagaimana gelombang bisa pecah,
Dari topografi mana angin berasal,
Seperti apa alas yang dijatuhi hujan,
Dan... Bagaimana awan dapat terbentuk jika tanpa bantuan material hasil pancaran?

Percayalah, menjadi dirimu sendiri akan jauh lebih menentramkan
Read More

Selasa, 25 Oktober 2016

Kesyukuran yang Patut Dijalani


"Hujan bawa ku kembali.."- Teman Imaji, sebuah film pecah karya Prawita Mutia

I will give you very buzzword ideas by Austen in her book Pride and Prejudice, ‘A woman must have a thorough knowledge of music, singing, drawing, an the modern languages, to deserve the word, and besides all this, she must possess a certain something in her air and manner of walking, the tone of her voice her address and expressions, or the word will be but half deserved,’ and it is added, ‘All this she must possess, and to all this she must yet add something more substantial, in the improvement of her mind by extensive reading..’

Berdamai dengan diri sendiri,

Sederhana, tapi sangat sulit untuk dilakukan. Ketika berhasil, kesyukuran itu datang dengan sangat melegakan. Puji Tuhan masih dikaruniai anugerahNya.

Baik, pembaca blog saya saat ini sudah mencapai 3000 orang. angka yang cukup mengagetkan untuk ukuran "tempat sampah" seperti ini. Tapi, teman saya pernah berkata: Bagimu mungkin tempat sampah, tapi bagi beberapa orang atau seseorang, ini adalah harta karun.

Lupakan

Malam ini saya mau cerita. Cerita ringan sih.. Tapi bukan berarti saya gabut ya..
Beberapa hari yang lalu saya gabung di suatu komunitas. Tau soundcloud-soundcloud nya Mba Prawita Mutia? Hm, kalo belum tau coba search di Google! Riuh renyah bunyi petikan gitar dan syair ringan yang membuat keceriaan, setiap pagi, ketika saya membaca, apapun itu, kadang playlist itu selalu menemani. Tidak jarang saya senyum-senyum sendiri melihat jendela sambil berkata lirih dalam hati: Oh ya, aku masih punya banyak hal.

Kebetulan hobby melukis saya "pulang lagi", semenjak keberadaan koi water color saya jadi betah berlama-lama duduk di depan meja belajar, di mana meja belajar saya menghadap langsung ke arah jendela. Saya sengaja memasang gorden dengan motif bunga dan warna pastel agar senada dengan desain kamar saya yang minimalis nan riuh. Beberapa situs mendukung saya untuk berimajinasi liar. Mau tau hasil lukisan saya? Coba deh lihat di instagram punya saya! (@futuhasara).

Tampaknya saya sedang senang dengan kegiatan baru saya! Membaca, belajar menggambar, mendongeng, memasak, dan mencintai orang orang yang masih bersedia untuk bersama dengan saya. Sesederhana itu, kebahagiaan dapat saya rasakan, ketenangan jiwa, skala prioritas yang satu per satu mulai tertata: Tuhan, Orang tua, Keluarga, Teman, Kekasih.

Setiap bangun pagi, segelas kopi, buku bacaan, dan beberapa playlist menemani, saya selalu membuat janji bahwa setiap bangun tidur, seusai wudhlu, tolong senyum di depan cermin, sambil bilang betapa berharganya kamu ada di dunia ini. Seketika itu menjadi obat tersendiri. Terkadang, yang nampak itu memang yang tak sebenarnya, begitu kata Rizka, temanku. Tapi ya mau gimana lagi.. Hehehe. Selama kita bisa menemukan kedamaian atas keberadaan kita sendiri? Its okay. Pendapat orang hanya ada dua pilihan: yang pertama menjatuhkan, yang kedua menguatkan. Tergantung kita mau pilih yang mana. Toh, dunia ini hanya masalah perspektif kan? Ilmu pengetahuan menggunakan pendekatan tertentu, bahkan yang agamanya sama, perspektifnya bisa beda kan?

So?

Kebahagiaan kita sendiri kok yang menentukan :)

Daaan, kebahagiaan yang saya rasakan dan yang ingin saya bagikan adalah, saya tergabung ke dalam komunitas "Book for Mountain". Apa itu BFM? Teman-teman bisa kepo via http://bookformountain.tumblr.com/
22 libraries, 1 emergency school, 19 villages, 8 islands || We Love Kids, We Love Books, We Adore Indonesia
Saya tergabung di divisi edukasi, dengan emak Naisa Aqila. Yaa sesama buku holic yang kadang melow-melow bareng ga jelas. Hahaha. Program dekat ini adalah sekolah berjalan, sayangnya saya belum bisa ikut program perdana pasca oprec ini, saya harus ke Malang untuk mengikuti Pekan Ilmiah Tahunan Ikatan Geograf Indonesia.

Saya memiliki harapan besar di komunitas ini, cerita lebih lanjut akan saya posting beberapa hari ke depan.

BTW, saya masih heran kenapa tempat sampah ini banyak pengunjungnya. Hehe. 
Read More

Senin, 10 Oktober 2016

#13 Minutes Writing: Kemakan Iklan

Ceritanya, tadi pukul 20.30 an WIB, saya pulang dari rapat IGI-IMAHAGI dengan "partner in crime" saya, Fadilah. Sebelum sampai di kos, saya mampir di CK buat beli kopi, karena malam ini saya mau LEMBUR. WAKAKAKA. Di sana, saya mendapatkan promo spesial, yakni satu cup kopi plus satu snack sebut saja snic*er. Sesampainya di kos, saya taruh kedua benda itu di atas meja ruang tamu, niatnya biar sedikit dingin (kopinya). Kegob*ogan lain yang saya alami adalah: snack yang notabenenya gampang meleleh kalo terkena suhu panas itu saya letakkan tepat di atas cup coffee.

Saya tinggal bentar ke depan gang buat nge-print peta A3. Datang lagi dan nyamperin dua benda itu, sruput kopi, asik, enak lah. Yang bikin melongo adalah, snack nya sudah tidak padat lagi. Akhirnya, saya menimang-nimang snack itu dan teringat kejadian satu setengah tahun silam....

Waktu itu, sekitar Januari 2015 saya diantar Aditya belanja untuk persiapan kami mengelilingi negeri antah-berantah itu. Karena momen tersebut adalah penerbangan ke luar negeri pertama bagi saya, dan ke sekian bagi Aditya, akhirnya kami berdiskusi sejenak untuk memutuskan apa-apa yang harus dibeli. Saat itu Winda kebetulan sedang tidak bisa ikut bersama kami untuk kongkow kongkow. Kami belanja di Mir*ta Kampus dengan membawa uang 200ribu, seratus dari saya dan seratus dari Aditya.

Yang saya masukkan ke dalam keranjang belanja pada saat itu adalah permen, abon, beberapa emergency resources wkwk, susu, dan snack. Setiap pembelian apapun, saya mendiskusikannya dengan Aditya, saat itu kami hendak membeli sesuatu yang efisien. Kata Aditya, berhubung ada iklan yang bilang "Mulai lapar? Ambil sn*****", akhirnya kami membeli 15 biji wkwk.

Pada saat di pesawat, prentilan itu menghiasi totebag milik saya, berhubung perjalanan Jakarta-Bangkok yang cukup lama, ditengah perut yang keroncongan, dan pundi-pundi rupiah yang sayang untuk dibelikan makanan di dalam pesawat, akhirnya kami mengkonsumsi snack itu. Lalu apa yang terjadi? Awalnya merasa kenyang, sambil bilang "wah iya, bener ya iklannya". Selang beberapa menit kemudian, krucuk-krucuk.. perut kami berbunyi. Ya iya lah, lha wong dari Pasar Senen jam 1 malem, ke Soeta pukul 2 dan penerbangan pukul 4 pagi, dari malem belum makan.. Haha, koplaks emang. Dan ya, begitulah..

Kadang kesan pertama itu menjadi mindset, dan mungkin kita akan menyadarinya kalau sudah cukup waktu.

Akhirnya, 12 snack masih tersisa, selama lima hari kami berada di tiga negara yang berbeda, pada saat kembali ke Indonesia, snack itu masih tersisa 8. Keren kan ya? Haha.

Hikmah yang bisa dipetik adalah... *udah umum sih*: Rasakan dulu, baru simpulkan.

Kadang kita gampang melakukan justifikasi tanpa membuat banyak pertimbangan dan empati terhadap objek yang bersangkutan.

Nasehat buat saya juga sih,

Selamat Malam!
Read More

Sabtu, 01 Oktober 2016

#13 Minutes Writing: Latihan menjadi "Guru"


Sekitar tahun 2006 lalu, desa saya didatangi oleh mahasiswa-mahasiswa KKN dari salah satu universitas di Tuban. Salah satu program mereka adalah mengajari siswa-siswa SD di desa saya. Saya bertemu dengan salah satu kakak (lupa namanya). Dia sangaaat cakap mengajari saya IPA dan IPS. Dia menjelaskan kenapa ada angin, ada hujan, dan kenapa gunung di Tuban tidak meletus. Haha. sebenarnya pertanyaan itu suda sering saya lontarkan kepada Bapak waktu masih kecil. Termasuk pertanyaan konyol: Bapak, Bengawan kok bentuknya panjang dan ada airnya? Apa itu lewatan pipisnya naga ya?

Maklum, desa saya dilalui Bengawan Solo dan mengalami banjir tiap tahunnya. Puncaknya 2007, waktu itu rumah saya cuma kelihatan bagian genting nya saja. Nah, balik lagi. Kakak itu bercerita bahwa ketika kita belajar dan kemudian menyalurkan apa yang kita pelajari kepada orang lain, akan ada perasaan yang saaangaat bahagia. Sejak saat itulah saya mengubah haluan cita-cita saya, yang awalnya ingin menjadi dokter, ganti menjadi guru.

