environment . education . experiences | but sometimes just random post. enjoy :)

Minggu, 21 Oktober 2018

#ChitChat: Menghargai Pilihan Orang Lain



Beberapa minggu (atau bulan?) yang lalu, saya quality time dengan salah satu teman. Sebenarnya biasa aja sih, cuma makan baso. Yang nggak bikin biasa adalah ke-ngalor-ngidul-an percakapan kami. Ya! kami sudah cukup lama tidak bertemu, terakhir bertemu yaa kitaran juni/juli saat dia sidang pendadaran di Teknik Geologi.

Percakapan kami di mulai dengan...

sebuah keadaan di mana saat ini, kami- berada di masa transisi antara kuliah dengan masa selanjutnya. Ya, meskipun dia-teman saya- sudah lulus dan saya belum, kami mengalami berbagai macam cuitan entah dari teman-teman, sanak keluarga, tetangga, dan lain sebagainya.

Pertanyaannya bisa sesederhana.. "Kapan wisuda?" "setelah ini mau ngapain?" dan lain sebagainya. pertanyaan-pertanyaan sederhana itu bisa disikapi dengan jawaban yang sederhana dan-singkat pula. Namun kadang yang membuat kita bergidik adalah kalau sudah mempertanyakan yang kaitannya dengan komparasi.
misal: "Si A lulusnya cepet nih, kok kamu belum?"; "Ih ngapain sih pilih topik skripsi susah-susah, toh skripsi kan cuma buat lulus aja."; "Mau lanjut S-2 ya? Gak dapat kerjaan lho entar, lulusan S-2 kan jarang dibutuhkan."; "Halah kayak gitu aja kok galau."

Nah, itu adalah sekian dari sekian ratus juta cuitan yang terkadang-nylekit. WKWK

Pertanyaannya sekarang: Emang pas nanya gituan tu tau kondisi orang yang kita tanyain po?

Nahlo,

Setiap orang, pasti memiliki latar belakang di dalam kehidupannya, manis asam pahitnya, lika-liku jalan hidupnya, kompleksitas perasaan dan pikirannya. Setiap orang punya itu-

Dan hal-hal tersebutlah yang menjadi salah satu bagian dari cara dan keputusannya untuk menentukan pilihan.

Mau lanjut S-2 atau tidak,
Mau nikah atau tidak,
Mau apa mau ini mau itu.
Suka K-Pop atau Jazz
Milih jadi IRT atau career mom
Mau punya anak atau tidak,
Mau sama kamu atau tidak, #eh

Dan setiap orang masing-masing memiliki keputusan atas pilihannya.

Tugas kita? Menghakimi? Big NO!

Sepanjang kita bisa melakukan apa yang dibutuhkan oleh diri kita sendiri dan kiranya bisa membantu orang lain (dalam konteks hal yang baik), itu dirasa cukup. Setelahnya, yang kita perlu lakukan adalah tetap bersikap ramah, tidak menghina, memaksa, mencibir, atau membuat down orang lain.

Caranya: Bersederhanalah dalam menyikapi kehidupan.

Hehe.

Klise. Tapi perlu.

0 komentar:

Posting Komentar