Akan saya mulai dari mana? Haha. Baiklah, sekitar dua tahun yang lalu, teman saya meminta bantuan kepada saya untuk "mengajar" adik-adik kelasnya mengenai Meteorologi dan Klimatologi (metklim) yang merupakan salah satu cabang pokok dan diujikan dalam olimpiade kebumian. Dalih awalnya hanya meminta tolong untuk menggantikan jadwal sebanyak dua kali, sekolah tersebut malah menawarkan saya untuk menjadi pengajar ekstra kurikuler Olimpiade Sains Nasional untuk ilmu kebumian disana. Satu tahun pertama, saya hanya menjadi pengajar di bidang Met-klim, karena untuk geologi umum, geomorfologi, dan hidrologi sudah dipegang kakak kelas mereka yang studi di Teknik Geologi, dan bidang astronomi-oseanografi pun juga begitu.

Tahun selanjutnya saya dihubungi lagi untuk mengajar di sana, kali ini pengajar yang tersisa tinggal dua, saya kebagian met-klim, hidrologi-oseanografi, dan geomorfologi umum. Walaa!! Semakin banyak, ya. Kebetulan jatah saya satu minggu sekali-dua kali dengan durasi dua jam di salah satu sekolah negeri terkemuka di Jogja. Di tahun ke dua ini, awal ajaran baru, saat pertama saya mengajar dan bertemu wajah baru, hanya terdapat empat orang di kelas saya. Lah saya akhirnya kaget, kok peminat ilmu kebumian tahun ini sangat sedikit, ya? Padahal sekolah ini sangat sering melahirkan medalis-medalis olimpiade sains. Oke, saya bisa menerimanya, dengan empat orang siswa.

Miggu ke dua, masih empat orang siswa, dan minggu ke tiga saya kaget karena mendapati kelas saya bertambah siswanya menjadi 12 orang. Awalnya saya mengira bahwa mereka "nyasar" atau penghuni kelas itu yang kebetulan dipinjam untuk ekskul. Ya sudah, akhirnya saya nerocos sana-sini menjelaskan tentang bentuklahan asal proses fluvial. Tak lama kemudian, banyak sekali pertanyaan terlontarkan dari wajah-wajah baru ini, mereka sangat antusias bertanya dan rasa keingintahuan mereka yang sangat tinggi sehingga memaksa saya mencari banyak referensi dan juga harus banyak membaca (lagi). Walaupun kerepotan, saya sangat senang. Artinya, mereka tertarik dengan ilmu kebumian. Beberapa menit setelah itu, saya menanyakan: "temen-temen kok jadi banyak ya, sekarang? penghuni kelas atau bagaimana ya?". Salah satu dari mereka menjawab: kami baru ikut kelas ini, Kak. saya mantuk-mantuk, dan kembali bertanya: "Lah kok ndak dari kemarin?", salah satu lainnya menjawab "kami pindahan dari beberapa bidang kak, saya dari fisika tapi mau pindah ke kebumian saja.." Jawabnya polos. Pft... Saya menggeleng juga akhirya.

Jadi ingat salah satu siswa saya tahun lalu, dia dari bidang geografi tapi ikut ke kelas saya dan membawakan saya roti, dia bilang supaya saya betah mengajar disini. Nangis akhirnya, saya terharu. Dan keterharuan saya bertambah ketika dia memenangkan lomba dan mengucapkan terima kasih.

Hari ini, saya mendapat kabar bahwa "gaji" saya bisa diambil. Nominal per bulannya sangat lumayan bahkan melebihi uang beasiswa saya. Hehe. Dan tentu, itu bisa meringankan perekonomian keluarga saya. Baiklah, nilai plus nya adalah saya mandiri. Akibat adanya "gaji" itu, saya mulai berpikir-pikir, Oh, begini ya, susah payahnya orang bekerja? Well, saya mengalami sendiri, sehingga saya berfikir, betapa beruntungnya kita, orangtua kita bekerja untuk anak-anaknya.

Sayang, ini semua bukan masalah gaji, gaji hanya merupakan suatu hadiah dari waktu yang sudah diluangkan. Mengajar dan Belajar adalah Panggilan Jiwa. Akan sangat bahagia apabila ilmu yang sudah kita pelajari dapat bermanfaat bagi orang lain, apalagi jika kita mempelajarinya dengan cinta dan menularkan kepada orang lain juga melalui cinta. Betapa indahnya berproses dan mengerjakan sesuatu yang didasari dengan rasa suka (cinta). Apabila kita mencintai suatu ilmu, kita akan kepo, pengen taau terus jadinya, dan mendalaminya, meresapinya, bukan hanya dengan logika, tapi juga dengan hati. Karena, jika dalam menuntut ilmu kita meninggalkan salah satunya, maka kebersediaan ilmu itu untuk senantiasa membersamai kita juga akan berkurang kapasitasnya.

Entah mengapa saya sangat menikmati kegiatan saya sebagai pembelajar disini. Di Kota Pelajar ini, yang jelas, bagi saya, belajar ilmu bumi adalah suatu kesenangan, dan, kesenangan itu berlipat apabila hal-hal yang sudah kita pelajari dapat diterima dan dipahami oleh orang lain, bahkan menularkan "cinta" kita mengenai keilmuan tersebut. Itu pula yang melatarbelakangi saya bergabung dengan Gerakan Indonesia Emas sebagai mentor di bidang Geografi. Sekadar cerita, saya memiliki cita-cita untuk menjadi dosen. Tapi, sebelum itu, saya pengen mengabdi melalui Indonesia Mengajar. Doakan ya! Saya pengen tau, bagaimana situasi pendidikan di Indonesia, khususnya daerah pedalaman, sekaligus bisa memberikan motivasi-motivasi bagi anak-anak di daerah tentang pentingnya memiliki cita-cita, mimpi, dan harapan. Tentang bagaimana mewujudkan itu semua melalui pengorbanan, pembelajaran, dan doa.

Semoga pendidikan di Indonesia dapat semakin berkembang, dimulai dari guru-guru yang tulus dan hebat! Oleh sebab itu, mari sama-sama bertumbuh dan menghebat untuk pendidikan Indonesia yang lebih dahsyat!

Nak, nantikan Ibu, ya!
Read More

Selasa, 27 September 2016

#13 Minutes Writing: Bersama yang Menguatkan


Selamat malam! Masih dalam rangka #13 Minutes Writing, di mana agenda ini adalah untuk menyibukkan diri dan membunuh prasangka. Haha.

Kali ini saya akan membahas mengenai teman saya, mungkin ada beberapa cerita tentang dia-yang sebelumnya juga pernah saya ceritakan. Sedikit berbeda, sekarang, teman saya ini posisinya berubah. Kalau dulu kita beda SMA dan terpaut beda provinsi, saat ini dia satu prodi dengan saya, satu kelas, dan satu organisasi.

Ketika SMA, dia sering mengingatkan tentang usaha, tentang belajar, bagaimana kita memanajemen diri dengan pendidikan, Tuhan, keluarga, teman, dan sebisa mungkin meminimalisir masalah percintaan. Saya masih ingat betul ketika dia menuliskan: Belajar giat, berdoa giat, jangan galau. Hahaha. Mungkin fase pendewasaannya lebih cepat dari saya.

Beberapa menit yang lalu saya memposting di instagram yang juga saya share ke akun facebook saya mengenai "menghilang dari kenyataan dan bagaimana supaya dikuatkan." Dalih dia nge-chat saya menanyakan berapa mata kuliah saya yang akan diujikan besok, dan menanyakan apakah saya bisa menyelesaikan proposal sebelum siang, chatnya terpotong. Dia hanya menuliskan: btw...

Ada apa? Tanyaku kemudian. Apa jawabannya?

Kekuatan bukan dilahirkan tapi diasah :)

 Hahaha, saya tertawa lebar memandangi layar laptop saya, rupanya dia barusan membaca postingan "galau" saya. Saya tau betul bahwa teman saya yang satu ini sangat cuek dan pendiam. Walaupun sesekali koplaks, tapi sepanjang 4 tahun berteman dengan saya, dia tidak pernah memberikan perhatian khusus.

Akhirnya saya sadar, dia yang selalu menemani kita bukanlah dia yang nge-chat setiap hari, dia yang makan dengan kita setiap hari, dia yang menghabiskan waktu dengan kita setiap hari. Bahkan, dengan dan dalam diam pun seseorang bisa menaruh perhatian dan kepedulian kepada kita.

Jadi, jangan  pernah merasa sendirian lagi, ya! Ada yang (akan) selalu menguatkan kok untuk orang-orang yang berusaha kuat ;)

Ditulis sebagai ucapan terima kasih untuk teman dekat saya: Noviyanti Listyaningrum.
Read More

#13 Minutes Writing: Penerimaan (1)

Suatu pagi, ada anak kecil yang berjalan sendirian, menuju ke sekolah, membawa kotak nasi berwarna hijau. Jalanan masih becek karena sisa hujan semalam. Anak kecil itu tetap riang menuju suatu bangunan yang sederhana namun baginya penuh arti, sebab di sana ada teman-temannya, ada suara tertawa, senyum yang mengembang atau bahkan keramaian-keramaian kecil ketika tiba di kantin, suara ayunan sapu, suara gemericik bunga tersiram, atau hanya tak tik tuk kapur dengan papan tulis.

Anak kecil itu terus berjalan, di depan gerbang, dia bertemu dengan teman-teman yang lain. Mereka bersama-sama masuk ke dalam kelas, menyiapkan buku dan pensil, kemudian menunggu ibu guru datang. Beberapa menit kemudian, Ibu guru akhirnya datang. "Selamat pagi anak-anak ibu, Apa kabar pagi ini?" Seperti itulah sapaan rutin setiap pagi dari sang ibu guru. Kemudian mereka dengan serentak menjawab: Selamat pagi Ibu Guru! Kabar kami luuaaarrr biasa! Sorak sorai memenuhi ruangan, sang Ibu Guru tersenyum senang, dia melewatkan beberapa hal yang membuatnya menangis tadi malam, kemarin, seminggu yang lalu, satu bulan yang lalu, dan turut bergembira melihat wajah-wajah yang juga bergembira.

Anak itu masih membawa kotak nasinya, memandang wajah temannya satu per satu ketika jam istirahat berbunyi. Sang anak kemudian berlari menuju punggung yang terus berlalu. "Ibu!" Katanya. Si Ibu guru tersebut menoleh, berputar sejenak sambil mengusap rambut sang anak. "Ada apa,sayang?"

"Buat Ibu." Ucap si anak.

Ibu guru tersebut tersenyum dan menerima kotak nasi tersebut, kemudian menanyakan kepada si anak: Terima kasih Ananda, Ibu sangat senang, siapa yang membuatkan bekal ini?

Si anak menjawab, Mamak membuatkan bekal ini buat Ibu, katanya biar ibu tidak sedih lagi. Apa yang terjadi kemudian? Si ibu itu menangis, "Ananda sudah makan siang?" tanyanya lagi kepada anak itu. Anak itu menggeleng, tanda bahwa dia belum makan.

"Yuk makan sama Ibu, Ibu suapin yaa.."

Kotak nasi itu di buka, isinya adalah nasi, sayur kangkung rebus, dan tempe goreng. Sang anak mendekat, keduanya makan bersama.

Sembari melihat ke atas, ibu guru tersebut menangis dan berdoa supaya setiap orang yang ia jumpai berbahagia. Andai kita tau apa yang terjadi pada ibu guru itu: Sekitar satu bulan yang lalu dia mengalami kecelakaan dan mengharuskannya untuk kehilangan dua kakinya.


Read More

Minggu, 25 September 2016

Refleksi: Dua Tahun menjadi Mahasiswa Geografi

Ketika membantu penelitian kakak-kakak angkatan 2012 dengan UNESCO
Tulisan ini spesial ditulis untuk adik-adik pandu saya, SIC Kelompok 7.

2014 lalu, saya dinyatakan diterima di salah satu Universitas terbaik di Indonesia, di fakultas - satu-satunya PTN yang punya -- Fakultas Geografi, di Prodi yang satu-satunya ada di Indonesia, Prodi Geografi Lingkungan, melalui jalur SNMPTN di pilihan pertama. Senang? Tentu! siapa yang tidak senang bisa belajar di tempat yang kondusif dengan pilihan studi yang disenangi? Saya merasa bersyukur ditempatkan di sini. Entah apa yang akan terjadi kedepannya, semuanya pasti sudah ada yang mengatur, kita hanya perlu berbaik sangka dan memaksimalkan proses dengan optimal.

Dua tahun yang lalu, ketika menjadi mahasiswa baru, biasa lah ya, namanya "Baru" belum mengenal seluk beluk kampus lebih lanjut, saya begitu idealis mengikuti organisasi sana-sini, tak tanggung-tanggung, 5 organisasi saya ikuti. Tetapi disini, prinsip saya sebagai akademisi dan anak Pak'e Buk'e tetep jadi yang utama. Setiap pagi saya harus bangun awal dan mengerjakan tugas maupun laporan, setiap harinya sudah disibukkan dengan perkuliahan 23 SKS lengkap dengan tugasnya, setiap malam terancam telat pulang gara-gara harus ada rapat maupun diktat yang harus diselesaikan. Begitulah kisah awal saya menjadi maba semester 1. 

Bosan? Mengeluh? Tentu saja, semua itu wajar. Di organisasi, saya belajar banyak hal, menjalin relasi dengan orang lain, menempatkan diri, tanggungjawab, mengatur waktu, dan masih banyak lagi. Disinilah saya anggap organisasi adalah ajang untuk menggodok kepribadian. Mau jadi strong atau sotong, kita sendiri yang menentukan. Nmaun saya ingat kembali apa yang menjadi tujuan saya, saya ingin menjadi seorang akademisi, maka dari itu, paham akan materi perkuliahan dan bisa melakukan penelitian adalah hal yang saya idamkan.

Pada semester ke-dua saya diizinkan untuk melakukan perjalanan ke negeri antah berantah dengan misi akademik, pada semester 3 saya mendapatkan amanah untuk menjadi salah satu duta di salah satu bidang keilmuan dari instansi yang ada di Republik Indonesia, dan pada semester 4 saya kembali mengibarkan "passion" di bidang penelitian dengan melakukan perjalanan kembali. Semester 1 ngapain, kak? Semester 1 saya hanya "nebeng" ke kakak-kakak keren 'role-model' saya. 

Bagaimana membagi itu semua? Ingatlah, waktu adalah dua mata pisau. Semua hal kembali pada kita, apa yang kita inginkan sudah sesuaikah dengan apa yang kita lakukan? Mimpi kita, besarnya apakah sama dengan usaha kita? Baiklah, ini juga bisa menjadi nasehat buat saya pribadi. Intinya, ketika kamu terjun di suatu organisasi, jika kamu merasa mau dan mampu, tidak akan ada salahnya. Ikuti saja sesuai keinginan dan kata hatimu, semakin lama kamu akan menemukan apa yang kamu cari. Ikuti apa yang menurutmu baik, dan tentu selipkan doa pada setiap menghadap pada Tuhan ya :) Heheh

Sampai saat ini, saya masih diamanahi dalam 5 organisasi, sampai saat ini, Puji Tuhan saya masih dikaruniai waktu untuk membaca.

Ketika kita berbicara tentang penguasaan mata kuliah, tentu kita tidak bisa semena-mena menyatakan "aku ga belajar, geo kan gampang". Menurut saya, Geografi merupakan ilmu yang susah, bayangkan kita harus mengkombinasikan semua unsur yang ada di permukaan bumi, menyusun kerangka pikir, merumuskan masalah, kemudian menganalisis hasil dari sebab akibat. Berbanggalah ketika menjadi bagian dari mahasiswa geografi, suatu pola pikir dari pendekatan ilmu yang tidak didapatkan dari ilmu manapun. Memang susah, tapi tidak ada salahnya kan kalau kita bisa mendalaminya? Di luar sana, ilmu geografi adalah ilmu yang sangat diminati, bahkan presiden Amerika yang keberapa itu saya lupa, pernah mengatakan bahwa, Geografi adalah Induk dari Ilmu Pengetahuan. Wuuh, kece kan?

Ketika saat ini kita sering mengeluh dan merasa ga mudeng dengan ilmu wilayah, teori Whyne, penginderaan jauh, Olah citra, manajemen lingkungan, taksonomi tanah dan lain sebagainya, percayalah, mungkin Tuhan iingin supaya kita bisa bermesra-mesraan dengan itu semua, supaya kita makin cinta. Mungkin suatu saat kita bisa menuliskan cerita indah, hasil perjuangan kita dengan itu semua.

Yakinlah, apa yang kita lakukan saat ini, tidak akan ada yang sia-sia.

"Berfikirlah untuk melakukan yang terbaik sebelum mengharapkan menjadi yang terbaik!"

Asrama Suharti V,
Salam kecup penuh Cinta

Emakmu, 
Futuha
Read More

Sabtu, 03 September 2016

Perempuan (2): Bapak Bilang, Menyakiti Wanita itu Haram Hukumnya



 "Berbuat baiklah pada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas, maka sikapilah wanita dengan baik." (HR. Al-Bukhari kitab An-Nikah No. 5186)

Selepas dhuhur dan mengingat kembali semua memori yang pernah ada, diantara kecemasan dan kerinduan. Bapak, Aku membutuhkan sosokmu, Pak. Sekarang.
Baiklah, akan saya mulai dari mana? terkait ikhwal yang satu ini, bagaimana jika saya menuliskannya dengan bercucuran airmata?
Ketahuilah, siapapun kamu, laki-laki ataupun perempuan, ada beberapa orang yang akan sangat berpengaruh penting dalam hidup kita, yang pertama dan utama yakni IBU. Apakah beliau laki-laki? Bukan, beliau perempuan. Lembut tuturnya, kasih sayang dan pengorbanan yang ia tampakkan maupun tidak, Perhatiannya kepada kita, walaupun dalam bentuk omelan dan kemarahan, tapi sesungguhnya marahnya itu tidak ada apa - apanya dibandingkan dengan semua yang ia berikan kepada kita.
Ia mungkin tidak secantik kita, tidak semolek kita, tidak se-up to date kita, dan mungkin banyak sifat yang tidak disukai baik kita maupun orang lain. 
Jika kamu, laki-laki, mencari perempuan yang sempurna, sampai matipun tidak akan pernah kamu dapatkan perempuan itu. Mau menunggu sampai apa? Sesuai standar? Standar yang bagaimana? Ketahuilah, setiap perempuan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, memang begitu fitrahnya agar dunia ini tidak monochrome, dan, ada baiknya sebelum mengorek-orek tentang kelemahan perempuan, orek-oreklah terlebih dahulu dirimu atas kelemahan itu. Apakah kelemahan itu justru disebabkan oleh dirimu dan perspektifmu sendiri?
Ada perempuan yang dikenal "kuat". Ada. Tapi sekuat-kuatnya perempuan, apabila dia tersakiti, apakah tidak akan remuk hatinya? Tangisan perempuan bukan tanda dia lemah, tapi memang begitulah Tuhan menciptakannya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Tangisan juga bisa berarti dia memulihkan diri untuk mendapatkan kekuatan baru.
Tetap, berdasarkan agama yang saya yakini, menyakiti hati saudara kita sendiri memang tidak diperbolehkan. Tapi manusia, bisa apa? Kadang yang tidak berniat menyakiti pun bisa dipandang menyakiti.
Ada yang mengatakan, sukses tidaknya seorang laki-laki bisa dilihat dari dua orang terdekatnya, yang pertama, siapa ibunya, dan yang kedua, siapa istrinya. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita (perempuan) mau belajar dan mengambil hikmah dari semua kejadian yang pernah kita alami, menuntut ilmu dari para guru, serta mempersembahkan sebaik-baiknya doa untuk kita sendiri, yang akan menjadi istri dan ibu kedepannya. Wallahu'alam
Semoga dalam perjalanan nanti, kita dipertemukan dengan orang yang kuat dan sama-sama mau untuk berjuang.












Read More

Jumat, 05 Agustus 2016

An Ambivert (?)

Menyoal tentang kepribadian orang - orang, selama ini kita hanya mengenal dua istilah, yakni introvert dan ekstrovert. Banyak psikolog yang mengatakan bahwa jenis kepribadian ini akan stabil sepanjang hidup manusia,hingga akhirnya pada sekitar tahun 1940-an para psikolog menyadari akan adanya kepribadian ke-tiga :ambivert




Menurut para psikolog, orang ambivert adalah mereka yang memiliki ciri-ciri ekstrovert dan introvert. (Sumber:http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/02/10-fakta-seputar-kepribadian-ambivert)
 Jadi saya cukup bingung, menyoal kepribadian saya sendiri. Sebenarnya saya ini ekstrovert atau introvert sih?

Banyak yang mengatakan saya ekstrovert. Ya, kalau dilihat - lihat sih benar. Tapi bagi orang yang sudah benar - benar lama mengenal, bahkan diri saya sendiri, merasakan ada sisi introvert. Trus gimana dong?

Ya sudah lah ya, biarkan orang lain melakukan penilaiannya. Toh kita lebih mengenal siapa diri kita dibanding orang lain, kan?

Saya senang berkenalan dengan orang baru, di tempat baru, bertukar fikiran, ngoceh sana - sini. Mau jalan - jalan, makan - makan, kumpul - kumpul? Ayok! Tapi yang tidak banyak orang ketahui adalah : Ada kalanya saya membutuhkan ketenangan, bercengkrama dengan secangkir kopi dan menghirup aroma mawar merah. Sebab, sehitam apapun kopi, ia selalu menggoda, kan? Dan se-apapun bentuk mawar merah, wanginya selalu harum, kan? Kesendirian bagi saya adalah kenikmatan, karena di kondisi itulah saya bisa melakukan banyak hal - yang tidak diketahui orang lain -, tapi ketika kelamaan sendiri ya akhirnya cari temen juga! Haha. Makanya jangan biarkan adek sendiri terus Bang (Candaaa :v wkwk).

Profesi sampingan saya selain menjadi mahasiswa setengah tua adalah menjadi MC acara formal dan moderator serta kadang ngajar anak - anak. Kenapa memilih hal tersebut? Jawabannya hobby! Haha. Kepribadian yang ada dalam diri kita tentu tidak bisa lepas dari lingkungan yang "membesarkan" kita hingga detik ini. Tapi ya walaupun cuma hobby kadang menghasilkan duit juga, lumayan buat hidup di Jogja. Haha 

Baiklah, bosen kalian kalau saya cerita tentang diri saya sendiri. Bisa muntah nanti, isinya pencitraan tok.
Jadi... Dilansir dari National Geographic Indonesia, 10 ciri kepribadian Ambivert adalah :
1. Populasi orang ambivert di dunia ternyata lumayan banyak, sekitar 38%. Namun mereka pada umumnya tidak menyadari jika memiliki kepribadian ini
2. Ambivert berbagi sifat dengan introvert dan ekstrovert. Mereka yang ambivert umumnya memiliki kemampuan bersosialiasi yang baik dan juga terkadang butuh waktu untuk sendiri.
3. Ambivert memiliki kepribadian yang fleksibel. Mereka bisa bolak balik dari kepribadian introvert ke ekstrovert.
4. Ambivert adalah pedagang yang hebat. Sebuah studi di Wharton School menemukan orang-orang yang memiliki kepribadian ini mampu melakukan penjualan terbaik dan membawa uang paling banyak
5. Ambivert biasanya tak yakin dengan kepribadian mereka. Hal ini yang membuat para ambivert terkadang merasa terjebak, tidak tahu kapan harus bertindak atau mencoba sesuatu yang berbeda.
6. Merasa nyaman di mana saja adalah salah satu tanda seorang ambivert. Biasanya, seorang introvert cenderung lebih senang berada di lingkungan yang tenang, sementara ekstovert lebih senang dengan suasana yang ramai dan menyenangkan. Ambivert akan alami keduanya, namun dengan waktu-waktu tertentu
7. Intuisi adalah bagian dari seorang ambivert. Tidak seperti ekstrovert yang kadang-kadang sulit untuk berhenti berbicara, ambivert secara naluriah tahu kapan harus mendengarkan atau diam
8. Mereka yang ambivert akan memiliki “emosional bilingual”. Mereka pandai membaca emosi orang lain
9. Ambivert biasanya akan bertindak unik di media sosial. Studi menemuan jika mereka yang ambivert akan lebih terbuka dalam pertemanan namun lebih tahu batas-batasan untuk kapan berbicara atau diam
10. Mereka yang ambivert dikatakan sebagai orang tua yang baik, karena mareka pintar dalam memberi dan juga menerima.

So?
via http://in5d.com


Read More

Senin, 01 Agustus 2016

Catatan Perjalanan : International Conference on Environmental and Occupational Health 2016 (Part 2)

International Conference on Environmental and Occupational Health 2016 merupakan sebuah konferensi berskala internasional dengan berbagai disiplin (ketertarikan) bidang ilmu, namun di konferensi ini fokus membahas tentang lingkungan dan keselamatan kerja. Meskipun topik utama kami bukan tentang itu (yaa mepet - mepet lah haha), kami tergabung dalam "unit chamber" soil and water pollution, karena dalam paper kami, kami mengkaji tentang hubungan DO dengan penggunaan lahan, yang ternyata hasilnya menunjukkan ada suatu linearitas namun tidak signifikan.

Kami berangkat dari Adi Sutjipto International Airport menuju Kuala Lumpur International Airport (KLIA), perjalanan sekitar 2 jam - 3 jam. Saat itu kondisi cuacanya agak nggak baik sih, beberapa kali pesawat yang membawa kami terkena goncangan, tapi no problem. Alhamdulillah. Setelah sampai di KLIA, kami segera mencari toko / konter yang menjual kartu perdana untuk paket internet yang bisa kami gunakan selama 3 hari di Malaysia. Harganya berkisar Rp.60ribu. Oiya, bagi temen2 yang hendak menukarkan uang ke beberapa negara tujuan (US, UK, SG, MY, TH, JP) bisa menukarkannya ke BPU "Mulia" alamatnya di depan Hotel Inna Garuda Jl.Malioboro, tepat di sebelah kanan dari pintu masuk Inna Garuda. Proses nya cepat kok, dan tentu aman.

Kami langsung menuju ke hotel yang sudah kami booking sebelumnya melalui Agoda, di KL, jadi, untuk menuju kesana, kami menggunakan bus, Transportation Hub KLIA2 - KL Sentral, tapi bus itu tidak bisa langsung sampai tempat tujuan, jadi dari KL Sentral kami harus menggunakan kereta monorel untuk sampai ke tempat kami. Penggunaan monorel terbukti cepat dan ampuh tanpa kemacetan, dengan jadwal tertib sedemikian rupa, monorel dapat menjadi solusi alternatif permasalahan transportasi perkotaan. Sistem yang digunakan untuk pembayarannya juga menarik, kita hanya perlu menginput data stasiun awal dan stsiun tujuan setelah itu membayar berdasarkan harga yang sudah ditentukan. Untuk memasuki kawasan monorel (setelah pembayaran). kita akan mendapat koin untuk membuka "pintu" dan bisa memasuki kereta, setelah sampai di tempat tujuan dan hendak keluar dari stasiun, kita memasukkan kembali koin tersebut. Yap! No kertas, gaada yang dibuang - buang. Ini poinnya.

Sesampainya di hotel pada pukul 14.00 kami segera beres2 dan bersiap untuk... JALAN - JALAN! Hahaha. Ya niatnya mengunjungi Petronas Towers (Twin Towers), kesananya dengan jalan kaki, niatnya cari jalan kucing gitu tapi ternyata jauh, akhirnya kami menaiki monorel (lagi). Petronas Towers, biasa aja sih (menurut saya), seperti hanya pusat perbelanjaan dan juga "kantor" beberapa pengusaha dan beberapa antek - anteknya. Hanya saja, gedung yang menjulang tinggi dan terang ini menjadi ikon bagi Malaysia. Di sekitarnya banyak bangunan tua yang sampai sekarang masih difugsikan sebagai bank atau rumah makan. Tidak jauh dari sana terdapat makanan murah (ya ibarat kayak malioboro gitu, dibilang murah karena disini bervariasi harganya, bisa pilih - pilih). Karena sudah lama sekitar 4 bulan yang lalu, saya lupa dokumentasinya saya taroh mana, biasalah B, Berantakaaan mwaahaha

Berpose ala - ala di depan Twin Towers

belakangnya ada bank, salah foto


Oiya, disana kami menjumpai "pasar malam" ketika pulang menuju hotel, bukan pasar malam kayak hiburan di ina ya, tapi sebuah pasar tradisional yang aktif di malam hari.

walhasil sekitar pukul 23.00 waktu setempat kami kembali ke hotel dan harus menyiapkan segala sesuatunya untuk presentasi besok di Putrajaya. Putrajaya merupakan kawasan pemerintahan Malaysia. Disana kotanya sangat rapi dan bersih. Banyak bangunan megah tapi (sepertinya) tidak ada tempat hiburan kecuali hanya sebuah mall di Putrajaya Complex. By the way, kita konferensinya di Hotel Marriot Putrajaya. Gewlak, gede banget, dan pelayanan yang super. Makanannya juga super.

Kami sampai disana kemudian melakukan registrasi dan mendapatkan souvenir. Ruangannya gewlak gede banget, dan di sesi itu kami mendapat beberapa pemaparan dari keynote speaker serta icebreaking dari panitia. Disana saya bertemu teman saya pada konferensi sebelumnya di Yangon, Prof (Assoc) Dr.Haliza Abdur Rahman, M.Sc yang kebetulan panitia disana. Haha, ga nyangka tapi yaa darisitu saya mulai percaya bahwa dunia ini sempit, sepanjang kita terus berjalan, banyak orang baru yang kita temui namun tidak terlepas begitu saja.



Yaa itu sebagian dokumentasi di ruang utamanya, beberapa saat itu kami melihat poster yang sudah disiapkan (poster hasil penelitian). Lalu makan siang, dan kemudian memasuki masing2 chamber untuk melaksanakan presentasi ilmiah.
Gelapsih, ini di depan ruangan presentasinya

suasana makan makan
 Nah setelah presentasi dan dag dig dug karena berbagai pertanyaan, kami makan2. suasananya seperti gambar diatas. serasa muda? jelas! haha. Kemudian kami juga berkenalan dengan beberapa orang daan, ternyata salah satunya adalah dosen farmasi UGM! So Waw! Dosen tersebut bernama Bu Tanti, beliau kaget karena ada 4 anak ingusan dari UGM yang juga ikut mempresentasikan penelitian. (Bu Tanti --> Kerudung Biru). Setelah berbincang lama, akhirnya kami berpisah dan berakhir sudah konferensi hari ini.

Kami beranjak menuju Langit Langi Hotel di kawasan Bangi. Dekat Bandara, karena pukul 06.00 besok kami harus ke Bandara untuk pulang (mengingat beberapa praktikum dan inhal yang akan segera menyerang). Setibanya di airport ternyata jadwal penerbangan Bu Tanti samaan. Ketika itu saya menjumpai ketika beliau makan, dan yaa.. rejeki anak soleh, kami berempat ditraktir. Terima kasih banyak Ibu.. semoga kebaikannya kembali. Aamiin.

Akhirnya pukul 11.00 kami tiba di Adi Sutjipto International Airport Yogyakarta. Saya bergegas pulang dengan TJ karena pukul 15.00 ada praktikum Kimia Organik dan laporannya belum saya kerjakan, Hahahaa. Pukul 13.00 saya sampai kosan dan voila! Welcome dunia normal~

Catatan perjalanan ini hanya sebagian dari yang saya alami. Semuaaamua nya tentu berkesan, dan, pasti akan ada cerita - cerita baru lainnya :)

Beranilah mencoba, Teruslah Belajar
Baiklah... Saya tutup tulisan kali ini, sebentar lagi jadwal saya meminum obat karena beberapa hari ini saya teler. Dan, dokter memaksa saya beristirahat total. Haha.

Di meja seperti biasa, ada sedikit hiasan berbagai macam obat dari RS.Panti Rapih
Yogyakarta, 1 Agustus 2016

^^ 
Read More

Senin, 04 Juli 2016

Dua Tahun Berlalu : GSC (Part 1)

        Ketika awal masuk kuliah, terdapat banyak sekali penawaran UKM. Bahkan, ketika baru pertama mendapat jas almamater, di depan gelanggang mahasiswa sudah banyak brosur bertebaran. Ketika itu pula, saya berfikir mengenai UKM apa yang hendak saya ikuti. Dulu sempat bisa memainkan piano, sehingga saya berfikir untuk mendaftar Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) tapi ya... Tidak jadi, kemampuan saya tidak sebagus dulu - waktu masih kecil, masih ada piano di rumah. Hahaha. Saya kembali mendapatkan brosur, dari beberapa UKM penelitian dan pengkajian. Sempat tertarik, tapi saya memutar otak saya kembali. Untuk UKM penelitian, haruskah saya ikut di univ atau di fakultas? Mengingat di Fakultas juga ada. Takutnya nanti kalau ikut yang di univ, saya tidak bisa membagi waktu dengan baik, menimbang kesibukan akademik di fakultas dan memang, saya (dari awal masuk kuliah) berniat menggeluti bidang akademik. 
       Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti salah satu UKM penelitian di fakultas, yakni Geography Study Club. Kesan pertama yang terbesit saat itu adalah : Apaan ini ya GSC, kok jarang kedengeran? Ga ada eyecatching nya sama sekali... Mana karya - karya nya kok ga ada yang dipajang? Ya. Kesan yang terlalu buruk selevel pendeskripsian pertama mengenai UKM itu. Sampai akhirnya saya mengikuti beberapa kegiatan SIC (Small Intensive Class) yakni kegiatan "orientasi awal" bagi penghuni baru sekre orange itu. Kegiatan SIC serasa sangat membosankan, disuruh bikin esai, nulis mimpi, kunjungan ke sekre UKM penelitian fakultas tetangga, dan beberapa teman - temannya. Akhirnya dari 6x SIC yang diwajibkan, saya sering membolos. Hitungannya saya membolos sebanyak 3 kali. Padahal kelompok SIC saya itu keren - keren. Ada siapa saja? Muhammad Fathan Mubin, Irvan Agung Kurniawan, Amandita Ainur, Andiyanti Putri, Kurniawan Budi, Arief Wicaksono, Dita Wulandari, Kharisma Suci, dan Lina Indriyani dengan pemandu Mba Dita Pebrianti Wratsongko dan Mba Desy Aprilia Sari.
       Suatu ketika, dalam agenda 'pembolosan' saya, saya mlipir ke University Club, ada acara : Indonesia-Japan Joint Scientific Symposium. Akan ada beberapa presentasi ilmiah disana, dan saya mau 'nonton'! Soalnya salah satu panelisnya adalah dosen yang sangat saya kagumi ketika pertama menjadi Maba : Prof.Muh Aris Marfai. Saya sudah sampai di sana. Mampus! Ga ada nama teman yang saya kenal - yang hadir dalam acara tersebut. Kira - kira itu diselenggarakan bulan Oktober 2014. Masih cupu - cupu nya, ga kenal banyak orang. Saya datang, dan melongo sebentar. Hm... Kira - kira saya disini mau gimana ya? Ah yasudah lah PD aja. Pikir saya seperti itu. Hingga ada seseorang yang datang. Saya merasa familiar. Oh ya, mas yang mengisi salah satu acara Ramadhan di Fakultas beberapa minggu yang lalu, mantan Presiden GSC juga. Tapi saya lupa namanya. Mas itu mendekat di sebuah stand gama press - dan saya juga disitu. Trus, ya karena "ah bodo amat", saya nyeletus dan bertanya... "Mas mau ikut acara ini?" (dan sejujurnya pada saat itu saya merasa geblek se geblek gebleknya) trus mas itu menjawab "iya, eh, kok rasanya pernah ketemu ya? Kemarin ikut acaranya JMG itu bukan?" "Weehh.. Iya, Hehe. Saya ngintit ya mas, soalnya saya bingung harus ngapain dan sama siapa." "iya iya, yuk". Walhasil saya mengikuti mas itu, ikut absensi, masuk ke ruangan, duduk di sampingnya (duh pokoknya udah kayak bocahnya beliau banget) tapi belum mengenalkan diri.
          Ya, masih berprinsip "ah bodo amat" saya bertanya namanya, Mas itu adalah Chaidir Arsyan Adlan, Presiden GSC 2013, Singkat, saya memperkenalkan diri saya dan bilang kalau saya hari iini membolos agendanya GSC (SIC). Di sela mendengarkan presentasi, kami sedikit - banyak mengobrol dan bertukar fikiran. Kesan saya ketika itu adalah : WOW. WOW. WOW. Saya suka cara pemikirannya! Dan btw mas, sampe saat ini, kalau saya lagi di ruang akademik FGE, beberapa staff masih sering ngomongin mas loo.. Dibahas kemana - mana. Haha, kayanya melegenda banget. Sejak saat itu, entah kenapa, saya penasaran dengan anak - anak GSC yang lain. 
               Berhubung saya di jurusan Geografi Lingkungan, otomatis saya lebih dekat dengan kakak - kakak angkatan di GEL, saya mengenal dengan baik sosok - sosok yang menurut saya pantas dijadikan role model. Siapa saja? Kalau baca ini jangan ke-GR-an ya mas - mas mbak - mbak sekalian :p wkwkk. Setelah kenal lama akhirnya jati diri kalian terungkap juga! ahahaha *evil mode*, ooke, mereka adalah : Mas Yoesep Budianto, Mas Rizal Faozi Malik, Mas Indra Agus Riyanto, Mba Isna Pujiastuti, dan Mba Tety Widyaningrum (PW). Saya suka sudut pandang mereka, berdiskusi dengan mereka, bertukar pengalaman dan tetekbengeknya, kebetulan mereka juga aktif di beberapa event GSC sehingga makin penasaranlah saya dengan organisasi itu.
           Suatu hari, saya 'melipir' ke sekre, disana ada Mba Heni Ermawati, Mba Ratri Ma'rifatun Nisaa, Mba Warastri Laksmiasri, dan beberapa mas - mas yangg tidak saya ketahui namanya. (Dan akhirnya tau kalau mereka adalah Mas Reza Kamarullah, Mas Dominikus Yoeli Wilson, dan Mas Azzadiva Ravi Sawungrana. Keseluruhannya adalah 'pembesar' GSC kala itu). Saya bertanya - tanya mengenai UKM ini, bertanya mengenai buku - buku yang dijual, dan pokoknya saya menjadi makhluk Kepo terhadap UKM ini. Saya banyak berdiskusi dengan mereka dan memantapkan niat untuk menjadi bagian dari keluarga besar GSC, 
             Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak membolos SIC lagi. Hehehe. Saya dengan kelompok SIC saya sering ketemuan, bertukar pendapat, berbagi pemikiran dan itu sangat asik! Ujung - ujungnya, saya jatuh hati dengan GSC karena orang - orang didalamnya, dengan opini dan pemikiran yang mereka miliki.Pemikiran 'unik' yang mungkin tidak akan saya dapatkan di sekre lain. Orang - orang yang telah memutuskan menajadi bagian dari GSC, berarti mereka adalah orang - orang yang berani mencampuradukkan pemikiran mereka, dan juga karakter, terutama integritas yang tertanam kuat. (ya walaupun tidak semua anal GSC punya integritas yang tinggi wkwk. FYI, akhirnya 'integritas' dijadikan kata kunci sekaligus tema utama PPSMB Geospace tahun ini. Wakakakaka *evilmode* *akhirnya diplomasi gue lancar*).
             Pada sekitar bulan November, diadakan open recruitment pengurus GSC, saya bingung mendaftar apa, sudah diambil formulirnya, akhirnya saya mengisi 2 pilihan, pilihan pertama PSDM, dan pilihan kedua PB (Pengembangan Bahasa). Tapi saya rasa, saya ingin berkontribusi tanpa adanya sekat 'divisi' disini. Akhirnya, saya memutuskan 'mengolor' waktu wawancara saya, saya bertemu Mas Azza waktu itu, beliau tanya "Futuha daftar apa? sudah wawancara?" dan jawaban saya "Belum mas, hehe, PB dan PSDM. Tapi saya mau membersamai GSC saja mas, apapun posisi dan jabatannya, itu tidak penting." Beberapa malam setelah itu, ada telfon dari nomor Mas Azza, tapi yang nelpon cewek, bingung lah saya, ternyata itu Mba Heni, yang menanyakan apakah saya sudah jadi wawancara? saya jawab belum, dan pada saat itu saya ditawari menjadi sekretaris GSC, antara bingung dan senang, akhirnya saya mengiyakan (walaupun track record saya itu umumnya jadi bendahara, karena galak sih, jadi disuruh malakin orang hahaha). Okelah, walhasil waktu itu saya diberi amanah sebagai sekretaris 3 GSC. 
                  Waktu berjalan cepat, saya dibersamai PH yang lain, yang juga luar biasa : Mas Azzadiva sebagai ketua, Mas Rifqi Fathurrahman sebagai Sekjen, Mba Riesa dan Mba Arina (mamah sekretaris), Mba Heni, Mba Dita dan Novela (trio cantek bendahara), Mba Nur Satiti dan mas Muchsin (duo kadiv riset), Mas Dominikus (Jaringan), Mas Reza (PSDM), Mas Adhera (PB), dan Mba Zealandia Sarah (Media). Nama - nama itu adalah pengurus harian GSC periode 2014/2015. 
                   Hahaha, bosen ya bacanya? kayak teksbook panjang banget dan bikin mabok? wkwk its okay, Tulisan ini akan saya lanjutkan, mungkin ada beberapa part lagi. Wkwk. Sebelum mabok lebih lanjut, saya akhiri dulu part 1. Selamat ber-oleng ria membaca tulisan - tulisan saya. Haha. Kongslet. 

Read More

Jumat, 15 April 2016

Catatan Perjalanan : Permulaan, International Conference on Environmental and Occupational Health 2016

The 2nd International Conference on Environmental and Occupational Health 2016
---
"Mbak Fut, malam ini deadline abstract submission ICEOH" - SMS dari Sani melayang pukul 18.00 WIB pada tanggal 6 Januari 2016

Glrrrr... Hssshhh..
"ICEOH yang mana San?"
"Yang di MY itu.. yang tentang lingkungan dan kesehatan."

Matiiiii!!! Data belum diolaah!!

"San, mau lembur di kosku apa di kosmu? kalo di kos ku, kamu nginep nanti 25ribumu melayang. Hm, yaudah di kos mu aja gimana? WiFi kenceng ga?"
"Yaudah yuk mbak di kos ku aja..."
"Irfani diajak sekalian"
Beberapa lama kemudian, Si Grandong (re : Irfani) muncul didepan pintu dan membawa bantal zebranya.

Kamar berukuran + / - 3 x 3 itu menjadi saksi 3 manusia kalong yang lembur hingga pukul 1 dini hari, karena deadlinnya adalah jam 12 GMT +8. Hahahaha. Sementara itu, Satu anggota tim kami yang lain adalah Priyambudi Hari (re : Hari) kami hanya berdiskusi via online karena ya terpisah tempat tinggal (yakali dia ikutan lembur di kosan Sani).

Kami membawa tema geografi, kali ini ilmu lingkungan yang merambah ke keilmuan toksikologi. Why? Ya karena geografi itu pendekatan keilmuannya kompleks kan? Berarti memungkinkan lah untuk disinergikan dengan keilmuan lain, baik kimia murni, maupun kesehatan (lingkup toksikologi). Pstt.. jangan bilang ini karena pelampiasanku yang 'batal' mengambil prodi KU hasil jalur PBU (Penelusuran Bibit Unggul) UGM 2014 kemaren dan lebih memilih prodi GEL hasil dari jalur SNMPTN. Hahahaah -______-"

Data yang sudah ada merupakan data temporal dari September 2015 - Desember 2015, yakni data kualitas air Embung Tambakboyo yang terletak di Ds. Condongcatur, Sleman. Kami mengkomparasikannya dengan cara olah data secara statistik untuk dilihat kecenderungan data dan akumulasi nilai benarnya. Sehingga, berdasarkan "pemikiran" koplaks kami, kami hanya menggunakan DO (Dissolved Oxygen) untuk keperluan penelitian kami. Mengapa DO? DO adalah salah satu indikator terhadap pencemaran di suatu perairan, nah si DO ini juga akan mengambil peran penting, doi menentukan apakah biota dan mikroorganisme dapat hidup baik di perairan itu ataukah tidak.

Kemudian, si DO ini kami analisis secara keruangan dengan bantuan participatory random sampling dan citra satelit, barulah kami menarik kesimpulan hasil dari analisis keterkaitan penggunaan lahan terhadap DO di Embung Tambakboyo. Sederhana, kan? hihi, tapi detil.
salah satu view embung Tambakboyo

Nah, masalah yang dihadapi malam itu sebenernya adalah : malam dalam minggu ujian akhir semester 3. Besoknya mineralogi dan petrografi. Its okay, akhirnya kami terdampar menyebar, ada yang di kasur, ada yang di kursi, dan ada yang di lantai. sementara itu, translator kami (re : Hari) menunggui hingga selesai submit. Dia terus memantau kami via line. setelah tidak ada respon, akirnya dia tidur juga (katanya) wwkkwk.

Beberapa waktu kemudian, sekitar 1 Februari 2016, abstract kami dinyatakan lolos dan disuruh untuk submit full paper. Walhasil, kami melakukan tinjauan ulang selama 3 kali di lokasi (Embung) untuk memastikan data, mengkorelasikan, menananananina kan, dsb dsb. Kami menyadari bahwa kami masih pemula, oleh sebab itu, literatur sangat kami butuhkan. Kami mencari berbagai macam jurnal, buku, maupun artikel ilmiah (yang umumnya berbahasa asing) sampe mabok -_-" dan Voila! jadilah full paper kami ^_^ dan beberapa minggu setelah itu, dag dig dug hatikuu.. saat ku berkenalan denganmu~ *abaikan, cuma syair lagu*, terdapat email masuk bahwa paper kami lolos dan berhak untuk dipresentasikan dalam kegiatan The International Conference on Environmental and Occupational Health 2016. ICEOH merupakan suatu konferensi yang diadakan oleh Kementerian Kesihatan dan Keselamatan Kerja Malaysia bekerjasama dengan Department of Environmental Health, Faculty of Medicine, Universiti Putra Malaysia (UPM). Member dari ICEOH ini tergabung dalam Environmental and Occupational Health Society. Acaranya berlangsung pada 11 - 13 April di Hotel Marriot Putrajaya, Malaysia.

Oiya, Cerita ini akan ada lanjutannya :) Ditunggu saja part 2 nya ^^

Kami juga ingin berterima kasih kepada Dr. Margaretha Widyastuti, MT dan Prof.Dr. Sudarmadji, M.Eng yang telah membimbing, memberikan kritik dan saran. Tidak lupa untuk Laboratorium Kualitas Air dan Klimatologi Lingkungan yang sudah banyak membantu kami dalam memperoleh data dan menganalisis data, Warga sekitar Embung Tambakboyo yang terlibat dalam participatory research dan lain - lain yang mendukung "terciptanya" paper kami ^^

Selamat pagi! Hv a nice day :)
Read More

Jumat, 01 April 2016

Selamat Menikmati Hujan (Sebelum Musim Berganti)

... Aku ingin kau menerima seluruh hatiku, aku ingin kau mengerti di jiwaku hanya kamu... - Yovie and Nuno, Tanpa Cinta (https://www.youtube.com/watch?v=w5-UQgNcY0I)
Sayup terasa di kuping, apa karena efek kemarin, saat 'nyekre' di BEM, ada salah satu teman yang menyanyikan lagu ini? Hmm, entahlah. Tapi beneran lagunya bikin baper astahgfirullah :"")


Tulisan Baper Pasca UTS

---------
Suara serangga musim kemarau sudah mulai terdengar merdu. Terbawa angin, frekuensinya semakin keras, dedaunan mulai menguning, pohon - pohon yang memiliki bunga... beberapa diantaranya mengeluarkan serbuksari dan beterbangan terbawa angin.

Tanda - tanda pergantian musim mulai terasa!

Maka, entah masih akan kamu jumpai hujan ataukah tidak, selama 6 bulan nanti, kamu akan merindukannya, kamu akan merindukan bagaimana bunyi rintik gerimis pertama yang mengenai genting rumahmu, kamu akan merindukan aroma khasnya, kamu akan merindukan bagaimana petir menyambar dengan suara khasnya, kamu mulai merindukan sepoi angin pembawa aroma hujan, atau bahkan, kamu akan merindukan momen disaat kamu sedang menikmati suasana bersama salah satu orang yang kamu sayangi ketika hujan, meminum teh bersama, mungkin?

Namun kabar buruknya, selama 6 bulan kedepan lagi, cacing - cacing enggan menampakkan dirinya ke permukaan tanah, beberapa sawah ada yang mengering, Pak Kebun terpaksa membayar uang berlebih untuk ongkos irigasi, kambing yang digembalakan di tanah lapang bisa kehausan jika majikannya tak segera memberinya minum disaat hari yang terik.

Maka, sebelum hujan berakhir dan berganti kemarau, ada baiknya kamu menikmati momen indahnya. Menghirup suasananya lekat - lekat, dan berjanji bahwa kalian akan dipertemukan kembali, agar cacing - cacing bisa tersenyum diatas permukaan tanah, agar sawah mulai terairi, agar Pak Kebun tidak membayar ongkos lebih untuk biaya irigasi, dan agar kambing tidak banyak mengembek karena terik serta kehausan.

Hujan, berjanjilah. Kamu akan datang, dan Matahari, tetap bersinar, ya! Biar nanti bisa ada pelangi :)
Selamat menunggu saja.
#ea #ups #eh #yaudahsih

Sambil terbayang - bayang tatapan matanya beberapa hari yang lalu,
Yogyakarta
Kota yang (katanya) romantis.

Salam Baper,

Udah, jangan kebawa perasaannya, ntar kalo ga balik gimana? =___="

Read More

Senin, 28 Maret 2016

"Terserah"

Sepertinya sangat cocok digunakan untuk para kawula yang sudah menyerah, ya?
Hm.

Suatu hari, ketika kita menawari seseorang untuk makan bersama, dan kita menanyakan "mau makan apa?" | Terserah.
Ketika ada tugas yang harus direvisi, dan kita menanyakan "Tugasnya mau digimanakan?" | Terserah.
Ketika kita mengadakan janji, misal untuk menyelesaikan makalah dan lain sebagainya, dan kita menanyakan "Enaknya mau kerjain kapan? di mana?" | Terserah

Atau,
Ketika kita sudah berusaha sepenuh hati, bekerja keras, mengeluarkan segenap upaya, dan hasil belum kunjung kelihatan | Terserah Tuhan, lah!

Kata 'terserah' sepertinya memang identik dengan suatu 'penyerahan'. Betul?
Dapat diartikan sebagai kita yang acuh, atau bisa juga karena kita tidak memiliki daya maupun opsi lain.
Namun demikian, sekali lagi, setiap tindakan mengandung konsekuensi, dan konsekuensi tidak lepas dari tanggung jawab.

choosing to follow your heart can be a rational act as long as you have weighed up every option equally.

Senin pagi.
Hari pertama UTS.
Semoga lancar dan diberi kemudahan, ya! Aamiin.

#SelfReminder
Dengan segelas air putih di meja dan cokelat almond pemberian ayahnya yang sudah habis dimakan.

Read More

Jumat, 18 Maret 2016

Perempuan yang Mempekerjakan Perempuan

Selamat Pagi :)

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti kelas perkuliahan PSDM (Pengembangan Sumberdaya Manusia / Human Resources Development). Saya sengaja mengambil mata kuliah itu, karena saya rsa itu penting (kalau saja, nanti, saya bisa bikin suatu Rumah Baca dan memerlukan banyak staff. wkwk aamiin) disamping mata kuliah tersebut diampu oleh dosen yang menyenangkan dan very open minded. 

Hari itu kami belajar mengenai 3 tahapan penting dalam pembangunan sumberdaya manusia, antara lain : Pengendalian (bagaimana supply dapat dikendalikan); Pengembangan (bagaimana potensi yang ada dapat dikembangkan); serta Pemanfaatan (bagaimana sumberdaya yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal).

Kami masih membahas satu topik pada 100 menit itu, yakni tentang pengendalian penduduk. Tujuan dari pengendalian penduduk itu adalah mengendalikan kuantitas (baik jumlah maupun komposisi) untuk mempermudah pengembangan (kualitas) dalam rangka pemanfaatan sumberdaya manusia. Nah, kebetulan saat itu kita berfokus mengenai fertilitas (kelahiran) dimana fertilitas sendiri merupakan suatu intermediet variabel. Terdapat 11 variabel yang terbagi menjadi 3, yakni : intercost (hubungan seks); konsepsi (saat pembuahan berlangsung dan berhasil tumbuh di rahim ibu); dan gestasi (berupa outcome/kelahiran).

Tiba - tiba secara tidak langsung dosen menyinggung tentang teori Schultz (education, training, and investments in health open up opportunities and choices that otherwise would be unavailable to many individuals) dari teori itu, bisa kita kembangkan 3 dimensi pengukuran human development, yakni pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Entah karena angin apa, diskusi kami menjadi "belok". Kami menyinggung mengenai perempuan; Salah satu program pengendalian penduduk adalah dengan mengendalikan fertilitas, dan pengendalian fertilitas salah satunya dapat dilakukan dengan pendidikan, utamanya woman educated. Perempuan yang cenderung berpendidikan, umumnya akan menunda usia perkawinan, setidaknya diatas usia 20 - 22 tahun, berbeda dengan 20 - beberapa puluh tahun sebelumnya dimana perempuan menikah muda seolah menjadi tradisi.

Jika usia perkawinan ditunda, otomatis masa subur akan berkurang. Misal : seorang perempuan mengalami menstruasi pertama pada usianya yang ke-12, kemungkinan dia akan menopause sekitar usia 49 - 52 tahun. berarti ada sekiitar 40 tahun masa suburnya. Jika perempuan itu menikah di usia yang ke-18, itu artinya terdapat 36 tahun masa subur, nah jika perempuan tidak mampu mengendalikan waktu kelahiran, maka dimungkinkan potensi memiliki anak dalam jumlah yang banyak akan besar. Berbeda dengan perempuan yang menikah di usia ke 24 atau 25 (memang idealnya secara psikologis dan biologis adalah sekitar usia segitu ._.), maka dia akan memiliki masa subur pasca pernikahan adalah 27 tahun. Dan, perencanaan kehamilan minimal dapat dilakukan dengan baik.

Masalahnya disini yang muncul adalah, ketika perempuan berpendidikan, terdapat suatu kecenderungan perempuan akan lebih condong ke sektor publik ketimbang sektor domestik. Beberapa solusi yang ditawarkan adalah dengan perempuan tersebut tetap berada di sektor publik, bekerja, dan mendapatkan uang, sementara dia akan mempekerjakan perempuan lain untuk mengurusi sektor domestik. Hm, bahasa gampangnya gini : misal ibu Ngatiyem bekerja di kantor X dengan waktu kerja pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 16.00 WIB, apa ada waktu untuk mengurus rumah, merawat suami (hahaahha), dan menemani anak? Sangat sulit dilakukan kecuali bagi wanita yang memang bagus dalam manajemen waktu (itupun saya rasa masih sangat keteteran, karena saya melihat ibu saya yang seorang ibu rumah tangga, dan tetep riweuh ngurusin adek dan bapak... ya kan saya jarang di rumah sejak beberapa tahun yang lalu). Nah solusinya? Bu Ngatiyem akan mempekerjakan Bu Sarmini untuk mengurusi "urusan rumah".

Bagaimana dengan pendidikan anak? Jika masih kecil? Nah, inilah yang menjadi risikonya. (tapi saya cukup takut membahas tentang pendidikan anak usia dini, belum ada dasar ilmu ._. yaudah, besok belajar)

Hal ini bisa kita sangkutpautkan dengan TKW yang bekerja di luar negeri, mereka bekerja untuk wanita yang bekerja dengan penghasilan yang lebih tinggi dan mereka digaji lebih rendah. Itulah sebabnya, pahlawan devisa kita ini tidak lepas dari antek - antek politis, bau - bau makelar, apapun lah itu, yang jelas, ketika membahas masalah perempuan dan hak - haknya, saya menjadi sangat sensitif. Semoga para perempuan - perempuan tangguh yang berjuang di Negara sana bisa kuat dan selalu dalam lindungan Tuhan. Aamiin.

Nah, nanti itu siklusnya juga bakal muter - muter, serius ._.

Menjadi perempuan berpendidikan, itu penting. sangat penting, ya walaupun bukan (in case) dalam akademik. Tapi tujuan pendidikan kan "mencari kebenaran", kita belajar dari apapun yang telah kita lakukan, kita ambil kesimpulan dan pengalaman, dari situ pola pikir kita akan terasah.

Saya jadi ingat guyonan teman saya, Irvan Agung. Dia menanyakan pada saya :
"Fut, kalau anak cerdas itu berarti dari mana nya yang cerdas?"
"ibunya, dong"
"kalau anaknya bodoh?"
"ibunya, bukan?"
"bukan!!"
"lhah terus?"
"ayahnya laah..."
"kok?"
"yaa ayahnya yang gobl*ok, tidak bisa mencari ibu yang cerdas."

Ngikik sumpaah ._.
Nah, memilih untuk berada di sektor publik maupun sektor domestik adalah hak masing - masing perempuan. Tapi ya itu, semua keputusan pasti mengandung risiko, kan? Yasudah, tanggung jawab adalah bagian dari konsekuensi :"))

#PagiRandom



Read More

Selasa, 15 Maret 2016

Tentang Menyakiti dan Disakiti

Pernah nonton film "The Imitation Game?" Film tersebut menceritakan tentang bagaimana kerja keras dan usaha Alan Turing dalam memecahkan Enigma.Alan Turing adalah cryptanalyst legendaris terbaik di dunia, ahli matematika, sebagai dosen di University of Cambridge serta pemecah kode terbaik di dunia. Film yang disuteradari oleh Morten Tyldum ini pernah mendapat nominasi Academy Award untuk kategori film terbaik.

Atau pernah nonton film "San Andreas"? Sebuah film yang diluncurkan pada 2015 lalu dan menyita perhatian publik. Film ini disuteradarai oleh Brad Peyton dengan penggubah musik yang luar biasa, Andrew Lockington. Film Sains-Fiksi tersebut menceritakan bagaimana sebuah keluarga yang saling mencari dan menyelamatkan diri dari akibat adanya gempa besar yang mengguncang patahan San Andreas dan berujung pada tsunami. Ya walaupun secara teoritik ilmu pengetahuan, film ini terlalu berlebihan. Hehe.

Dalam film The Imitation Game, ada suatu klise dimana Alan Turing bertemu dengan seorang gadis yang cerdas, pada saat itu Joan Clarke, nama gadis tersebut, terlambat untuk mengikuti seleksi agen rahasia sebuah stasiun radio melalui jalur seleksi teka - teki silang. Waktu yang diberikan adalah sebanyak 6 menit dan Joan berhasil menyelesaikan pertanyaan - pertanyaan itu dalam waktu 5 menit 13 detik, semua lawannya adalah pria, dan Joan, yang paling cepat.

Turing dan Joan bekerja di sebuah stasiun radio untuk memecahkan suatu kode rahasia yang digunakan oleh pasukan Jerman pada saat perang kala itu dengan Inggris. Hitler begitu epik dalam merancang kode sehingga sangat sulit untuk dipecahkan. Bekerjalah Turing dan kawan - kawannya untuk menguak informasi dari kode - kode tersebut. Awalnya, Turing bukanlah team leader, namun dia ingin merancang suatu mesin yang kiranya bisa digunakan secara efektif dan efisien dalam pembacaan Enigma. Hingga suatu hari, ketika rancangannya disetujui oleh Pemerintah Britania Raya, Turing menjadi team leader dan kemudian memecat dua anggotanya (salah satu anggota tersebut adalah ketua saat sebelum Turing menjadi ketua). 2 anggota tersebut marah, protes, kesal, dan bahkan, teman - teman satu tim dengan Turing menganggap bahwa Turing tidak memiliki rasa kemanusiaan. Hampir setiap hari ruang kerja berasa dingin walaupun terdapat 3 anggota dari project itu.

Christoper, nama mesin itu, pernah mengalami kegagalan pada saat pengujian pertama. Anggota Turing marah besar dan menganggap Turing tak becus. Hingga akhirnya terjadilah baku hantam, Namun semenjak keberadaan Joan di tim itu, Turing bekerja sewajarnya, hingga ketekunannya berbuah manis : Christoper dapat memecahkan enigma. Suatu hari, Turing menemui Joan dan Joan mengatakan bahwa ia harus pulang ke orang tuanya dan menikah. Turing menahannya, dan mengatakan bahwa dia bahagia bersama Joan disini. Walaupun, keduanya adalah sosok sosok karirisme *abaikan istilah hehe*. Turing mengajak Joan untuk menikah, akhirnya dipinanglah Joan dengan sebuah cincin yang terbuat dari filamen kabel.

Suatu ketika, Turing mengatakan bahwa dia membatalkan rencana pernikahan, sebabnya adalah, Turing takut kalau tidak bisa mencintai Joan dengan selayaknya, karena dia sendiri adalah seorang homoseksual. Joan awalnya dapat menerima hal tersebut dengan statemen bahwa "cinta kita adalah cinta yang sewajarnya. Aku tetap menjadi aku, dan kamu tetap menjadi kamu." namun Turing tidak bisa. Kecewalah Joan, dia menampar Turing lalu meninggalkannya.

Beberapa tahun kemudian, Joan datang berkunjung ke kediaman Turing, saat itu ternyata dia telah bersuami dengan seorang tentara. Joan meminta Turing untuk kembali membuka mata terhadap dunia luar, hingga akhirnya, Turing mati bunuh diri setahun setelah itu. 4 tahun setelah Turing mati, Inggris membunuh hampir 4000 pasangan homoseksual karena dianggap menyalahi norma. Dan larangan itu dihapuskan (kira - kira, kalau tidak salah) ketika tahun 2013.

Berbeda dengan San Andreas yang lebih menceritakan tentang kekeluargaan, Ray dan Emma, orang tua dari Blarke. Keduanya mengalami permasalahan rumahtangga dan Emma memiliki pacar baru. Suatu hari, Pacar Emma mengajak Blake untuk mengunjungi suatu pameran bisnis di California. Namun pada saat itu terjadilah gempa dan Tsunami, Pacar Emma tidak peduli dengan keselamatan Blake justru dia meninggalkan Blake dan melarikan diri untuk mencari perlindungan. Beruntunglah Blake ditolong oleh seorang laki - laki yang baru dikenalnya, mereka berusaha menyelamatkan diri. Sementara itu, Emma yang saat itu sedang berada dengan koleganya di tempat yang juga mengalami gempa, tidak bisa berbuat banyak. Ray, seorang tim kebencaaan US, mendengar kabar bahwa tempat dimana anak dan istri mereka berada sedang dalam bahaya. secepat mungkin Ray menghampiri istrinya dengan helikopter dan menjemputnya, lalu bersama - sama mencari Blake dan mereka akhirnya bersatu kembali.

Ya, kita tidak akan pernah bisa memaksa orang lain untuk tidak menyakiti, dan bahkan kita, belum tentu bisa mencegah diri untuk tidak menyakiti.

Cara terbaik adalah : Menerima. Kemudian memaafkan. Baik diri sendiri maupun orang lain.

Kalau kata Mas Duta "Ku harus bisa, bisa berlapang dada, ku harus bisa, bisa ambil hikmahnya".

Segala sesuatu dalam hidup ini layaknya hukum newton iii : aksi - reaksi, sebab akibat.

Selamat Malam!

Tertanda,
Gadis dengan Chococips di meja belajarnya.

Yogyakarta. 15.03.16
#self.reminder
Read More

Jumat, 11 Maret 2016

Random : Jumat Pagi bersama Hujan

Kompilasi Jumat pagi yang menyenangkan : chatting vertikal dan horizontal, kopi, buku, musik ilahiah dan, pop-klasik. Menyenangkan. Sungguh.

Bagaimana aku akan memulai ceritaku? Sementara draft dongeng menumpuk di komputer, memang sih, animatornya sudah dapat. Dan salah satu animatornya pula adalah aku. Walaupun harus berjubel buat belajar sketchbox (bukan sketch book ya, beda), tapi yaa... hmm. Yasudahlah! Haha.

Aku akan memulainya, ini terlepas dari Survey Tanah, Geomorfologi, dan lain - lainnya. Nanti kalau sudah "siap". In case, sudah menemukan titik terang dari semua konsep ke-geografi-an yang sudah sejak 7 tahun ku bangun (dari kelas 2 SMP, semenjak nyemplung dari OSN Fisika ke OSN IPS. Apalah itu, abaikan), aku akan mengisi web site/blog/youtub dengan tema bener - bener pure geografi. Tapi sasaranku disini bukan cuma orang dewasa, melainkan utamanya adalah anak - anak. Thats why, doakan ya!

Apa ya.. Ceritanya sekarang, saat menulis ini, aku sedang rehat sejenak, tepatnya dari 2 jam belajar mengklasifikasikan tanah pakai sistem USDA, wah, cukup ribet. Dari mulai ordo hingga subgroup, itupun, bagi yang belum terbiasa dan ingin akurat, harus berkali - kali baca biar paham, biar paham data juga supaya bisa mengklasifikasikan. And somehow. ini semua pakai text berbahasa Inggris, Nak. Kamu harus belajar bahasa. Catat itu!

Kopiku.
Baru matang dari penggodokannya. Kopi Robusta mix Arabica. rasanya agak aneh memang, ada asam manis pahitnya. Tapi sengaja beli yang moderate caffein, Atau misal kalo kamu ingin menyelami duniaku, anggap saja begitu, sisanya, tambahkan bahan - bahan sesuai seleramu *ahahha*. Yasudah sih, cuma mau menulis saja. Terus apalagi? Oiya, aku cukup sedang kesal. Mengenai informasi yang simpang siur, istilahnya pemberi harapan palsu. Ada baiknya memang, kalau kita mendapat info, di cek dulu kebenarannya. Dan, di keep dulu sampai terbukti benar. Kalau terpaksa? Ya dijelaskan, kalo ini belum tentu benar. Kalo memaksa? Ya disuruh sabar. Tapi nyatanya hubungan horizontal tidak sesimpel itu, percayalah padaku :v

Sebenarnya, ada hal lain yang ingin kuutarakan, lebih tepatnya keinginan dari dalam diri sendiri : Aku pengen ke pantai.

Yasudahlah, mungkin nanti.

Read More

Selasa, 01 Maret 2016

Analogi Kampus dan Lahan

"Kamu semakin dewasa dan aku semakin tak paham". Muallifa, 2016

Pagi itu mengalir biasa saja, hanya ada bunyi - bunyian pertanda ada chat masuk. Yaa... dari orang yang selama ini aku "respect", entah pemikiran, kepribadian, dan beberapa hal menarik lainnya. Aku menganggapnya kakak. Laki - laki paling sabar menghadapiku yang pecicilan ini, bersedia membagi ilmu dan pengalamannya, serta mampu memberi keputusan dengan cepat dan bijak. Yaa, begitulah sosok yang aku kenal. Mas Yoesep. Aku biasa memanggilnya Mas Ocep. Hari itu aku menemaninya membeli tas jinjing sebagai pengganti tas yang hilang saat kuliah lapangan.

Jalanan Jogja masih ramai seperti biasa. Aku dan Mas Ocep berbincang ringan, diselingi guyonan namun menyebalkan. Kami menaiki sebuah supermarket menggunakan eskalator menuju lantai 3. Tidak menunggu lama, barang yang diinginkan pun akhirnya ada di tangan. Karena tepat jam makan siang, akhirnya kami memutuskan untuk menyebrang jalanan Terban dan mendaratkan diri di sebuah restoran cepat saji. Entah ada angin apa Mas Ocep mentraktir, padahal aku masih punya janji untuk mentraktir dia (janjinya : kalau aku ada pencapaian, nanti aku traktir). Haha, yaudah sih, namanya juga rejeki.

Beliau banyak bercerita padaku mengenai hari - hari saat supercamp. Tidak hanya itu, kami bercerita panjang lebar mengenai akademik, ide - ide penelitian, dosen - dosen kece, study abroad, pengembangan diri, dan lain sebagainya. Hingga tibalah pemancingan itu datang. Oke, aku tidak bisa berbohong. Aku mengakui, Kebingungan, pilihan yang sulit, jejak keputusan yang pelik. Di lain sisi, aku masih ragu. Pada akhirnya, Mas Ocep mengeluarkan jurus mautnya : caranya memberi nasihat.

"Dek. Dulu kamu sebelum masuk UGM membayangkan UGM itu seperti apa?"
"Yaaa keren banget sih Mas, hmm.."
"Sekarang?"
"Udah biasa aja, soalnya udah tau ini itu nya."
"Oke, sekarang aku tanya?"
"piye?"
"Kamu punya sebuah lahan, lahan itu masih kosong. Apa yang pertama kamu lihat?"
"Yaa kekosongan lah Mas."
"Terus, apa yang akan kamu perbuat?"
"Mungkin mengolah tanahnya terus menanami lahan itu, dengan tanaman misalnya."
"Hmm... Apakah setelah itu kamu akan senang melihat tanaman itu tumbuh subur?"
"Yaiyalah Mas, orang tanamannya di rawat, kalo ada hasilnya pasti aku seneng laah."
"Tolong pertimbangkan itu baik - baik."

***
Hubungan antara laki - laki dan perempuan, memang selalu aneh, menurutku. Andai aku boleh meminta, aku tidak ingin terjerembab dalam periode ini. Sayangnya mau tidak mau usiaku semakin bertambah, Manutup diri tentu bukan solusi, kan? Bagaimanapun, periode ini harus tetap dilalui.

Semoga,
Semoga lahan yang tepat.
Atau jika tidak, 
Entahlah.

Kamu pasti datang, kan? :)
Read More